Catatan Dokter PTT di Ibukota

16 Aug

Hahaha, sebenarnya posting ini merupakan sebuah megalatepost yang terlambat hampir 1 bulan. Sekitar tanggal 20 Juli, saya pergi ke Jakarta untuk menghadiri seminar bertema radiologi di UI, sekaligus mengunjungi kerabat di Jakarta. Rencana lain juga mau lihat-lihat Jakarta itu seperti apa sekarang, siapa tahu juga bisa jadi anak gaul ibukota, wkwk.

Jadi, saya berangkat dari Ternate ke Jakarta. Di hari itu, sebenarnya ada 2 penerbangan yang langsung tanpa transit. Yang pertama tiba di Jakarta siang sekitar jam setengah 1, yang kedua tiba sore sekitar jam 5. Mendengar kisah horor tentang macetnya Jakarta yang legendaris, tentu saya menghindari tiba di Jakarta pada saat jam sibuk, walaupun kata kakak saya penerbangan itu lebih baik daripada yang pertama.

Singkat cerita, tibalah saya di Bandara Soekarno-Hatta. Yang saya lihat di sini, GoJek atau moda transportasi berbasis online apapun tidak diizinkan berada di lingkungan bandara (kalau cuma sekadar mengantar ke bandara masih bisa, tapi kalau mengantar DARI bandara tidak). Jadi saya menggunakan mobil transportasi yang sudah mendapat izin.

Setelah satu-dua hari beristirahat dan bersilaturahmi dengan keluarga di Jakarta, tibalah hari-H seminar yang sudah kutunggu-tunggu. Ini juga aku sekaligus ingin menjajal pelayanan transportasi umum di Jakarta. Hasil dari tanya-tanya dan studi pustaka di internet, aku menemukan bahwa lokasi seminar berada di gedung RIK UI, Depok (Kampus UI ada 2. Gedung RIK singkatan dari Rumpun Ilmu Kesehatan, kalau tidak salah ingat). Untuk sampai di sana bisa menggunakan KRL jurusan Bogor. Lalu, kalau dari Grogol, aku harus ke stasiun mana kalau mau naik KRL? Dari rumah kerabatku, aku naik busway di Halte RS Sumber Waras dan turun di Halte Juanda. Turun dari halte, tinggal menyeberang saja ke terminal KRL. Daerah ini juga tempatnya Masjid Istiqlal berada, dan Monas pun juga tidak jauh lagi. Jadi kalau mau ke Monas atau Masjid Istiqlal pakai busway/KRL, tinggal turun di Juanda (bukan Bandara Juanda Surabaya lho ya).

Untuk naik busway, diharuskan untuk membeli kartu dulu, tarifnya tidak sampai 50.000. Kartu ini berlaku jangka panjang, tapi perlu diisi ulang dari waktu ke waktu sesuai penggunaan. Naik KRL juga wajib beli kartu, bedanya kartunya ini cuma berlaku selama 1 minggu.

Ah ya. Kan ceritanya lagi di Jakarta nih. Mumpung selama ini ada di desa yang enggak ada mall, rugi banget dong kalau ke Jakarta Kota 100o mall tanpa lihat-lihat mall. Akhirnya aku memutuskan untuk mengunjungi Plaza Senayan sebagai destinasi. Turun di Halte Senayan, jalan kaki 1 kilo kok tidak sampai-sampai? Yahelah, ternyata Plaza Senayan itu lebih dekat sama Halte BUNDERAN Senayan -_- Sama-sama “Senayan”, tapi ternyata lumayan saling berjauhan juga… Yah sudahlah, jadi pelajarannya adalah banyak-banyak bertanya, lakukan riset yang mendalam mengenai tempat tujuan. ‘kay?

Kesan-kesan selama menggunakan transportasi umum di Jakarta? Hmm, sebenarnya lumayan enak sih. KRL dan bus nya bersih, nyaman, dan ber-AC. Terminalnya juga bersih. Tapi pas jam-jam sibuk, jangan harap bisa dapat tempat duduk ya, haha. Secara umum, masih banyak ruang untuk dikembangkan, tapi mungkin masih merupakan pilihan yang viable untuk menghindari kemacetan…

Berikut saya lampirkan foto-foto berisi jaringan KRL dan busway di Jakarta, semoga bermanfaat 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: