Archive | Just My Random Notes RSS feed for this section

Setelah Lama Tidak Menulis

5 Oct

Astaga, ternyata kemampuan menulisku buruk sekali!

Baru saja saya mencoba menulis lagi setelah vakum selama sekian bulan (atau tahun?). Benar-benar payah. Ide yang ada dalam pikiran hanya menjadi ide dalam pikiran, tidak mau mengalir ke dalam bentuk tulisan. Saya masih bisa sedikit mengingat ketika ide dalam pikiran bisa mengalir deras ke tulisan seperti derasnya Air Terjun Niagara, dan saya juga masih bisa ingat ketika otak harus diperas keras-keras untuk memaksa saripati dalam buah pikiran untuk bisa ditampung dalam wadah tulisan. Dan bisa dibilang baru-baru ini merupakan salah satu periode buruk tersebut.

Sekali lagi hal ini mengingatkan diriku bahwa pekerjaan menulis sama sekali bukan pekerjaan gampang. Dan sekali lagi, menulis adalah sebuah skill. Dan layaknya skill, berlaku kaidah use it or lose it. Skill harus selalu diasah dengan cara melakukannya secara terus-menerus. Dan setelah beberapa waktu tidak menggunakan skill tersebut, jelas wajar kalau skill menjadi karatan.

Advertisements

(Susahnya) Jadi Pengusaha Sukses

21 Apr

Aku membayangkan diriku sebagai pengusaha sukses… Pergi pulang ke kantor bisa semaunya tak ada yang mengatur, mungkin kalau bolos pun tidak apa-apa, meeting tiap bulan ke luar kota, malah sering ke luar negeri, kalau perlu apa-apa tinggal suruh bawahan, kerja barangkali cuma duduk-duduk dan tanda tangan… dan uang terus mengalir!

Hal-hal itulah yang kubayangkan ketika menjadi pengusaha sukses, dan mungkin itu pula yang dibayangkan kebanyakan orang-orang. Karena bayangan inilah aku bercita-cita untuk menjadi pengusaha, atau entrepreneur dalam bahasa kerennya. Dan jadi entrepreneur ini sudah kucita-citakan sejak zaman dahulu kala, tidak banyak berubah bahkan setelah menjalani tahun-tahun sebagai profesional bidang kesehatan. Mulai dari kuliah, lulus, dokter muda, internship, sampai sekarang saat PTT. Ide untuk jadi pengusaha tampaknya sudah tertanam begitu kuat dalam benak bagaikan terjangkit parasit yang tak bisa disembuhkan atau tumor ganas yang menggerogoti jiwa, raga, dan pikiran.

Aku sampai pada titik di mana aku memutuskan bahwa aku butuh penyeimbang.

Aku sudah membaca sejumlah literatur tentang entrepreneurship. Tidak bisa dikatakan terlalu banyak, namun setidaknya aku sudah membaca beberapa. Ada yang berisi tentang kisah-kisah orang sukses. Ada yang berisi tentang langkah-langkah memulai dan mengelola bisnis. Ada yang berisi tentang ilmu manajemen, mulai dari manajemen diri, manajemen sumber daya, hingga manajemen tim. Ada yang berisi tentang motivasi dan dorongan positif untuk memulai bisnis. Banyak hal positif yang bisa dipelajari dari tulisan-tulisan seperti di atas. Akan tetapi, hanya sedikit yang bisa kupelajari, bahkan lebih sedikit lagi yang bisa kupahami (bila memang ada), tentang sisi gelap entrepreneur. Sisi gelap itu adalah kesengsaraan dan kegagalan yang mengintai para entrepreneur.

Saya kira sisi gelap ini jarang naik ke permukaan karena pada akhirnya sering ditutupi oleh akhir kisah yang bahagia (happy ending) atau kata-kata dan motivasi positif. Dan orang-orang sukses pun biasanya enggan untuk bersikap transparan tentang segala hal sulit yang dilaluinya. Misalnya saja, ketika seorang teman menjadi juara kelas dan kita mengucapkan selamat padanya seraya memujinya, kemungkinan besar dia akan merendah dan membalas dengan, “Ah, biasa saja”, atau “Itu cuma keberuntungan”, atau kalimat-kalimat semacamnya. Kecil kemungkinannya dia akan bercerita tentang perjuangannya sejak jauh-jauh hari sebelum ujian dalam belajar, dari pulang kuliah hingga larut malam, tanpa sempat makan siang dan malam, sakit perut karena stress dan kebanyakan minum kopi saat begadang, frustrasi karena tak kunjung menguasai bab tertentu, dan sebagainya.

Menurut saya, ketidaktahuan akan sisi gelap ini berbahaya dan dapat menyesatkan para pelaku usaha yang sedang mulai merintis. Saya tidak mau hal ini terjadi pada saya. Oleh karena itu, di tulisan ini saya berusaha fokus untuk mengangkat sisi gelap itu. Sisi gelap itulah yang kumaksud sebagai “penyeimbang”.

Untuk para calon entrepreneur sukses masa depan, tulisan ini tidak dimaksudkan untuk membuat anda sekalian gentar dan balik kanan. Aku membuat tulisan ini untuk mengingatkan diri sendiri bahwa dunia pengusaha dan entrepreneurship tidak seperti yang kebanyakan dilihat dan dibayangkan. Aku membuat tulisan ini juga agar aku dapat melihat dari sisi yang berbeda dengan pandangan yang jernih.

