Archive | How To Be Awesome! RSS feed for this section

(Susahnya) Jadi Pengusaha Sukses

21 Apr

Aku membayangkan diriku sebagai pengusaha sukses… Pergi pulang ke kantor bisa semaunya tak ada yang mengatur, mungkin kalau bolos pun tidak apa-apa, meeting tiap bulan ke luar kota, malah sering ke luar negeri, kalau perlu apa-apa tinggal suruh bawahan, kerja barangkali cuma duduk-duduk dan tanda tangan… dan uang terus mengalir!

Hal-hal itulah yang kubayangkan ketika menjadi pengusaha sukses, dan mungkin itu pula yang dibayangkan kebanyakan orang-orang. Karena bayangan inilah aku bercita-cita untuk menjadi pengusaha, atau entrepreneur dalam bahasa kerennya. Dan jadi entrepreneur ini sudah kucita-citakan sejak zaman dahulu kala, tidak banyak berubah bahkan setelah menjalani tahun-tahun sebagai profesional bidang kesehatan. Mulai dari kuliah, lulus, dokter muda, internship, sampai sekarang saat PTT. Ide untuk jadi pengusaha tampaknya sudah tertanam begitu kuat dalam benak bagaikan terjangkit parasit yang tak bisa disembuhkan atau tumor ganas yang menggerogoti jiwa, raga, dan pikiran.

Aku sampai pada titik di mana aku memutuskan bahwa aku butuh penyeimbang.

Aku sudah membaca sejumlah literatur tentang entrepreneurship. Tidak bisa dikatakan terlalu banyak, namun setidaknya aku sudah membaca beberapa. Ada yang berisi tentang kisah-kisah orang sukses. Ada yang berisi tentang langkah-langkah memulai dan mengelola bisnis. Ada yang berisi tentang ilmu manajemen, mulai dari manajemen diri, manajemen sumber daya, hingga manajemen tim. Ada yang berisi tentang motivasi dan dorongan positif untuk memulai bisnis. Banyak hal positif yang bisa dipelajari dari tulisan-tulisan seperti di atas. Akan tetapi, hanya sedikit yang bisa kupelajari, bahkan lebih sedikit lagi yang bisa kupahami (bila memang ada), tentang sisi gelap entrepreneur. Sisi gelap itu adalah kesengsaraan dan kegagalan yang mengintai para entrepreneur.

Saya kira sisi gelap ini jarang naik ke permukaan karena pada akhirnya sering ditutupi oleh akhir kisah yang bahagia (happy ending) atau kata-kata dan motivasi positif. Dan orang-orang sukses pun biasanya enggan untuk bersikap transparan tentang segala hal sulit yang dilaluinya. Misalnya saja, ketika seorang teman menjadi juara kelas dan kita mengucapkan selamat padanya seraya memujinya, kemungkinan besar dia akan merendah dan membalas dengan, “Ah, biasa saja”, atau “Itu cuma keberuntungan”, atau kalimat-kalimat semacamnya. Kecil kemungkinannya dia akan bercerita tentang perjuangannya sejak jauh-jauh hari sebelum ujian dalam belajar, dari pulang kuliah hingga larut malam, tanpa sempat makan siang dan malam, sakit perut karena stress dan kebanyakan minum kopi saat begadang, frustrasi karena tak kunjung menguasai bab tertentu, dan sebagainya.

Menurut saya, ketidaktahuan akan sisi gelap ini berbahaya dan dapat menyesatkan para pelaku usaha yang sedang mulai merintis. Saya tidak mau hal ini terjadi pada saya. Oleh karena itu, di tulisan ini saya berusaha fokus untuk mengangkat sisi gelap itu. Sisi gelap itulah yang kumaksud sebagai “penyeimbang”.

Untuk para calon entrepreneur sukses masa depan, tulisan ini tidak dimaksudkan untuk membuat anda sekalian gentar dan balik kanan. Aku membuat tulisan ini untuk mengingatkan diri sendiri bahwa dunia pengusaha dan entrepreneurship tidak seperti yang kebanyakan dilihat dan dibayangkan. Aku membuat tulisan ini juga agar aku dapat melihat dari sisi yang berbeda dengan pandangan yang jernih.

JADI PENGUSAHA (SUKSES*) ITU SUSAH

(* Definisi sukses selalu menjadi topik yang menarik untuk dibicarakan dan layak untuk menjadi sebuah tulisan tersendiri. Bila aku dapat meluangkan waktu, Insya Allah aku akan membuat tulisan tentang definisi sukses)

Kalimat yang di-bold dan berhuruf kapital di atas tampaknya adalah permulaan yang bagus untuk memulai topik ini. Tapi serius, walaupun kita semua tahu apa itu kata “susah”, sebenarnya jadi pengusaha sukses itu sesusah apa sih?

