Archive | How To Be Awesome! RSS feed for this section

Kekuatan Tindakan

5 Mar

Baru tadi malam saya membaca salah satu dari koleksi buku-buku yang saya beli. Judulnya adalah Think and Grow Rich oleh Napoleon Hill. Buku ini disebutkan beberapa kali dalam buku-buku pengembangan diri lain yang sudah aku baca sebelumnya, akhirnya saya jadi penasaran dan langsung membelinya di toko buku begitu ada kesempatan beberapa waktu lalu. Hmm, sebenarnya sudah agak lama sih, tapi mulai dibacanya baru sekarang. Haha. Continue reading

Advertisements

New Year Resolution

2 Jan

The year 2017 has ended several days ago, leaving us with all of its sparkling memory like fireworks on new year’s eve. And the year 2018 is right on the front gate with all of its surprises. It’s pretty much just like a book, an end of a chapter is just the beginning of anothoer. And as the 2017 ends, the year 2018 begins. Many people, if not most, make the beginning of the year as a moment to change and plan their future. “The new year resolution”, they say. Continue reading

Rencana Untuk Membentuk Kebiasaan

28 Dec

Belakangan ini aku menyadari aku telah menyia-nyiakan sebagian besar waktuku. Dari bangun tidur sampai tidur lagi, aku merasa hampir tak ada hal positif yang kulakukan. Dan ini sudah berlangsung selama beberapa bulan, hingga menjadi kebiasaan.

Aku telah kehilangan banyak kebiasaan positif dan lebih sering melakukan kebiasaan negatif. Rasanya buruk sekali ketika aku tahu aku tidak memiliki kebiasaan yang baik dan masih terlalu banyak menghabiskan waktu untuk kebiasan yang buruk. Rasanya seperti perasaan bersalah yang tiada habisnya, tapi nyaris tidak kuasa untuk berubah. Rasa bersalah, sedih, dan marah bercampur-aduk jadi satu. Continue reading

Apa yang Aku Pelajari Dari Menulis Buku

1 Nov

Walaupun aku sudah menduga bahwa menulis buku bakalan susah, jujur tak kusangka ternyata akan sesusah ini. Sudah berminggu-minggu aku berupaya menulis, namun kemajuannya masih pelan sekali. Aku jadi mulai bertanya-tanya apakah aku masih memiliki keberanian untuk melihatnya selesai…

Yah, walaupun begitu, aku merasa harus bersyukur karena memutuskan untuk menulis buku. Secara tak langsung, aku jadi bisa mengenal diriku lebih jauh, terutama soal kekurangan-kekurangan sendiri. Ternyata memang salah satu cara untuk mengenal diri sendiri adalah dengan menempatkan diri di dalam tekanan. Dan selain berhasil mengembangkan insight, ternyata ada manfaat lain juga yang bisa dipelajari dari sini.

Sejauh ini, inilah hal-hal yang telah kupelajari dari proyekku menulis buku tentang faal ini… Continue reading

Salah Satu Kunci Terpenting dalam Belajar

17 Oct

Kalau aku mendengar kata “belajar”, yang langsung terlintas dalam benak adalah tumpukan buku yang harus dibaca untuk lulus ujian. Bayang-bayang seperti ini sudah menghantuiku sejak umur 6 tahun di kelas 1 SD dan berlangsung hingga lulus kuliah dan meraih gelar dokter sekitar tahun 2014. Itu berarti sekitar… hampir 20 tahun. Dua puluh tahun, sama sekali bukan waktu yang sebentar untuk menancapkan bayang-bayang seperti itu kedalam pikiran. Bayang-bayang horor ini masih menggelayuti pikiran hingga saat ini, apalagi karena masih terpikir untuk melanjutkan sekolah ke jenjang S2 sampai S3. Continue reading

(Susahnya) Jadi Pengusaha Sukses

21 Apr

Aku membayangkan diriku sebagai pengusaha sukses… Pergi pulang ke kantor bisa semaunya tak ada yang mengatur, mungkin kalau bolos pun tidak apa-apa, meeting tiap bulan ke luar kota, malah sering ke luar negeri, kalau perlu apa-apa tinggal suruh bawahan, kerja barangkali cuma duduk-duduk dan tanda tangan… dan uang terus mengalir!

