Salah Satu Kunci Terpenting dalam Belajar

17 Oct

Kalau aku mendengar kata “belajar”, yang langsung terlintas dalam benak adalah tumpukan buku yang harus dibaca untuk lulus ujian. Bayang-bayang seperti ini sudah menghantuiku sejak umur 6 tahun di kelas 1 SD dan berlangsung hingga lulus kuliah dan meraih gelar dokter sekitar tahun 2014. Itu berarti sekitar… hampir 20 tahun. Dua puluh tahun, sama sekali bukan waktu yang sebentar untuk menancapkan bayang-bayang seperti itu kedalam pikiran. Bayang-bayang horor ini masih menggelayuti pikiran hingga saat ini, apalagi karena masih terpikir untuk melanjutkan sekolah ke jenjang S2 sampai S3. Continue reading

Advertisements

Setelah Lama Tidak Menulis

5 Oct

Astaga, ternyata kemampuan menulisku buruk sekali!

Baru saja saya mencoba menulis lagi setelah vakum selama sekian bulan (atau tahun?). Benar-benar payah. Ide yang ada dalam pikiran hanya menjadi ide dalam pikiran, tidak mau mengalir ke dalam bentuk tulisan. Saya masih bisa sedikit mengingat ketika ide dalam pikiran bisa mengalir deras ke tulisan seperti derasnya Air Terjun Niagara, dan saya juga masih bisa ingat ketika otak harus diperas keras-keras untuk memaksa saripati dalam buah pikiran untuk bisa ditampung dalam wadah tulisan. Dan bisa dibilang baru-baru ini merupakan salah satu periode buruk tersebut.

Sekali lagi hal ini mengingatkan diriku bahwa pekerjaan menulis sama sekali bukan pekerjaan gampang. Dan sekali lagi, menulis adalah sebuah skill. Dan layaknya skill, berlaku kaidah use it or lose it. Skill harus selalu diasah dengan cara melakukannya secara terus-menerus. Dan setelah beberapa waktu tidak menggunakan skill tersebut, jelas wajar kalau skill menjadi karatan.

Catatan Dokter PTT Pekan #099

30 Jul

Banemo, akhir Juli 2017

Ini sudah pekan ke-99 😮 😮 😮 Kurang 1 pekan sebelum pekan ke-100, terus masuk injury time (soalnya 2 tahun tu gak pas 100 pekan, wkwk), terus peluit akhir pertandingan. Moga-moga gak ada overtime atau extra time dah, apalagi adu penalti…

Kalau menengok ke belakang, sebenarnya sudah disangka aku sudah berjalan sejauh ini. Sudah hampir 2 tahun kuhabiskan jatah umur di sini. Lama atau sebentar? Saat pertama hendak menjalani, 2 tahun terlihat seperti terowongan yang ada ujungnya. Namun setelah bisa melihat cahaya di ujung lorong, ternyata tak terasa juga. Mungkin memang benar kata orang-orang bijak. Kalau punya sasaran, jangan terlalu merasa cemas dengan segala apa yang mungkin ada di depan. Lakukan saja, just do it. Dan tiba-tiba saja sudah ada di ujung jalan.

(Susahnya) Jadi Pengusaha Sukses

21 Apr

Aku membayangkan diriku sebagai pengusaha sukses… Pergi pulang ke kantor bisa semaunya tak ada yang mengatur, mungkin kalau bolos pun tidak apa-apa, meeting tiap bulan ke luar kota, malah sering ke luar negeri, kalau perlu apa-apa tinggal suruh bawahan, kerja barangkali cuma duduk-duduk dan tanda tangan… dan uang terus mengalir!

Hal-hal itulah yang kubayangkan ketika menjadi pengusaha sukses, dan mungkin itu pula yang dibayangkan kebanyakan orang-orang. Karena bayangan inilah aku bercita-cita untuk menjadi pengusaha, atau entrepreneur dalam bahasa kerennya. Dan jadi entrepreneur ini sudah kucita-citakan sejak zaman dahulu kala, tidak banyak berubah bahkan setelah menjalani tahun-tahun sebagai profesional bidang kesehatan. Mulai dari kuliah, lulus, dokter muda, internship, sampai sekarang saat PTT. Ide untuk jadi pengusaha tampaknya sudah tertanam begitu kuat dalam benak bagaikan terjangkit parasit yang tak bisa disembuhkan atau tumor ganas yang menggerogoti jiwa, raga, dan pikiran.

Aku sampai pada titik di mana aku memutuskan bahwa aku butuh penyeimbang.

Aku sudah membaca sejumlah literatur tentang entrepreneurship. Tidak bisa dikatakan terlalu banyak, namun setidaknya aku sudah membaca beberapa. Ada yang berisi tentang kisah-kisah orang sukses. Ada yang berisi tentang langkah-langkah memulai dan mengelola bisnis. Ada yang berisi tentang ilmu manajemen, mulai dari manajemen diri, manajemen sumber daya, hingga manajemen tim. Ada yang berisi tentang motivasi dan dorongan positif untuk memulai bisnis. Banyak hal positif yang bisa dipelajari dari tulisan-tulisan seperti di atas. Akan tetapi, hanya sedikit yang bisa kupelajari, bahkan lebih sedikit lagi yang bisa kupahami (bila memang ada), tentang sisi gelap entrepreneur. Sisi gelap itu adalah kesengsaraan dan kegagalan yang mengintai para entrepreneur.