Sekarang, aku memiliki sebuah hipotesis. Hipotesis itu berbunyi, “Pendapatan berbanding lurus dengan usaha”. Jadi, kalau ada seorang direktur memiliki pendapatan sebesar 100 juta perbulan dan seorang pedagang keliling dengan pendapatan 1 juta perbulan, bisa ditarik kesimpulan bahwa sang direktur telah bekerja 100x lebih keras daripada si pedagang keliling.**

(** Hipotesis ini berlaku jika si direktur dan si pedagang keliling sama-sama memulai dari titik nol yang sama. Hipotesis ini tidak sepenuhnya berlaku jika si direktur mendapatkan perusahaannya dari warisan)

Lalu bagaimana persisnya berusaha 100x lebih keras itu?

Tinggal dilihat saja bagaimana kegiatan keseharian si pedagang keliling itu. Bangun pagi-pagi, menyiapkan dagangannya, sarapan sedikit, mungkin malah sering tidak sarapan, berjalan keliling, di bawah terik matahari, menembus hujan deras, baru kembali ke rumah menjelang malah, bahkan sering baru pulang larut malam. Besok bangun pagi lagi, dan seterusnya. Sekarang bayangkan saja berusaha 100x lebih keras daripada itu. Berjalan keliling 100x lebih jauh setiap hari, membawa dagangan 100x lebih berat, menembus cuaca panas yang 100x lebih terik, menembus hujan yang 100x lebih deras… Itu adalah contoh-contoh yang paling ekstrem, namun intinya tetap sama. Anda tahu maksudnya.

Terlihat berat? Memang berat. Dan perlu diingat bahwa ini baru permulaan saja. Perjuangan jadi entrepreneur sukses masih belum berhenti sampai di sini. Karena selain perlu kerja keras, jadi pengusaha sukses itu…

PERLU WAKTU LAMA

Setelah segala kesulitan dan kerja keras yang harus dilalui di atas, datanglah ujian kedua. Ujian waktu. Seseorang tidak bisa dengan gampang mengucapkan mantra ajaib “sim salabim” dan tiba-tiba saja sebuah kerajaan bisnis terhampar di depan matanya. Bukan begitu cara kerjanya. Dia harus melakukan segalanya dari awal. Membuat rencana, mencari medan yang sesuai dan strategis, membuat rancangan kastil, menghitung, panjang, lebar, tinggi, dan sebagainya. Setelah semuanya siap, barulah proyek dimulai. Menggali tanah, membangun pondasi yang kokoh, menyusun bata satu per satu, dengan teliti, dengan telaten… Ada tahapan-tahapan yang harus dilakukan, selangkah demi selangkah. Tak ada jalan pintas, tak ada jalan singkat.

Saya ingin memberikan sedikit ilustrasi tentang waktu yang lama ini. Pada tahun 1955, ketika Jepang masih terpuruk akibat kekalahan di Perang Dunia II, perjalanan kereta api dari Osaka ke Tokyo bisa memakan waktu hingga 20 jam. Maka, kepala dinas perkeretaapian saat itu menginginkan kereta api yang cepat. Ketika para insinyur mengajukan sebuah purwarupa kereta api berkecepatan 100 km per jam, salah satu yang tercepat di zamannya, dia belum puas. Beberapa bulan kemudian, ketika para insinyur untuk kedua kalinya mengajukan prototype kereta dengan kecepatan 120 km per jam, sang kepala dinas mencelanya. Peningkatan sedikit-sedikit hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi sedikit-sedikit. Dia menginginkan kereta dengan kecepatan 190 km per jam. Para insinyur pun bekerja keras. Terowongan-terowongan menembus gunung dibangun agar kereta dapat melaju lurus tanpa perlu berbelok atau memutar, yang biayanya mungkin menyamai bahkan melebihi biaya membangun ulang Hiroshima dan Nagasaki pascaserangan nuklir. Gerbong-gerbong dirancang agar memiliki motor penggerak masing-masing. Roda gerigi dirancang agar bergerak dengan lebih sedikit gesekan. Rel-rel kereta ditempa dan diperkuat untuk meningkatkan stabilitas, sehingga dapat mendukung laju yang lebih cepat. Ratusan inovasi besar dan kecil diciptakan. Dan akhirnya, tahun 1964, hampir 10 tahun setelah kepala dinas mengeluarkan tantangan kereta cepat pada insinyurnya, Shinkansen Youkaidou menyelesaikan perjalanan perdana dari Tokyo ke Osaka dengan kecepatan rata-rata 190 km per jam. Setelah itu, dengan segera kereta-kereta peluru melesat di seluruh penjuru Jepang. Menurut penelitian tahun 2014, faktor kereta api ini berkontribusi terhadap pesatnya pertumbuhan ekonomi Jepang hingga era 1980.