Hal-hal itulah yang kubayangkan ketika menjadi pengusaha sukses, dan mungkin itu pula yang dibayangkan kebanyakan orang-orang. Karena bayangan inilah aku bercita-cita untuk menjadi pengusaha, atau entrepreneur dalam bahasa kerennya. Dan jadi entrepreneur ini sudah kucita-citakan sejak zaman dahulu kala, tidak banyak berubah bahkan setelah menjalani tahun-tahun sebagai profesional bidang kesehatan. Mulai dari kuliah, lulus, dokter muda, internship, sampai sekarang saat PTT. Ide untuk jadi pengusaha tampaknya sudah tertanam begitu kuat dalam benak bagaikan terjangkit parasit yang tak bisa disembuhkan atau tumor ganas yang menggerogoti jiwa, raga, dan pikiran.

Aku sampai pada titik di mana aku memutuskan bahwa aku butuh penyeimbang.

Aku sudah membaca sejumlah literatur tentang entrepreneurship. Tidak bisa dikatakan terlalu banyak, namun setidaknya aku sudah membaca beberapa. Ada yang berisi tentang kisah-kisah orang sukses. Ada yang berisi tentang langkah-langkah memulai dan mengelola bisnis. Ada yang berisi tentang ilmu manajemen, mulai dari manajemen diri, manajemen sumber daya, hingga manajemen tim. Ada yang berisi tentang motivasi dan dorongan positif untuk memulai bisnis. Banyak hal positif yang bisa dipelajari dari tulisan-tulisan seperti di atas. Akan tetapi, hanya sedikit yang bisa kupelajari, bahkan lebih sedikit lagi yang bisa kupahami (bila memang ada), tentang sisi gelap entrepreneur. Sisi gelap itu adalah kesengsaraan dan kegagalan yang mengintai para entrepreneur.

Saya kira sisi gelap ini jarang naik ke permukaan karena pada akhirnya sering ditutupi oleh akhir kisah yang bahagia (happy ending) atau kata-kata dan motivasi positif. Dan orang-orang sukses pun biasanya enggan untuk bersikap transparan tentang segala hal sulit yang dilaluinya. Misalnya saja, ketika seorang teman menjadi juara kelas dan kita mengucapkan selamat padanya seraya memujinya, kemungkinan besar dia akan merendah dan membalas dengan, “Ah, biasa saja”, atau “Itu cuma keberuntungan”, atau kalimat-kalimat semacamnya. Kecil kemungkinannya dia akan bercerita tentang perjuangannya sejak jauh-jauh hari sebelum ujian dalam belajar, dari pulang kuliah hingga larut malam, tanpa sempat makan siang dan malam, sakit perut karena stress dan kebanyakan minum kopi saat begadang, frustrasi karena tak kunjung menguasai bab tertentu, dan sebagainya.

Menurut saya, ketidaktahuan akan sisi gelap ini berbahaya dan dapat menyesatkan para pelaku usaha yang sedang mulai merintis. Saya tidak mau hal ini terjadi pada saya. Oleh karena itu, di tulisan ini saya berusaha fokus untuk mengangkat sisi gelap itu. Sisi gelap itulah yang kumaksud sebagai “penyeimbang”.

Untuk para calon entrepreneur sukses masa depan, tulisan ini tidak dimaksudkan untuk membuat anda sekalian gentar dan balik kanan. Aku membuat tulisan ini untuk mengingatkan diri sendiri bahwa dunia pengusaha dan entrepreneurship tidak seperti yang kebanyakan dilihat dan dibayangkan. Aku membuat tulisan ini juga agar aku dapat melihat dari sisi yang berbeda dengan pandangan yang jernih.

