Kisah Dua Binder

17 Jan

Tumpukan buku itu teronggok begitu saja di meja ruang tamu rumah dinas. Selama ini tumpukan itu berfungsi tak lebih sebagai hiasan semata agar meja tamu kaca yang menopangnya tak terlihat telanjang tanpa taplak. Dengan adanya sedikit tumpukan buku itu, setidaknya orang yang melihat akan menilai bahwa si empunya rumah adalah orang yang terpelajar dan rajin membaca. Atau begitulah harapannya. Mungkin sebenarnya hiasan berupa taplak bakal lebih jujur dan bebas pencitraan karena ternyata si pemilik buku enggan membaca. Boro-boro membaca, sekadar dilihat pun juga sambil lalu saja tanpa ada rasa tertarik.
Tumpukan buku itu kecil saja, sebetulnya. Hanya terdiri dari 2 buah buku yang tebal berwarna kuning dan putih, serta 2 buku lain yang lebih tipis dan kecil. Namun di atas tumpukan buku itu terdapat 2 buah binder, seakan-akan menjadi atap yang melengkapi “rumah ilmu” di bawahnya. Dibandingkan dengan buku-buku di bawahnya yang terlihat lumayan baru, kedua binder itu tampak berumur agak lebih lama.

Saya pun menghela napas panjang. Binder pertama memiliki sampul berwarna putih polos. Binder putih ini sudah kumiliki sejak masa kuliah, dan terus setia menemani hingga lulus, internship di Ngawi, dan sampai sekarang saat PTT di Halmahera Tengah. Fungsinya adalah mencatat  pelajaran dan pengalaman medis yang kudapatkan selama menjadi mahasiswa dan dokter. Binder ini sebenarnya tidak terlalu sering dibuka-buka, sampai pada suatu saat tibalah masa-masa persiapan uji kompetensi dokter Indonesia, atau UKDI. Pada periode ini, binder ini menjalankan fungsi yang lebih spesifik. Agar saya bisa memahami penyakit case-by-case, saya mencatat setiap penyakit yang sudah kupelajari di situ. Subjective, objective, assessment, planning. Harapannya adalah catatan ini akan berguna untuk menjalani ujian, dan tetap berguna setelahnya saat sudah menjadi dokter.

Kalau kuingat-ingat lagi, binder putih itu bukan binder pertama yang kumiliki. Saya sudah menggunakan binder sejak SMA, namun hilang entah ke mana saat kuliah. Fungsinya mirip, untuk mencatat pelajaran-pelajaran yang kupelajari, terutama saat menjalani program intensif persiapan ujian masuk perguruan tinggi, atau SNMPTN, di tahun 2008. 

Saya jadi teringat masa itu. Saat itu, salah satu guru bimbel semacam terkesan dengan saya. Setiap dia memberi penjelasan, ketika teman-teman saya sibuk mencatat, saya cuma manggut-manggut (sambil dalam hati saya bergumam, “Ternyata ada solusi seperti itu”). Setelah saya disuruh mencatat, barulah saya mencatat. Itu pun cuma 1-2 baris, dan setelah itu langsung tidur di meja. Namun dengan cara seperti itu, tiap try out rangking saya selalu konsisten berada di papan atas. Entahlah, mungkin memang kelebihanku terletak pada memahami intisari setiap pelajaran untuk kemudian dikeluarkan menjadi solusi-solusi kreatif. Bukan mengingat-ingat nama-nama saraf, tulang, pembuluh darah, virus, kuman, cacing, obat, dan hal-hal sebangsanya.