JADI PENGUSAHA (SUKSES*) ITU SUSAH

(* Definisi sukses selalu menjadi topik yang menarik untuk dibicarakan dan layak untuk menjadi sebuah tulisan tersendiri. Bila aku dapat meluangkan waktu, Insya Allah aku akan membuat tulisan tentang definisi sukses)

Kalimat yang di-bold dan berhuruf kapital di atas tampaknya adalah permulaan yang bagus untuk memulai topik ini. Tapi serius, walaupun kita semua tahu apa itu kata “susah”, sebenarnya jadi pengusaha sukses itu sesusah apa sih?

Sekarang, aku memiliki sebuah hipotesis. Hipotesis itu berbunyi, “Pendapatan berbanding lurus dengan usaha”. Jadi, kalau ada seorang direktur memiliki pendapatan sebesar 100 juta perbulan dan seorang pedagang keliling dengan pendapatan 1 juta perbulan, bisa ditarik kesimpulan bahwa sang direktur telah bekerja 100x lebih keras daripada si pedagang keliling.**

(** Hipotesis ini berlaku jika si direktur dan si pedagang keliling sama-sama memulai dari titik nol yang sama. Hipotesis ini tidak sepenuhnya berlaku jika si direktur mendapatkan perusahaannya dari warisan)

Lalu bagaimana persisnya berusaha 100x lebih keras itu?

Tinggal dilihat saja bagaimana kegiatan keseharian si pedagang keliling itu. Bangun pagi-pagi, menyiapkan dagangannya, sarapan sedikit, mungkin malah sering tidak sarapan, berjalan keliling, di bawah terik matahari, menembus hujan deras, baru kembali ke rumah menjelang malah, bahkan sering baru pulang larut malam. Besok bangun pagi lagi, dan seterusnya. Sekarang bayangkan saja berusaha 100x lebih keras daripada itu. Berjalan keliling 100x lebih jauh setiap hari, membawa dagangan 100x lebih berat, menembus cuaca panas yang 100x lebih terik, menembus hujan yang 100x lebih deras… Itu adalah contoh-contoh yang paling ekstrem, namun intinya tetap sama. Anda tahu maksudnya.

Terlihat berat? Memang berat. Dan perlu diingat bahwa ini baru permulaan saja. Perjuangan jadi entrepreneur sukses masih belum berhenti sampai di sini. Karena selain perlu kerja keras, jadi pengusaha sukses itu…

PERLU WAKTU LAMA

Setelah segala kesulitan dan kerja keras yang harus dilalui di atas, datanglah ujian kedua. Ujian waktu. Seseorang tidak bisa dengan gampang mengucapkan mantra ajaib “sim salabim” dan tiba-tiba saja sebuah kerajaan bisnis terhampar di depan matanya. Bukan begitu cara kerjanya. Dia harus melakukan segalanya dari awal. Membuat rencana, mencari medan yang sesuai dan strategis, membuat rancangan kastil, menghitung, panjang, lebar, tinggi, dan sebagainya. Setelah semuanya siap, barulah proyek dimulai. Menggali tanah, membangun pondasi yang kokoh, menyusun bata satu per satu, dengan teliti, dengan telaten… Ada tahapan-tahapan yang harus dilakukan, selangkah demi selangkah. Tak ada jalan pintas, tak ada jalan singkat.

Saya ingin memberikan sedikit ilustrasi tentang waktu yang lama ini. Pada tahun 1955, ketika Jepang masih terpuruk akibat kekalahan di Perang Dunia II, perjalanan kereta api dari Osaka ke Tokyo bisa memakan waktu hingga 20 jam. Maka, kepala dinas perkeretaapian saat itu menginginkan kereta api yang cepat. Ketika para insinyur mengajukan sebuah purwarupa kereta api berkecepatan 100 km per jam, salah satu yang tercepat di zamannya, dia belum puas. Beberapa bulan kemudian, ketika para insinyur untuk kedua kalinya mengajukan prototype kereta dengan kecepatan 120 km per jam, sang kepala dinas mencelanya. Peningkatan sedikit-sedikit hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi sedikit-sedikit. Dia menginginkan kereta dengan kecepatan 190 km per jam. Para insinyur pun bekerja keras. Terowongan-terowongan menembus gunung dibangun agar kereta dapat melaju lurus tanpa perlu berbelok atau memutar, yang biayanya mungkin menyamai bahkan melebihi biaya membangun ulang Hiroshima dan Nagasaki pascaserangan nuklir. Gerbong-gerbong dirancang agar memiliki motor penggerak masing-masing. Roda gerigi dirancang agar bergerak dengan lebih sedikit gesekan. Rel-rel kereta ditempa dan diperkuat untuk meningkatkan stabilitas, sehingga dapat mendukung laju yang lebih cepat. Ratusan inovasi besar dan kecil diciptakan. Dan akhirnya, tahun 1964, hampir 10 tahun setelah kepala dinas mengeluarkan tantangan kereta cepat pada insinyurnya, Shinkansen Youkaidou menyelesaikan perjalanan perdana dari Tokyo ke Osaka dengan kecepatan rata-rata 190 km per jam. Setelah itu, dengan segera kereta-kereta peluru melesat di seluruh penjuru Jepang. Menurut penelitian tahun 2014, faktor kereta api ini berkontribusi terhadap pesatnya pertumbuhan ekonomi Jepang hingga era 1980.

Sebuah aturan yang bisa diterima secara luas adalah “aturan 10.000 jam”, atau “10.000 hours rule”. Ada juga yang menyebutnya “aturan 10 tahun”, karena 10.000 jam bisa dihitung secara kasar menjadi 10 tahun. Namun konsepnya sama saja. Dibutuhkan waktu yang lama untuk menjadi ahli di suatu bidang. Dan itupun baru permulaan saja, karena sekadar menjadi ahli saja tidak menjamin kesuksesan.