JADI PENGUSAHA (SUKSES*) ITU SUSAH

(* Definisi sukses selalu menjadi topik yang menarik untuk dibicarakan dan layak untuk menjadi sebuah tulisan tersendiri. Bila aku dapat meluangkan waktu, Insya Allah aku akan membuat tulisan tentang definisi sukses)

Kalimat yang di-bold dan berhuruf kapital di atas tampaknya adalah permulaan yang bagus untuk memulai topik ini. Tapi serius, walaupun kita semua tahu apa itu kata “susah”, sebenarnya jadi pengusaha sukses itu sesusah apa sih?

Sekarang, aku memiliki sebuah hipotesis. Hipotesis itu berbunyi, “Pendapatan berbanding lurus dengan usaha”. Jadi, kalau ada seorang direktur memiliki pendapatan sebesar 100 juta perbulan dan seorang pedagang keliling dengan pendapatan 1 juta perbulan, bisa ditarik kesimpulan bahwa sang direktur telah bekerja 100x lebih keras daripada si pedagang keliling.**

(** Hipotesis ini berlaku jika si direktur dan si pedagang keliling sama-sama memulai dari titik nol yang sama. Hipotesis ini tidak sepenuhnya berlaku jika si direktur mendapatkan perusahaannya dari warisan)

Lalu bagaimana persisnya berusaha 100x lebih keras itu?

Tinggal dilihat saja bagaimana kegiatan keseharian si pedagang keliling itu. Bangun pagi-pagi, menyiapkan dagangannya, sarapan sedikit, mungkin malah sering tidak sarapan, berjalan keliling, di bawah terik matahari, menembus hujan deras, baru kembali ke rumah menjelang malah, bahkan sering baru pulang larut malam. Besok bangun pagi lagi, dan seterusnya. Sekarang bayangkan saja berusaha 100x lebih keras daripada itu. Berjalan keliling 100x lebih jauh setiap hari, membawa dagangan 100x lebih berat, menembus cuaca panas yang 100x lebih terik, menembus hujan yang 100x lebih deras… Itu adalah contoh-contoh yang paling ekstrem, namun intinya tetap sama. Anda tahu maksudnya.

Terlihat berat? Memang berat. Dan perlu diingat bahwa ini baru permulaan saja. Perjuangan jadi entrepreneur sukses masih belum berhenti sampai di sini. Karena selain perlu kerja keras, jadi pengusaha sukses itu…

PERLU WAKTU LAMA

Setelah segala kesulitan dan kerja keras yang harus dilalui di atas, datanglah ujian kedua. Ujian waktu. Seseorang tidak bisa dengan gampang mengucapkan mantra ajaib “sim salabim” dan tiba-tiba saja sebuah kerajaan bisnis terhampar di depan matanya. Bukan begitu cara kerjanya. Dia harus melakukan segalanya dari awal. Membuat rencana, mencari medan yang sesuai dan strategis, membuat rancangan kastil, menghitung, panjang, lebar, tinggi, dan sebagainya. Setelah semuanya siap, barulah proyek dimulai. Menggali tanah, membangun pondasi yang kokoh, menyusun bata satu per satu, dengan teliti, dengan telaten… Ada tahapan-tahapan yang harus dilakukan, selangkah demi selangkah. Tak ada jalan pintas, tak ada jalan singkat.