Binder kedua kubeli saat PTT, bersampul foto Cristiano Ronaldo. Mengapa CR7? Dia memang salah satu pemain terbaik dunia dengan segala pencapaiannya, baik individu, klub, maupun tim nasional. Akan tetapi, bukankah dia adalah pemain yang sombong dan arogan? Yah, itu adalah setengah yang kupikirkan. Setengahnya lagi aku berpendapat bahwa dia layak mendapat penghormatan karena jiwa sosialnya yang tinggi. Disebut-sebut dia tidak mentato kulitnya (hal yang cukup “lazim” dilakukan para pemain bola profesional agar terlihat “keren”) agar dia dapat rutin mendonorkan darahnya. Dia juga satu dari sedikit pemain bola profesional papan atas yang menyatakan dukungannya kepada Palestina secara terbuka, dan dikisahkan pernah menolak bertukar jersey dengan pemain “Israel”. Ketika krisis Suriah melanda baru-baru ini, dia mengunggah video yang berisi dukungan moralnya kepada para pengungsi dan korban konflik. Meskipun demikian, bukan hal-hal tersebut yang membuat saya membeli binder bersampul fotonya. Saya memutuskan untuk membeli binder bersampul Cristiano Ronaldo karena saat di toko, satu-satunya binder pilihan lain adalah yang bersampul Hello Kitty.

Saat binder ini dibuka, di sampul depan bagian dalam terselip 2 lembar fotoku bersama beberapa orang teman, saat kuliah dan internship. Tidak terlalu banyak, mungkin jumlahnya tidak sampai 20 orang. Sebagai orang yang sangat ekstrem introvert, bisa dibilang saya hampir tidak pernah merasakan dorongan untuk bersosialisasi dan memiliki banyak teman. Namun, apabila saya sudah menganggap seseorang sebagai teman dekat, percayalah bahwa saya adalah teman yang sangat setia.

Di halaman pertama, terdapat timeline yang di dalamnya terdapat target-target yang ingin kuraih di masa depan. Sebagai individu, anggota keluarga, dan masyarakat. Misalnya di timeline individu, salah satu prestasi yang ingin kucapai adalah menerbitkan buku pertama sebelum usia 30 tahun (itu berarti aku punya waktu kurang dari 3 tahun dari sekarang). Contoh lain adalah meraih gelar S2 sebelum berusia 35 tahun dan gelar S3 sebelum 40. Sasaran lain, yang mungkin agak kurang penting namun tak kalah ambisius, adalah menjadi juara di turnamen tenis meja tunggal, juga sebelum berusia 40 tahun. Masih banyak capaian yang ingin kuraih yang tak kutulis di sini. Di timeline keluarga, ada sasaran menikah pada usia sekitar 30 tahun. Dengan rentang plus-minus 3 tahun, kuharap target ini segera tercapai. Di timeline masyarakat, cukuplah aku menulis di sini bahwa aku ingin memberikan kontribusi yang besar dan monumental bagi Republik Indonesia ini sebelum berusia 55 tahun.

Pada waktu-waktu kosong, ketika ingat, saya akan membuka binder ini. Ketika menatap foto bersama teman-teman dan mengenang waktu bersama, hal itu memberi perasaan senang tersendiri. Tak cuma itu, kadang-kadang saya juga membuka foto keluarga yang tersimpan di HP, dan itu juga memberi perasaan serupa. Seakan-akan aku mendapatkan motivasi baru untuk terus maju dan berjuang. Menoleh ke halaman pertama, timeline yang saya gambar di sana mengingatkan saya bahwa banyak hal yang bisa dicapai, baik itu hal-hal kecil maupun hal-hal besar. Sepertinya sudah sepatutnya waktu-waktu kosong yang ada digunakan sebaik-baiknya untuk semakin memantapkan langkah mendekati raihan-raihan tersebut. Dan kesempatan untuk meraih impian akan semakin sempit seiring dengan berjalannya waktu yang disia-siakan.

Cara Membuat Tulisan yang Mudah Dipahami (Bag. 4)

23 Oct

Saya tidak menyangka akan membuat tulisan ini hingga bagian 4.Tapi ternyata baru-baru ini saya mendapatkan bacaan yang sepertinya agak sulit saya pahami, dan mendadak saya mendapatkan ilham untuk melanjutkan tulisan ini. Maka ditulislah bagian ke-4…

Bacaan yang saya singgung ini memiliki karakteristik yang khas, yaitu begitu banyak menggunakan deskripsi. Sedangkan inti yang dibahas sebenarnya cuma itu-itu saja. Dari sini, saya menarik kesimpulan mungkin penulis yang bersangkutan semacam “memaksakan” agar isi tulisan menjadi lebih banyak. Hasilnya secara kuantitas memang tulisannya mengandung lebih banyak kata dan kalimat, namun secara kualitas kata-kata dan kalimat-kalimat tersebut lebih layak disebut kata-kata dan kalimat-kalimat “sampah”. Tidak memberikan nilai tambah pada tulisan, namun justru jadi nilai minus dan membuat tulisan jadi membosankan untuk dibaca.

