Andaikan Negara Adalah Sebuah Badan

8 Feb

โ€‹The purpose of this chapter has been to point out, first, the overall organization of the body and, second, the means by which the different parts of the body operate in harmony. To summarize, the body is actually a social order of about 100 trillion cells organized into different functional structures, some of which are called organs. Each functional structure contributes its share to the maintenance of homeostatic conditions in the extracellular fluid, which is called the internal environment. As long as normal conditions are maintained in this internal environment,the cells of the body continue to live and function properly. Each cell benefits from homeostasis, and in turn, each cell contributes its share toward the maintenance of homeostasis. This reciprocal interplay provides continuous automaticity of the body until one or more functional systems lose their ability to contribute their share of function. When this happens, all the cells of the body suffer. Extreme dysfunction leads to death; moderate dysfunction leads to sickness.

(Textbook of Medical Physiology Guyton ed. 11, 2005)

Konsep homeostasis adalah konsep yang menjadi tulang punggung dalam fisiologi. Fisiologi itu sendiri merupakan cabang ilmu yang mempelajari bagaimana cara kerja di dalam makhluk hidup, mulai dari proses senyawa kimia dalam sel hingga rumitnya menjelaskan bagaimana suhu panas menyebabkan orang berkeringat. Secara singkat, semua proses dalam tubuh makhluk hidup dengan segala kompleksitasnya bertujuan untuk mencapai homeostasis, kondisi lingkungan internal yang stabil dan seimbang serta dapat mendukung kelangsungan kehidupan si makhluk hidup yang bersangkutan .

Saya sungguh tertarik dengan cara penyampaian tentang homeostasis di paragraf pertama. Kusadari betapa relevannya konsep homeostasis pada makhluk hidup ini dengan kondisi sebuah negara. Kalau sebuah organisme (sebut saja manusia) dapat dianalogikan dengan sebuah negara, maka sel-sel yang menyusun organisme tersebut dapat dianalogikan dengan penduduk yang menghuni negara itu. Sel-sel dalam tubuh manusia ada miliaran jumlahnya, dan memiliki sruktur dan fungsi yang berbeda-beda pula. Namun mereka menjalankan tugas dan perannya masing-masing sesuai aturan. Mereka memberikan kontribusi sesuai perannya masing-masing untuk menciptakan homeostasis, dan homeostasis memungkinkan setiap sel memberikan kontribusi dengan baik. Hubungan timbal balik ini seharusnya juga berlaku bagi sebuah negara. Setiap warga negara, tanpa kecuali mulai dari petani hingga presiden, wajib memberikan kontribusi bagi negara. Kontribusi maksimal dari setiap warga negara akan menghasilkan lingkungan bernegara yang stabil, sehingga memungkinkan para warganya untuk berkontribusi lebih jauh lagi.

Tidak cukup sampai di situ saja. Sebuah kehidupan dengan segala fungsi di dalamnya tidak akan bertahan hidup lama andaikan ada 1 saja fungsi yang tidak bekerja dengan baik. Hanya karena ada 1 fungsi yang tidak bekerja dengan baik, semua fungsi yang lain terkena dampaknya. Bahkan, ketika ada 1 sel tunggal saja yang mengalami kelainan yang sedemikian ekstrem, itu bisa saja cukup untuk mempengaruhi sel-sel dan fungsi-fungsi lain. Hal inilah yang dikenal sebagai kondisi “sakit”. Sebuah gangguan kecil akan menyebabkan sakit ringan. Gangguan yang dahsyat akan menyebabkan sakit berat dan berujung pada kematian. Sama halnya dengan sebuah negara. Ketika ada 1 saja komponen bangsa yang tidak dapat menjalankan tugas secara semestinya, seluruh sendi kehidupan bernegara akan terkena imbasnya. Negara akan menjadi sakit, dan masa depannya terancam. Keruntuhan, kehancuran, dan penjajahan menunggu di ujung jalan.