Sebuah aturan yang bisa diterima secara luas adalah “aturan 10.000 jam”, atau “10.000 hours rule”. Ada juga yang menyebutnya “aturan 10 tahun”, karena 10.000 jam bisa dihitung secara kasar menjadi 10 tahun. Namun konsepnya sama saja. Dibutuhkan waktu yang lama untuk menjadi ahli di suatu bidang. Dan itupun baru permulaan saja, karena sekadar menjadi ahli saja tidak menjamin kesuksesan.

Sumber bacaan saya yang berbeda mengatakan bahwa dalam memulai bisnis (start-up), 5 tahun pertama adalah penentuan. Apabila sebuah start-up sukses melewati 5 tahun pertamanya, kemungkinan untuk meraih sukses di tahun-tahun mendatang cukup besar. Sebaliknya, adalah wajar jika lebih dari 50% start-up jatuh di 5 tahun pertamanya. Kegagalan di 5 tahun pertama ini mungkin karena mereka tidak tahan dengan sulitnya beban memulai usaha.

Sekarang, bahkan walaupun sama-sama telah menghabiskan waktu yang sama lamanya, hanya sebagian kecil pengusaha yang bisa dikatakan sukses, sementara sebagian besar lainnya tidak. 

Mengapa? Karena selain butuh waktu lama, pengusaha sukses dituntut untuk…

SELALU BELAJAR

Ini adalah kualitas lain yang membedakan antara seorang rakyat jelata dengan sebagian kecil populasi elit yang disebut entrepreneur sukses. Inilah faktor yang menentukan apakah seseorang akan sukses atau tidak, bila memiliki waktu yang sama. Karena akuilah: soal waktu, yang menentukan bukan hanya soal BERAPA LAMA waktu yang dihabiskan, tapi juga BAGAIMANA waktu itu dihabiskan. Ketika orang-orang biasa hanya menjalankan rutinitas tanpa memaknai maknanya, para calon entrepreneur sukses terus belajar dan menekuni bidangnya untuk menjadi lebih baik. Mereka melakukan hal yang tidak dilakukan kebanyakan orang. Seperti kalimat mutiara, “Hari ini aku akan melakukan hal yang tidak dilakukan orang lain, sehingga besok aku akan meraih hal yang tidak diraih orang lain”.

Hal yang mereka pelajari pun tidak terbatas. Mereka mempejalari bidang masing-masing, itu sudah pasti, tapi mereka juga mempelajari hal yang lain. Ambil saja beberapa contoh. Di fase-fase awal, mungkin mereka baru mulai belajar tentang cara membangun usaha itu sendiri. Lalu sebagai awalan, mereka mungkin juga mulai belajar untuk mendapatkan suplai barang. Setelah usaha mulai berjalan, mereka belajar tentang mengatur cash flow. Mereka belajar tentang bersosialisasi dengan pelanggan. Dari situ, mereka belajar tentang membangun relasi dan kepercayaan. Lalu mereka mempejajari tentang marketing. Kemudian, mereka belajar tentang manajemen sumber daya. Ketika bisnis mulai tumbuh, mereka mulai belajar tentang organisasi tim. Ketika jaringan usaha makin luas, mungkin mereka belajar tentang distribusi barang. Seakan tidak ada habisnya. Dan mereka belajar sambil melakukan bisnisnya.

Andaikan seorang entrepreneur dianalogikan sebagai seorang prajurit, maka bisnis yang mereka lakukan adalah medan perangnya. Sekarang bayangkan, di tengah sengitnya medan tempur dalam peperangan yang tidak berkesudahan, dalam kondisi yang serba sulit dan tidak menentu, seorang entrepreneur dituntut untuk tetap mempertahankan kesadarannya untuk terus memperhatikan keadaan sekitar dan mempelajarinya. Hal ini dilakukannya untuk mendapatkan pemahaman tentang jalannya pertempuran. Dari pemahamannya itu, dia bisa mengetahui kekuatan dan kelemahan pihaknya dan pihak lawan, lalu menutupi kelemahannya sendiri, dan memanfaatkan cela dari strategi lawan untuk merebut kemenangan. Andaikan dia tidak memahami kondisi pertempuran di sekitarnya, dia hanya akan terombang-ambing tidak jelas di tengah ganasnya pertempuran. Atau tewas.