Jadi begitulah. Dan dari situ, saya berupaya untuk menarik pelajaran bagi diriku sendiri (dan bagi pembaca, kuharap) agar dapat menghindari perangkap menulis yang satu ini.

1. Hindari mendeskripsikan suatu hal secara berlebihan

Deskripsi adalah hal yang bermanfaat dalam sebuah tulisan, namun tidak jadi bermanfaat bila digunakan terlalu berlebihan. Pembaca tertentu (baca: saya) lebih suka meloncati deskripsi-deskripsi yang berlebihan tersebut untuk langsung mencari poin berikutnya yang sekiranya lebih penting dan menarik untuk dibaca. Bagi saya, deskripsi “sampah” tersebut terasa, sekali lagi, membosankan.

Bagi saya, ada beberapa tulisan yang sepertinya tidak akan terlalu membosankan untuk dibaca. Dari situ, saya merumuskan beberapa langkah berikut agar tulisan jadi lebih menarik…

2. Buat pembaca penasaran. Sajikan fakta dan data yang menggelitik, dan kemas secara menarik

Bisa dikatakan ini adalah salah satu jurus yang ampuh untuk membuat pembaca terus membaca. Pembaca akan terpancing untuk membaca bila merasa penasaran, dan akan terpancing lebih jauh lagi bila mendapatkan fakta yang menarik. 

Fakta dan data bukan semata berfungsi untuk menarik perhatian pembaca saja. Sebuah tulisan yang didukung fakta dan data yang valid memiliki posisi yang kuat, dan semakin memastikan keabsahan kualitas tulisan tersebut.

3. Berikan contoh yang nyata

Ini juga merupakan cara yang jitu. Orang-orang menyukai cerita. Bahkan, memulai tulisan dengan sebuah cerita dikatakan memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk menggaet pembaca daripada tanpa dimulai dengan cerita. Cobalah untuk memasukkan beberapa contoh yang nyata berupa kisah ke dalam tulisan. 

Terkait hal ini, saya merekomendasikan buku-buku karya Dale Carnegie. Dalam bukunya, Dale Carnegie selalu memasukkan contoh-contoh yang nyata berupa kisah-kisah yang dialaminya. Kisah-kisahnya membuat pembaca terus tertarik untuk membaca. 

4. Tawarkan perspektif yang baru dan berbeda dari biasanya

Hal ini mungkin agak sulit dilakukan. Tapi saya tetap menuliskannya di sini karena saya berkesempatan untuk membaca tulisan yang memberikan sudut pandang yang sama sekali baru. Adalah buku karangan Stephen R. Covey berjudul 7 Habits of Highly Effective People, buku yang kumaksud itu. Buku itu mungkin menawarkan solusi pengembangkan diri seperti buku-buku sejenis pada umumnya, dan mungkin ide-ide di dalamnya juga beberapa dikupas di buku lain. Namun tetap saja, membaca sebuah ide dan sudut pandang yang baru mengundang rasa penasaran. Dan tambahan pula, siapa tahu kita bisa mempelajari sesuatu.

5. Terakhir, bila terpaksa dan tak ada jalan lain…

Yah, sebagai penulis, tentu ada saatnya kita mengalami kebuntuan. Bila semua senjata sudah dikeluarkan, amunisi terakhir yang bisa dipakai adalah memainkan kata-kata. Seperti yang saya tulis di bagian sebelumnya, penggunaan gaya bahasa sanggup menentukan kualitas tulisan. Cobalah untuk memilih-milih kata-kata terbaik yang bisa digunakan.

Yah, inilah bagian ke-4 dari serial cara membuat tulisan yang mudah dipahami. Atau mungkin, bagian ke-4 ini lebih pas disebut sebagai “Cara Membuat Tulisan yang Enak Dibaca”. Tapi seharusnya sama saja, tulisan yang mudah dipahami seharusnya enak dibaca, dan tulisan yang enak dibaca tentu mudah dipahami. Bila ada yang ingin disampaikan, silakan tulis dan kirim di kolom komentar. Terima kasih ๐Ÿ™‚ 

Tulis Tangan atau Ketik?

