Tag Archives: belajar

Salah Satu Kunci Terpenting dalam Belajar

17 Oct

Kalau aku mendengar kata “belajar”, yang langsung terlintas dalam benak adalah tumpukan buku yang harus dibaca untuk lulus ujian. Bayang-bayang seperti ini sudah menghantuiku sejak umur 6 tahun di kelas 1 SD dan berlangsung hingga lulus kuliah dan meraih gelar dokter sekitar tahun 2014. Itu berarti sekitar… hampir 20 tahun. Dua puluh tahun, sama sekali bukan waktu yang sebentar untuk menancapkan bayang-bayang seperti itu kedalam pikiran. Bayang-bayang horor ini masih menggelayuti pikiran hingga saat ini, apalagi karena masih terpikir untuk melanjutkan sekolah ke jenjang S2 sampai S3. Continue reading

Advertisements

Setelah Lama Tidak Menulis

5 Oct

Astaga, ternyata kemampuan menulisku buruk sekali!

Baru saja saya mencoba menulis lagi setelah vakum selama sekian bulan (atau tahun?). Benar-benar payah. Ide yang ada dalam pikiran hanya menjadi ide dalam pikiran, tidak mau mengalir ke dalam bentuk tulisan. Saya masih bisa sedikit mengingat ketika ide dalam pikiran bisa mengalir deras ke tulisan seperti derasnya Air Terjun Niagara, dan saya juga masih bisa ingat ketika otak harus diperas keras-keras untuk memaksa saripati dalam buah pikiran untuk bisa ditampung dalam wadah tulisan. Dan bisa dibilang baru-baru ini merupakan salah satu periode buruk tersebut.

Sekali lagi hal ini mengingatkan diriku bahwa pekerjaan menulis sama sekali bukan pekerjaan gampang. Dan sekali lagi, menulis adalah sebuah skill. Dan layaknya skill, berlaku kaidah use it or lose it. Skill harus selalu diasah dengan cara melakukannya secara terus-menerus. Dan setelah beberapa waktu tidak menggunakan skill tersebut, jelas wajar kalau skill menjadi karatan.

Setelah Semua Ini Berakhir

19 Feb

Beberapa waktu yang lalu saya melontarkan sebuah pertanyaan di FB pribadi. Kalian ingin aku menulis tentang apa di blog? Demikian pertanyaan saya. Beberapa teman menjawab. Saya sudah menduga beberapa jawaban di antaranya, namun ada 1 yang menggelitik. Tulis tentang rencana setelah PTT. Ini saran yang menarik, dan sepertinya aku akan menjawabnya di sini.

Pertama, kujelaskan sedikit tentang awal mula aku PTT di sini. Setelah selesai internship, aku menjadi pengangguran di rumah. Paling-paling cuma jaga di sebuah klinik kecil dua kali seminggu dengan imbalan yang sekadarnya saja. Orang tua saya menyadari inaktivitas anaknya yang satu ini, dan berkeras agar aku segera melanjutkan ke jenjang karir yang lebih tinggi. Salah satu alasan utamanya adalah agar jangan sampai usia muda disia-siakan (intermezo: saat itu saya berusia sekitar 26 tahun, dan sebenarnya saya sudah mulai meragukan paham bahwa saya masih “muda”). Ketika itu juga bisa dibilang masa-masa awal beasiswa LPDP sedang booming. Dan orang tua saya bilang, mengapa tidak dicoba? Waktu itu saya masih enggan untuk menjalani tes dan seleksi untuk urusan apapun, entah itu untuk cari beasiswa, sekolah, kerja, atau lainnya. Di samping karena malas, juga karena curriculum vitae masih bisa dibilang kosong. Orang tua cuma memberi 2 opsi: masuk PPDS dengan LPDP, atau PTT. Pilihan pertama berarti harus ikut 2 tes untuk beasiswa dan sekolah, dengan probabilitas yang tidak terlalu tinggi karena CV yang kosong. Pilihan kedua berarti mencari pengalaman dan tabungan sendiri. Saya memilih pilihan kedua.