Saya kira sisi gelap ini jarang naik ke permukaan karena pada akhirnya sering ditutupi oleh akhir kisah yang bahagia (happy ending) atau kata-kata dan motivasi positif. Dan orang-orang sukses pun biasanya enggan untuk bersikap transparan tentang segala hal sulit yang dilaluinya. Misalnya saja, ketika seorang teman menjadi juara kelas dan kita mengucapkan selamat padanya seraya memujinya, kemungkinan besar dia akan merendah dan membalas dengan, “Ah, biasa saja”, atau “Itu cuma keberuntungan”, atau kalimat-kalimat semacamnya. Kecil kemungkinannya dia akan bercerita tentang perjuangannya sejak jauh-jauh hari sebelum ujian dalam belajar, dari pulang kuliah hingga larut malam, tanpa sempat makan siang dan malam, sakit perut karena stress dan kebanyakan minum kopi saat begadang, frustrasi karena tak kunjung menguasai bab tertentu, dan sebagainya.

Menurut saya, ketidaktahuan akan sisi gelap ini berbahaya dan dapat menyesatkan para pelaku usaha yang sedang mulai merintis. Saya tidak mau hal ini terjadi pada saya. Oleh karena itu, di tulisan ini saya berusaha fokus untuk mengangkat sisi gelap itu. Sisi gelap itulah yang kumaksud sebagai “penyeimbang”.

Untuk para calon entrepreneur sukses masa depan, tulisan ini tidak dimaksudkan untuk membuat anda sekalian gentar dan balik kanan. Aku membuat tulisan ini untuk mengingatkan diri sendiri bahwa dunia pengusaha dan entrepreneurship tidak seperti yang kebanyakan dilihat dan dibayangkan. Aku membuat tulisan ini juga agar aku dapat melihat dari sisi yang berbeda dengan pandangan yang jernih.

JADI PENGUSAHA (SUKSES*) ITU SUSAH

(* Definisi sukses selalu menjadi topik yang menarik untuk dibicarakan dan layak untuk menjadi sebuah tulisan tersendiri. Bila aku dapat meluangkan waktu, Insya Allah aku akan membuat tulisan tentang definisi sukses)

Kalimat yang di-bold dan berhuruf kapital di atas tampaknya adalah permulaan yang bagus untuk memulai topik ini. Tapi serius, walaupun kita semua tahu apa itu kata “susah”, sebenarnya jadi pengusaha sukses itu sesusah apa sih?

Sekarang, aku memiliki sebuah hipotesis. Hipotesis itu berbunyi, “Pendapatan berbanding lurus dengan usaha”. Jadi, kalau ada seorang direktur memiliki pendapatan sebesar 100 juta perbulan dan seorang pedagang keliling dengan pendapatan 1 juta perbulan, bisa ditarik kesimpulan bahwa sang direktur telah bekerja 100x lebih keras daripada si pedagang keliling.**

(** Hipotesis ini berlaku jika si direktur dan si pedagang keliling sama-sama memulai dari titik nol yang sama. Hipotesis ini tidak sepenuhnya berlaku jika si direktur mendapatkan perusahaannya dari warisan)

Lalu bagaimana persisnya berusaha 100x lebih keras itu?

Tinggal dilihat saja bagaimana kegiatan keseharian si pedagang keliling itu. Bangun pagi-pagi, menyiapkan dagangannya, sarapan sedikit, mungkin malah sering tidak sarapan, berjalan keliling, di bawah terik matahari, menembus hujan deras, baru kembali ke rumah menjelang malah, bahkan sering baru pulang larut malam. Besok bangun pagi lagi, dan seterusnya. Sekarang bayangkan saja berusaha 100x lebih keras daripada itu. Berjalan keliling 100x lebih jauh setiap hari, membawa dagangan 100x lebih berat, menembus cuaca panas yang 100x lebih terik, menembus hujan yang 100x lebih deras… Itu adalah contoh-contoh yang paling ekstrem, namun intinya tetap sama. Anda tahu maksudnya.

Terlihat berat? Memang berat. Dan perlu diingat bahwa ini baru permulaan saja. Perjuangan jadi entrepreneur sukses masih belum berhenti sampai di sini. Karena selain perlu kerja keras, jadi pengusaha sukses itu…

PERLU WAKTU LAMA

Setelah segala kesulitan dan kerja keras yang harus dilalui di atas, datanglah ujian kedua. Ujian waktu. Seseorang tidak bisa dengan gampang mengucapkan mantra ajaib “sim salabim” dan tiba-tiba saja sebuah kerajaan bisnis terhampar di depan matanya. Bukan begitu cara kerjanya. Dia harus melakukan segalanya dari awal. Membuat rencana, mencari medan yang sesuai dan strategis, membuat rancangan kastil, menghitung, panjang, lebar, tinggi, dan sebagainya. Setelah semuanya siap, barulah proyek dimulai. Menggali tanah, membangun pondasi yang kokoh, menyusun bata satu per satu, dengan teliti, dengan telaten… Ada tahapan-tahapan yang harus dilakukan, selangkah demi selangkah. Tak ada jalan pintas, tak ada jalan singkat.