9 Oct

Ini adalah persoalaan lain dalam menulis. Mau tulis tangan dulu atau langsung diketik di komputer/laptop/media lain?

Pertama, saya ingin membahas sedikit teori tentang menuangkan gagasan/pemikiran. Dalam menuangkan gagasan, terdapat 3 faktor: pikiran, media, dan hasil. 

“Pikiran” adalah sumber gagasan. Di dalamnya terdapat gagasan yang masih abstrak dan membutuhkan proses agar bisa disampaikan. Sedangkan “hasil” adalah gagasan yang sudah dituangkan dalam bentuk konkrit dan siap disampaikan pada orang lain. “Media” adalah perantara yang menjembatani antara gagasan yang ada dalam pikiran dan hasil sebagai gagasan berbentuk konkrit. 

Kualitas “hasil” yang ada bergantung pada kualitas “pikiran” dan penguasaan “media”. Semakin bagus kualitas pikiran dan penguasaan media, kemungkinan semakin baik pula kualitas hasil akhirnya. Andaikan kualitas pikiran tidak bagus (silakan baca Cara Membuat Tulisan yang Mudah Dipahami Bag. 1, 2, dan 3), hasil yang diharapkan juga tidak akan maksimal walaupun penguasaan medianya baik. Sama juga halnya bila penguasaan media kurang baik, tentu hasilnya juga kurang baik walaupun ada gagasan yang bagus.

Saya yakin pembaca sudah tahu apa yang dimaksud dengan pikiran dan gagasan dalam tulisan ini, tapi bagaimana dengan media dan hasil? Media adalah segala sesuatu yang dibutuhkan agar gagasan abstrak dapat tertuang secara konkrit — entah itu karya tulis, gambar, poster, atau apapun itu — yang disebut sebagai hasil. Kalau begitu, media bisa berupa apapun: pensil, pulpen, kertas, keyboard, mouse, CPU, dan hal-hal semacamnya. Tapi jangan lupa, yang tak kalah penting adalah skill untuk menggunakan semua itu. Oh ya, 1 hal lagi. Semakin banyak hal yang dibutuhkan dalam suatu media, semakin sulit gagasan dapat tertuang.

Sekarang kita ambil contoh menulis di atas kertas. Media apa saja yang dibutuhkan? Alat tulis dan kertas. Soal kemampuan menulis, saya percaya para pembaca sudah bisa baca tulis semua dengan lancar.

Sekarang kita bandingkan dengan mengetik di komputer, apa saja yang diperlukan? Sambungan listrik, CPU, keyboard, mouse, dan software tertentu yang dibutuhkan. Atau mungkin 1 unit laptop. Tambahkan pula skill yang dibutuhkan untuk menguasai semua aspek hardware dan software yang diperlukan. Special mention pada kemampuan untuk mengetik dengan keyboard secara lancar (silakan baca Skill yang Mutlak Dibutuhkan Setiap Blogger).

Sekarang kita lihat keduanya. Untuk menulis di kertas, praktis cuma perlu pulpen dan kertas, yang notabene dapat ditemukan dengan mudah di sekitar kita. Dengan hanya membutuhkan sedikit benda yang mudah didapat dan tanpa memerlukan skill khusus, menulis di kertas bisa menjadi metode yang sangat mudah digunakan dan sederhana untuk menuang gagasan. Sebagai tambahan, menguraikan ide untuk disusun secara cermat juga lebih mudah. Hal yang bisa menjadi kekurangan adalah mungkin tulisan tangan yang begitu buruk sehingga si penulis jadi malas sendiri untuk melihatnya, dan juga hasil tulisan tangan biasanya tidak langsung siap dipublikasikan karena tetap harus diketik dulu.

