Archive | Padamu Negeri RSS feed for this section

Andaikan Negara Adalah Sebuah Badan

8 Feb

The purpose of this chapter has been to point out, first, the overall organization of the body and, second, the means by which the different parts of the body operate in harmony. To summarize, the body is actually a social order of about 100 trillion cells organized into different functional structures, some of which are called organs. Each functional structure contributes its share to the maintenance of homeostatic conditions in the extracellular fluid, which is called the internal environment. As long as normal conditions are maintained in this internal environment,the cells of the body continue to live and function properly. Each cell benefits from homeostasis, and in turn, each cell contributes its share toward the maintenance of homeostasis. This reciprocal interplay provides continuous automaticity of the body until one or more functional systems lose their ability to contribute their share of function. When this happens, all the cells of the body suffer. Extreme dysfunction leads to death; moderate dysfunction leads to sickness.

(Textbook of Medical Physiology Guyton ed. 11, 2005)

Konsep homeostasis adalah konsep yang menjadi tulang punggung dalam fisiologi. Fisiologi itu sendiri merupakan cabang ilmu yang mempelajari bagaimana cara kerja di dalam makhluk hidup, mulai dari proses senyawa kimia dalam sel hingga rumitnya menjelaskan bagaimana suhu panas menyebabkan orang berkeringat. Secara singkat, semua proses dalam tubuh makhluk hidup dengan segala kompleksitasnya bertujuan untuk mencapai homeostasis, kondisi lingkungan internal yang stabil dan seimbang serta dapat mendukung kelangsungan kehidupan si makhluk hidup yang bersangkutan .

Saya sungguh tertarik dengan cara penyampaian tentang homeostasis di paragraf pertama. Kusadari betapa relevannya konsep homeostasis pada makhluk hidup ini dengan kondisi sebuah negara. Kalau sebuah organisme (sebut saja manusia) dapat dianalogikan dengan sebuah negara, maka sel-sel yang menyusun organisme tersebut dapat dianalogikan dengan penduduk yang menghuni negara itu. Sel-sel dalam tubuh manusia ada miliaran jumlahnya, dan memiliki sruktur dan fungsi yang berbeda-beda pula. Namun mereka menjalankan tugas dan perannya masing-masing sesuai aturan. Mereka memberikan kontribusi sesuai perannya masing-masing untuk menciptakan homeostasis, dan homeostasis memungkinkan setiap sel memberikan kontribusi dengan baik. Hubungan timbal balik ini seharusnya juga berlaku bagi sebuah negara. Setiap warga negara, tanpa kecuali mulai dari petani hingga presiden, wajib memberikan kontribusi bagi negara. Kontribusi maksimal dari setiap warga negara akan menghasilkan lingkungan bernegara yang stabil, sehingga memungkinkan para warganya untuk berkontribusi lebih jauh lagi.

Tidak cukup sampai di situ saja. Sebuah kehidupan dengan segala fungsi di dalamnya tidak akan bertahan hidup lama andaikan ada 1 saja fungsi yang tidak bekerja dengan baik. Hanya karena ada 1 fungsi yang tidak bekerja dengan baik, semua fungsi yang lain terkena dampaknya. Bahkan, ketika ada 1 sel tunggal saja yang mengalami kelainan yang sedemikian ekstrem, itu bisa saja cukup untuk mempengaruhi sel-sel dan fungsi-fungsi lain. Hal inilah yang dikenal sebagai kondisi “sakit”. Sebuah gangguan kecil akan menyebabkan sakit ringan. Gangguan yang dahsyat akan menyebabkan sakit berat dan berujung pada kematian. Sama halnya dengan sebuah negara. Ketika ada 1 saja komponen bangsa yang tidak dapat menjalankan tugas secara semestinya, seluruh sendi kehidupan bernegara akan terkena imbasnya. Negara akan menjadi sakit, dan masa depannya terancam. Keruntuhan, kehancuran, dan penjajahan menunggu di ujung jalan.

Bangsa yang sakit adalah ketika fungsi-fungsi di dalamnya tidak bekerja sebagaimana mestinya dan manusia-manusia yang berada di dalamnya tidak dapat berkontribusi sebagaimana seharusnya.

Advertisements

Catatan Dokter PTT Pekan #057

7 Oct

Saya mendengar bahwa kasus kriminal di kecamatanku mengalami peningkatan. Beberapa pekan yang lalu, pemilik  warung langgananku bertutur bahwa kaos dagangannya dicuri. Dalam jangka waktu yang tidak begitu jauh, rumah dinasku menunjukkan tanda-tanda dibobol orang, walaupun alhamdulillah tampaknya tak ada benda berharga yang hilang. Kemudian yang terbaru, polisi kenalan saya bercerita dia baru saja mengusut kasus upaya pencabulan. Ketika korban sedang tidur, pelaku menyelinap masuk dengan membawa gunting dengan niat melakukan Anda-Tahu-Apa. Pelaku sudah ditangkap dan masalah diselesaikan secara “kekeluargaan”.

