Archive | Uncategorized RSS feed for this section

Catatan Dokter PTT Pekan #099

30 Jul

Banemo, akhir Juli 2017

Ini sudah pekan ke-99 😮 😮 😮 Kurang 1 pekan sebelum pekan ke-100, terus masuk injury time (soalnya 2 tahun tu gak pas 100 pekan, wkwk), terus peluit akhir pertandingan. Moga-moga gak ada overtime atau extra time dah, apalagi adu penalti…

Kalau menengok ke belakang, sebenarnya sudah disangka aku sudah berjalan sejauh ini. Sudah hampir 2 tahun kuhabiskan jatah umur di sini. Lama atau sebentar? Saat pertama hendak menjalani, 2 tahun terlihat seperti terowongan yang ada ujungnya. Namun setelah bisa melihat cahaya di ujung lorong, ternyata tak terasa juga. Mungkin memang benar kata orang-orang bijak. Kalau punya sasaran, jangan terlalu merasa cemas dengan segala apa yang mungkin ada di depan. Lakukan saja, just do it. Dan tiba-tiba saja sudah ada di ujung jalan.

Pemburu Elang

7 Apr

Elang itu terbang di atasnya, melayang-layang tinggi di langit. Sayapnya membentang lebar seakan-akan hendak memeluk bumi yang ada di bawahnya. Mungkin rentangan kedua sayapnya tak kurang dari 2 meter dari ujung ke ujung, tertutup bulu berwarna cokelat gelap. Sangat berbeda dengan bulu yang menutupi kepala, leher, dan kedua kakinya yang berwarna putih bersih. Elang itu terus saja terbang melayang di angkasa, mengawasi daratan yang ada di bawahnya dengan kedua matanya yang tajam.

Si Pemburu sudah mengawasi elang itu 1 menit lamanya, mengagumi bagaimana elang itu bisa terbang di angkasa tanpa ada sesuatu pun yang menahannya kecuali kuasa Tuhan. Namun ada tugas yang harus dilaksanakan, suka atau tidak suka. Permintaan pasar untuk binatang yang diawetkan belakangan ini melonjak tinggi dan menjanjikan uang yang banyak untuk siapapun yang bisa memenuhinya. Para pemburu, tergiur dan dibutakan oleh ketamakan, berlomba-lomba untuk memburu sebanyak mungkin satwa-satwa bernilai tinggi untuk sekadar dijadikan pajangan dan hiasan di rumah. Elang, beruang, harimau, dan tak terhitung banyak jenis hewan langka lainnya, semakin langka semakin tinggi nilainya.

Aku harus menafkahi keluargaku dan membayar pengobatan ayahku, itulah yang dikatakan Si Pemburu pada dirinya sendiri sebelum memutuskan untuk berangkat.

Dengan perlahan-lahan, tanpa suara, Si Pemburu menyiapkan busurnya. Menarik anah panah dari sarung panah di punggungnya, dengan hati-hati memasang di busurnya. Dia baru setengah menarik busurnya ketika itu terjadi…

Mendadak, ada sesuatu yang menarik perhatian elang. Elang itu tiba-tiba menukik ke darat, sangat cepat. Matanya yang tajam terpusat pada satu titik di tanah. Ketika sudah dekat dengan tanah, elang itu membuka sayapnya, terbang rendah dan dan bahkan lebih cepat mendekati mangsanya. Kedua cakarnya yang setajam ujung pisau terbuka lebar, bersiap menangkap sasarannya. Lalu, dengan sebuah cengkeraman yang perkasa, elang itu menangkap mangsanya. Dengan kepak kedua sayapnya, elang itu terbang, makin tinggi, makin jauh. Di cakarnya, tercengkeram seekor kelinci kecil yang lunglai tidak berdaya.

Si Pemburu di darat mengawasi si pemburu di langit yang terbang menjauh dari kejauhan. Si Pemburu menyadari bahwa elang itu juga pemburu, sama halnya seperti dirinya sendiri. Dan, mungkin juga elang itu berburu untuk mencarikan makanan bagi pasangan dan anak-anaknya yang mungil di sarangnya, sama halnya seperti diriku, pikir Si Pemburu. Si Pemburu mendadak membayangkan sosok istrinya yang menunggunya di rumah beserta ketiga anaknya yang masih kecil-kecil dan lucu. Juga sosok ayahnya, yang sudah tua dan sangat kurus, hanya bisa berbaring di ranjang karena penyakit yang menggerogotinya.

Si Pemburu terpaku, sibuk dengan pikirannya. Di kedua tangannya masih tergenggam anak panah dan busur yang setengah tertarik.

2 Sep

Offline sampai waktu yang tak bisa dipastikan 😭😅😪

View on Path

Is there a doctor on board?

3 Jan

I’m wondering what I’ll do if I were in his shoes….

markmdmph

I have been traveling a bit for residency interviews over the past few weeks, and given that planes, trains, and buses have become my new home, I have been thinking a lot about what I would do if a fellow passenger needed medical help. As we go into the holiday season, I imagine many people with medical training will be traveling, as well.

I was once called upon to assist a passenger in an in-flight medical emergency. It was when I was leaving for vacation after completing my third-year clerkships, and my relatively minimal hands-on experience put me as the highest-ranking medically trained person on the plane. I was thrust into a relatively unfamiliar situation and forced to apply my medical knowledge in the “low-resource” setting of the airplane.

Thankfully, the passenger was stable and didn’t require more than a history and basic physical, but the experience left me wondering…

View original post 1,352 more words