SELALU BERADA DI LUAR ZONA NYAMAN

Kalau mau diringkas, ketiga poin yang disinggung sebelum ini (kerja keras, waktu lama, selalu belajar) dapat dirangkum menjadi kalimat di atas. Selalu berada di luar zona nyaman. Bekerja keras berada di luar zona nyaman. Bersabar dalam mencapai tujuan berada di luar zona nyaman. Belajar pun berada di luar zona nyaman.
Alangkah sulitnya keluar dari zona nyaman! Ketika seseorang sudah semakin lama berada di dalam zona nyaman, mungkin akan semakin sulit baginya untuk keluar dan mencari tantangan. Dia sudah lama terbius dalam zona nyaman, sehingga terlalu takut untuk meninggalkannya. Padahal mungkin saja dia memiliki ambisi besar untuk masa depannya. Namun pada akhirnya, dia memutuskan untuk menetap di zona nyaman. Dan dia harus membayarnya dengan harga yang mahal, yaitu cita-citanya.
Wahai para calon entrepreneur sukses, sudah siapkah kalian meninggalkan zona nyaman yang kalian tinggali saat ini? Pikirkanlah baik-baik. Ingatlah bahwa hanya lautan yang penuh badailah yang bisa menghasilkan pelaut ulung, sebagaimana masa-masa krisis suatu negeri akan memunculkan pemimpin hebat. Dan pada akhirnya, untuk meraih segalanya, seseorang harus siap kehilangan segalanya.

Sukses dengan 10.000 Jam

27 Feb

Kupikir, ketika aku sudah menetapkan tujuan-tujuan yang akan kuraih dalam hidup, dan memutuskan untuk berkomitmen untuk itu, mendadak aku menyadari bahwa betapa sedikitnya waktu yang kumiliki dalam sehari. Dan yang lebih membuat sedih, betapa lebih sedikitnya waktu yang telah kuinvestasikan untuk mendekatkan diriku pada tujuan-tujuan tersebut sejauh ini.

Mengapa aku berpikir demikian? Aku mendasarkan pikiran ini pada teori “10.ooo hours rule”, atau “aturan 10.000 jam”. Pada dasarnya, teori ini menyebutkan bahwa agar seseorang dapat disebut sebagai seorang expert, sedikitnya dia harus menghabiskan waktu sebanyak tak kurang 10.000 jam untuk berlatih.

Sekilas Tentang 10.000 Jam

Sekarang marilah kita ambil contoh. Sebut saja salah satu tujuanku adalah menjadi seorang pengusaha sukses, mendirikan perusahaan sendiri, dan memiliki pendapatan sekian puluh juta dalam sebulan. Dan katakanlah tujuanku itu ingin kucapai dalam 10 tahun ke depan. Cukup lama?

Mari kita tinjau dari sisi aturan 10.000 jam. Bila 10.000 jam dibagi dalam 10 tahun, akan terdapat 1.000 jam di setiap tahun. Seribu jam dibagi dalam 365 hari dalam setahun, berarti sekitar 3 jam sehari. Artinya, untuk mencapai sasaranku dalam 10 tahun ke depan, aku harus menyisihkan waktu selama 3 jam setiap hari untuk mengejar capaian ini. Mungkin tampak relatif mudah bagi orang-orang yang memang berprofesi di bidang perniagaan, mulai dari pedagang asongan di jalanan hingga para mompreneur yang membuka olshop di rumah. Namun bagi saya yang tidak berprofesi di bidang perniagaan dan memiliki zero experience, menyisihkan waktu sebanyak 3 jam setiap hari adalah sebuah tantang. Itupun bila aku hanya memiliki 1 tujuan. Bila aku memiliki 3 tujuan yang ingin kuraih dalam 10 tahun ke depan, waktu yang harus kusisihkan setiap hari akan menjadi 9 jam. Dan lebih banyak lagi bila aku ingin meraihnya lebih cepat. Bukan main.