Lalu bagaimana dengan mengetik langsung? Mengetik langsung membutuhkan persiapan yang lebih ribet dan skill khusus untuk mengoperasikan segala gadget yang dibutuhkan. Tidak semua orang memiliki akses mudah untuk memakainya setiap saat. Dan bila ada 1 saja komponen yang hilang, situasinya bisa jadi susah (terutama bila hasil yang diharapkan berupa gambar, film, atau hal-hal lain yang lebih rumit). Tapi tidak semuanya buruk juga. Bila anda memiliki tulisan tangan yang jelek, anda tak perlu melihat tulisan tangan anda yang menyedihkan itu. Mengetik langsung juga memudahkan dalam hal melakukan editing, dan pada umumnya siap dipublikasikan begitu selesai.Soal skill, memang dibutuhkan kemampuan khusus untuk mengetik secara cepat dan lancar. Tapi begitu skill itu dkuasai, segala proses mengetik yang lamban itu akan menjadi jauh lebih cepat, mudah, dan menyenangkan.

Lalu mana yang lebih baik? Semuanya tergantung si penulis sendiri. Bila ingin dan harus segera menulis, segera ambil pulpen dan kertas dan mulailah menulis apa saja yang terlintas dalam pikiran. Mungkin bahkan lebih baik bila selalu membawa pulpen dan buku setiap saat untuk segera menuang segala gagasan yang hinggap ke atas kertas. Bila memiliki akses yang relatif mudah terhadap teknologi dan sudah biasa mengoperasikannya, tak perlu merasa repot untuk membuka laptop dan mulai mengetik. Atau tulis draft awal di smartphone sebelum dikembangkan belakangan bila ada waktu luang. 

Saya sendiri menggunakan kedua metode itu. Bila tiba-tiba muncul gagasan, tapi masih belum bisa dipublikasikan dalam waktu dekat, biasanya saya tulis dulu di buku catatan. Namun bila ternyata saya memiliki ide dan ternyata ide itu cukup jelas, saya biasanya segera membuka laptop dan mulai mengetik.

Catatan Dokter PTT Pekan #057

7 Oct

Saya mendengar bahwa kasus kriminal di kecamatanku mengalami peningkatan. Beberapa pekan yang lalu, pemilik  warung langgananku bertutur bahwa kaos dagangannya dicuri. Dalam jangka waktu yang tidak begitu jauh, rumah dinasku menunjukkan tanda-tanda dibobol orang, walaupun alhamdulillah tampaknya tak ada benda berharga yang hilang. Kemudian yang terbaru, polisi kenalan saya bercerita dia baru saja mengusut kasus upaya pencabulan. Ketika korban sedang tidur, pelaku menyelinap masuk dengan membawa gunting dengan niat melakukan Anda-Tahu-Apa. Pelaku sudah ditangkap dan masalah diselesaikan secara “kekeluargaan”.

Awalnya saya agak enggan percaya bahwa kasus kejahatan di sini meningkat. Sampai saya mendengar cerita terbaru di atas baru-baru ini. Kok bisa? Pikir saya.

Saya mengobrol singkat dengan pak polisi kenalan saya tentang perkembangan ini. Pak polisi ini mengaitkannya dengan pilkada yang akan diadakan beberapa bulan lagi. Hah, kok bisa? Pikir saya lagi. Lalu dia menjelaskan analisisnya. Kemungkinan ada beberapa oknum juru kampanye yang semacam membagi-bagi materi pada masyarakat setempat untuk memilih calon tertentu. Oleh si penerima, hadiah ini digunakan untuk berfoya-foya — terutama minum miras. Mungkin juga karena terlalu sering diberi hadiah, akhirnya penerima ini jadi sulit lepas dari foya-foya. Akhirnya dihalalkanlah segala cara untuk mendapatkan uang, termasuk melakukan tindak kejahatan.

Mungkin terdengar agak dibuat-buat, tapi tidak akan mengejutkan bila memang benar adanya. Isu yang saya dengar adalah wilayah ini termasuk wilayah yang “panas” setiap kali ada kegiatan politik semacam pilkada. Saya tidak bisa menemukan penjelasan lain. Dan melihat kultur masyarakat di sini, penjelasan di atas menjadi sangat masuk akal buat saya.