Saya ingin memberikan sedikit ilustrasi tentang waktu yang lama ini. Pada tahun 1955, ketika Jepang masih terpuruk akibat kekalahan di Perang Dunia II, perjalanan kereta api dari Osaka ke Tokyo bisa memakan waktu hingga 20 jam. Maka, kepala dinas perkeretaapian saat itu menginginkan kereta api yang cepat. Ketika para insinyur mengajukan sebuah purwarupa kereta api berkecepatan 100 km per jam, salah satu yang tercepat di zamannya, dia belum puas. Beberapa bulan kemudian, ketika para insinyur untuk kedua kalinya mengajukan prototype kereta dengan kecepatan 120 km per jam, sang kepala dinas mencelanya. Peningkatan sedikit-sedikit hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi sedikit-sedikit. Dia menginginkan kereta dengan kecepatan 190 km per jam. Para insinyur pun bekerja keras. Terowongan-terowongan menembus gunung dibangun agar kereta dapat melaju lurus tanpa perlu berbelok atau memutar, yang biayanya mungkin menyamai bahkan melebihi biaya membangun ulang Hiroshima dan Nagasaki pascaserangan nuklir. Gerbong-gerbong dirancang agar memiliki motor penggerak masing-masing. Roda gerigi dirancang agar bergerak dengan lebih sedikit gesekan. Rel-rel kereta ditempa dan diperkuat untuk meningkatkan stabilitas, sehingga dapat mendukung laju yang lebih cepat. Ratusan inovasi besar dan kecil diciptakan. Dan akhirnya, tahun 1964, hampir 10 tahun setelah kepala dinas mengeluarkan tantangan kereta cepat pada insinyurnya, Shinkansen Youkaidou menyelesaikan perjalanan perdana dari Tokyo ke Osaka dengan kecepatan rata-rata 190 km per jam. Setelah itu, dengan segera kereta-kereta peluru melesat di seluruh penjuru Jepang. Menurut penelitian tahun 2014, faktor kereta api ini berkontribusi terhadap pesatnya pertumbuhan ekonomi Jepang hingga era 1980.

Sebuah aturan yang bisa diterima secara luas adalah “aturan 10.000 jam”, atau “10.000 hours rule”. Ada juga yang menyebutnya “aturan 10 tahun”, karena 10.000 jam bisa dihitung secara kasar menjadi 10 tahun. Namun konsepnya sama saja. Dibutuhkan waktu yang lama untuk menjadi ahli di suatu bidang. Dan itupun baru permulaan saja, karena sekadar menjadi ahli saja tidak menjamin kesuksesan.

Sumber bacaan saya yang berbeda mengatakan bahwa dalam memulai bisnis (start-up), 5 tahun pertama adalah penentuan. Apabila sebuah start-up sukses melewati 5 tahun pertamanya, kemungkinan untuk meraih sukses di tahun-tahun mendatang cukup besar. Sebaliknya, adalah wajar jika lebih dari 50% start-up jatuh di 5 tahun pertamanya. Kegagalan di 5 tahun pertama ini mungkin karena mereka tidak tahan dengan sulitnya beban memulai usaha.

Sekarang, bahkan walaupun sama-sama telah menghabiskan waktu yang sama lamanya, hanya sebagian kecil pengusaha yang bisa dikatakan sukses, sementara sebagian besar lainnya tidak. 

Mengapa? Karena selain butuh waktu lama, pengusaha sukses dituntut untuk…

SELALU BELAJAR

Ini adalah kualitas lain yang membedakan antara seorang rakyat jelata dengan sebagian kecil populasi elit yang disebut entrepreneur sukses. Inilah faktor yang menentukan apakah seseorang akan sukses atau tidak, bila memiliki waktu yang sama. Karena akuilah: soal waktu, yang menentukan bukan hanya soal BERAPA LAMA waktu yang dihabiskan, tapi juga BAGAIMANA waktu itu dihabiskan. Ketika orang-orang biasa hanya menjalankan rutinitas tanpa memaknai maknanya, para calon entrepreneur sukses terus belajar dan menekuni bidangnya untuk menjadi lebih baik. Mereka melakukan hal yang tidak dilakukan kebanyakan orang. Seperti kalimat mutiara, “Hari ini aku akan melakukan hal yang tidak dilakukan orang lain, sehingga besok aku akan meraih hal yang tidak diraih orang lain”.