Sumber bacaan saya yang berbeda mengatakan bahwa dalam memulai bisnis (start-up), 5 tahun pertama adalah penentuan. Apabila sebuah start-up sukses melewati 5 tahun pertamanya, kemungkinan untuk meraih sukses di tahun-tahun mendatang cukup besar. Sebaliknya, adalah wajar jika lebih dari 50% start-up jatuh di 5 tahun pertamanya. Kegagalan di 5 tahun pertama ini mungkin karena mereka tidak tahan dengan sulitnya beban memulai usaha.

Sekarang, bahkan walaupun sama-sama telah menghabiskan waktu yang sama lamanya, hanya sebagian kecil pengusaha yang bisa dikatakan sukses, sementara sebagian besar lainnya tidak. 

Mengapa? Karena selain butuh waktu lama, pengusaha sukses dituntut untuk…

SELALU BELAJAR

Ini adalah kualitas lain yang membedakan antara seorang rakyat jelata dengan sebagian kecil populasi elit yang disebut entrepreneur sukses. Inilah faktor yang menentukan apakah seseorang akan sukses atau tidak, bila memiliki waktu yang sama. Karena akuilah: soal waktu, yang menentukan bukan hanya soal BERAPA LAMA waktu yang dihabiskan, tapi juga BAGAIMANA waktu itu dihabiskan. Ketika orang-orang biasa hanya menjalankan rutinitas tanpa memaknai maknanya, para calon entrepreneur sukses terus belajar dan menekuni bidangnya untuk menjadi lebih baik. Mereka melakukan hal yang tidak dilakukan kebanyakan orang. Seperti kalimat mutiara, “Hari ini aku akan melakukan hal yang tidak dilakukan orang lain, sehingga besok aku akan meraih hal yang tidak diraih orang lain”.

Hal yang mereka pelajari pun tidak terbatas. Mereka mempejalari bidang masing-masing, itu sudah pasti, tapi mereka juga mempelajari hal yang lain. Ambil saja beberapa contoh. Di fase-fase awal, mungkin mereka baru mulai belajar tentang cara membangun usaha itu sendiri. Lalu sebagai awalan, mereka mungkin juga mulai belajar untuk mendapatkan suplai barang. Setelah usaha mulai berjalan, mereka belajar tentang mengatur cash flow. Mereka belajar tentang bersosialisasi dengan pelanggan. Dari situ, mereka belajar tentang membangun relasi dan kepercayaan. Lalu mereka mempejajari tentang marketing. Kemudian, mereka belajar tentang manajemen sumber daya. Ketika bisnis mulai tumbuh, mereka mulai belajar tentang organisasi tim. Ketika jaringan usaha makin luas, mungkin mereka belajar tentang distribusi barang. Seakan tidak ada habisnya. Dan mereka belajar sambil melakukan bisnisnya.

Andaikan seorang entrepreneur dianalogikan sebagai seorang prajurit, maka bisnis yang mereka lakukan adalah medan perangnya. Sekarang bayangkan, di tengah sengitnya medan tempur dalam peperangan yang tidak berkesudahan, dalam kondisi yang serba sulit dan tidak menentu, seorang entrepreneur dituntut untuk tetap mempertahankan kesadarannya untuk terus memperhatikan keadaan sekitar dan mempelajarinya. Hal ini dilakukannya untuk mendapatkan pemahaman tentang jalannya pertempuran. Dari pemahamannya itu, dia bisa mengetahui kekuatan dan kelemahan pihaknya dan pihak lawan, lalu menutupi kelemahannya sendiri, dan memanfaatkan cela dari strategi lawan untuk merebut kemenangan. Andaikan dia tidak memahami kondisi pertempuran di sekitarnya, dia hanya akan terombang-ambing tidak jelas di tengah ganasnya pertempuran. Atau tewas.

SELALU BERADA DI LUAR ZONA NYAMAN

Kalau mau diringkas, ketiga poin yang disinggung sebelum ini (kerja keras, waktu lama, selalu belajar) dapat dirangkum menjadi kalimat di atas. Selalu berada di luar zona nyaman. Bekerja keras berada di luar zona nyaman. Bersabar dalam mencapai tujuan berada di luar zona nyaman. Belajar pun berada di luar zona nyaman.
Alangkah sulitnya keluar dari zona nyaman! Ketika seseorang sudah semakin lama berada di dalam zona nyaman, mungkin akan semakin sulit baginya untuk keluar dan mencari tantangan. Dia sudah lama terbius dalam zona nyaman, sehingga terlalu takut untuk meninggalkannya. Padahal mungkin saja dia memiliki ambisi besar untuk masa depannya. Namun pada akhirnya, dia memutuskan untuk menetap di zona nyaman. Dan dia harus membayarnya dengan harga yang mahal, yaitu cita-citanya.
Wahai para calon entrepreneur sukses, sudah siapkah kalian meninggalkan zona nyaman yang kalian tinggali saat ini? Pikirkanlah baik-baik. Ingatlah bahwa hanya lautan yang penuh badailah yang bisa menghasilkan pelaut ulung, sebagaimana masa-masa krisis suatu negeri akan memunculkan pemimpin hebat. Dan pada akhirnya, untuk meraih segalanya, seseorang harus siap kehilangan segalanya.