Saya ingin memberikan sedikit ilustrasi tentang waktu yang lama ini. Pada tahun 1955, ketika Jepang masih terpuruk akibat kekalahan di Perang Dunia II, perjalanan kereta api dari Osaka ke Tokyo bisa memakan waktu hingga 20 jam. Maka, kepala dinas perkeretaapian saat itu menginginkan kereta api yang cepat. Ketika para insinyur mengajukan sebuah purwarupa kereta api berkecepatan 100 km per jam, salah satu yang tercepat di zamannya, dia belum puas. Beberapa bulan kemudian, ketika para insinyur untuk kedua kalinya mengajukan prototype kereta dengan kecepatan 120 km per jam, sang kepala dinas mencelanya. Peningkatan sedikit-sedikit hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi sedikit-sedikit. Dia menginginkan kereta dengan kecepatan 190 km per jam. Para insinyur pun bekerja keras. Terowongan-terowongan menembus gunung dibangun agar kereta dapat melaju lurus tanpa perlu berbelok atau memutar, yang biayanya mungkin menyamai bahkan melebihi biaya membangun ulang Hiroshima dan Nagasaki pascaserangan nuklir. Gerbong-gerbong dirancang agar memiliki motor penggerak masing-masing. Roda gerigi dirancang agar bergerak dengan lebih sedikit gesekan. Rel-rel kereta ditempa dan diperkuat untuk meningkatkan stabilitas, sehingga dapat mendukung laju yang lebih cepat. Ratusan inovasi besar dan kecil diciptakan. Dan akhirnya, tahun 1964, hampir 10 tahun setelah kepala dinas mengeluarkan tantangan kereta cepat pada insinyurnya, Shinkansen Youkaidou menyelesaikan perjalanan perdana dari Tokyo ke Osaka dengan kecepatan rata-rata 190 km per jam. Setelah itu, dengan segera kereta-kereta peluru melesat di seluruh penjuru Jepang. Menurut penelitian tahun 2014, faktor kereta api ini berkontribusi terhadap pesatnya pertumbuhan ekonomi Jepang hingga era 1980.

Sebuah aturan yang bisa diterima secara luas adalah “aturan 10.000 jam”, atau “10.000 hours rule”. Ada juga yang menyebutnya “aturan 10 tahun”, karena 10.000 jam bisa dihitung secara kasar menjadi 10 tahun. Namun konsepnya sama saja. Dibutuhkan waktu yang lama untuk menjadi ahli di suatu bidang. Dan itupun baru permulaan saja, karena sekadar menjadi ahli saja tidak menjamin kesuksesan.

Sumber bacaan saya yang berbeda mengatakan bahwa dalam memulai bisnis (start-up), 5 tahun pertama adalah penentuan. Apabila sebuah start-up sukses melewati 5 tahun pertamanya, kemungkinan untuk meraih sukses di tahun-tahun mendatang cukup besar. Sebaliknya, adalah wajar jika lebih dari 50% start-up jatuh di 5 tahun pertamanya. Kegagalan di 5 tahun pertama ini mungkin karena mereka tidak tahan dengan sulitnya beban memulai usaha.

Sekarang, bahkan walaupun sama-sama telah menghabiskan waktu yang sama lamanya, hanya sebagian kecil pengusaha yang bisa dikatakan sukses, sementara sebagian besar lainnya tidak.

Mengapa? Karena selain butuh waktu lama, pengusaha sukses dituntut untuk…

SELALU BELAJAR

Ini adalah kualitas lain yang membedakan antara seorang rakyat jelata dengan sebagian kecil populasi elit yang disebut entrepreneur sukses. Inilah faktor yang menentukan apakah seseorang akan sukses atau tidak, bila memiliki waktu yang sama. Karena akuilah: soal waktu, yang menentukan bukan hanya soal BERAPA LAMA waktu yang dihabiskan, tapi juga BAGAIMANA waktu itu dihabiskan. Ketika orang-orang biasa hanya menjalankan rutinitas tanpa memaknai maknanya, para calon entrepreneur sukses terus belajar dan menekuni bidangnya untuk menjadi lebih baik. Mereka melakukan hal yang tidak dilakukan kebanyakan orang. Seperti kalimat mutiara, “Hari ini aku akan melakukan hal yang tidak dilakukan orang lain, sehingga besok aku akan meraih hal yang tidak diraih orang lain”.

Hal yang mereka pelajari pun tidak terbatas. Mereka mempejalari bidang masing-masing, itu sudah pasti, tapi mereka juga mempelajari hal yang lain. Ambil saja beberapa contoh. Di fase-fase awal, mungkin mereka baru mulai belajar tentang cara membangun usaha itu sendiri. Lalu sebagai awalan, mereka mungkin juga mulai belajar untuk mendapatkan suplai barang. Setelah usaha mulai berjalan, mereka belajar tentang mengatur cash flow. Mereka belajar tentang bersosialisasi dengan pelanggan. Dari situ, mereka belajar tentang membangun relasi dan kepercayaan. Lalu mereka mempejajari tentang marketing. Kemudian, mereka belajar tentang manajemen sumber daya. Ketika bisnis mulai tumbuh, mereka mulai belajar tentang organisasi tim. Ketika jaringan usaha makin luas, mungkin mereka belajar tentang distribusi barang. Seakan tidak ada habisnya. Dan mereka belajar sambil melakukan bisnisnya.