Hal yang mereka pelajari pun tidak terbatas. Mereka mempejalari bidang masing-masing, itu sudah pasti, tapi mereka juga mempelajari hal yang lain. Ambil saja beberapa contoh. Di fase-fase awal, mungkin mereka baru mulai belajar tentang cara membangun usaha itu sendiri. Lalu sebagai awalan, mereka mungkin juga mulai belajar untuk mendapatkan suplai barang. Setelah usaha mulai berjalan, mereka belajar tentang mengatur cash flow. Mereka belajar tentang bersosialisasi dengan pelanggan. Dari situ, mereka belajar tentang membangun relasi dan kepercayaan. Lalu mereka mempejajari tentang marketing. Kemudian, mereka belajar tentang manajemen sumber daya. Ketika bisnis mulai tumbuh, mereka mulai belajar tentang organisasi tim. Ketika jaringan usaha makin luas, mungkin mereka belajar tentang distribusi barang. Seakan tidak ada habisnya. Dan mereka belajar sambil melakukan bisnisnya.

Andaikan seorang entrepreneur dianalogikan sebagai seorang prajurit, maka bisnis yang mereka lakukan adalah medan perangnya. Sekarang bayangkan, di tengah sengitnya medan tempur dalam peperangan yang tidak berkesudahan, dalam kondisi yang serba sulit dan tidak menentu, seorang entrepreneur dituntut untuk tetap mempertahankan kesadarannya untuk terus memperhatikan keadaan sekitar dan mempelajarinya. Hal ini dilakukannya untuk mendapatkan pemahaman tentang jalannya pertempuran. Dari pemahamannya itu, dia bisa mengetahui kekuatan dan kelemahan pihaknya dan pihak lawan, lalu menutupi kelemahannya sendiri, dan memanfaatkan cela dari strategi lawan untuk merebut kemenangan. Andaikan dia tidak memahami kondisi pertempuran di sekitarnya, dia hanya akan terombang-ambing tidak jelas di tengah ganasnya pertempuran. Atau tewas.

SELALU BERADA DI LUAR ZONA NYAMAN

Kalau mau diringkas, ketiga poin yang disinggung sebelum ini (kerja keras, waktu lama, selalu belajar) dapat dirangkum menjadi kalimat di atas. Selalu berada di luar zona nyaman. Bekerja keras berada di luar zona nyaman. Bersabar dalam mencapai tujuan berada di luar zona nyaman. Belajar pun berada di luar zona nyaman.
Alangkah sulitnya keluar dari zona nyaman! Ketika seseorang sudah semakin lama berada di dalam zona nyaman, mungkin akan semakin sulit baginya untuk keluar dan mencari tantangan. Dia sudah lama terbius dalam zona nyaman, sehingga terlalu takut untuk meninggalkannya. Padahal mungkin saja dia memiliki ambisi besar untuk masa depannya. Namun pada akhirnya, dia memutuskan untuk menetap di zona nyaman. Dan dia harus membayarnya dengan harga yang mahal, yaitu cita-citanya.
Wahai para calon entrepreneur sukses, sudah siapkah kalian meninggalkan zona nyaman yang kalian tinggali saat ini? Pikirkanlah baik-baik. Ingatlah bahwa hanya lautan yang penuh badailah yang bisa menghasilkan pelaut ulung, sebagaimana masa-masa krisis suatu negeri akan memunculkan pemimpin hebat. Dan pada akhirnya, untuk meraih segalanya, seseorang harus siap kehilangan segalanya.

Sukses dengan 10.000 Jam

27 Feb

Kupikir, ketika aku sudah menetapkan tujuan-tujuan yang akan kuraih dalam hidup, dan memutuskan untuk berkomitmen untuk itu, mendadak aku menyadari bahwa betapa sedikitnya waktu yang kumiliki dalam sehari. Dan yang lebih membuat sedih, betapa lebih sedikitnya waktu yang telah kuinvestasikan untuk mendekatkan diriku pada tujuan-tujuan tersebut sejauh ini.

Mengapa aku berpikir demikian? Aku mendasarkan pikiran ini pada teori “10.000 hours rule”, atau “aturan 10.000 jam”. Pada dasarnya, teori ini menyebutkan bahwa agar seseorang dapat disebut sebagai seorang expert, sedikitnya dia harus menghabiskan waktu sebanyak tak kurang 10.000 jam untuk berlatih.

Sekilas Tentang 10.000 Jam

Sekarang marilah kita ambil contoh. Sebut saja salah satu tujuanku adalah menjadi seorang pengusaha sukses, mendirikan perusahaan sendiri, dan memiliki pendapatan sekian puluh juta dalam sebulan. Dan katakanlah tujuanku itu ingin kucapai dalam 10 tahun ke depan. Cukup lama?

Mari kita tinjau dari sisi aturan 10.000 jam. Bila 10.000 jam dibagi dalam 10 tahun, akan terdapat 1.000 jam di setiap tahun. Seribu jam dibagi dalam 365 hari dalam setahun, berarti sekitar 3 jam sehari. Artinya, untuk mencapai sasaranku dalam 10 tahun ke depan, aku harus menyisihkan waktu selama 3 jam setiap hari untuk mengejar capaian ini. Mungkin tampak relatif mudah bagi orang-orang yang memang berprofesi di bidang perniagaan, mulai dari pedagang asongan di jalanan hingga para mompreneur yang membuka olshop di rumah. Namun bagi saya yang tidak berprofesi di bidang perniagaan dan memiliki zero experience, menyisihkan waktu sebanyak 3 jam setiap hari adalah sebuah tantang. Itupun bila aku hanya memiliki 1 tujuan. Bila aku memiliki 3 tujuan yang ingin kuraih dalam 10 tahun ke depan, waktu yang harus kusisihkan setiap hari akan menjadi 9 jam. Dan lebih banyak lagi bila aku ingin meraihnya lebih cepat. Bukan main.

