Archive | Catatan Perantau RSS feed for this section

Setelah Semua Ini Berakhir

19 Feb

Beberapa waktu yang lalu saya melontarkan sebuah pertanyaan di FB pribadi. Kalian ingin aku menulis tentang apa di blog? Demikian pertanyaan saya. Beberapa teman menjawab. Saya sudah menduga beberapa jawaban di antaranya, namun ada 1 yang menggelitik. Tulis tentang rencana setelah PTT. Ini saran yang menarik, dan sepertinya aku akan menjawabnya di sini.

Pertama, kujelaskan sedikit tentang awal mula aku PTT di sini. Setelah selesai internship, aku menjadi pengangguran di rumah. Paling-paling cuma jaga di sebuah klinik kecil dua kali seminggu dengan imbalan yang sekadarnya saja. Orang tua saya menyadari inaktivitas anaknya yang satu ini, dan berkeras agar aku segera melanjutkan ke jenjang karir yang lebih tinggi. Salah satu alasan utamanya adalah agar jangan sampai usia muda disia-siakan (intermezo: saat itu saya berusia sekitar 26 tahun, dan sebenarnya saya sudah mulai meragukan paham bahwa saya masih “muda”). Ketika itu juga bisa dibilang masa-masa awal beasiswa LPDP sedang booming. Dan orang tua saya bilang, mengapa tidak dicoba? Waktu itu saya masih enggan untuk menjalani tes dan seleksi untuk urusan apapun, entah itu untuk cari beasiswa, sekolah, kerja, atau lainnya. Di samping karena malas, juga karena curriculum vitae masih bisa dibilang kosong. Orang tua cuma memberi 2 opsi: masuk PPDS dengan LPDP, atau PTT. Pilihan pertama berarti harus ikut 2 tes untuk beasiswa dan sekolah, dengan probabilitas yang tidak terlalu tinggi karena CV yang kosong. Pilihan kedua berarti mencari pengalaman dan tabungan sendiri. Saya memilih pilihan kedua.

Tentu awalnya terasa berat. Namun tetap ada hal yang disyukuri. Bertepatan dengan saya memulai PTT, gaji dokter PTT naik sekitar 50%, kenaikan yang amat signifikan. Sebagai tambahan, tampaknya angkatan PTT saya adalah angkatan terakhir program PTT kemenkes. Dengan kata lain, andaikan saya tidak mengambil kesempatan ini, saya tidak akan bisa ikut PTT kemenkes.

Demikianlah, saya menjalani PTT dengan sebuah mindset. PTT dulu, PPDS kemudian. Hari, minggu, bulan, dan tahun datang silih berganti. Tak terasa perjalanan ini sudah tuntas sekitar 75%, menyisakan sekitar 6 bulan ke depan. Banyak hal yang membuat saya mempertanyakan apa yang sebenarnya ingin benar-benar saya raih dalam hidup. Jadikah saya melanjutkan pendidikan ke jenjang spesialis? Kalau jadi, apa? Kapan? Di mana? Apakah tersedia jalur lain? S2? Mengajar? Apakah masih ada pilihan lainnya?

Sekarang katakanlah saya ingin menjadi spesialis. Sejumlah pertimbangan ada dalam pikiran untuk menentukan spesialisasi yang ingin ditempuh. Saya sudah memutuskan bahwa saya tidak menyukai tindakan. Dengan demikian, saya mencoret pilihan bedah, obgyn, anestesi, THT, dan mata (untuk mata, sebenarnya tugas akhir saya adalah tentang mata, maka seharusnya bisa sedikit meningkatkan probabilitas diterima di bidang ini. Jadi masih 50:50). Saya enggan menangani pasien anak-anak, jadi pediatri juga out. Forensik juga tidak masuk pilihan karena saya malas berurusan dengan hukum. Psikiatri, interna, kardiologi, dan paru-paru berada di urutan paling bawah karena kurang suka. Neuro juga di urutan belakang karena ilmunya yang ruwet, di samping karena sudah diambil kakak pertama saya. Kulit juga tidak kusuka, walaupun sedikit di atas lainnya karena relatif lebih santai. 