Tentu awalnya terasa berat. Namun tetap ada hal yang disyukuri. Bertepatan dengan saya memulai PTT, gaji dokter PTT naik sekitar 50%, kenaikan yang amat signifikan. Sebagai tambahan, tampaknya angkatan PTT saya adalah angkatan terakhir program PTT kemenkes. Dengan kata lain, andaikan saya tidak mengambil kesempatan ini, saya tidak akan bisa ikut PTT kemenkes.

Demikianlah, saya menjalani PTT dengan sebuah mindset. PTT dulu, PPDS kemudian. Hari, minggu, bulan, dan tahun datang silih berganti. Tak terasa perjalanan ini sudah tuntas sekitar 75%, menyisakan sekitar 6 bulan ke depan. Banyak hal yang membuat saya mempertanyakan apa yang sebenarnya ingin benar-benar saya raih dalam hidup. Jadikah saya melanjutkan pendidikan ke jenjang spesialis? Kalau jadi, apa? Kapan? Di mana? Apakah tersedia jalur lain? S2? Mengajar? Apakah masih ada pilihan lainnya?

Sekarang katakanlah saya ingin menjadi spesialis. Sejumlah pertimbangan ada dalam pikiran untuk menentukan spesialisasi yang ingin ditempuh. Saya sudah memutuskan bahwa saya tidak menyukai tindakan. Dengan demikian, saya mencoret pilihan bedah, obgyn, anestesi, THT, dan mata (untuk mata, sebenarnya tugas akhir saya adalah tentang mata, maka seharusnya bisa sedikit meningkatkan probabilitas diterima di bidang ini. Jadi masih 50:50). Saya enggan menangani pasien anak-anak, jadi pediatri juga out. Forensik juga tidak masuk pilihan karena saya malas berurusan dengan hukum. Psikiatri, interna, kardiologi, dan paru-paru berada di urutan paling bawah karena kurang suka. Neuro juga di urutan belakang karena ilmunya yang ruwet, di samping karena sudah diambil kakak pertama saya. Kulit juga tidak kusuka, walaupun sedikit di atas lainnya karena relatif lebih santai. 

Untuk masalah minat, minat terbesar saya sebenarnya di bidang sports medicine. Namun saya masih belum mendalami pilihan ini lebih jauh. Di Unair, kudengar topik ini berada di bawah S2 faal. Sebenarnya cukup menarik karena selama di sini saya juga sempat mengajar di SMK kesehatan setempat tentang faal. Namun kalau gelar akhirnya bukan spesialis, prospek ke depan sepertinya kurang sebaik spesialis. Kalau harus meraih gelar S2 dan bukannya spesialis, saya lebih suka sekalian menjajal kemungkinan sekolah di luar negeri. Jadi pilihan ini belum masuk prioritas top. Alternatif lain adalah spesialis ortopedi di Surabaya karena di situ juga dipelajari tentang cedera olahraga. Namun tak perlu saya ulangi mengapa saya enggan memilih alternatif ini. Kabar lain yang kudengar adalah program spesialis kedokteran olahraga (SpKO) ada di Jakarta. Namun saya belum memastikan. Dan kalau toh memang ada, pilihan ini juga tidak masuk prioritas top karena… yah, Jakarta.

Pertimbangan kepribadian, perlu saya sampaikan bahwa saya adalah orang yang lebih suka menghindari interaksi dengan orang lain (termasuk pasien!). Saya juga lebih suka iklim kerja yang tenang dan bebas tekanan supaya bisa sepenuhnya fokus pada apa yang kukerjakan sendiri. Berkaca dari sini, bidang diagnostik tampaknya cukup ideal. Radiologi, patologi klinik, patologi anatomi, dan sebagainya. Sebagai tambahan, saya mendengar bahwa sepertinya bidang radiologi memiliki prospek yang cukup cerah ke depan. Sejauh ini, pertimbangan kepribadian tampaknya menjadi pertimbangan terbesar buatku. Dan kalau harus memilih spesialisasi, tampaknya radiologi adalah kandidat utama.