Andaikan seorang entrepreneur dianalogikan sebagai seorang prajurit, maka bisnis yang mereka lakukan adalah medan perangnya. Sekarang bayangkan, di tengah sengitnya medan tempur dalam peperangan yang tidak berkesudahan, dalam kondisi yang serba sulit dan tidak menentu, seorang entrepreneur dituntut untuk tetap mempertahankan kesadarannya untuk terus memperhatikan keadaan sekitar dan mempelajarinya. Hal ini dilakukannya untuk mendapatkan pemahaman tentang jalannya pertempuran. Dari pemahamannya itu, dia bisa mengetahui kekuatan dan kelemahan pihaknya dan pihak lawan, lalu menutupi kelemahannya sendiri, dan memanfaatkan cela dari strategi lawan untuk merebut kemenangan. Andaikan dia tidak memahami kondisi pertempuran di sekitarnya, dia hanya akan terombang-ambing tidak jelas di tengah ganasnya pertempuran. Atau tewas.

SELALU BERADA DI LUAR ZONA NYAMAN

Kalau mau diringkas, ketiga poin yang disinggung sebelum ini (kerja keras, waktu lama, selalu belajar) dapat dirangkum menjadi kalimat di atas. Selalu berada di luar zona nyaman. Bekerja keras berada di luar zona nyaman. Bersabar dalam mencapai tujuan berada di luar zona nyaman. Belajar pun berada di luar zona nyaman.
Alangkah sulitnya keluar dari zona nyaman! Ketika seseorang sudah semakin lama berada di dalam zona nyaman, mungkin akan semakin sulit baginya untuk keluar dan mencari tantangan. Dia sudah lama terbius dalam zona nyaman, sehingga terlalu takut untuk meninggalkannya. Padahal mungkin saja dia memiliki ambisi besar untuk masa depannya. Namun pada akhirnya, dia memutuskan untuk menetap di zona nyaman. Dan dia harus membayarnya dengan harga yang mahal, yaitu cita-citanya.
Wahai para calon entrepreneur sukses, sudah siapkah kalian meninggalkan zona nyaman yang kalian tinggali saat ini? Pikirkanlah baik-baik. Ingatlah bahwa hanya lautan yang penuh badailah yang bisa menghasilkan pelaut ulung, sebagaimana masa-masa krisis suatu negeri akan memunculkan pemimpin hebat. Dan pada akhirnya, untuk meraih segalanya, seseorang harus siap kehilangan segalanya.

Cara Membuat Tulisan yang Mudah Dipahami (Bag. 4)

23 Oct

Saya tidak menyangka akan membuat tulisan ini hingga bagian 4.Tapi ternyata baru-baru ini saya mendapatkan bacaan yang sepertinya agak sulit saya pahami, dan mendadak saya mendapatkan ilham untuk melanjutkan tulisan ini. Maka ditulislah bagian ke-4…

Bacaan yang saya singgung ini memiliki karakteristik yang khas, yaitu begitu banyak menggunakan deskripsi. Sedangkan inti yang dibahas sebenarnya cuma itu-itu saja. Dari sini, saya menarik kesimpulan mungkin penulis yang bersangkutan semacam “memaksakan” agar isi tulisan menjadi lebih banyak. Hasilnya secara kuantitas memang tulisannya mengandung lebih banyak kata dan kalimat, namun secara kualitas kata-kata dan kalimat-kalimat tersebut lebih layak disebut kata-kata dan kalimat-kalimat “sampah”. Tidak memberikan nilai tambah pada tulisan, namun justru jadi nilai minus dan membuat tulisan jadi membosankan untuk dibaca.