Bangsa yang sakit adalah ketika fungsi-fungsi di dalamnya tidak bekerja sebagaimana mestinya dan manusia-manusia yang berada di dalamnya tidak dapat berkontribusi sebagaimana seharusnya.

Advertisements

Catatan Dokter PTT Pekan #074

4 Feb

โ€‹Banemo, Kamis 2 Februari 2017

Saya baru saja menyelesaikan makan siang di warung ketika akhirnya saya memutuskan untuk mencoba melakukan hal yang berguna di rumah. Jaringan internet di pantai (satu-satunya lokasi dengan jaringan internet di tempat PTT, itupun cuma EDGE) sedang mati entah mengapa, dan mungkin ini kesempatan untuk melakukan sesuatu yang lebih berguna di rumah.

Setelah bersih-bersih menyapu rumah (kudengar bisa membakar kalori cukup banyak tiap jamnya!), lalu saya membuat kopi sebagai teman untuk melakukan… apa ya? Bahkan ketika saya berhadapan face to face dengan waktu kosong untuk melakukan entah-apa-itu, saya masih belum bisa menentukan apa yang sebaiknya dilakukan. Hati kecil berbisik bahwa laptop sudah beberapa hari tidak dibuka. Otak pun akhirnya mematuhinya dan mengirim impuls-impuls listrik melalui jaringan-jaringan saraf supercanggih ke otot-otot tubuh untuk mengambil laptop dan menyalakannya.

Singkat cerita, saya membuka sebuah folder lama. Folder itu bernama “bahan mentah”, di dalam folder “blog”, di dalam folder “documents”, di dalam… ah sudahlah, tidak penting. Pokoknya, di dalam folder tersebut terdapat sebuah pdf dengan nama yang random (wdqsJsVH0a.pdf). Dalam hati aku bertanya, “Apaan nih?”. Saat dibuka…

Jadi begini. Saat saya sedang di fase-fase awal untuk belajar menulis blog, saya sempat mengikuti semacam “kursus” untuk membuat blog. Di dalam kursus itu, para siswa diberi tugas dari waktu ke waktu. Dimulai dari membuat “page” baru, menulis tentang diri sendiri, menulis tentang tujuan menulis blog, mengubah “layout” blog, hingga upload foto dan lain-lainnya. Pada suatu saat, untuk membantu para siswa agar terus dapat memiliki tema tulisan, kursus itu meng-upload file pdf yang berisi “tema-tema” yang bisa dijadikan bahan tulisan. Tema-tema tersebut juga disandingkan dengan tanggal-tanggal, sehingga untuk setiap tanggal terdapat satu tema. Dan file yang kubuka sekarang adalah file itu.

Di tanggal 2 Februari, temanya adalah berpikir global, bertindak lokal. Penjelasannya, tuliskan pos yang menghubungkan isu global dengan isu personal.

Ini adalah tema yang menarik. Yah, sebenarnya tema-tema lain yang ada di situ juga banyak menarik sih. Namun tema ini saat ini lebih menarik daripada yang lainnya. Pasalnya, saat ini saya tengah dalam proyek kecil untuk membuat artikel blog bertema mirip. Di proyek ini, saya ingin sedikit menulis tentang pentingnya memiliki tujuan yang besar (global), dan untuk mencapainya harus dimulai dari yang kecil (lokal). Saya termotivasi untuk mengerjakan proyek ini setelah saya membaca 1-2 buku yang saya bawa dari Surabaya. Sebenarnya ada buku lain yang ingin saya review untuk kemudian saya jadikan referensi juga untuk proyek ini, kalau bisa. Sayangnya, buku itu saat ini tersimpan di rumah Surabaya.

Saya memiliki beberapa pilihan. Pertama, menunda penyelesaian proyek ini hingga saya tiba di Surabaya. Kedua, mencari referensi tambahan lain. Ketiga, segera menyelesaikan proyek ini dengan segala apa yang ada sekarang. Melihat pilihan-pilihan yang tersedia, kemungkinan yang lebih mungkin dipilih adalah antara 2 dan 3. Pasalnya, bisa dikatakan saya sudah setengah jalan dalam menyelesaikan tulisan ini, dan rasanya tanggung sekali bila harus menunda penyelesaiannya hanya untuk sebuah referensi. Saya tidak punya rencana untuk menunda penyelesaian proyek bila proyek itu bisa segera diselesaikan.