Untuk masalah minat, minat terbesar saya sebenarnya di bidang sports medicine. Namun saya masih belum mendalami pilihan ini lebih jauh. Di Unair, kudengar topik ini berada di bawah S2 faal. Sebenarnya cukup menarik karena selama di sini saya juga sempat mengajar di SMK kesehatan setempat tentang faal. Namun kalau gelar akhirnya bukan spesialis, prospek ke depan sepertinya kurang sebaik spesialis. Kalau harus meraih gelar S2 dan bukannya spesialis, saya lebih suka sekalian menjajal kemungkinan sekolah di luar negeri. Jadi pilihan ini belum masuk prioritas top. Alternatif lain adalah spesialis ortopedi di Surabaya karena di situ juga dipelajari tentang cedera olahraga. Namun tak perlu saya ulangi mengapa saya enggan memilih alternatif ini. Kabar lain yang kudengar adalah program spesialis kedokteran olahraga (SpKO) ada di Jakarta. Namun saya belum memastikan. Dan kalau toh memang ada, pilihan ini juga tidak masuk prioritas top karena… yah, Jakarta.

Pertimbangan kepribadian, perlu saya sampaikan bahwa saya adalah orang yang lebih suka menghindari interaksi dengan orang lain (termasuk pasien!). Saya juga lebih suka iklim kerja yang tenang dan bebas tekanan supaya bisa sepenuhnya fokus pada apa yang kukerjakan sendiri. Berkaca dari sini, bidang diagnostik tampaknya cukup ideal. Radiologi, patologi klinik, patologi anatomi, dan sebagainya. Sebagai tambahan, saya mendengar bahwa sepertinya bidang radiologi memiliki prospek yang cukup cerah ke depan. Sejauh ini, pertimbangan kepribadian tampaknya menjadi pertimbangan terbesar buatku. Dan kalau harus memilih spesialisasi, tampaknya radiologi adalah kandidat utama.

TAPI! Sejauh ini tampaknya saya menulis seakan-akan saya memang akan menjadi dokter spesialis. Memang melanjutkan jenjang pendidikan ke spesialis adalah langkah yang banyak ditempuh oleh para dokter umum. Dan untuk alasan yang masuk akal. Namun itu bukan berarti bahwa jalur itu adalah satu-satunya jalur yang ada. Sekarang pertanyaannya adalah, apakah aku benar-benar ingin menjadi dokter spesialis? Apakah ada jalur lain yang terbentang?

Saya sudah menyandang gelar dokter dengan segala hak, kewajiban, dan tanggung jawabnya selama sekitar 3 tahun. Tiga tahun, bukan waktu yang bisa dibilang singkat. Dan apa yang bisa kuceritakan tentang 3 tahun menjadi dokter? Harus aku akui secara jujur bahwa saya merasa tidak berkembang sebagai seorang dokter. Tahun-tahun yang berlalu kulalui dengan perasaan hampa. Sering kali aku pulang dari rumah sakit / puskesmas dengan perasaan exhausted. Biasanya hal itu terjadi ketika menghadapi pasien yang sulit, tetapi tak jarang pula kurasakan bahkan ketika santai!

Bila ada 1 hal yang paling aku inginkan dalam hidup, itu adalah kendali total atas kehidupanku sendiri. Hal itu sudah kumimpikan sejak lama sekali, bahkan sejak sebelum menghitamkan pilihan program studi “Pendidikan Dokter” ketika hendak SNMPTN tahun 2008. Kebebasan untuk keluar-masuk kantor kapanpun kuinginkan tanpa harus khawatir terlambat dan melakukan apapun yang kuinginkan. Menjadi dokter umum biasa berarti menyerahkan kendali itu. Menjadi dokter spesialis pun tidak menjadi lebih baik, walaupun kebebasan finansial tampak mudah diraih.