Sebagai tambahan, menghabiskan 10.000 jam saja tidak cukup untuk menjamin sebuah keberhasilan. Lihat contoh para peniaga yang kusebut di atas, mulai dari pedagang asongan hingga mompreneur. Mungkin mereka semua sama-sama telah menghabiskan 10.000 jam di bidangnya, bahkan lebih. Namun tidak semua mendapat hasil yang sama. Sebagian lebih sukses daripada sebagian yang lain. Bahkan sebagian kecil meraih hasil yang jauh melampaui sebagian besar lainnya. Mengapa hal itu bisa terjadi?

Itu adalah pertanyaan yang relevan. Di sebuah buku, saya pernah membaca suatu penelitian yang mengupas tentang para pecatur.Penelitian itu dipimpin oleh Neil Charness, psikolog dari Universitas Negeri Florida. Dia menemukan bahwa walaupan sama-sama telah berlatih selama sekitar 10.000 jam, hanya sebagian saja yang layak menyandang gelar grand master, sedangkan sebagian lainnya hanya mencapai level menengah. Lebih lanjut, pada akhirnya disimpulkan bahwa para grand master berhasil meraih gelar mereka karena pada umumnya mereka menghabiskan waktu 5 kali lipat lebih banyak untuk mempelajari permainan secara serius, daripada hanya sekadar bermain di turnamen saja.

Dengan kata lain, aturan 10.000 jam bukan hanya soal jumlah dan kuantitas, melainkan juga soal mutu dan kualitas. Menjalani 10.000 jam secara asal-asalan jelas tidak akan membantu. Penulis buku yang saya sebut di atas menggunakan istilah “latihan-sengaja”. Dan untuk meraih hasil yang diinginkan, konsep “latihan-sengaja” harus selalu diterapkan dalam pekerjaan dan kegiatan sehari-hari.

Hubungannya dengan Kesuksesan

Mengapa saya menuliskan “aturan 10.000 jam”? Apa hubungannya dengan kesuksesan? Bagi saya, setidaknya ada 2 alasan. Yang pertama adalah karena sukses didahului oleh mahir. Yang kedua adalah karena sukses membutuhkan waktu.

Mari kita lihat. Semua orang sukses adalah pakar di bidangnya masing-masing. Dokter meraih sukses tentu karena dia ahli di bidangnya. Manager sukses tentu juga karena dia cakap dalam managemen. Pengusaha yang sukses pun berhasil karena dia memahami bidangnya dengan baik. Lebih jauh lagi, semua kesuksesan itu tidak dicapai dalam waktu semalam. Kesuksesan membutuhkan waktu dan proses. Jangan harap kesuksesan dapat diraih dalam waktu singkat. Semakin besar sukses yang ingin diraih, semakin besar waktu dan sumber daya yang harus dikorbankan.

Mungkin ada sejumlah orang yang meraih sukses di usia muda, mungkin bahkan sangat muda. Soal itu, aku percaya hal tersebut bukan sesuatu yang ajaib. Hal itu terjadi semata karena dia sudah mulai merajut kesuksesan amat sangat jauh-jauh hari sebelum hari dia disebut sukses. Tak perlu merasa terlalu takjub, karena saya yakin dia juga menapaki jalan derita yang serupa dengan orang-orang sukses lain. Hal itu seharusnya menjadi motivasi. Bila dia bisa sukses, mengapa saya tidak?

Cara Membuat Tulisan yang Mudah Dipahami (Bag. 4)

23 Oct

Saya tidak menyangka akan membuat tulisan ini hingga bagian 4.Tapi ternyata baru-baru ini saya mendapatkan bacaan yang sepertinya agak sulit saya pahami, dan mendadak saya mendapatkan ilham untuk melanjutkan tulisan ini. Maka ditulislah bagian ke-4…

Bacaan yang saya singgung ini memiliki karakteristik yang khas, yaitu begitu banyak menggunakan deskripsi. Sedangkan inti yang dibahas sebenarnya cuma itu-itu saja. Dari sini, saya menarik kesimpulan mungkin penulis yang bersangkutan semacam “memaksakan” agar isi tulisan menjadi lebih banyak. Hasilnya secara kuantitas memang tulisannya mengandung lebih banyak kata dan kalimat, namun secara kualitas kata-kata dan kalimat-kalimat tersebut lebih layak disebut kata-kata dan kalimat-kalimat “sampah”. Tidak memberikan nilai tambah pada tulisan, namun justru jadi nilai minus dan membuat tulisan jadi membosankan untuk dibaca.

Jadi begitulah. Dan dari situ, saya berupaya untuk menarik pelajaran bagi diriku sendiri (dan bagi pembaca, kuharap) agar dapat menghindari perangkap menulis yang satu ini.