Sebetulnya, kalau mau yang ideal dan ingin mengejar kualitas bila tidak dikejar deadline, pilihan 1 adalah pilihan yang sempurna. Rasa-rasanya, hampir semua buku yang kuanggap bagus dan bermanfaat memiliki daftar yang panjang di daftar pustakanya. Saya jadi bertanya-tanya, apakah penulis itu memang sedari awal rajin membaca sehingga begitu menulis semua bahan bacaannya bisa segera digunakan, atau mereka baru membaca dan melakukan riset begitu mereka mengerjakan proyek tulisannya? Apapun itu, sanggup mencantumkan sedemikian banyak bahan dalam daftar pustaka adalah suatu hal yang hebat, dan layak menjadi bahasan tersendiri.

Catatan Dokter PTT Pekan #072

22 Jan

Tak kusangka aku sudah menjalani program PTT ini selama 72 pekan. Yang berarti progresku menjalani pengabdian ini sudah sekitar 72%. Biasanya aku mengetahui persentase kemajuan ini kalau sudah membuat tulisan “Catatan”. Dan karena sudah puluhan pekan tidak membuat, akhirnya baru ketahuan sekarang sudah sejauh ini…

Saya selalu bingung untuk menulis tentang apa saat membuat catatan ini. Mungkin sebingung semut-semut kecil yang berada dalam keyboard wireless yang sedang kugunakan ini (entah masuk dari mana -_-)… Saat kukeluarkan keyboard ini dari bungkusnya, ternyata sudah mereka kerumuni (syet). Akhirnya kujemur sebentar di terik matahari, dan kaburlah mereka… atau setidaknya sebagian dari mereka. Semut-semut yang tersisa masih berjalan mondar-mandir di atas tuts, merasakan kebingungan yang sama seperti yang menulis.

Kisah Dua Binder

17 Jan

Tumpukan buku itu teronggok begitu saja di meja ruang tamu rumah dinas. Selama ini tumpukan itu berfungsi tak lebih sebagai hiasan semata agar meja tamu kaca yang menopangnya tak terlihat telanjang tanpa taplak. Dengan adanya sedikit tumpukan buku itu, setidaknya orang yang melihat akan menilai bahwa si empunya rumah adalah orang yang terpelajar dan rajin membaca. Atau begitulah harapannya. Mungkin sebenarnya hiasan berupa taplak bakal lebih jujur dan bebas pencitraan karena ternyata si pemilik buku enggan membaca. Boro-boro membaca, sekadar dilihat pun juga sambil lalu saja tanpa ada rasa tertarik.
Tumpukan buku itu kecil saja, sebetulnya. Hanya terdiri dari 2 buah buku yang tebal berwarna kuning dan putih, serta 2 buku lain yang lebih tipis dan kecil. Namun di atas tumpukan buku itu terdapat 2 buah binder, seakan-akan menjadi atap yang melengkapi “rumah ilmu” di bawahnya. Dibandingkan dengan buku-buku di bawahnya yang terlihat lumayan baru, kedua binder itu tampak berumur agak lebih lama.

Saya pun menghela napas panjang. Binder pertama memiliki sampul berwarna putih polos. Binder putih ini sudah kumiliki sejak masa kuliah, dan terus setia menemani hingga lulus, internship di Ngawi, dan sampai sekarang saat PTT di Halmahera Tengah. Fungsinya adalah mencatat  pelajaran dan pengalaman medis yang kudapatkan selama menjadi mahasiswa dan dokter. Binder ini sebenarnya tidak terlalu sering dibuka-buka, sampai pada suatu saat tibalah masa-masa persiapan uji kompetensi dokter Indonesia, atau UKDI. Pada periode ini, binder ini menjalankan fungsi yang lebih spesifik. Agar saya bisa memahami penyakit case-by-case, saya mencatat setiap penyakit yang sudah kupelajari di situ. Subjective, objective, assessment, planning. Harapannya adalah catatan ini akan berguna untuk menjalani ujian, dan tetap berguna setelahnya saat sudah menjadi dokter.