Setelah Semua Ini Berakhir

19 Feb

Beberapa waktu yang lalu saya melontarkan sebuah pertanyaan di FB pribadi. Kalian ingin aku menulis tentang apa di blog? Demikian pertanyaan saya. Beberapa teman menjawab. Saya sudah menduga beberapa jawaban di antaranya, namun ada 1 yang menggelitik. Tulis tentang rencana setelah PTT. Ini saran yang menarik, dan sepertinya aku akan menjawabnya di sini.

Pertama, kujelaskan sedikit tentang awal mula aku PTT di sini. Setelah selesai internship, aku menjadi pengangguran di rumah. Paling-paling cuma jaga di sebuah klinik kecil dua kali seminggu dengan imbalan yang sekadarnya saja. Orang tua saya menyadari inaktivitas anaknya yang satu ini, dan berkeras agar aku segera melanjutkan ke jenjang karir yang lebih tinggi. Salah satu alasan utamanya adalah agar jangan sampai usia muda disia-siakan (intermezo: saat itu saya berusia sekitar 26 tahun, dan sebenarnya saya sudah mulai meragukan paham bahwa saya masih “muda”). Ketika itu juga bisa dibilang masa-masa awal beasiswa LPDP sedang booming. Dan orang tua saya bilang, mengapa tidak dicoba? Waktu itu saya masih enggan untuk menjalani tes dan seleksi untuk urusan apapun, entah itu untuk cari beasiswa, sekolah, kerja, atau lainnya. Di samping karena malas, juga karena curriculum vitae masih bisa dibilang kosong. Orang tua cuma memberi 2 opsi: masuk PPDS dengan LPDP, atau PTT. Pilihan pertama berarti harus ikut 2 tes untuk beasiswa dan sekolah, dengan probabilitas yang tidak terlalu tinggi karena CV yang kosong. Pilihan kedua berarti mencari pengalaman dan tabungan sendiri. Saya memilih pilihan kedua.

Tentu awalnya terasa berat. Namun tetap ada hal yang disyukuri. Bertepatan dengan saya memulai PTT, gaji dokter PTT naik sekitar 50%, kenaikan yang amat signifikan. Sebagai tambahan, tampaknya angkatan PTT saya adalah angkatan terakhir program PTT kemenkes. Dengan kata lain, andaikan saya tidak mengambil kesempatan ini, saya tidak akan bisa ikut PTT kemenkes.

Demikianlah, saya menjalani PTT dengan sebuah mindset. PTT dulu, PPDS kemudian. Hari, minggu, bulan, dan tahun datang silih berganti. Tak terasa perjalanan ini sudah tuntas sekitar 75%, menyisakan sekitar 6 bulan ke depan. Banyak hal yang membuat saya mempertanyakan apa yang sebenarnya ingin benar-benar saya raih dalam hidup. Jadikah saya melanjutkan pendidikan ke jenjang spesialis? Kalau jadi, apa? Kapan? Di mana? Apakah tersedia jalur lain? S2? Mengajar? Apakah masih ada pilihan lainnya?

Sekarang katakanlah saya ingin menjadi spesialis. Sejumlah pertimbangan ada dalam pikiran untuk menentukan spesialisasi yang ingin ditempuh. Saya sudah memutuskan bahwa saya tidak menyukai tindakan. Dengan demikian, saya mencoret pilihan bedah, obgyn, anestesi, THT, dan mata (untuk mata, sebenarnya tugas akhir saya adalah tentang mata, maka seharusnya bisa sedikit meningkatkan probabilitas diterima di bidang ini. Jadi masih 50:50). Saya enggan menangani pasien anak-anak, jadi pediatri juga out. Forensik juga tidak masuk pilihan karena saya malas berurusan dengan hukum. Psikiatri, interna, kardiologi, dan paru-paru berada di urutan paling bawah karena kurang suka. Neuro juga di urutan belakang karena ilmunya yang ruwet, di samping karena sudah diambil kakak pertama saya. Kulit juga tidak kusuka, walaupun sedikit di atas lainnya karena relatif lebih santai. 

Untuk masalah minat, minat terbesar saya sebenarnya di bidang sports medicine. Namun saya masih belum mendalami pilihan ini lebih jauh. Di Unair, kudengar topik ini berada di bawah S2 faal. Sebenarnya cukup menarik karena selama di sini saya juga sempat mengajar di SMK kesehatan setempat tentang faal. Namun kalau gelar akhirnya bukan spesialis, prospek ke depan sepertinya kurang sebaik spesialis. Kalau harus meraih gelar S2 dan bukannya spesialis, saya lebih suka sekalian menjajal kemungkinan sekolah di luar negeri. Jadi pilihan ini belum masuk prioritas top. Alternatif lain adalah spesialis ortopedi di Surabaya karena di situ juga dipelajari tentang cedera olahraga. Namun tak perlu saya ulangi mengapa saya enggan memilih alternatif ini. Kabar lain yang kudengar adalah program spesialis kedokteran olahraga (SpKO) ada di Jakarta. Namun saya belum memastikan. Dan kalau toh memang ada, pilihan ini juga tidak masuk prioritas top karena… yah, Jakarta.

Pertimbangan kepribadian, perlu saya sampaikan bahwa saya adalah orang yang lebih suka menghindari interaksi dengan orang lain (termasuk pasien!). Saya juga lebih suka iklim kerja yang tenang dan bebas tekanan supaya bisa sepenuhnya fokus pada apa yang kukerjakan sendiri. Berkaca dari sini, bidang diagnostik tampaknya cukup ideal. Radiologi, patologi klinik, patologi anatomi, dan sebagainya. Sebagai tambahan, saya mendengar bahwa sepertinya bidang radiologi memiliki prospek yang cukup cerah ke depan. Sejauh ini, pertimbangan kepribadian tampaknya menjadi pertimbangan terbesar buatku. Dan kalau harus memilih spesialisasi, tampaknya radiologi adalah kandidat utama.