Sebagai tambahan, menghabiskan 10.000 jam saja tidak cukup untuk menjamin sebuah keberhasilan. Lihat contoh para peniaga yang kusebut di atas, mulai dari pedagang asongan hingga mompreneur. Mungkin mereka semua sama-sama telah menghabiskan 10.000 jam di bidangnya, bahkan lebih. Namun tidak semua mendapat hasil yang sama. Sebagian lebih sukses daripada sebagian yang lain. Bahkan sebagian kecil meraih hasil yang jauh melampaui sebagian besar lainnya. Mengapa hal itu bisa terjadi?

Itu adalah pertanyaan yang relevan. Di sebuah buku, saya pernah membaca suatu penelitian yang mengupas tentang para pecatur.Penelitian itu dipimpin oleh Neil Charness, psikolog dari Universitas Negeri Florida. Dia menemukan bahwa walaupan sama-sama telah berlatih selama sekitar 10.000 jam, hanya sebagian saja yang layak menyandang gelar grand master, sedangkan sebagian lainnya hanya mencapai level menengah. Lebih lanjut, pada akhirnya disimpulkan bahwa para grand master berhasil meraih gelar mereka karena pada umumnya mereka menghabiskan waktu 5 kali lipat lebih banyak untuk mempelajari permainan secara serius, daripada hanya sekadar bermain di turnamen saja.

Dengan kata lain, aturan 10.000 jam bukan hanya soal jumlah dan kuantitas, melainkan juga soal mutu dan kualitas. Menjalani 10.000 jam secara asal-asalan jelas tidak akan membantu. Penulis buku yang saya sebut di atas menggunakan istilah “latihan-sengaja”. Dan untuk meraih hasil yang diinginkan, konsep “latihan-sengaja” harus selalu diterapkan dalam pekerjaan dan kegiatan sehari-hari.

Hubungannya dengan Kesuksesan

Mengapa saya menuliskan “aturan 10.000 jam”? Apa hubungannya dengan kesuksesan? Bagi saya, setidaknya ada 2 alasan. Yang pertama adalah karena sukses didahului oleh mahir. Yang kedua adalah karena sukses membutuhkan waktu.

Mari kita lihat. Semua orang sukses adalah pakar di bidangnya masing-masing. Dokter meraih sukses tentu karena dia ahli di bidangnya. Manager sukses tentu juga karena dia cakap dalam managemen. Pengusaha yang sukses pun berhasil karena dia memahami bidangnya dengan baik. Lebih jauh lagi, semua kesuksesan itu tidak dicapai dalam waktu semalam. Kesuksesan membutuhkan waktu dan proses. Jangan harap kesuksesan dapat diraih dalam waktu singkat. Semakin besar sukses yang ingin diraih, semakin besar waktu dan sumber daya yang harus dikorbankan.

Mungkin ada sejumlah orang yang meraih sukses di usia muda, mungkin bahkan sangat muda. Soal itu, aku percaya hal tersebut bukan sesuatu yang ajaib. Hal itu terjadi semata karena dia sudah mulai merajut kesuksesan amat sangat jauh-jauh hari sebelum hari dia disebut sukses. Tak perlu merasa terlalu takjub, karena saya yakin dia juga menapaki jalan derita yang serupa dengan orang-orang sukses lain. Hal itu seharusnya menjadi motivasi. Bila dia bisa sukses, mengapa saya tidak?

Setelah Semua Ini Berakhir

19 Feb

Beberapa waktu yang lalu saya melontarkan sebuah pertanyaan di FB pribadi. Kalian ingin aku menulis tentang apa di blog? Demikian pertanyaan saya. Beberapa teman menjawab. Saya sudah menduga beberapa jawaban di antaranya, namun ada 1 yang menggelitik. Tulis tentang rencana setelah PTT. Ini saran yang menarik, dan sepertinya aku akan menjawabnya di sini.