Yah, semua itu saat ini adalah mimpi. Kenyataan yang kuhadapi tidak berubah. Pendidikan dokter sudah dilalui, gelar dokter sudah diraih. Hal itu sudah menjadi bagian dari identitas dan jati diri. Get up and deal with it. Bila aku sungguh-sungguh benar-benar ingin meraih kendali penuh atas kehidupanku sendiri, berarti aku tidak boleh menjadi sekadar dokter biasa. Aku harus menjadi dokter yang luar biasa dengan berani menempuh jalur yang tidak biasa.

Salah satu buku yang mungkin benar-benar membuatku berpikir serius tentang masa depan adalah Don’t Follow Your Passion karya Cal Newport. Di buku itu, dia menolak gagasan “passion yang sudah ada”. Sebaliknya, dia memperkenalkan konsep “modal karir”. Untuk memperoleh kontrol, terlebih dahulu seseorang harus memiliki modal karir yang memadai. Dan untuk memperoleh modal karir yang memadai, seseorang harus bekerja keras. Tak ada istilah santai-santai. Mungkin suatu saat bila ada kesempatan, saya akan membuat review tentang buku ini.

Kalau aku mencoba melihat kondisiku sekarang berdasar sudut pandang teori ini, saya menyimpulkan bahwa modal karirku sangat jauh dari kata cukup untuk membuatku meraih kontrol. Aku tak punya pilihan lain selain bekerja sangat keras untuk mengembangkan apa-apa yang sudah aku punya. Selain pengalaman dan pengetahuan medis, saya memiliki beberapa hal lain yang barangkali, sekali lagi barangkali, dapat dikembangkan menjadi modal karir yang kuat dan unik. Menulis. Desain grafis dengan coreldraw. Tenis meja.

Hobiku dengan olahraga dan tenis meja merupakan dasar utama aku mempertimbangkan sports medicine sebagai spesialisasi. Namun pengetahuanku tentang studi ini masih dangkal, dan aku harus melakukan penelusuran lebih lanjut. Andaikan pengetahuanku soal studi dan prospek di bidang ini sudah jelas, mungkin aku tidak akan ragu-ragu lagi untuk mengambil spesialisasi ini.

Tentang menulis, ceritanya agak berbeda. Tentang menulis, memang benar aku memiliki blog dan masih memiliki kesempatan untuk mengisinya secara berkala, walaupun tidak rutin. Namun saat ini saya pikir blog itu sebagai tempat latihan saja, bukan sebagai pijakan utama dalam berkarir. Bila aku ingin menjadikan skill menulis sebagai modal karir, aku harus membuktikan tulisan-tulisanku layak dijual. Beberapa cara membuktikannya adalah dengan menerbitkan buku dan artikel yang dimuat di media-media ternama — dan dibayar atas itu.

Desain grafis dengan coreldraw juga bernasib sama. Saya pertama kali berkenalan dengan coreldraw saat SMA, dan kemudian sedikit sekali mempraktikannya saat kuliah. Dan sejak saat itu, bisa dikatakan praktik saya menggunakan coreldraw mendekati 0. Baru-baru ini saja saya mulai berlatih lagi. Jika saya benar-benar serius ingin mendalami jalur ini, saya akan menjadi late-starter dan harus menempuh jalan panjang dan sulit untuk catch up sebelum modal karirku ini bisa diakui.

Satu lagi. Setelah semua ini berakhir, aku berharap memiliki tabungan yang lumayan. Selain untuk sekolah, aku berharap dapat menggunakan uang sebagai investasi pemasukan jangka panjang. Ini adalah wilayah asing yang sama sekali belum aku kenal. Akan tetapi, aku bersedia untuk mempelajari hal ini sambil mempraktekkannya.