TAPI! Sejauh ini tampaknya saya menulis seakan-akan saya memang akan menjadi dokter spesialis. Memang melanjutkan jenjang pendidikan ke spesialis adalah langkah yang banyak ditempuh oleh para dokter umum. Dan untuk alasan yang masuk akal. Namun itu bukan berarti bahwa jalur itu adalah satu-satunya jalur yang ada. Sekarang pertanyaannya adalah, apakah aku benar-benar ingin menjadi dokter spesialis? Apakah ada jalur lain yang terbentang?

Saya sudah menyandang gelar dokter dengan segala hak, kewajiban, dan tanggung jawabnya selama sekitar 3 tahun. Tiga tahun, bukan waktu yang bisa dibilang singkat. Dan apa yang bisa kuceritakan tentang 3 tahun menjadi dokter? Harus aku akui secara jujur bahwa saya merasa tidak berkembang sebagai seorang dokter. Tahun-tahun yang berlalu kulalui dengan perasaan hampa. Sering kali aku pulang dari rumah sakit / puskesmas dengan perasaan exhausted. Biasanya hal itu terjadi ketika menghadapi pasien yang sulit, tetapi tak jarang pula kurasakan bahkan ketika santai!

Bila ada 1 hal yang paling aku inginkan dalam hidup, itu adalah kendali total atas kehidupanku sendiri. Hal itu sudah kumimpikan sejak lama sekali, bahkan sejak sebelum menghitamkan pilihan program studi “Pendidikan Dokter” ketika hendak SNMPTN tahun 2008. Kebebasan untuk keluar-masuk kantor kapanpun kuinginkan tanpa harus khawatir terlambat dan melakukan apapun yang kuinginkan. Menjadi dokter umum biasa berarti menyerahkan kendali itu. Menjadi dokter spesialis pun tidak menjadi lebih baik, walaupun kebebasan finansial tampak mudah diraih.

Yah, semua itu saat ini adalah mimpi. Kenyataan yang kuhadapi tidak berubah. Pendidikan dokter sudah dilalui, gelar dokter sudah diraih. Hal itu sudah menjadi bagian dari identitas dan jati diri. Get up and deal with it. Bila aku sungguh-sungguh benar-benar ingin meraih kendali penuh atas kehidupanku sendiri, berarti aku tidak boleh menjadi sekadar dokter biasa. Aku harus menjadi dokter yang luar biasa dengan berani menempuh jalur yang tidak biasa.

Salah satu buku yang mungkin benar-benar membuatku berpikir serius tentang masa depan adalah Don’t Follow Your Passion karya Cal Newport. Di buku itu, dia menolak gagasan “passion yang sudah ada”. Sebaliknya, dia memperkenalkan konsep “modal karir”. Untuk memperoleh kontrol, terlebih dahulu seseorang harus memiliki modal karir yang memadai. Dan untuk memperoleh modal karir yang memadai, seseorang harus bekerja keras. Tak ada istilah santai-santai. Mungkin suatu saat bila ada kesempatan, saya akan membuat review tentang buku ini.

Kalau aku mencoba melihat kondisiku sekarang berdasar sudut pandang teori ini, saya menyimpulkan bahwa modal karirku sangat jauh dari kata cukup untuk membuatku meraih kontrol. Aku tak punya pilihan lain selain bekerja sangat keras untuk mengembangkan apa-apa yang sudah aku punya. Selain pengalaman dan pengetahuan medis, saya memiliki beberapa hal lain yang barangkali, sekali lagi barangkali, dapat dikembangkan menjadi modal karir yang kuat dan unik. Menulis. Desain grafis dengan coreldraw. Tenis meja.

Hobiku dengan olahraga dan tenis meja merupakan dasar utama aku mempertimbangkan sports medicine sebagai spesialisasi. Namun pengetahuanku tentang studi ini masih dangkal, dan aku harus melakukan penelusuran lebih lanjut. Andaikan pengetahuanku soal studi dan prospek di bidang ini sudah jelas, mungkin aku tidak akan ragu-ragu lagi untuk mengambil spesialisasi ini.