Pertama, kujelaskan sedikit tentang awal mula aku PTT di sini. Setelah selesai internship, aku menjadi pengangguran di rumah. Paling-paling cuma jaga di sebuah klinik kecil dua kali seminggu dengan imbalan yang sekadarnya saja. Orang tua saya menyadari inaktivitas anaknya yang satu ini, dan berkeras agar aku segera melanjutkan ke jenjang karir yang lebih tinggi. Salah satu alasan utamanya adalah agar jangan sampai usia muda disia-siakan (intermezo: saat itu saya berusia sekitar 26 tahun, dan sebenarnya saya sudah mulai meragukan paham bahwa saya masih “muda”). Ketika itu juga bisa dibilang masa-masa awal beasiswa LPDP sedang booming. Dan orang tua saya bilang, mengapa tidak dicoba? Waktu itu saya masih enggan untuk menjalani tes dan seleksi untuk urusan apapun, entah itu untuk cari beasiswa, sekolah, kerja, atau lainnya. Di samping karena malas, juga karena curriculum vitae masih bisa dibilang kosong. Orang tua cuma memberi 2 opsi: masuk PPDS dengan LPDP, atau PTT. Pilihan pertama berarti harus ikut 2 tes untuk beasiswa dan sekolah, dengan probabilitas yang tidak terlalu tinggi karena CV yang kosong. Pilihan kedua berarti mencari pengalaman dan tabungan sendiri. Saya memilih pilihan kedua.

Tentu awalnya terasa berat. Namun tetap ada hal yang disyukuri. Bertepatan dengan saya memulai PTT, gaji dokter PTT naik sekitar 50%, kenaikan yang amat signifikan. Sebagai tambahan, tampaknya angkatan PTT saya adalah angkatan terakhir program PTT kemenkes. Dengan kata lain, andaikan saya tidak mengambil kesempatan ini, saya tidak akan bisa ikut PTT kemenkes.

Demikianlah, saya menjalani PTT dengan sebuah mindset. PTT dulu, PPDS kemudian. Hari, minggu, bulan, dan tahun datang silih berganti. Tak terasa perjalanan ini sudah tuntas sekitar 75%, menyisakan sekitar 6 bulan ke depan. Banyak hal yang membuat saya mempertanyakan apa yang sebenarnya ingin benar-benar saya raih dalam hidup. Jadikah saya melanjutkan pendidikan ke jenjang spesialis? Kalau jadi, apa? Kapan? Di mana? Apakah tersedia jalur lain? S2? Mengajar? Apakah masih ada pilihan lainnya?

Sekarang katakanlah saya ingin menjadi spesialis. Sejumlah pertimbangan ada dalam pikiran untuk menentukan spesialisasi yang ingin ditempuh. Saya sudah memutuskan bahwa saya tidak menyukai tindakan. Dengan demikian, saya mencoret pilihan bedah, obgyn, anestesi, THT, dan mata (untuk mata, sebenarnya tugas akhir saya adalah tentang mata, maka seharusnya bisa sedikit meningkatkan probabilitas diterima di bidang ini. Jadi masih 50:50). Saya enggan menangani pasien anak-anak, jadi pediatri juga out. Forensik juga tidak masuk pilihan karena saya malas berurusan dengan hukum. Psikiatri, interna, kardiologi, dan paru-paru berada di urutan paling bawah karena kurang suka. Neuro juga di urutan belakang karena ilmunya yang ruwet, di samping karena sudah diambil kakak pertama saya. Kulit juga tidak kusuka, walaupun sedikit di atas lainnya karena relatif lebih santai. 

Untuk masalah minat, minat terbesar saya sebenarnya di bidang sports medicine. Namun saya masih belum mendalami pilihan ini lebih jauh. Di Unair, kudengar topik ini berada di bawah S2 faal. Sebenarnya cukup menarik karena selama di sini saya juga sempat mengajar di SMK kesehatan setempat tentang faal. Namun kalau gelar akhirnya bukan spesialis, prospek ke depan sepertinya kurang sebaik spesialis. Kalau harus meraih gelar S2 dan bukannya spesialis, saya lebih suka sekalian menjajal kemungkinan sekolah di luar negeri. Jadi pilihan ini belum masuk prioritas top. Alternatif lain adalah spesialis ortopedi di Surabaya karena di situ juga dipelajari tentang cedera olahraga. Namun tak perlu saya ulangi mengapa saya enggan memilih alternatif ini. Kabar lain yang kudengar adalah program spesialis kedokteran olahraga (SpKO) ada di Jakarta. Namun saya belum memastikan. Dan kalau toh memang ada, pilihan ini juga tidak masuk prioritas top karena… yah, Jakarta.

Pertimbangan kepribadian, perlu saya sampaikan bahwa saya adalah orang yang lebih suka menghindari interaksi dengan orang lain (termasuk pasien!). Saya juga lebih suka iklim kerja yang tenang dan bebas tekanan supaya bisa sepenuhnya fokus pada apa yang kukerjakan sendiri. Berkaca dari sini, bidang diagnostik tampaknya cukup ideal. Radiologi, patologi klinik, patologi anatomi, dan sebagainya. Sebagai tambahan, saya mendengar bahwa sepertinya bidang radiologi memiliki prospek yang cukup cerah ke depan. Sejauh ini, pertimbangan kepribadian tampaknya menjadi pertimbangan terbesar buatku. Dan kalau harus memilih spesialisasi, tampaknya radiologi adalah kandidat utama.