Hingga saat ini, saya belum memutuskan dengan pasti apa yang akan kulakukan setelah pengabdian ini berakhir. Akan tetapi, sejumlah jalur yang bisa dilihat sudah terpetakan. Dari jalur-jalur yang ada, sama sekali tidak ada jalur yang mudah. Semuanya sulit dan menantang. Masih ada waktu sekitar 6 bulan sebelum semua ini berakhir. Enam bulan, mungkin cukup lama untuk berpikir, tapi tidak cukup untuk memperbaiki dan meningkatkan diri. Sama sekali tak ada waktu untuk disia-siakan, karena aku memiliki cita-cita untuk disegerakan.

Catatan Dokter PTT Pekan #072

22 Jan

Tak kusangka aku sudah menjalani program PTT ini selama 72 pekan. Yang berarti progresku menjalani pengabdian ini sudah sekitar 72%. Biasanya aku mengetahui persentase kemajuan ini kalau sudah membuat tulisan “Catatan”. Dan karena sudah puluhan pekan tidak membuat, akhirnya baru ketahuan sekarang sudah sejauh ini…

Saya selalu bingung untuk menulis tentang apa saat membuat catatan ini. Mungkin sebingung semut-semut kecil yang berada dalam keyboard wireless yang sedang kugunakan ini (entah masuk dari mana -_-)… Saat kukeluarkan keyboard ini dari bungkusnya, ternyata sudah mereka kerumuni (syet). Akhirnya kujemur sebentar di terik matahari, dan kaburlah mereka… atau setidaknya sebagian dari mereka. Semut-semut yang tersisa masih berjalan mondar-mandir di atas tuts, merasakan kebingungan yang sama seperti yang menulis.

Kisah Dua Binder

17 Jan

Tumpukan buku itu teronggok begitu saja di meja ruang tamu rumah dinas. Selama ini tumpukan itu berfungsi tak lebih sebagai hiasan semata agar meja tamu kaca yang menopangnya tak terlihat telanjang tanpa taplak. Dengan adanya sedikit tumpukan buku itu, setidaknya orang yang melihat akan menilai bahwa si empunya rumah adalah orang yang terpelajar dan rajin membaca. Atau begitulah harapannya. Mungkin sebenarnya hiasan berupa taplak bakal lebih jujur dan bebas pencitraan karena ternyata si pemilik buku enggan membaca. Boro-boro membaca, sekadar dilihat pun juga sambil lalu saja tanpa ada rasa tertarik.
Tumpukan buku itu kecil saja, sebetulnya. Hanya terdiri dari 2 buah buku yang tebal berwarna kuning dan putih, serta 2 buku lain yang lebih tipis dan kecil. Namun di atas tumpukan buku itu terdapat 2 buah binder, seakan-akan menjadi atap yang melengkapi “rumah ilmu” di bawahnya. Dibandingkan dengan buku-buku di bawahnya yang terlihat lumayan baru, kedua binder itu tampak berumur agak lebih lama.

Saya pun menghela napas panjang. Binder pertama memiliki sampul berwarna putih polos. Binder putih ini sudah kumiliki sejak masa kuliah, dan terus setia menemani hingga lulus, internship di Ngawi, dan sampai sekarang saat PTT di Halmahera Tengah. Fungsinya adalah mencatat  pelajaran dan pengalaman medis yang kudapatkan selama menjadi mahasiswa dan dokter. Binder ini sebenarnya tidak terlalu sering dibuka-buka, sampai pada suatu saat tibalah masa-masa persiapan uji kompetensi dokter Indonesia, atau UKDI. Pada periode ini, binder ini menjalankan fungsi yang lebih spesifik. Agar saya bisa memahami penyakit case-by-case, saya mencatat setiap penyakit yang sudah kupelajari di situ. Subjective, objective, assessment, planning. Harapannya adalah catatan ini akan berguna untuk menjalani ujian, dan tetap berguna setelahnya saat sudah menjadi dokter.