Tentang menulis, ceritanya agak berbeda. Tentang menulis, memang benar aku memiliki blog dan masih memiliki kesempatan untuk mengisinya secara berkala, walaupun tidak rutin. Namun saat ini saya pikir blog itu sebagai tempat latihan saja, bukan sebagai pijakan utama dalam berkarir. Bila aku ingin menjadikan skill menulis sebagai modal karir, aku harus membuktikan tulisan-tulisanku layak dijual. Beberapa cara membuktikannya adalah dengan menerbitkan buku dan artikel yang dimuat di media-media ternama — dan dibayar atas itu.

Desain grafis dengan coreldraw juga bernasib sama. Saya pertama kali berkenalan dengan coreldraw saat SMA, dan kemudian sedikit sekali mempraktikannya saat kuliah. Dan sejak saat itu, bisa dikatakan praktik saya menggunakan coreldraw mendekati 0. Baru-baru ini saja saya mulai berlatih lagi. Jika saya benar-benar serius ingin mendalami jalur ini, saya akan menjadi late-starter dan harus menempuh jalan panjang dan sulit untuk catch up sebelum modal karirku ini bisa diakui.

Satu lagi. Setelah semua ini berakhir, aku berharap memiliki tabungan yang lumayan. Selain untuk sekolah, aku berharap dapat menggunakan uang sebagai investasi pemasukan jangka panjang. Ini adalah wilayah asing yang sama sekali belum aku kenal. Akan tetapi, aku bersedia untuk mempelajari hal ini sambil mempraktekkannya.

Hingga saat ini, saya belum memutuskan dengan pasti apa yang akan kulakukan setelah pengabdian ini berakhir. Akan tetapi, sejumlah jalur yang bisa dilihat sudah terpetakan. Dari jalur-jalur yang ada, sama sekali tidak ada jalur yang mudah. Semuanya sulit dan menantang. Masih ada waktu sekitar 6 bulan sebelum semua ini berakhir. Enam bulan, mungkin cukup lama untuk berpikir, tapi tidak cukup untuk memperbaiki dan meningkatkan diri. Sama sekali tak ada waktu untuk disia-siakan, karena aku memiliki cita-cita untuk disegerakan.

Cara Membuat Tulisan yang Mudah Dipahami (Bag. 4)

23 Oct

Saya tidak menyangka akan membuat tulisan ini hingga bagian 4.Tapi ternyata baru-baru ini saya mendapatkan bacaan yang sepertinya agak sulit saya pahami, dan mendadak saya mendapatkan ilham untuk melanjutkan tulisan ini. Maka ditulislah bagian ke-4…

Bacaan yang saya singgung ini memiliki karakteristik yang khas, yaitu begitu banyak menggunakan deskripsi. Sedangkan inti yang dibahas sebenarnya cuma itu-itu saja. Dari sini, saya menarik kesimpulan mungkin penulis yang bersangkutan semacam “memaksakan” agar isi tulisan menjadi lebih banyak. Hasilnya secara kuantitas memang tulisannya mengandung lebih banyak kata dan kalimat, namun secara kualitas kata-kata dan kalimat-kalimat tersebut lebih layak disebut kata-kata dan kalimat-kalimat “sampah”. Tidak memberikan nilai tambah pada tulisan, namun justru jadi nilai minus dan membuat tulisan jadi membosankan untuk dibaca.

Jadi begitulah. Dan dari situ, saya berupaya untuk menarik pelajaran bagi diriku sendiri (dan bagi pembaca, kuharap) agar dapat menghindari perangkap menulis yang satu ini.

1. Hindari mendeskripsikan suatu hal secara berlebihan

Deskripsi adalah hal yang bermanfaat dalam sebuah tulisan, namun tidak jadi bermanfaat bila digunakan terlalu berlebihan. Pembaca tertentu (baca: saya) lebih suka meloncati deskripsi-deskripsi yang berlebihan tersebut untuk langsung mencari poin berikutnya yang sekiranya lebih penting dan menarik untuk dibaca. Bagi saya, deskripsi “sampah” tersebut terasa, sekali lagi, membosankan.