TAPI! Sejauh ini tampaknya saya menulis seakan-akan saya memang akan menjadi dokter spesialis. Memang melanjutkan jenjang pendidikan ke spesialis adalah langkah yang banyak ditempuh oleh para dokter umum. Dan untuk alasan yang masuk akal. Namun itu bukan berarti bahwa jalur itu adalah satu-satunya jalur yang ada. Sekarang pertanyaannya adalah, apakah aku benar-benar ingin menjadi dokter spesialis? Apakah ada jalur lain yang terbentang?

Saya sudah menyandang gelar dokter dengan segala hak, kewajiban, dan tanggung jawabnya selama sekitar 3 tahun. Tiga tahun, bukan waktu yang bisa dibilang singkat. Dan apa yang bisa kuceritakan tentang 3 tahun menjadi dokter? Harus aku akui secara jujur bahwa saya merasa tidak berkembang sebagai seorang dokter. Tahun-tahun yang berlalu kulalui dengan perasaan hampa. Sering kali aku pulang dari rumah sakit / puskesmas dengan perasaan exhausted. Biasanya hal itu terjadi ketika menghadapi pasien yang sulit, tetapi tak jarang pula kurasakan bahkan ketika santai!

Bila ada 1 hal yang paling aku inginkan dalam hidup, itu adalah kendali total atas kehidupanku sendiri. Hal itu sudah kumimpikan sejak lama sekali, bahkan sejak sebelum menghitamkan pilihan program studi “Pendidikan Dokter” ketika hendak SNMPTN tahun 2008. Kebebasan untuk keluar-masuk kantor kapanpun kuinginkan tanpa harus khawatir terlambat dan melakukan apapun yang kuinginkan. Menjadi dokter umum biasa berarti menyerahkan kendali itu. Menjadi dokter spesialis pun tidak menjadi lebih baik, walaupun kebebasan finansial tampak mudah diraih.

Yah, semua itu saat ini adalah mimpi. Kenyataan yang kuhadapi tidak berubah. Pendidikan dokter sudah dilalui, gelar dokter sudah diraih. Hal itu sudah menjadi bagian dari identitas dan jati diri. Get up and deal with it. Bila aku sungguh-sungguh benar-benar ingin meraih kendali penuh atas kehidupanku sendiri, berarti aku tidak boleh menjadi sekadar dokter biasa. Aku harus menjadi dokter yang luar biasa dengan berani menempuh jalur yang tidak biasa.

Salah satu buku yang mungkin benar-benar membuatku berpikir serius tentang masa depan adalah Don’t Follow Your Passion karya Cal Newport. Di buku itu, dia menolak gagasan “passion yang sudah ada”. Sebaliknya, dia memperkenalkan konsep “modal karir”. Untuk memperoleh kontrol, terlebih dahulu seseorang harus memiliki modal karir yang memadai. Dan untuk memperoleh modal karir yang memadai, seseorang harus bekerja keras. Tak ada istilah santai-santai. Mungkin suatu saat bila ada kesempatan, saya akan membuat review tentang buku ini.

Kalau aku mencoba melihat kondisiku sekarang berdasar sudut pandang teori ini, saya menyimpulkan bahwa modal karirku sangat jauh dari kata cukup untuk membuatku meraih kontrol. Aku tak punya pilihan lain selain bekerja sangat keras untuk mengembangkan apa-apa yang sudah aku punya. Selain pengalaman dan pengetahuan medis, saya memiliki beberapa hal lain yang barangkali, sekali lagi barangkali, dapat dikembangkan menjadi modal karir yang kuat dan unik. Menulis. Desain grafis dengan coreldraw. Tenis meja.

Hobiku dengan olahraga dan tenis meja merupakan dasar utama aku mempertimbangkan sports medicine sebagai spesialisasi. Namun pengetahuanku tentang studi ini masih dangkal, dan aku harus melakukan penelusuran lebih lanjut. Andaikan pengetahuanku soal studi dan prospek di bidang ini sudah jelas, mungkin aku tidak akan ragu-ragu lagi untuk mengambil spesialisasi ini.

Tentang menulis, ceritanya agak berbeda. Tentang menulis, memang benar aku memiliki blog dan masih memiliki kesempatan untuk mengisinya secara berkala, walaupun tidak rutin. Namun saat ini saya pikir blog itu sebagai tempat latihan saja, bukan sebagai pijakan utama dalam berkarir. Bila aku ingin menjadikan skill menulis sebagai modal karir, aku harus membuktikan tulisan-tulisanku layak dijual. Beberapa cara membuktikannya adalah dengan menerbitkan buku dan artikel yang dimuat di media-media ternama — dan dibayar atas itu.

Desain grafis dengan coreldraw juga bernasib sama. Saya pertama kali berkenalan dengan coreldraw saat SMA, dan kemudian sedikit sekali mempraktikannya saat kuliah. Dan sejak saat itu, bisa dikatakan praktik saya menggunakan coreldraw mendekati 0. Baru-baru ini saja saya mulai berlatih lagi. Jika saya benar-benar serius ingin mendalami jalur ini, saya akan menjadi late-starter dan harus menempuh jalan panjang dan sulit untuk catch up sebelum modal karirku ini bisa diakui.

Satu lagi. Setelah semua ini berakhir, aku berharap memiliki tabungan yang lumayan. Selain untuk sekolah, aku berharap dapat menggunakan uang sebagai investasi pemasukan jangka panjang. Ini adalah wilayah asing yang sama sekali belum aku kenal. Akan tetapi, aku bersedia untuk mempelajari hal ini sambil mempraktekkannya.