Kalau kuingat-ingat lagi, binder putih itu bukan binder pertama yang kumiliki. Saya sudah menggunakan binder sejak SMA, namun hilang entah ke mana saat kuliah. Fungsinya mirip, untuk mencatat pelajaran-pelajaran yang kupelajari, terutama saat menjalani program intensif persiapan ujian masuk perguruan tinggi, atau SNMPTN, di tahun 2008. 

Saya jadi teringat masa itu. Saat itu, salah satu guru bimbel semacam terkesan dengan saya. Setiap dia memberi penjelasan, ketika teman-teman saya sibuk mencatat, saya cuma manggut-manggut (sambil dalam hati saya bergumam, “Ternyata ada solusi seperti itu”). Setelah saya disuruh mencatat, barulah saya mencatat. Itu pun cuma 1-2 baris, dan setelah itu langsung tidur di meja. Namun dengan cara seperti itu, tiap try out rangking saya selalu konsisten berada di papan atas. Entahlah, mungkin memang kelebihanku terletak pada memahami intisari setiap pelajaran untuk kemudian dikeluarkan menjadi solusi-solusi kreatif. Bukan mengingat-ingat nama-nama saraf, tulang, pembuluh darah, virus, kuman, cacing, obat, dan hal-hal sebangsanya.

Binder kedua kubeli saat PTT, bersampul foto Cristiano Ronaldo. Mengapa CR7? Dia memang salah satu pemain terbaik dunia dengan segala pencapaiannya, baik individu, klub, maupun tim nasional. Akan tetapi, bukankah dia adalah pemain yang sombong dan arogan? Yah, itu adalah setengah yang kupikirkan. Setengahnya lagi aku berpendapat bahwa dia layak mendapat penghormatan karena jiwa sosialnya yang tinggi. Disebut-sebut dia tidak mentato kulitnya (hal yang cukup “lazim” dilakukan para pemain bola profesional agar terlihat “keren”) agar dia dapat rutin mendonorkan darahnya. Dia juga satu dari sedikit pemain bola profesional papan atas yang menyatakan dukungannya kepada Palestina secara terbuka, dan dikisahkan pernah menolak bertukar jersey dengan pemain “Israel”. Ketika krisis Suriah melanda baru-baru ini, dia mengunggah video yang berisi dukungan moralnya kepada para pengungsi dan korban konflik. Meskipun demikian, bukan hal-hal tersebut yang membuat saya membeli binder bersampul fotonya. Saya memutuskan untuk membeli binder bersampul Cristiano Ronaldo karena saat di toko, satu-satunya binder pilihan lain adalah yang bersampul Hello Kitty.

Saat binder ini dibuka, di sampul depan bagian dalam terselip 2 lembar fotoku bersama beberapa orang teman, saat kuliah dan internship. Tidak terlalu banyak, mungkin jumlahnya tidak sampai 20 orang. Sebagai orang yang sangat ekstrem introvert, bisa dibilang saya hampir tidak pernah merasakan dorongan untuk bersosialisasi dan memiliki banyak teman. Namun, apabila saya sudah menganggap seseorang sebagai teman dekat, percayalah bahwa saya adalah teman yang sangat setia.