TAPI! Sejauh ini tampaknya saya menulis seakan-akan saya memang akan menjadi dokter spesialis. Memang melanjutkan jenjang pendidikan ke spesialis adalah langkah yang banyak ditempuh oleh para dokter umum. Dan untuk alasan yang masuk akal. Namun itu bukan berarti bahwa jalur itu adalah satu-satunya jalur yang ada. Sekarang pertanyaannya adalah, apakah aku benar-benar ingin menjadi dokter spesialis? Apakah ada jalur lain yang terbentang?

Saya sudah menyandang gelar dokter dengan segala hak, kewajiban, dan tanggung jawabnya selama sekitar 3 tahun. Tiga tahun, bukan waktu yang bisa dibilang singkat. Dan apa yang bisa kuceritakan tentang 3 tahun menjadi dokter? Harus aku akui secara jujur bahwa saya merasa tidak berkembang sebagai seorang dokter. Tahun-tahun yang berlalu kulalui dengan perasaan hampa. Sering kali aku pulang dari rumah sakit / puskesmas dengan perasaan exhausted. Biasanya hal itu terjadi ketika menghadapi pasien yang sulit, tetapi tak jarang pula kurasakan bahkan ketika santai!

Bila ada 1 hal yang paling aku inginkan dalam hidup, itu adalah kendali total atas kehidupanku sendiri. Hal itu sudah kumimpikan sejak lama sekali, bahkan sejak sebelum menghitamkan pilihan program studi “Pendidikan Dokter” ketika hendak SNMPTN tahun 2008. Kebebasan untuk keluar-masuk kantor kapanpun kuinginkan tanpa harus khawatir terlambat dan melakukan apapun yang kuinginkan. Menjadi dokter umum biasa berarti menyerahkan kendali itu. Menjadi dokter spesialis pun tidak menjadi lebih baik, walaupun kebebasan finansial tampak mudah diraih.

Yah, semua itu saat ini adalah mimpi. Kenyataan yang kuhadapi tidak berubah. Pendidikan dokter sudah dilalui, gelar dokter sudah diraih. Hal itu sudah menjadi bagian dari identitas dan jati diri. Get up and deal with it. Bila aku sungguh-sungguh benar-benar ingin meraih kendali penuh atas kehidupanku sendiri, berarti aku tidak boleh menjadi sekadar dokter biasa. Aku harus menjadi dokter yang luar biasa dengan berani menempuh jalur yang tidak biasa.

Salah satu buku yang mungkin benar-benar membuatku berpikir serius tentang masa depan adalah Don’t Follow Your Passion karya Cal Newport. Di buku itu, dia menolak gagasan “passion yang sudah ada”. Sebaliknya, dia memperkenalkan konsep “modal karir”. Untuk memperoleh kontrol, terlebih dahulu seseorang harus memiliki modal karir yang memadai. Dan untuk memperoleh modal karir yang memadai, seseorang harus bekerja keras. Tak ada istilah santai-santai. Mungkin suatu saat bila ada kesempatan, saya akan membuat review tentang buku ini.

Kalau aku mencoba melihat kondisiku sekarang berdasar sudut pandang teori ini, saya menyimpulkan bahwa modal karirku sangat jauh dari kata cukup untuk membuatku meraih kontrol. Aku tak punya pilihan lain selain bekerja sangat keras untuk mengembangkan apa-apa yang sudah aku punya. Selain pengalaman dan pengetahuan medis, saya memiliki beberapa hal lain yang barangkali, sekali lagi barangkali, dapat dikembangkan menjadi modal karir yang kuat dan unik. Menulis. Desain grafis dengan coreldraw. Tenis meja.

Hobiku dengan olahraga dan tenis meja merupakan dasar utama aku mempertimbangkan sports medicine sebagai spesialisasi. Namun pengetahuanku tentang studi ini masih dangkal, dan aku harus melakukan penelusuran lebih lanjut. Andaikan pengetahuanku soal studi dan prospek di bidang ini sudah jelas, mungkin aku tidak akan ragu-ragu lagi untuk mengambil spesialisasi ini.

Tentang menulis, ceritanya agak berbeda. Tentang menulis, memang benar aku memiliki blog dan masih memiliki kesempatan untuk mengisinya secara berkala, walaupun tidak rutin. Namun saat ini saya pikir blog itu sebagai tempat latihan saja, bukan sebagai pijakan utama dalam berkarir. Bila aku ingin menjadikan skill menulis sebagai modal karir, aku harus membuktikan tulisan-tulisanku layak dijual. Beberapa cara membuktikannya adalah dengan menerbitkan buku dan artikel yang dimuat di media-media ternama — dan dibayar atas itu.

Desain grafis dengan coreldraw juga bernasib sama. Saya pertama kali berkenalan dengan coreldraw saat SMA, dan kemudian sedikit sekali mempraktikannya saat kuliah. Dan sejak saat itu, bisa dikatakan praktik saya menggunakan coreldraw mendekati 0. Baru-baru ini saja saya mulai berlatih lagi. Jika saya benar-benar serius ingin mendalami jalur ini, saya akan menjadi late-starter dan harus menempuh jalan panjang dan sulit untuk catch up sebelum modal karirku ini bisa diakui.