Hingga saat ini, saya belum memutuskan dengan pasti apa yang akan kulakukan setelah pengabdian ini berakhir. Akan tetapi, sejumlah jalur yang bisa dilihat sudah terpetakan. Dari jalur-jalur yang ada, sama sekali tidak ada jalur yang mudah. Semuanya sulit dan menantang. Masih ada waktu sekitar 6 bulan sebelum semua ini berakhir. Enam bulan, mungkin cukup lama untuk berpikir, tapi tidak cukup untuk memperbaiki dan meningkatkan diri. Sama sekali tak ada waktu untuk disia-siakan, karena aku memiliki cita-cita untuk disegerakan.

Catatan Dokter PTT Pekan #074

4 Feb

โ€‹Banemo, Kamis 2 Februari 2017

Saya baru saja menyelesaikan makan siang di warung ketika akhirnya saya memutuskan untuk mencoba melakukan hal yang berguna di rumah. Jaringan internet di pantai (satu-satunya lokasi dengan jaringan internet di tempat PTT, itupun cuma EDGE) sedang mati entah mengapa, dan mungkin ini kesempatan untuk melakukan sesuatu yang lebih berguna di rumah.

Setelah bersih-bersih menyapu rumah (kudengar bisa membakar kalori cukup banyak tiap jamnya!), lalu saya membuat kopi sebagai teman untuk melakukan… apa ya? Bahkan ketika saya berhadapan face to face dengan waktu kosong untuk melakukan entah-apa-itu, saya masih belum bisa menentukan apa yang sebaiknya dilakukan. Hati kecil berbisik bahwa laptop sudah beberapa hari tidak dibuka. Otak pun akhirnya mematuhinya dan mengirim impuls-impuls listrik melalui jaringan-jaringan saraf supercanggih ke otot-otot tubuh untuk mengambil laptop dan menyalakannya.

Singkat cerita, saya membuka sebuah folder lama. Folder itu bernama “bahan mentah”, di dalam folder “blog”, di dalam folder “documents”, di dalam… ah sudahlah, tidak penting. Pokoknya, di dalam folder tersebut terdapat sebuah pdf dengan nama yang random (wdqsJsVH0a.pdf). Dalam hati aku bertanya, “Apaan nih?”. Saat dibuka…

Jadi begini. Saat saya sedang di fase-fase awal untuk belajar menulis blog, saya sempat mengikuti semacam “kursus” untuk membuat blog. Di dalam kursus itu, para siswa diberi tugas dari waktu ke waktu. Dimulai dari membuat “page” baru, menulis tentang diri sendiri, menulis tentang tujuan menulis blog, mengubah “layout” blog, hingga upload foto dan lain-lainnya. Pada suatu saat, untuk membantu para siswa agar terus dapat memiliki tema tulisan, kursus itu meng-upload file pdf yang berisi “tema-tema” yang bisa dijadikan bahan tulisan. Tema-tema tersebut juga disandingkan dengan tanggal-tanggal, sehingga untuk setiap tanggal terdapat satu tema. Dan file yang kubuka sekarang adalah file itu.

Di tanggal 2 Februari, temanya adalah berpikir global, bertindak lokal. Penjelasannya, tuliskan pos yang menghubungkan isu global dengan isu personal.

Ini adalah tema yang menarik. Yah, sebenarnya tema-tema lain yang ada di situ juga banyak menarik sih. Namun tema ini saat ini lebih menarik daripada yang lainnya. Pasalnya, saat ini saya tengah dalam proyek kecil untuk membuat artikel blog bertema mirip. Di proyek ini, saya ingin sedikit menulis tentang pentingnya memiliki tujuan yang besar (global), dan untuk mencapainya harus dimulai dari yang kecil (lokal). Saya termotivasi untuk mengerjakan proyek ini setelah saya membaca 1-2 buku yang saya bawa dari Surabaya. Sebenarnya ada buku lain yang ingin saya review untuk kemudian saya jadikan referensi juga untuk proyek ini, kalau bisa. Sayangnya, buku itu saat ini tersimpan di rumah Surabaya.

Saya memiliki beberapa pilihan. Pertama, menunda penyelesaian proyek ini hingga saya tiba di Surabaya. Kedua, mencari referensi tambahan lain. Ketiga, segera menyelesaikan proyek ini dengan segala apa yang ada sekarang. Melihat pilihan-pilihan yang tersedia, kemungkinan yang lebih mungkin dipilih adalah antara 2 dan 3. Pasalnya, bisa dikatakan saya sudah setengah jalan dalam menyelesaikan tulisan ini, dan rasanya tanggung sekali bila harus menunda penyelesaiannya hanya untuk sebuah referensi. Saya tidak punya rencana untuk menunda penyelesaian proyek bila proyek itu bisa segera diselesaikan.

Sebetulnya, kalau mau yang ideal dan ingin mengejar kualitas bila tidak dikejar deadline, pilihan 1 adalah pilihan yang sempurna. Rasa-rasanya, hampir semua buku yang kuanggap bagus dan bermanfaat memiliki daftar yang panjang di daftar pustakanya. Saya jadi bertanya-tanya, apakah penulis itu memang sedari awal rajin membaca sehingga begitu menulis semua bahan bacaannya bisa segera digunakan, atau mereka baru membaca dan melakukan riset begitu mereka mengerjakan proyek tulisannya? Apapun itu, sanggup mencantumkan sedemikian banyak bahan dalam daftar pustaka adalah suatu hal yang hebat, dan layak menjadi bahasan tersendiri.