Di halaman pertama, terdapat timeline yang di dalamnya terdapat target-target yang ingin kuraih di masa depan. Sebagai individu, anggota keluarga, dan masyarakat. Misalnya di timeline individu, salah satu prestasi yang ingin kucapai adalah menerbitkan buku pertama sebelum usia 30 tahun (itu berarti aku punya waktu kurang dari 3 tahun dari sekarang). Contoh lain adalah meraih gelar S2 sebelum berusia 35 tahun dan gelar S3 sebelum 40. Sasaran lain, yang mungkin agak kurang penting namun tak kalah ambisius, adalah menjadi juara di turnamen tenis meja tunggal, juga sebelum berusia 40 tahun. Masih banyak capaian yang ingin kuraih yang tak kutulis di sini. Di timeline keluarga, ada sasaran menikah pada usia sekitar 30 tahun. Dengan rentang plus-minus 3 tahun, kuharap target ini segera tercapai. Di timeline masyarakat, cukuplah aku menulis di sini bahwa aku ingin memberikan kontribusi yang besar dan monumental bagi Republik Indonesia ini sebelum berusia 55 tahun.

Pada waktu-waktu kosong, ketika ingat, saya akan membuka binder ini. Ketika menatap foto bersama teman-teman dan mengenang waktu bersama, hal itu memberi perasaan senang tersendiri. Tak cuma itu, kadang-kadang saya juga membuka foto keluarga yang tersimpan di HP, dan itu juga memberi perasaan serupa. Seakan-akan aku mendapatkan motivasi baru untuk terus maju dan berjuang. Menoleh ke halaman pertama, timeline yang saya gambar di sana mengingatkan saya bahwa banyak hal yang bisa dicapai, baik itu hal-hal kecil maupun hal-hal besar. Sepertinya sudah sepatutnya waktu-waktu kosong yang ada digunakan sebaik-baiknya untuk semakin memantapkan langkah mendekati raihan-raihan tersebut. Dan kesempatan untuk meraih impian akan semakin sempit seiring dengan berjalannya waktu yang disia-siakan.

Cara Membuat Tulisan yang Mudah Dipahami (Bag. 4)

23 Oct

Saya tidak menyangka akan membuat tulisan ini hingga bagian 4.Tapi ternyata baru-baru ini saya mendapatkan bacaan yang sepertinya agak sulit saya pahami, dan mendadak saya mendapatkan ilham untuk melanjutkan tulisan ini. Maka ditulislah bagian ke-4…

Bacaan yang saya singgung ini memiliki karakteristik yang khas, yaitu begitu banyak menggunakan deskripsi. Sedangkan inti yang dibahas sebenarnya cuma itu-itu saja. Dari sini, saya menarik kesimpulan mungkin penulis yang bersangkutan semacam “memaksakan” agar isi tulisan menjadi lebih banyak. Hasilnya secara kuantitas memang tulisannya mengandung lebih banyak kata dan kalimat, namun secara kualitas kata-kata dan kalimat-kalimat tersebut lebih layak disebut kata-kata dan kalimat-kalimat “sampah”. Tidak memberikan nilai tambah pada tulisan, namun justru jadi nilai minus dan membuat tulisan jadi membosankan untuk dibaca.

Jadi begitulah. Dan dari situ, saya berupaya untuk menarik pelajaran bagi diriku sendiri (dan bagi pembaca, kuharap) agar dapat menghindari perangkap menulis yang satu ini.

1. Hindari mendeskripsikan suatu hal secara berlebihan

Deskripsi adalah hal yang bermanfaat dalam sebuah tulisan, namun tidak jadi bermanfaat bila digunakan terlalu berlebihan. Pembaca tertentu (baca: saya) lebih suka meloncati deskripsi-deskripsi yang berlebihan tersebut untuk langsung mencari poin berikutnya yang sekiranya lebih penting dan menarik untuk dibaca. Bagi saya, deskripsi “sampah” tersebut terasa, sekali lagi, membosankan.

Bagi saya, ada beberapa tulisan yang sepertinya tidak akan terlalu membosankan untuk dibaca. Dari situ, saya merumuskan beberapa langkah berikut agar tulisan jadi lebih menarik…

2. Buat pembaca penasaran. Sajikan fakta dan data yang menggelitik, dan kemas secara menarik

Bisa dikatakan ini adalah salah satu jurus yang ampuh untuk membuat pembaca terus membaca. Pembaca akan terpancing untuk membaca bila merasa penasaran, dan akan terpancing lebih jauh lagi bila mendapatkan fakta yang menarik. 