1. Hindari mendeskripsikan suatu hal secara berlebihan

Deskripsi adalah hal yang bermanfaat dalam sebuah tulisan, namun tidak jadi bermanfaat bila digunakan terlalu berlebihan. Pembaca tertentu (baca: saya) lebih suka meloncati deskripsi-deskripsi yang berlebihan tersebut untuk langsung mencari poin berikutnya yang sekiranya lebih penting dan menarik untuk dibaca. Bagi saya, deskripsi “sampah” tersebut terasa, sekali lagi, membosankan.

Bagi saya, ada beberapa tulisan yang sepertinya tidak akan terlalu membosankan untuk dibaca. Dari situ, saya merumuskan beberapa langkah berikut agar tulisan jadi lebih menarik…

2. Buat pembaca penasaran. Sajikan fakta dan data yang menggelitik, dan kemas secara menarik

Bisa dikatakan ini adalah salah satu jurus yang ampuh untuk membuat pembaca terus membaca. Pembaca akan terpancing untuk membaca bila merasa penasaran, dan akan terpancing lebih jauh lagi bila mendapatkan fakta yang menarik. 

Fakta dan data bukan semata berfungsi untuk menarik perhatian pembaca saja. Sebuah tulisan yang didukung fakta dan data yang valid memiliki posisi yang kuat, dan semakin memastikan keabsahan kualitas tulisan tersebut.

3. Berikan contoh yang nyata

Ini juga merupakan cara yang jitu. Orang-orang menyukai cerita. Bahkan, memulai tulisan dengan sebuah cerita dikatakan memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk menggaet pembaca daripada tanpa dimulai dengan cerita. Cobalah untuk memasukkan beberapa contoh yang nyata berupa kisah ke dalam tulisan. 

Terkait hal ini, saya merekomendasikan buku-buku karya Dale Carnegie. Dalam bukunya, Dale Carnegie selalu memasukkan contoh-contoh yang nyata berupa kisah-kisah yang dialaminya. Kisah-kisahnya membuat pembaca terus tertarik untuk membaca. 

4. Tawarkan perspektif yang baru dan berbeda dari biasanya

Hal ini mungkin agak sulit dilakukan. Tapi saya tetap menuliskannya di sini karena saya berkesempatan untuk membaca tulisan yang memberikan sudut pandang yang sama sekali baru. Adalah buku karangan Stephen R. Covey berjudul 7 Habits of Highly Effective People, buku yang kumaksud itu. Buku itu mungkin menawarkan solusi pengembangkan diri seperti buku-buku sejenis pada umumnya, dan mungkin ide-ide di dalamnya juga beberapa dikupas di buku lain. Namun tetap saja, membaca sebuah ide dan sudut pandang yang baru mengundang rasa penasaran. Dan tambahan pula, siapa tahu kita bisa mempelajari sesuatu.

5. Terakhir, bila terpaksa dan tak ada jalan lain…

Yah, sebagai penulis, tentu ada saatnya kita mengalami kebuntuan. Bila semua senjata sudah dikeluarkan, amunisi terakhir yang bisa dipakai adalah memainkan kata-kata. Seperti yang saya tulis di bagian sebelumnya, penggunaan gaya bahasa sanggup menentukan kualitas tulisan. Cobalah untuk memilih-milih kata-kata terbaik yang bisa digunakan.

Yah, inilah bagian ke-4 dari serial cara membuat tulisan yang mudah dipahami. Atau mungkin, bagian ke-4 ini lebih pas disebut sebagai “Cara Membuat Tulisan yang Enak Dibaca”. Tapi seharusnya sama saja, tulisan yang mudah dipahami seharusnya enak dibaca, dan tulisan yang enak dibaca tentu mudah dipahami. Bila ada yang ingin disampaikan, silakan tulis dan kirim di kolom komentar. Terima kasih ๐Ÿ™‚ 

Tulis Tangan atau Ketik?

9 Oct

Ini adalah persoalaan lain dalam menulis. Mau tulis tangan dulu atau langsung diketik di komputer/laptop/media lain?

Pertama, saya ingin membahas sedikit teori tentang menuangkan gagasan/pemikiran. Dalam menuangkan gagasan, terdapat 3 faktor: pikiran, media, dan hasil. 