Jadi begitulah. Dan dari situ, saya berupaya untuk menarik pelajaran bagi diriku sendiri (dan bagi pembaca, kuharap) agar dapat menghindari perangkap menulis yang satu ini.

1. Hindari mendeskripsikan suatu hal secara berlebihan

Deskripsi adalah hal yang bermanfaat dalam sebuah tulisan, namun tidak jadi bermanfaat bila digunakan terlalu berlebihan. Pembaca tertentu (baca: saya) lebih suka meloncati deskripsi-deskripsi yang berlebihan tersebut untuk langsung mencari poin berikutnya yang sekiranya lebih penting dan menarik untuk dibaca. Bagi saya, deskripsi “sampah” tersebut terasa, sekali lagi, membosankan.

Bagi saya, ada beberapa tulisan yang sepertinya tidak akan terlalu membosankan untuk dibaca. Dari situ, saya merumuskan beberapa langkah berikut agar tulisan jadi lebih menarik…

2. Buat pembaca penasaran. Sajikan fakta dan data yang menggelitik, dan kemas secara menarik

Bisa dikatakan ini adalah salah satu jurus yang ampuh untuk membuat pembaca terus membaca. Pembaca akan terpancing untuk membaca bila merasa penasaran, dan akan terpancing lebih jauh lagi bila mendapatkan fakta yang menarik. 

Fakta dan data bukan semata berfungsi untuk menarik perhatian pembaca saja. Sebuah tulisan yang didukung fakta dan data yang valid memiliki posisi yang kuat, dan semakin memastikan keabsahan kualitas tulisan tersebut.

3. Berikan contoh yang nyata

Ini juga merupakan cara yang jitu. Orang-orang menyukai cerita. Bahkan, memulai tulisan dengan sebuah cerita dikatakan memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk menggaet pembaca daripada tanpa dimulai dengan cerita. Cobalah untuk memasukkan beberapa contoh yang nyata berupa kisah ke dalam tulisan. 

Terkait hal ini, saya merekomendasikan buku-buku karya Dale Carnegie. Dalam bukunya, Dale Carnegie selalu memasukkan contoh-contoh yang nyata berupa kisah-kisah yang dialaminya. Kisah-kisahnya membuat pembaca terus tertarik untuk membaca. 

4. Tawarkan perspektif yang baru dan berbeda dari biasanya

Hal ini mungkin agak sulit dilakukan. Tapi saya tetap menuliskannya di sini karena saya berkesempatan untuk membaca tulisan yang memberikan sudut pandang yang sama sekali baru. Adalah buku karangan Stephen R. Covey berjudul 7 Habits of Highly Effective People, buku yang kumaksud itu. Buku itu mungkin menawarkan solusi pengembangkan diri seperti buku-buku sejenis pada umumnya, dan mungkin ide-ide di dalamnya juga beberapa dikupas di buku lain. Namun tetap saja, membaca sebuah ide dan sudut pandang yang baru mengundang rasa penasaran. Dan tambahan pula, siapa tahu kita bisa mempelajari sesuatu.

5. Terakhir, bila terpaksa dan tak ada jalan lain…

Yah, sebagai penulis, tentu ada saatnya kita mengalami kebuntuan. Bila semua senjata sudah dikeluarkan, amunisi terakhir yang bisa dipakai adalah memainkan kata-kata. Seperti yang saya tulis di bagian sebelumnya, penggunaan gaya bahasa sanggup menentukan kualitas tulisan. Cobalah untuk memilih-milih kata-kata terbaik yang bisa digunakan.

Yah, inilah bagian ke-4 dari serial cara membuat tulisan yang mudah dipahami. Atau mungkin, bagian ke-4 ini lebih pas disebut sebagai “Cara Membuat Tulisan yang Enak Dibaca”. Tapi seharusnya sama saja, tulisan yang mudah dipahami seharusnya enak dibaca, dan tulisan yang enak dibaca tentu mudah dipahami. Bila ada yang ingin disampaikan, silakan tulis dan kirim di kolom komentar. Terima kasih 🙂