Catatan Dokter PTT Pekan #072

22 Jan

Tak kusangka aku sudah menjalani program PTT ini selama 72 pekan. Yang berarti progresku menjalani pengabdian ini sudah sekitar 72%. Biasanya aku mengetahui persentase kemajuan ini kalau sudah membuat tulisan “Catatan”. Dan karena sudah puluhan pekan tidak membuat, akhirnya baru ketahuan sekarang sudah sejauh ini…

Saya selalu bingung untuk menulis tentang apa saat membuat catatan ini. Mungkin sebingung semut-semut kecil yang berada dalam keyboard wireless yang sedang kugunakan ini (entah masuk dari mana -_-)… Saat kukeluarkan keyboard ini dari bungkusnya, ternyata sudah mereka kerumuni (syet). Akhirnya kujemur sebentar di terik matahari, dan kaburlah mereka… atau setidaknya sebagian dari mereka. Semut-semut yang tersisa masih berjalan mondar-mandir di atas tuts, merasakan kebingungan yang sama seperti yang menulis.

Kisah Dua Binder

17 Jan

Tumpukan buku itu teronggok begitu saja di meja ruang tamu rumah dinas. Selama ini tumpukan itu berfungsi tak lebih sebagai hiasan semata agar meja tamu kaca yang menopangnya tak terlihat telanjang tanpa taplak. Dengan adanya sedikit tumpukan buku itu, setidaknya orang yang melihat akan menilai bahwa si empunya rumah adalah orang yang terpelajar dan rajin membaca. Atau begitulah harapannya. Mungkin sebenarnya hiasan berupa taplak bakal lebih jujur dan bebas pencitraan karena ternyata si pemilik buku enggan membaca. Boro-boro membaca, sekadar dilihat pun juga sambil lalu saja tanpa ada rasa tertarik.
Tumpukan buku itu kecil saja, sebetulnya. Hanya terdiri dari 2 buah buku yang tebal berwarna kuning dan putih, serta 2 buku lain yang lebih tipis dan kecil. Namun di atas tumpukan buku itu terdapat 2 buah binder, seakan-akan menjadi atap yang melengkapi “rumah ilmu” di bawahnya. Dibandingkan dengan buku-buku di bawahnya yang terlihat lumayan baru, kedua binder itu tampak berumur agak lebih lama.

Saya pun menghela napas panjang. Binder pertama memiliki sampul berwarna putih polos. Binder putih ini sudah kumiliki sejak masa kuliah, dan terus setia menemani hingga lulus, internship di Ngawi, dan sampai sekarang saat PTT di Halmahera Tengah. Fungsinya adalah mencatat  pelajaran dan pengalaman medis yang kudapatkan selama menjadi mahasiswa dan dokter. Binder ini sebenarnya tidak terlalu sering dibuka-buka, sampai pada suatu saat tibalah masa-masa persiapan uji kompetensi dokter Indonesia, atau UKDI. Pada periode ini, binder ini menjalankan fungsi yang lebih spesifik. Agar saya bisa memahami penyakit case-by-case, saya mencatat setiap penyakit yang sudah kupelajari di situ. Subjective, objective, assessment, planning. Harapannya adalah catatan ini akan berguna untuk menjalani ujian, dan tetap berguna setelahnya saat sudah menjadi dokter.

Kalau kuingat-ingat lagi, binder putih itu bukan binder pertama yang kumiliki. Saya sudah menggunakan binder sejak SMA, namun hilang entah ke mana saat kuliah. Fungsinya mirip, untuk mencatat pelajaran-pelajaran yang kupelajari, terutama saat menjalani program intensif persiapan ujian masuk perguruan tinggi, atau SNMPTN, di tahun 2008. 

Saya jadi teringat masa itu. Saat itu, salah satu guru bimbel semacam terkesan dengan saya. Setiap dia memberi penjelasan, ketika teman-teman saya sibuk mencatat, saya cuma manggut-manggut (sambil dalam hati saya bergumam, “Ternyata ada solusi seperti itu”). Setelah saya disuruh mencatat, barulah saya mencatat. Itu pun cuma 1-2 baris, dan setelah itu langsung tidur di meja. Namun dengan cara seperti itu, tiap try out rangking saya selalu konsisten berada di papan atas. Entahlah, mungkin memang kelebihanku terletak pada memahami intisari setiap pelajaran untuk kemudian dikeluarkan menjadi solusi-solusi kreatif. Bukan mengingat-ingat nama-nama saraf, tulang, pembuluh darah, virus, kuman, cacing, obat, dan hal-hal sebangsanya.

Binder kedua kubeli saat PTT, bersampul foto Cristiano Ronaldo. Mengapa CR7? Dia memang salah satu pemain terbaik dunia dengan segala pencapaiannya, baik individu, klub, maupun tim nasional. Akan tetapi, bukankah dia adalah pemain yang sombong dan arogan? Yah, itu adalah setengah yang kupikirkan. Setengahnya lagi aku berpendapat bahwa dia layak mendapat penghormatan karena jiwa sosialnya yang tinggi. Disebut-sebut dia tidak mentato kulitnya (hal yang cukup “lazim” dilakukan para pemain bola profesional agar terlihat “keren”) agar dia dapat rutin mendonorkan darahnya. Dia juga satu dari sedikit pemain bola profesional papan atas yang menyatakan dukungannya kepada Palestina secara terbuka, dan dikisahkan pernah menolak bertukar jersey dengan pemain “Israel”. Ketika krisis Suriah melanda baru-baru ini, dia mengunggah video yang berisi dukungan moralnya kepada para pengungsi dan korban konflik. Meskipun demikian, bukan hal-hal tersebut yang membuat saya membeli binder bersampul fotonya. Saya memutuskan untuk membeli binder bersampul Cristiano Ronaldo karena saat di toko, satu-satunya binder pilihan lain adalah yang bersampul Hello Kitty.