Sebenarnya, kalau keadaan jadi panas, yang paling enak adalah tiduran di rumah sambil kipas-kipas. Kan enak jadi tidak kepanasan. Tapi jadi tidak enak juga buat dokter kalau akhirnya harus ada pasien gawat darurat karena luka benda tajam atau kasus-kasus lain semacamnya…

Wahai Indonesia, inilah potret dirimu di sini.

Catatan Dokter PTT Pekan #053

11 Sep

Banemo,  11 September 2016

Apakah dulu saya pernah menulis bahwa “apa yang kau tulis merupakan dirimu yang sebenarnya”? Ternyata sudah, di Pekan #024 (hanya sebuah catatan kecil, tak ada yang terlalu penting). Maka sekarang aku sekilas membaca lagi apa-apa saja yang sudah kutulis selama ini…

Hasilnya? Sebagian besar tulisan yang kuhasilkan berpusat pada pemikiran dan diri sendiri. Hanya beberapa (1-2) saja yang berisi tentang interaksiku dengan orang lain. Ini merupakan hal yang tidak terlalu bisa dibanggakan. Apakah itu berarti aku tak sanggup menulis tentang ini? Bila aku tidak sanggup menulis tentang hal ini, apakah itu berarti aku memiliki masalah?

Bila memang demikian, berarti kemungkinan ada kebiasaan yang harus diubah. Dan omong-omong soal mengubah kebiasaan, cukup beruntung juga aku membaca sekilas tentang hal ini. Sebuah buku yang kubaca mengutip sebuah penelitian tentang mengubah sebuah kegiatan menjadi kebiasaan. Disebutkan bahwa bila kegiatan itu dilakukan secara terus menerus selama 5 pekan, kemungkinan cukup bagus kegiatan itu akan menjadi kebiasaan. Masih dari buku yang sama, disebut pula teori Relapse Prevention (Pencegahan Kekambuhan). Teori ini menyebutkan untuk mengehentikan kebiasaan buruk (seperti merokok, narkoba, makan berlebihan, dll), 3 bulan pertama adalah masa yang paling kritis. Bila sanggup bertahan di 12 pekan pertama, kemungkinan untuk kambuh sangat berkurang. Jadi, untuk membentuk sebuah kebiasaan, 5-12 pekan adalah periode jendela yang baik untuk memulainya.*

Jadi, apakah aku akan sanggup mengubah kebiasaanku?

*Dikutip dari The Blue Zones: Rahasia Hidup Sehat Orang-orang Tertua di Dunia, oleh Dan Buettner, hal. 219

Apa yang Kudapatkan dari Membaca

1 Sep

Ketika saya mengambil keputusan untuk mengabdi di pelosok hampir setahun yang lalu, saya tahu saya perlu memiliki kegiatan lain yang bisa dilakukan di waktu-waktu kosong. Lantas saya teringat bahwa selama beberapa tahun belakangan ini kegiatan membaca saya sangat rendah. Akhirnya kuputuskan untuk mencoba memupuk kebiaasan membaca. Hari, minggu, dan bulan berganti, tak terasa 1 tahun akhirnya hampir terlewati. Motivasi kadang tinggi kadang rendah seperti pasang-surut lautan, tapi sudahlah, toh semua itu sudah lewat. Jadi, apa yang sudah kudapatkan selama hampir setahun ini? Continue reading

Status

Catatan Dokter PTT Pekan #051

28 Aug

โ€‹Pekan ke-51… Itu berarti sudah hampir setahun saya menjalani kontrak di sini. Andaikan masa kontrak saya hanya 1 tahun, mungkin aku sudah mulai berkemas-kemas sekarang untuk pulang kampung pekan depan. Mungkin juga sedang mengerjakan laporan untuk diserahkan ke pusat. Namun kenyataannya tidaklah demikian. Kontrak masih jauh sebelum berakhir, pekan ke-51 ini tak lain hanyalah separuh perjalanan sebelum memulai perjalanan lain. Apa saja yang sudah kulakukan selama setahun di sini? Dan, tahun 2016 juga sudah memasuki sepertiga terakhir. Tak terasa waktu melewati kita begitu saja, rasanya baru kemarin saya melewati malam tahun baru. Apa sajakah yang sudah kita lakukan di sepertiga pertama dan kedua tahun ini?