Awalnya saya agak enggan percaya bahwa kasus kejahatan di sini meningkat. Sampai saya mendengar cerita terbaru di atas baru-baru ini. Kok bisa? Pikir saya.

Saya mengobrol singkat dengan pak polisi kenalan saya tentang perkembangan ini. Pak polisi ini mengaitkannya dengan pilkada yang akan diadakan beberapa bulan lagi. Hah, kok bisa? Pikir saya lagi. Lalu dia menjelaskan analisisnya. Kemungkinan ada beberapa oknum juru kampanye yang semacam membagi-bagi materi pada masyarakat setempat untuk memilih calon tertentu. Oleh si penerima, hadiah ini digunakan untuk berfoya-foya — terutama minum miras. Mungkin juga karena terlalu sering diberi hadiah, akhirnya penerima ini jadi sulit lepas dari foya-foya. Akhirnya dihalalkanlah segala cara untuk mendapatkan uang, termasuk melakukan tindak kejahatan.

Mungkin terdengar agak dibuat-buat, tapi tidak akan mengejutkan bila memang benar adanya. Isu yang saya dengar adalah wilayah ini termasuk wilayah yang “panas” setiap kali ada kegiatan politik semacam pilkada. Saya tidak bisa menemukan penjelasan lain. Dan melihat kultur masyarakat di sini, penjelasan di atas menjadi sangat masuk akal buat saya.

Sebenarnya, kalau keadaan jadi panas, yang paling enak adalah tiduran di rumah sambil kipas-kipas. Kan enak jadi tidak kepanasan. Tapi jadi tidak enak juga buat dokter kalau akhirnya harus ada pasien gawat darurat karena luka benda tajam atau kasus-kasus lain semacamnya…

Wahai Indonesia, inilah potret dirimu di sini.

Perlukah Full Day School di Indonesia?

10 Aug

Akhir-akhir ini mau tidak mau saya memperhatikan bahwa dunia maya diramaikan dengan isu full day school (FDS). Sebenarnya saya agak enggan ambil pusing dengan pemerintah yang memang doyan gonta-ganti kebijakan sih, tapi lama-lama tangan ini gatal juga ingin buat tulisan. Apalagi sudah lama blog ini tidak di-update. Continue reading

Dokter yang Baik

17 Jun

Analisis terhadap berkas malpraktik menunjukkan bahwa ada dokter sangat terampil yang sering diperkarakan, sementara dokter yang lebih sering melakukan kesalahan justru tidak pernah digugat. Pasien tidak mengajukan gugatan malpraktik karena mereka telah dirugikan oleh pelayanan medik yang buruk. Pasien memerkarakan dokter karena mereka dirugikan oleh pelayanan medik yang buruk dan sesuatu yang lain. Apakah sesuatu yang lain itu? Continue reading

Catatan Dokter PTT Pekan #022

28 Feb

Tak banyak yang bisa kutulis di pekan ke-22 ini, secara aku mulai menggarap tulisan ini di pekan ke-25 -_- . Biarlah ini menjadi tulisan singkat saja. Draft lama untuk tulisan ini hanya terdiri dari 6 kata: mengajar kelas 3, tinggal 1 bulan.
Continue reading

Catatan Dokter PTT Pekan #019

20 Feb

Sekali lagi, 1 pekan telah terlampaui di Banemo, tempat pengabdian dengan beribu rasa. Sebuah permainan kata. Kata “beribu” di kalimat sebelumnya memiliki arti apa? “Memiliki ibu” atau “ribuan”? Hayooo… By the way, kalimat-kalimat barusan kutulis spontan saja ketika aku sedang duduk dan mencoba menulis paragraf pembuka untuk tulisan kali ini. Dalam sebagian besar kasus, aku selalu berprinsip untuk “Lakukan persiapan sebaik mungkin”, tapi tampaknya cukup mengejutkan juga apa yang bisa dilakukan oleh sebuah spontanitas. Continue reading

Conquering the Sea

13 Feb

I came up with this idea after my trip from Sofifi to Ternate via sea route by speed boat. The waves were quite harsh and dangerous. So during my trip, I was thinking about alternative sea route transportation applicable in this archipelago country, Indonesia. Not only providing transportation solution, but also providing additional green energy. Yes, I mention both topic because both aspects lack most in remote region in Indonesia. Continue reading