Archive | Uncategorized RSS feed for this section

Catatan Dokter PTT Pekan #099

30 Jul

Banemo, akhir Juli 2017

Ini sudah pekan ke-99 😮 😮 😮 Kurang 1 pekan sebelum pekan ke-100, terus masuk injury time (soalnya 2 tahun tu gak pas 100 pekan, wkwk), terus peluit akhir pertandingan. Moga-moga gak ada overtime atau extra time dah, apalagi adu penalti…

Kalau menengok ke belakang, sebenarnya sudah disangka aku sudah berjalan sejauh ini. Sudah hampir 2 tahun kuhabiskan jatah umur di sini. Lama atau sebentar? Saat pertama hendak menjalani, 2 tahun terlihat seperti terowongan yang ada ujungnya. Namun setelah bisa melihat cahaya di ujung lorong, ternyata tak terasa juga. Mungkin memang benar kata orang-orang bijak. Kalau punya sasaran, jangan terlalu merasa cemas dengan segala apa yang mungkin ada di depan. Lakukan saja, just do it. Dan tiba-tiba saja sudah ada di ujung jalan.

Advertisements

Sukses dengan 10.000 Jam

27 Feb

Kupikir, ketika aku sudah menetapkan tujuan-tujuan yang akan kuraih dalam hidup, dan memutuskan untuk berkomitmen untuk itu, mendadak aku menyadari bahwa betapa sedikitnya waktu yang kumiliki dalam sehari. Dan yang lebih membuat sedih, betapa lebih sedikitnya waktu yang telah kuinvestasikan untuk mendekatkan diriku pada tujuan-tujuan tersebut sejauh ini.

Mengapa aku berpikir demikian? Aku mendasarkan pikiran ini pada teori “10.000 hours rule”, atau “aturan 10.000 jam”. Pada dasarnya, teori ini menyebutkan bahwa agar seseorang dapat disebut sebagai seorang expert, sedikitnya dia harus menghabiskan waktu sebanyak tak kurang 10.000 jam untuk berlatih.

Sekilas Tentang 10.000 Jam

Sekarang marilah kita ambil contoh. Sebut saja salah satu tujuanku adalah menjadi seorang pengusaha sukses, mendirikan perusahaan sendiri, dan memiliki pendapatan sekian puluh juta dalam sebulan. Dan katakanlah tujuanku itu ingin kucapai dalam 10 tahun ke depan. Cukup lama?

Mari kita tinjau dari sisi aturan 10.000 jam. Bila 10.000 jam dibagi dalam 10 tahun, akan terdapat 1.000 jam di setiap tahun. Seribu jam dibagi dalam 365 hari dalam setahun, berarti sekitar 3 jam sehari. Artinya, untuk mencapai sasaranku dalam 10 tahun ke depan, aku harus menyisihkan waktu selama 3 jam setiap hari untuk mengejar capaian ini. Mungkin tampak relatif mudah bagi orang-orang yang memang berprofesi di bidang perniagaan, mulai dari pedagang asongan di jalanan hingga para mompreneur yang membuka olshop di rumah. Namun bagi saya yang tidak berprofesi di bidang perniagaan dan memiliki zero experience, menyisihkan waktu sebanyak 3 jam setiap hari adalah sebuah tantang. Itupun bila aku hanya memiliki 1 tujuan. Bila aku memiliki 3 tujuan yang ingin kuraih dalam 10 tahun ke depan, waktu yang harus kusisihkan setiap hari akan menjadi 9 jam. Dan lebih banyak lagi bila aku ingin meraihnya lebih cepat. Bukan main.

Sebagai tambahan, menghabiskan 10.000 jam saja tidak cukup untuk menjamin sebuah keberhasilan. Lihat contoh para peniaga yang kusebut di atas, mulai dari pedagang asongan hingga mompreneur. Mungkin mereka semua sama-sama telah menghabiskan 10.000 jam di bidangnya, bahkan lebih. Namun tidak semua mendapat hasil yang sama. Sebagian lebih sukses daripada sebagian yang lain. Bahkan sebagian kecil meraih hasil yang jauh melampaui sebagian besar lainnya. Mengapa hal itu bisa terjadi?

Itu adalah pertanyaan yang relevan. Di sebuah buku, saya pernah membaca suatu penelitian yang mengupas tentang para pecatur.Penelitian itu dipimpin oleh Neil Charness, psikolog dari Universitas Negeri Florida. Dia menemukan bahwa walaupan sama-sama telah berlatih selama sekitar 10.000 jam, hanya sebagian saja yang layak menyandang gelar grand master, sedangkan sebagian lainnya hanya mencapai level menengah. Lebih lanjut, pada akhirnya disimpulkan bahwa para grand master berhasil meraih gelar mereka karena pada umumnya mereka menghabiskan waktu 5 kali lipat lebih banyak untuk mempelajari permainan secara serius, daripada hanya sekadar bermain di turnamen saja.

Dengan kata lain, aturan 10.000 jam bukan hanya soal jumlah dan kuantitas, melainkan juga soal mutu dan kualitas. Menjalani 10.000 jam secara asal-asalan jelas tidak akan membantu. Penulis buku yang saya sebut di atas menggunakan istilah “latihan-sengaja”. Dan untuk meraih hasil yang diinginkan, konsep “latihan-sengaja” harus selalu diterapkan dalam pekerjaan dan kegiatan sehari-hari.

Hubungannya dengan Kesuksesan

Mengapa saya menuliskan “aturan 10.000 jam”? Apa hubungannya dengan kesuksesan? Bagi saya, setidaknya ada 2 alasan. Yang pertama adalah karena sukses didahului oleh mahir. Yang kedua adalah karena sukses membutuhkan waktu.

Mari kita lihat. Semua orang sukses adalah pakar di bidangnya masing-masing. Dokter meraih sukses tentu karena dia ahli di bidangnya. Manager sukses tentu juga karena dia cakap dalam managemen. Pengusaha yang sukses pun berhasil karena dia memahami bidangnya dengan baik. Lebih jauh lagi, semua kesuksesan itu tidak dicapai dalam waktu semalam. Kesuksesan membutuhkan waktu dan proses. Jangan harap kesuksesan dapat diraih dalam waktu singkat. Semakin besar sukses yang ingin diraih, semakin besar waktu dan sumber daya yang harus dikorbankan.

Mungkin ada sejumlah orang yang meraih sukses di usia muda, mungkin bahkan sangat muda. Soal itu, aku percaya hal tersebut bukan sesuatu yang ajaib. Hal itu terjadi semata karena dia sudah mulai merajut kesuksesan amat sangat jauh-jauh hari sebelum hari dia disebut sukses. Tak perlu merasa terlalu takjub, karena saya yakin dia juga menapaki jalan derita yang serupa dengan orang-orang sukses lain. Hal itu seharusnya menjadi motivasi. Bila dia bisa sukses, mengapa saya tidak?

Pemburu Elang

7 Apr

Elang itu terbang di atasnya, melayang-layang tinggi di langit. Sayapnya membentang lebar seakan-akan hendak memeluk bumi yang ada di bawahnya. Mungkin rentangan kedua sayapnya tak kurang dari 2 meter dari ujung ke ujung, tertutup bulu berwarna cokelat gelap. Sangat berbeda dengan bulu yang menutupi kepala, leher, dan kedua kakinya yang berwarna putih bersih. Elang itu terus saja terbang melayang di angkasa, mengawasi daratan yang ada di bawahnya dengan kedua matanya yang tajam.

Si Pemburu sudah mengawasi elang itu 1 menit lamanya, mengagumi bagaimana elang itu bisa terbang di angkasa tanpa ada sesuatu pun yang menahannya kecuali kuasa Tuhan. Namun ada tugas yang harus dilaksanakan, suka atau tidak suka. Permintaan pasar untuk binatang yang diawetkan belakangan ini melonjak tinggi dan menjanjikan uang yang banyak untuk siapapun yang bisa memenuhinya. Para pemburu, tergiur dan dibutakan oleh ketamakan, berlomba-lomba untuk memburu sebanyak mungkin satwa-satwa bernilai tinggi untuk sekadar dijadikan pajangan dan hiasan di rumah. Elang, beruang, harimau, dan tak terhitung banyak jenis hewan langka lainnya, semakin langka semakin tinggi nilainya.

Aku harus menafkahi keluargaku dan membayar pengobatan ayahku, itulah yang dikatakan Si Pemburu pada dirinya sendiri sebelum memutuskan untuk berangkat.

Dengan perlahan-lahan, tanpa suara, Si Pemburu menyiapkan busurnya. Menarik anah panah dari sarung panah di punggungnya, dengan hati-hati memasang di busurnya. Dia baru setengah menarik busurnya ketika itu terjadi…

Mendadak, ada sesuatu yang menarik perhatian elang. Elang itu tiba-tiba menukik ke darat, sangat cepat. Matanya yang tajam terpusat pada satu titik di tanah. Ketika sudah dekat dengan tanah, elang itu membuka sayapnya, terbang rendah dan dan bahkan lebih cepat mendekati mangsanya. Kedua cakarnya yang setajam ujung pisau terbuka lebar, bersiap menangkap sasarannya. Lalu, dengan sebuah cengkeraman yang perkasa, elang itu menangkap mangsanya. Dengan kepak kedua sayapnya, elang itu terbang, makin tinggi, makin jauh. Di cakarnya, tercengkeram seekor kelinci kecil yang lunglai tidak berdaya.

Si Pemburu di darat mengawasi si pemburu di langit yang terbang menjauh dari kejauhan. Si Pemburu menyadari bahwa elang itu juga pemburu, sama halnya seperti dirinya sendiri. Dan, mungkin juga elang itu berburu untuk mencarikan makanan bagi pasangan dan anak-anaknya yang mungil di sarangnya, sama halnya seperti diriku, pikir Si Pemburu. Si Pemburu mendadak membayangkan sosok istrinya yang menunggunya di rumah beserta ketiga anaknya yang masih kecil-kecil dan lucu. Juga sosok ayahnya, yang sudah tua dan sangat kurus, hanya bisa berbaring di ranjang karena penyakit yang menggerogotinya.

Si Pemburu terpaku, sibuk dengan pikirannya. Di kedua tangannya masih tergenggam anak panah dan busur yang setengah tertarik.

2 Sep

Offline sampai waktu yang tak bisa dipastikan 😭😅😪

View on Path

Is there a doctor on board?

3 Jan

I’m wondering what I’ll do if I were in his shoes….

markmdmph

I have been traveling a bit for residency interviews over the past few weeks, and given that planes, trains, and buses have become my new home, I have been thinking a lot about what I would do if a fellow passenger needed medical help. As we go into the holiday season, I imagine many people with medical training will be traveling, as well.

I was once called upon to assist a passenger in an in-flight medical emergency. It was when I was leaving for vacation after completing my third-year clerkships, and my relatively minimal hands-on experience put me as the highest-ranking medically trained person on the plane. I was thrust into a relatively unfamiliar situation and forced to apply my medical knowledge in the “low-resource” setting of the airplane.

Thankfully, the passenger was stable and didn’t require more than a history and basic physical, but the experience left me wondering…

View original post 1,352 more words