Saat binder ini dibuka, di sampul depan bagian dalam terselip 2 lembar fotoku bersama beberapa orang teman, saat kuliah dan internship. Tidak terlalu banyak, mungkin jumlahnya tidak sampai 20 orang. Sebagai orang yang sangat ekstrem introvert, bisa dibilang saya hampir tidak pernah merasakan dorongan untuk bersosialisasi dan memiliki banyak teman. Namun, apabila saya sudah menganggap seseorang sebagai teman dekat, percayalah bahwa saya adalah teman yang sangat setia.

Di halaman pertama, terdapat timeline yang di dalamnya terdapat target-target yang ingin kuraih di masa depan. Sebagai individu, anggota keluarga, dan masyarakat. Misalnya di timeline individu, salah satu prestasi yang ingin kucapai adalah menerbitkan buku pertama sebelum usia 30 tahun (itu berarti aku punya waktu kurang dari 3 tahun dari sekarang). Contoh lain adalah meraih gelar S2 sebelum berusia 35 tahun dan gelar S3 sebelum 40. Sasaran lain, yang mungkin agak kurang penting namun tak kalah ambisius, adalah menjadi juara di turnamen tenis meja tunggal, juga sebelum berusia 40 tahun. Masih banyak capaian yang ingin kuraih yang tak kutulis di sini. Di timeline keluarga, ada sasaran menikah pada usia sekitar 30 tahun. Dengan rentang plus-minus 3 tahun, kuharap target ini segera tercapai. Di timeline masyarakat, cukuplah aku menulis di sini bahwa aku ingin memberikan kontribusi yang besar dan monumental bagi Republik Indonesia ini sebelum berusia 55 tahun.

Pada waktu-waktu kosong, ketika ingat, saya akan membuka binder ini. Ketika menatap foto bersama teman-teman dan mengenang waktu bersama, hal itu memberi perasaan senang tersendiri. Tak cuma itu, kadang-kadang saya juga membuka foto keluarga yang tersimpan di HP, dan itu juga memberi perasaan serupa. Seakan-akan aku mendapatkan motivasi baru untuk terus maju dan berjuang. Menoleh ke halaman pertama, timeline yang saya gambar di sana mengingatkan saya bahwa banyak hal yang bisa dicapai, baik itu hal-hal kecil maupun hal-hal besar. Sepertinya sudah sepatutnya waktu-waktu kosong yang ada digunakan sebaik-baiknya untuk semakin memantapkan langkah mendekati raihan-raihan tersebut. Dan kesempatan untuk meraih impian akan semakin sempit seiring dengan berjalannya waktu yang disia-siakan.

Catatan Dokter PTT Pekan #057

7 Oct

Saya mendengar bahwa kasus kriminal di kecamatanku mengalami peningkatan. Beberapa pekan yang lalu, pemilik  warung langgananku bertutur bahwa kaos dagangannya dicuri. Dalam jangka waktu yang tidak begitu jauh, rumah dinasku menunjukkan tanda-tanda dibobol orang, walaupun alhamdulillah tampaknya tak ada benda berharga yang hilang. Kemudian yang terbaru, polisi kenalan saya bercerita dia baru saja mengusut kasus upaya pencabulan. Ketika korban sedang tidur, pelaku menyelinap masuk dengan membawa gunting dengan niat melakukan Anda-Tahu-Apa. Pelaku sudah ditangkap dan masalah diselesaikan secara “kekeluargaan”.

Awalnya saya agak enggan percaya bahwa kasus kejahatan di sini meningkat. Sampai saya mendengar cerita terbaru di atas baru-baru ini. Kok bisa? Pikir saya.

Saya mengobrol singkat dengan pak polisi kenalan saya tentang perkembangan ini. Pak polisi ini mengaitkannya dengan pilkada yang akan diadakan beberapa bulan lagi. Hah, kok bisa? Pikir saya lagi. Lalu dia menjelaskan analisisnya. Kemungkinan ada beberapa oknum juru kampanye yang semacam membagi-bagi materi pada masyarakat setempat untuk memilih calon tertentu. Oleh si penerima, hadiah ini digunakan untuk berfoya-foya — terutama minum miras. Mungkin juga karena terlalu sering diberi hadiah, akhirnya penerima ini jadi sulit lepas dari foya-foya. Akhirnya dihalalkanlah segala cara untuk mendapatkan uang, termasuk melakukan tindak kejahatan.

Mungkin terdengar agak dibuat-buat, tapi tidak akan mengejutkan bila memang benar adanya. Isu yang saya dengar adalah wilayah ini termasuk wilayah yang “panas” setiap kali ada kegiatan politik semacam pilkada. Saya tidak bisa menemukan penjelasan lain. Dan melihat kultur masyarakat di sini, penjelasan di atas menjadi sangat masuk akal buat saya.

Sebenarnya, kalau keadaan jadi panas, yang paling enak adalah tiduran di rumah sambil kipas-kipas. Kan enak jadi tidak kepanasan. Tapi jadi tidak enak juga buat dokter kalau akhirnya harus ada pasien gawat darurat karena luka benda tajam atau kasus-kasus lain semacamnya…

Wahai Indonesia, inilah potret dirimu di sini.