“Pikiran” adalah sumber gagasan. Di dalamnya terdapat gagasan yang masih abstrak dan membutuhkan proses agar bisa disampaikan. Sedangkan “hasil” adalah gagasan yang sudah dituangkan dalam bentuk konkrit dan siap disampaikan pada orang lain. “Media” adalah perantara yang menjembatani antara gagasan yang ada dalam pikiran dan hasil sebagai gagasan berbentuk konkrit. 

Kualitas “hasil” yang ada bergantung pada kualitas “pikiran” dan penguasaan “media”. Semakin bagus kualitas pikiran dan penguasaan media, kemungkinan semakin baik pula kualitas hasil akhirnya. Andaikan kualitas pikiran tidak bagus (silakan baca Cara Membuat Tulisan yang Mudah Dipahami Bag. 1, 2, dan 3), hasil yang diharapkan juga tidak akan maksimal walaupun penguasaan medianya baik. Sama juga halnya bila penguasaan media kurang baik, tentu hasilnya juga kurang baik walaupun ada gagasan yang bagus.

Saya yakin pembaca sudah tahu apa yang dimaksud dengan pikiran dan gagasan dalam tulisan ini, tapi bagaimana dengan media dan hasil? Media adalah segala sesuatu yang dibutuhkan agar gagasan abstrak dapat tertuang secara konkrit — entah itu karya tulis, gambar, poster, atau apapun itu — yang disebut sebagai hasil. Kalau begitu, media bisa berupa apapun: pensil, pulpen, kertas, keyboard, mouse, CPU, dan hal-hal semacamnya. Tapi jangan lupa, yang tak kalah penting adalah skill untuk menggunakan semua itu. Oh ya, 1 hal lagi. Semakin banyak hal yang dibutuhkan dalam suatu media, semakin sulit gagasan dapat tertuang.

Sekarang kita ambil contoh menulis di atas kertas. Media apa saja yang dibutuhkan? Alat tulis dan kertas. Soal kemampuan menulis, saya percaya para pembaca sudah bisa baca tulis semua dengan lancar.

Sekarang kita bandingkan dengan mengetik di komputer, apa saja yang diperlukan? Sambungan listrik, CPU, keyboard, mouse, dan software tertentu yang dibutuhkan. Atau mungkin 1 unit laptop. Tambahkan pula skill yang dibutuhkan untuk menguasai semua aspek hardware dan software yang diperlukan. Special mention pada kemampuan untuk mengetik dengan keyboard secara lancar (silakan baca Skill yang Mutlak Dibutuhkan Setiap Blogger).

Sekarang kita lihat keduanya. Untuk menulis di kertas, praktis cuma perlu pulpen dan kertas, yang notabene dapat ditemukan dengan mudah di sekitar kita. Dengan hanya membutuhkan sedikit benda yang mudah didapat dan tanpa memerlukan skill khusus, menulis di kertas bisa menjadi metode yang sangat mudah digunakan dan sederhana untuk menuang gagasan. Sebagai tambahan, menguraikan ide untuk disusun secara cermat juga lebih mudah. Hal yang bisa menjadi kekurangan adalah mungkin tulisan tangan yang begitu buruk sehingga si penulis jadi malas sendiri untuk melihatnya, dan juga hasil tulisan tangan biasanya tidak langsung siap dipublikasikan karena tetap harus diketik dulu.

Lalu bagaimana dengan mengetik langsung? Mengetik langsung membutuhkan persiapan yang lebih ribet dan skill khusus untuk mengoperasikan segala gadget yang dibutuhkan. Tidak semua orang memiliki akses mudah untuk memakainya setiap saat. Dan bila ada 1 saja komponen yang hilang, situasinya bisa jadi susah (terutama bila hasil yang diharapkan berupa gambar, film, atau hal-hal lain yang lebih rumit). Tapi tidak semuanya buruk juga. Bila anda memiliki tulisan tangan yang jelek, anda tak perlu melihat tulisan tangan anda yang menyedihkan itu. Mengetik langsung juga memudahkan dalam hal melakukan editing, dan pada umumnya siap dipublikasikan begitu selesai.Soal skill, memang dibutuhkan kemampuan khusus untuk mengetik secara cepat dan lancar. Tapi begitu skill itu dkuasai, segala proses mengetik yang lamban itu akan menjadi jauh lebih cepat, mudah, dan menyenangkan.

Lalu mana yang lebih baik? Semuanya tergantung si penulis sendiri. Bila ingin dan harus segera menulis, segera ambil pulpen dan kertas dan mulailah menulis apa saja yang terlintas dalam pikiran. Mungkin bahkan lebih baik bila selalu membawa pulpen dan buku setiap saat untuk segera menuang segala gagasan yang hinggap ke atas kertas. Bila memiliki akses yang relatif mudah terhadap teknologi dan sudah biasa mengoperasikannya, tak perlu merasa repot untuk membuka laptop dan mulai mengetik. Atau tulis draft awal di smartphone sebelum dikembangkan belakangan bila ada waktu luang. 