Bagi saya, ada beberapa tulisan yang sepertinya tidak akan terlalu membosankan untuk dibaca. Dari situ, saya merumuskan beberapa langkah berikut agar tulisan jadi lebih menarik…

2. Buat pembaca penasaran. Sajikan fakta dan data yang menggelitik, dan kemas secara menarik

Bisa dikatakan ini adalah salah satu jurus yang ampuh untuk membuat pembaca terus membaca. Pembaca akan terpancing untuk membaca bila merasa penasaran, dan akan terpancing lebih jauh lagi bila mendapatkan fakta yang menarik. 

Fakta dan data bukan semata berfungsi untuk menarik perhatian pembaca saja. Sebuah tulisan yang didukung fakta dan data yang valid memiliki posisi yang kuat, dan semakin memastikan keabsahan kualitas tulisan tersebut.

3. Berikan contoh yang nyata

Ini juga merupakan cara yang jitu. Orang-orang menyukai cerita. Bahkan, memulai tulisan dengan sebuah cerita dikatakan memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk menggaet pembaca daripada tanpa dimulai dengan cerita. Cobalah untuk memasukkan beberapa contoh yang nyata berupa kisah ke dalam tulisan. 

Terkait hal ini, saya merekomendasikan buku-buku karya Dale Carnegie. Dalam bukunya, Dale Carnegie selalu memasukkan contoh-contoh yang nyata berupa kisah-kisah yang dialaminya. Kisah-kisahnya membuat pembaca terus tertarik untuk membaca. 

4. Tawarkan perspektif yang baru dan berbeda dari biasanya

Hal ini mungkin agak sulit dilakukan. Tapi saya tetap menuliskannya di sini karena saya berkesempatan untuk membaca tulisan yang memberikan sudut pandang yang sama sekali baru. Adalah buku karangan Stephen R. Covey berjudul 7 Habits of Highly Effective People, buku yang kumaksud itu. Buku itu mungkin menawarkan solusi pengembangkan diri seperti buku-buku sejenis pada umumnya, dan mungkin ide-ide di dalamnya juga beberapa dikupas di buku lain. Namun tetap saja, membaca sebuah ide dan sudut pandang yang baru mengundang rasa penasaran. Dan tambahan pula, siapa tahu kita bisa mempelajari sesuatu.

5. Terakhir, bila terpaksa dan tak ada jalan lain…

Yah, sebagai penulis, tentu ada saatnya kita mengalami kebuntuan. Bila semua senjata sudah dikeluarkan, amunisi terakhir yang bisa dipakai adalah memainkan kata-kata. Seperti yang saya tulis di bagian sebelumnya, penggunaan gaya bahasa sanggup menentukan kualitas tulisan. Cobalah untuk memilih-milih kata-kata terbaik yang bisa digunakan.

Yah, inilah bagian ke-4 dari serial cara membuat tulisan yang mudah dipahami. Atau mungkin, bagian ke-4 ini lebih pas disebut sebagai “Cara Membuat Tulisan yang Enak Dibaca”. Tapi seharusnya sama saja, tulisan yang mudah dipahami seharusnya enak dibaca, dan tulisan yang enak dibaca tentu mudah dipahami. Bila ada yang ingin disampaikan, silakan tulis dan kirim di kolom komentar. Terima kasih 🙂 

Tulis Tangan atau Ketik?

9 Oct

Ini adalah persoalaan lain dalam menulis. Mau tulis tangan dulu atau langsung diketik di komputer/laptop/media lain?

Pertama, saya ingin membahas sedikit teori tentang menuangkan gagasan/pemikiran. Dalam menuangkan gagasan, terdapat 3 faktor: pikiran, media, dan hasil. 

“Pikiran” adalah sumber gagasan. Di dalamnya terdapat gagasan yang masih abstrak dan membutuhkan proses agar bisa disampaikan. Sedangkan “hasil” adalah gagasan yang sudah dituangkan dalam bentuk konkrit dan siap disampaikan pada orang lain. “Media” adalah perantara yang menjembatani antara gagasan yang ada dalam pikiran dan hasil sebagai gagasan berbentuk konkrit. 