Kalau kuingat-ingat lagi, binder putih itu bukan binder pertama yang kumiliki. Saya sudah menggunakan binder sejak SMA, namun hilang entah ke mana saat kuliah. Fungsinya mirip, untuk mencatat pelajaran-pelajaran yang kupelajari, terutama saat menjalani program intensif persiapan ujian masuk perguruan tinggi, atau SNMPTN, di tahun 2008. 

Saya jadi teringat masa itu. Saat itu, salah satu guru bimbel semacam terkesan dengan saya. Setiap dia memberi penjelasan, ketika teman-teman saya sibuk mencatat, saya cuma manggut-manggut (sambil dalam hati saya bergumam, “Ternyata ada solusi seperti itu”). Setelah saya disuruh mencatat, barulah saya mencatat. Itu pun cuma 1-2 baris, dan setelah itu langsung tidur di meja. Namun dengan cara seperti itu, tiap try out rangking saya selalu konsisten berada di papan atas. Entahlah, mungkin memang kelebihanku terletak pada memahami intisari setiap pelajaran untuk kemudian dikeluarkan menjadi solusi-solusi kreatif. Bukan mengingat-ingat nama-nama saraf, tulang, pembuluh darah, virus, kuman, cacing, obat, dan hal-hal sebangsanya.

Binder kedua kubeli saat PTT, bersampul foto Cristiano Ronaldo. Mengapa CR7? Dia memang salah satu pemain terbaik dunia dengan segala pencapaiannya, baik individu, klub, maupun tim nasional. Akan tetapi, bukankah dia adalah pemain yang sombong dan arogan? Yah, itu adalah setengah yang kupikirkan. Setengahnya lagi aku berpendapat bahwa dia layak mendapat penghormatan karena jiwa sosialnya yang tinggi. Disebut-sebut dia tidak mentato kulitnya (hal yang cukup “lazim” dilakukan para pemain bola profesional agar terlihat “keren”) agar dia dapat rutin mendonorkan darahnya. Dia juga satu dari sedikit pemain bola profesional papan atas yang menyatakan dukungannya kepada Palestina secara terbuka, dan dikisahkan pernah menolak bertukar jersey dengan pemain “Israel”. Ketika krisis Suriah melanda baru-baru ini, dia mengunggah video yang berisi dukungan moralnya kepada para pengungsi dan korban konflik. Meskipun demikian, bukan hal-hal tersebut yang membuat saya membeli binder bersampul fotonya. Saya memutuskan untuk membeli binder bersampul Cristiano Ronaldo karena saat di toko, satu-satunya binder pilihan lain adalah yang bersampul Hello Kitty.

Saat binder ini dibuka, di sampul depan bagian dalam terselip 2 lembar fotoku bersama beberapa orang teman, saat kuliah dan internship. Tidak terlalu banyak, mungkin jumlahnya tidak sampai 20 orang. Sebagai orang yang sangat ekstrem introvert, bisa dibilang saya hampir tidak pernah merasakan dorongan untuk bersosialisasi dan memiliki banyak teman. Namun, apabila saya sudah menganggap seseorang sebagai teman dekat, percayalah bahwa saya adalah teman yang sangat setia.

Di halaman pertama, terdapat timeline yang di dalamnya terdapat target-target yang ingin kuraih di masa depan. Sebagai individu, anggota keluarga, dan masyarakat. Misalnya di timeline individu, salah satu prestasi yang ingin kucapai adalah menerbitkan buku pertama sebelum usia 30 tahun (itu berarti aku punya waktu kurang dari 3 tahun dari sekarang). Contoh lain adalah meraih gelar S2 sebelum berusia 35 tahun dan gelar S3 sebelum 40. Sasaran lain, yang mungkin agak kurang penting namun tak kalah ambisius, adalah menjadi juara di turnamen tenis meja tunggal, juga sebelum berusia 40 tahun. Masih banyak capaian yang ingin kuraih yang tak kutulis di sini. Di timeline keluarga, ada sasaran menikah pada usia sekitar 30 tahun. Dengan rentang plus-minus 3 tahun, kuharap target ini segera tercapai. Di timeline masyarakat, cukuplah aku menulis di sini bahwa aku ingin memberikan kontribusi yang besar dan monumental bagi Republik Indonesia ini sebelum berusia 55 tahun.