Saya sendiri menggunakan kedua metode itu. Bila tiba-tiba muncul gagasan, tapi masih belum bisa dipublikasikan dalam waktu dekat, biasanya saya tulis dulu di buku catatan. Namun bila ternyata saya memiliki ide dan ternyata ide itu cukup jelas, saya biasanya segera membuka laptop dan mulai mengetik.

Catatan Dokter PTT Pekan #053

11 Sep

Banemo,  11 September 2016

Apakah dulu saya pernah menulis bahwa “apa yang kau tulis merupakan dirimu yang sebenarnya”? Ternyata sudah, di Pekan #024 (hanya sebuah catatan kecil, tak ada yang terlalu penting). Maka sekarang aku sekilas membaca lagi apa-apa saja yang sudah kutulis selama ini…

Hasilnya? Sebagian besar tulisan yang kuhasilkan berpusat pada pemikiran dan diri sendiri. Hanya beberapa (1-2) saja yang berisi tentang interaksiku dengan orang lain. Ini merupakan hal yang tidak terlalu bisa dibanggakan. Apakah itu berarti aku tak sanggup menulis tentang ini? Bila aku tidak sanggup menulis tentang hal ini, apakah itu berarti aku memiliki masalah?

Bila memang demikian, berarti kemungkinan ada kebiasaan yang harus diubah. Dan omong-omong soal mengubah kebiasaan, cukup beruntung juga aku membaca sekilas tentang hal ini. Sebuah buku yang kubaca mengutip sebuah penelitian tentang mengubah sebuah kegiatan menjadi kebiasaan. Disebutkan bahwa bila kegiatan itu dilakukan secara terus menerus selama 5 pekan, kemungkinan cukup bagus kegiatan itu akan menjadi kebiasaan. Masih dari buku yang sama, disebut pula teori Relapse Prevention (Pencegahan Kekambuhan). Teori ini menyebutkan untuk mengehentikan kebiasaan buruk (seperti merokok, narkoba, makan berlebihan, dll), 3 bulan pertama adalah masa yang paling kritis. Bila sanggup bertahan di 12 pekan pertama, kemungkinan untuk kambuh sangat berkurang. Jadi, untuk membentuk sebuah kebiasaan, 5-12 pekan adalah periode jendela yang baik untuk memulainya.*

Jadi, apakah aku akan sanggup mengubah kebiasaanku?

*Dikutip dari The Blue Zones: Rahasia Hidup Sehat Orang-orang Tertua di Dunia, oleh Dan Buettner, hal. 219

Apa yang Kudapatkan dari Membaca

1 Sep

Ketika saya mengambil keputusan untuk mengabdi di pelosok hampir setahun yang lalu, saya tahu saya perlu memiliki kegiatan lain yang bisa dilakukan di waktu-waktu kosong. Lantas saya teringat bahwa selama beberapa tahun belakangan ini kegiatan membaca saya sangat rendah. Akhirnya kuputuskan untuk mencoba memupuk kebiaasan membaca. Hari, minggu, dan bulan berganti, tak terasa 1 tahun akhirnya hampir terlewati. Motivasi kadang tinggi kadang rendah seperti pasang-surut lautan, tapi sudahlah, toh semua itu sudah lewat. Jadi, apa yang sudah kudapatkan selama hampir setahun ini? Continue reading

Menulis

21 Aug

Banemo, 21 Agustus 2016

Apakah aku akan menulis tentang bertema hari kemerdekaan? Sebenarnya itu adalah hal yang sangat menarik untuk dicermati. Namun anehnya topik itu tidak terlilntas dalam benakku saat ini, entah mengapa. Mungkin sebagian karena pada saat hari raya ulang tahun kemerdekaan republik tercinta ini, saya sedang terbaring lemas di kasur gara -gara demam…

Sudah hampir setahun saya berada di sini. Selama saya di sini, saya ingin menulis tentang apa saja yang sudah aku alami di sini. Walaupun tidak terlalu sukses, setidaknya sudah ada 1-2 tulisan tentang hal itu. Kualitas dan kuantitas tulisan yang ada memang berada jauh di bawah harapan, tapi semoga bisa menjadi lebih baik. Continue reading