Kualitas “hasil” yang ada bergantung pada kualitas “pikiran” dan penguasaan “media”. Semakin bagus kualitas pikiran dan penguasaan media, kemungkinan semakin baik pula kualitas hasil akhirnya. Andaikan kualitas pikiran tidak bagus (silakan baca Cara Membuat Tulisan yang Mudah Dipahami Bag. 1, 2, dan 3), hasil yang diharapkan juga tidak akan maksimal walaupun penguasaan medianya baik. Sama juga halnya bila penguasaan media kurang baik, tentu hasilnya juga kurang baik walaupun ada gagasan yang bagus.

Saya yakin pembaca sudah tahu apa yang dimaksud dengan pikiran dan gagasan dalam tulisan ini, tapi bagaimana dengan media dan hasil? Media adalah segala sesuatu yang dibutuhkan agar gagasan abstrak dapat tertuang secara konkrit — entah itu karya tulis, gambar, poster, atau apapun itu — yang disebut sebagai hasil. Kalau begitu, media bisa berupa apapun: pensil, pulpen, kertas, keyboard, mouse, CPU, dan hal-hal semacamnya. Tapi jangan lupa, yang tak kalah penting adalah skill untuk menggunakan semua itu. Oh ya, 1 hal lagi. Semakin banyak hal yang dibutuhkan dalam suatu media, semakin sulit gagasan dapat tertuang.

Sekarang kita ambil contoh menulis di atas kertas. Media apa saja yang dibutuhkan? Alat tulis dan kertas. Soal kemampuan menulis, saya percaya para pembaca sudah bisa baca tulis semua dengan lancar.

Sekarang kita bandingkan dengan mengetik di komputer, apa saja yang diperlukan? Sambungan listrik, CPU, keyboard, mouse, dan software tertentu yang dibutuhkan. Atau mungkin 1 unit laptop. Tambahkan pula skill yang dibutuhkan untuk menguasai semua aspek hardware dan software yang diperlukan. Special mention pada kemampuan untuk mengetik dengan keyboard secara lancar (silakan baca Skill yang Mutlak Dibutuhkan Setiap Blogger).

Sekarang kita lihat keduanya. Untuk menulis di kertas, praktis cuma perlu pulpen dan kertas, yang notabene dapat ditemukan dengan mudah di sekitar kita. Dengan hanya membutuhkan sedikit benda yang mudah didapat dan tanpa memerlukan skill khusus, menulis di kertas bisa menjadi metode yang sangat mudah digunakan dan sederhana untuk menuang gagasan. Sebagai tambahan, menguraikan ide untuk disusun secara cermat juga lebih mudah. Hal yang bisa menjadi kekurangan adalah mungkin tulisan tangan yang begitu buruk sehingga si penulis jadi malas sendiri untuk melihatnya, dan juga hasil tulisan tangan biasanya tidak langsung siap dipublikasikan karena tetap harus diketik dulu.

Lalu bagaimana dengan mengetik langsung? Mengetik langsung membutuhkan persiapan yang lebih ribet dan skill khusus untuk mengoperasikan segala gadget yang dibutuhkan. Tidak semua orang memiliki akses mudah untuk memakainya setiap saat. Dan bila ada 1 saja komponen yang hilang, situasinya bisa jadi susah (terutama bila hasil yang diharapkan berupa gambar, film, atau hal-hal lain yang lebih rumit). Tapi tidak semuanya buruk juga. Bila anda memiliki tulisan tangan yang jelek, anda tak perlu melihat tulisan tangan anda yang menyedihkan itu. Mengetik langsung juga memudahkan dalam hal melakukan editing, dan pada umumnya siap dipublikasikan begitu selesai.Soal skill, memang dibutuhkan kemampuan khusus untuk mengetik secara cepat dan lancar. Tapi begitu skill itu dkuasai, segala proses mengetik yang lamban itu akan menjadi jauh lebih cepat, mudah, dan menyenangkan.