Pada waktu-waktu kosong, ketika ingat, saya akan membuka binder ini. Ketika menatap foto bersama teman-teman dan mengenang waktu bersama, hal itu memberi perasaan senang tersendiri. Tak cuma itu, kadang-kadang saya juga membuka foto keluarga yang tersimpan di HP, dan itu juga memberi perasaan serupa. Seakan-akan aku mendapatkan motivasi baru untuk terus maju dan berjuang. Menoleh ke halaman pertama, timeline yang saya gambar di sana mengingatkan saya bahwa banyak hal yang bisa dicapai, baik itu hal-hal kecil maupun hal-hal besar. Sepertinya sudah sepatutnya waktu-waktu kosong yang ada digunakan sebaik-baiknya untuk semakin memantapkan langkah mendekati raihan-raihan tersebut. Dan kesempatan untuk meraih impian akan semakin sempit seiring dengan berjalannya waktu yang disia-siakan.

Catatan Dokter PTT Pekan #057

7 Oct

Saya mendengar bahwa kasus kriminal di kecamatanku mengalami peningkatan. Beberapa pekan yang lalu, pemilik  warung langgananku bertutur bahwa kaos dagangannya dicuri. Dalam jangka waktu yang tidak begitu jauh, rumah dinasku menunjukkan tanda-tanda dibobol orang, walaupun alhamdulillah tampaknya tak ada benda berharga yang hilang. Kemudian yang terbaru, polisi kenalan saya bercerita dia baru saja mengusut kasus upaya pencabulan. Ketika korban sedang tidur, pelaku menyelinap masuk dengan membawa gunting dengan niat melakukan Anda-Tahu-Apa. Pelaku sudah ditangkap dan masalah diselesaikan secara “kekeluargaan”.

Awalnya saya agak enggan percaya bahwa kasus kejahatan di sini meningkat. Sampai saya mendengar cerita terbaru di atas baru-baru ini. Kok bisa? Pikir saya.

Saya mengobrol singkat dengan pak polisi kenalan saya tentang perkembangan ini. Pak polisi ini mengaitkannya dengan pilkada yang akan diadakan beberapa bulan lagi. Hah, kok bisa? Pikir saya lagi. Lalu dia menjelaskan analisisnya. Kemungkinan ada beberapa oknum juru kampanye yang semacam membagi-bagi materi pada masyarakat setempat untuk memilih calon tertentu. Oleh si penerima, hadiah ini digunakan untuk berfoya-foya — terutama minum miras. Mungkin juga karena terlalu sering diberi hadiah, akhirnya penerima ini jadi sulit lepas dari foya-foya. Akhirnya dihalalkanlah segala cara untuk mendapatkan uang, termasuk melakukan tindak kejahatan.

Mungkin terdengar agak dibuat-buat, tapi tidak akan mengejutkan bila memang benar adanya. Isu yang saya dengar adalah wilayah ini termasuk wilayah yang “panas” setiap kali ada kegiatan politik semacam pilkada. Saya tidak bisa menemukan penjelasan lain. Dan melihat kultur masyarakat di sini, penjelasan di atas menjadi sangat masuk akal buat saya.

Sebenarnya, kalau keadaan jadi panas, yang paling enak adalah tiduran di rumah sambil kipas-kipas. Kan enak jadi tidak kepanasan. Tapi jadi tidak enak juga buat dokter kalau akhirnya harus ada pasien gawat darurat karena luka benda tajam atau kasus-kasus lain semacamnya…

Wahai Indonesia, inilah potret dirimu di sini.