Satu lagi. Setelah semua ini berakhir, aku berharap memiliki tabungan yang lumayan. Selain untuk sekolah, aku berharap dapat menggunakan uang sebagai investasi pemasukan jangka panjang. Ini adalah wilayah asing yang sama sekali belum aku kenal. Akan tetapi, aku bersedia untuk mempelajari hal ini sambil mempraktekkannya.

Hingga saat ini, saya belum memutuskan dengan pasti apa yang akan kulakukan setelah pengabdian ini berakhir. Akan tetapi, sejumlah jalur yang bisa dilihat sudah terpetakan. Dari jalur-jalur yang ada, sama sekali tidak ada jalur yang mudah. Semuanya sulit dan menantang. Masih ada waktu sekitar 6 bulan sebelum semua ini berakhir. Enam bulan, mungkin cukup lama untuk berpikir, tapi tidak cukup untuk memperbaiki dan meningkatkan diri. Sama sekali tak ada waktu untuk disia-siakan, karena aku memiliki cita-cita untuk disegerakan.

Andaikan Negara Adalah Sebuah Badan

8 Feb

The purpose of this chapter has been to point out, first, the overall organization of the body and, second, the means by which the different parts of the body operate in harmony. To summarize, the body is actually a social order of about 100 trillion cells organized into different functional structures, some of which are called organs. Each functional structure contributes its share to the maintenance of homeostatic conditions in the extracellular fluid, which is called the internal environment. As long as normal conditions are maintained in this internal environment,the cells of the body continue to live and function properly. Each cell benefits from homeostasis, and in turn, each cell contributes its share toward the maintenance of homeostasis. This reciprocal interplay provides continuous automaticity of the body until one or more functional systems lose their ability to contribute their share of function. When this happens, all the cells of the body suffer. Extreme dysfunction leads to death; moderate dysfunction leads to sickness.

(Textbook of Medical Physiology Guyton ed. 11, 2005)

Konsep homeostasis adalah konsep yang menjadi tulang punggung dalam fisiologi. Fisiologi itu sendiri merupakan cabang ilmu yang mempelajari bagaimana cara kerja di dalam makhluk hidup, mulai dari proses senyawa kimia dalam sel hingga rumitnya menjelaskan bagaimana suhu panas menyebabkan orang berkeringat. Secara singkat, semua proses dalam tubuh makhluk hidup dengan segala kompleksitasnya bertujuan untuk mencapai homeostasis, kondisi lingkungan internal yang stabil dan seimbang serta dapat mendukung kelangsungan kehidupan si makhluk hidup yang bersangkutan .

Saya sungguh tertarik dengan cara penyampaian tentang homeostasis di paragraf pertama. Kusadari betapa relevannya konsep homeostasis pada makhluk hidup ini dengan kondisi sebuah negara. Kalau sebuah organisme (sebut saja manusia) dapat dianalogikan dengan sebuah negara, maka sel-sel yang menyusun organisme tersebut dapat dianalogikan dengan penduduk yang menghuni negara itu. Sel-sel dalam tubuh manusia ada miliaran jumlahnya, dan memiliki sruktur dan fungsi yang berbeda-beda pula. Namun mereka menjalankan tugas dan perannya masing-masing sesuai aturan. Mereka memberikan kontribusi sesuai perannya masing-masing untuk menciptakan homeostasis, dan homeostasis memungkinkan setiap sel memberikan kontribusi dengan baik. Hubungan timbal balik ini seharusnya juga berlaku bagi sebuah negara. Setiap warga negara, tanpa kecuali mulai dari petani hingga presiden, wajib memberikan kontribusi bagi negara. Kontribusi maksimal dari setiap warga negara akan menghasilkan lingkungan bernegara yang stabil, sehingga memungkinkan para warganya untuk berkontribusi lebih jauh lagi.

Tidak cukup sampai di situ saja. Sebuah kehidupan dengan segala fungsi di dalamnya tidak akan bertahan hidup lama andaikan ada 1 saja fungsi yang tidak bekerja dengan baik. Hanya karena ada 1 fungsi yang tidak bekerja dengan baik, semua fungsi yang lain terkena dampaknya. Bahkan, ketika ada 1 sel tunggal saja yang mengalami kelainan yang sedemikian ekstrem, itu bisa saja cukup untuk mempengaruhi sel-sel dan fungsi-fungsi lain. Hal inilah yang dikenal sebagai kondisi “sakit”. Sebuah gangguan kecil akan menyebabkan sakit ringan. Gangguan yang dahsyat akan menyebabkan sakit berat dan berujung pada kematian. Sama halnya dengan sebuah negara. Ketika ada 1 saja komponen bangsa yang tidak dapat menjalankan tugas secara semestinya, seluruh sendi kehidupan bernegara akan terkena imbasnya. Negara akan menjadi sakit, dan masa depannya terancam. Keruntuhan, kehancuran, dan penjajahan menunggu di ujung jalan.

Bangsa yang sakit adalah ketika fungsi-fungsi di dalamnya tidak bekerja sebagaimana mestinya dan manusia-manusia yang berada di dalamnya tidak dapat berkontribusi sebagaimana seharusnya.