Lalu mana yang lebih baik? Semuanya tergantung si penulis sendiri. Bila ingin dan harus segera menulis, segera ambil pulpen dan kertas dan mulailah menulis apa saja yang terlintas dalam pikiran. Mungkin bahkan lebih baik bila selalu membawa pulpen dan buku setiap saat untuk segera menuang segala gagasan yang hinggap ke atas kertas. Bila memiliki akses yang relatif mudah terhadap teknologi dan sudah biasa mengoperasikannya, tak perlu merasa repot untuk membuka laptop dan mulai mengetik. Atau tulis draft awal di smartphone sebelum dikembangkan belakangan bila ada waktu luang. 

Saya sendiri menggunakan kedua metode itu. Bila tiba-tiba muncul gagasan, tapi masih belum bisa dipublikasikan dalam waktu dekat, biasanya saya tulis dulu di buku catatan. Namun bila ternyata saya memiliki ide dan ternyata ide itu cukup jelas, saya biasanya segera membuka laptop dan mulai mengetik.

Catatan Dokter PTT Pekan #053

11 Sep

Banemo,  11 September 2016

Apakah dulu saya pernah menulis bahwa “apa yang kau tulis merupakan dirimu yang sebenarnya”? Ternyata sudah, di Pekan #024 (hanya sebuah catatan kecil, tak ada yang terlalu penting). Maka sekarang aku sekilas membaca lagi apa-apa saja yang sudah kutulis selama ini…

Hasilnya? Sebagian besar tulisan yang kuhasilkan berpusat pada pemikiran dan diri sendiri. Hanya beberapa (1-2) saja yang berisi tentang interaksiku dengan orang lain. Ini merupakan hal yang tidak terlalu bisa dibanggakan. Apakah itu berarti aku tak sanggup menulis tentang ini? Bila aku tidak sanggup menulis tentang hal ini, apakah itu berarti aku memiliki masalah?

Bila memang demikian, berarti kemungkinan ada kebiasaan yang harus diubah. Dan omong-omong soal mengubah kebiasaan, cukup beruntung juga aku membaca sekilas tentang hal ini. Sebuah buku yang kubaca mengutip sebuah penelitian tentang mengubah sebuah kegiatan menjadi kebiasaan. Disebutkan bahwa bila kegiatan itu dilakukan secara terus menerus selama 5 pekan, kemungkinan cukup bagus kegiatan itu akan menjadi kebiasaan. Masih dari buku yang sama, disebut pula teori Relapse Prevention (Pencegahan Kekambuhan). Teori ini menyebutkan untuk mengehentikan kebiasaan buruk (seperti merokok, narkoba, makan berlebihan, dll), 3 bulan pertama adalah masa yang paling kritis. Bila sanggup bertahan di 12 pekan pertama, kemungkinan untuk kambuh sangat berkurang. Jadi, untuk membentuk sebuah kebiasaan, 5-12 pekan adalah periode jendela yang baik untuk memulainya.*

Jadi, apakah aku akan sanggup mengubah kebiasaanku?

*Dikutip dari The Blue Zones: Rahasia Hidup Sehat Orang-orang Tertua di Dunia, oleh Dan Buettner, hal. 219

Apa yang Kudapatkan dari Membaca

1 Sep

Ketika saya mengambil keputusan untuk mengabdi di pelosok hampir setahun yang lalu, saya tahu saya perlu memiliki kegiatan lain yang bisa dilakukan di waktu-waktu kosong. Lantas saya teringat bahwa selama beberapa tahun belakangan ini kegiatan membaca saya sangat rendah. Akhirnya kuputuskan untuk mencoba memupuk kebiaasan membaca. Hari, minggu, dan bulan berganti, tak terasa 1 tahun akhirnya hampir terlewati. Motivasi kadang tinggi kadang rendah seperti pasang-surut lautan, tapi sudahlah, toh semua itu sudah lewat. Jadi, apa yang sudah kudapatkan selama hampir setahun ini? Continue reading