Catatan Dokter PTT Pekan #053

11 Sep

Banemo,  11 September 2016

Apakah dulu saya pernah menulis bahwa “apa yang kau tulis merupakan dirimu yang sebenarnya”? Ternyata sudah, di Pekan #024 (hanya sebuah catatan kecil, tak ada yang terlalu penting). Maka sekarang aku sekilas membaca lagi apa-apa saja yang sudah kutulis selama ini…

Hasilnya? Sebagian besar tulisan yang kuhasilkan berpusat pada pemikiran dan diri sendiri. Hanya beberapa (1-2) saja yang berisi tentang interaksiku dengan orang lain. Ini merupakan hal yang tidak terlalu bisa dibanggakan. Apakah itu berarti aku tak sanggup menulis tentang ini? Bila aku tidak sanggup menulis tentang hal ini, apakah itu berarti aku memiliki masalah?

Bila memang demikian, berarti kemungkinan ada kebiasaan yang harus diubah. Dan omong-omong soal mengubah kebiasaan, cukup beruntung juga aku membaca sekilas tentang hal ini. Sebuah buku yang kubaca mengutip sebuah penelitian tentang mengubah sebuah kegiatan menjadi kebiasaan. Disebutkan bahwa bila kegiatan itu dilakukan secara terus menerus selama 5 pekan, kemungkinan cukup bagus kegiatan itu akan menjadi kebiasaan. Masih dari buku yang sama, disebut pula teori Relapse Prevention (Pencegahan Kekambuhan). Teori ini menyebutkan untuk mengehentikan kebiasaan buruk (seperti merokok, narkoba, makan berlebihan, dll), 3 bulan pertama adalah masa yang paling kritis. Bila sanggup bertahan di 12 pekan pertama, kemungkinan untuk kambuh sangat berkurang. Jadi, untuk membentuk sebuah kebiasaan, 5-12 pekan adalah periode jendela yang baik untuk memulainya.*

Jadi, apakah aku akan sanggup mengubah kebiasaanku?

*Dikutip dari The Blue Zones: Rahasia Hidup Sehat Orang-orang Tertua di Dunia, oleh Dan Buettner, hal. 219

Apa yang Kudapatkan dari Membaca

1 Sep

Ketika saya mengambil keputusan untuk mengabdi di pelosok hampir setahun yang lalu, saya tahu saya perlu memiliki kegiatan lain yang bisa dilakukan di waktu-waktu kosong. Lantas saya teringat bahwa selama beberapa tahun belakangan ini kegiatan membaca saya sangat rendah. Akhirnya kuputuskan untuk mencoba memupuk kebiaasan membaca. Hari, minggu, dan bulan berganti, tak terasa 1 tahun akhirnya hampir terlewati. Motivasi kadang tinggi kadang rendah seperti pasang-surut lautan, tapi sudahlah, toh semua itu sudah lewat. Jadi, apa yang sudah kudapatkan selama hampir setahun ini? Continue reading

Status

Catatan Dokter PTT Pekan #051

28 Aug

โ€‹Pekan ke-51… Itu berarti sudah hampir setahun saya menjalani kontrak di sini. Andaikan masa kontrak saya hanya 1 tahun, mungkin aku sudah mulai berkemas-kemas sekarang untuk pulang kampung pekan depan. Mungkin juga sedang mengerjakan laporan untuk diserahkan ke pusat. Namun kenyataannya tidaklah demikian. Kontrak masih jauh sebelum berakhir, pekan ke-51 ini tak lain hanyalah separuh perjalanan sebelum memulai perjalanan lain. Apa saja yang sudah kulakukan selama setahun di sini? Dan, tahun 2016 juga sudah memasuki sepertiga terakhir. Tak terasa waktu melewati kita begitu saja, rasanya baru kemarin saya melewati malam tahun baru. Apa sajakah yang sudah kita lakukan di sepertiga pertama dan kedua tahun ini?