Fakta dan data bukan semata berfungsi untuk menarik perhatian pembaca saja. Sebuah tulisan yang didukung fakta dan data yang valid memiliki posisi yang kuat, dan semakin memastikan keabsahan kualitas tulisan tersebut.

3. Berikan contoh yang nyata

Ini juga merupakan cara yang jitu. Orang-orang menyukai cerita. Bahkan, memulai tulisan dengan sebuah cerita dikatakan memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk menggaet pembaca daripada tanpa dimulai dengan cerita. Cobalah untuk memasukkan beberapa contoh yang nyata berupa kisah ke dalam tulisan. 

Terkait hal ini, saya merekomendasikan buku-buku karya Dale Carnegie. Dalam bukunya, Dale Carnegie selalu memasukkan contoh-contoh yang nyata berupa kisah-kisah yang dialaminya. Kisah-kisahnya membuat pembaca terus tertarik untuk membaca. 

4. Tawarkan perspektif yang baru dan berbeda dari biasanya

Hal ini mungkin agak sulit dilakukan. Tapi saya tetap menuliskannya di sini karena saya berkesempatan untuk membaca tulisan yang memberikan sudut pandang yang sama sekali baru. Adalah buku karangan Stephen R. Covey berjudul 7 Habits of Highly Effective People, buku yang kumaksud itu. Buku itu mungkin menawarkan solusi pengembangkan diri seperti buku-buku sejenis pada umumnya, dan mungkin ide-ide di dalamnya juga beberapa dikupas di buku lain. Namun tetap saja, membaca sebuah ide dan sudut pandang yang baru mengundang rasa penasaran. Dan tambahan pula, siapa tahu kita bisa mempelajari sesuatu.

5. Terakhir, bila terpaksa dan tak ada jalan lain…

Yah, sebagai penulis, tentu ada saatnya kita mengalami kebuntuan. Bila semua senjata sudah dikeluarkan, amunisi terakhir yang bisa dipakai adalah memainkan kata-kata. Seperti yang saya tulis di bagian sebelumnya, penggunaan gaya bahasa sanggup menentukan kualitas tulisan. Cobalah untuk memilih-milih kata-kata terbaik yang bisa digunakan.

Yah, inilah bagian ke-4 dari serial cara membuat tulisan yang mudah dipahami. Atau mungkin, bagian ke-4 ini lebih pas disebut sebagai “Cara Membuat Tulisan yang Enak Dibaca”. Tapi seharusnya sama saja, tulisan yang mudah dipahami seharusnya enak dibaca, dan tulisan yang enak dibaca tentu mudah dipahami. Bila ada yang ingin disampaikan, silakan tulis dan kirim di kolom komentar. Terima kasih ๐Ÿ™‚ 

Tulis Tangan atau Ketik?

9 Oct

Ini adalah persoalaan lain dalam menulis. Mau tulis tangan dulu atau langsung diketik di komputer/laptop/media lain?

Pertama, saya ingin membahas sedikit teori tentang menuangkan gagasan/pemikiran. Dalam menuangkan gagasan, terdapat 3 faktor: pikiran, media, dan hasil. 

“Pikiran” adalah sumber gagasan. Di dalamnya terdapat gagasan yang masih abstrak dan membutuhkan proses agar bisa disampaikan. Sedangkan “hasil” adalah gagasan yang sudah dituangkan dalam bentuk konkrit dan siap disampaikan pada orang lain. “Media” adalah perantara yang menjembatani antara gagasan yang ada dalam pikiran dan hasil sebagai gagasan berbentuk konkrit. 

Kualitas “hasil” yang ada bergantung pada kualitas “pikiran” dan penguasaan “media”. Semakin bagus kualitas pikiran dan penguasaan media, kemungkinan semakin baik pula kualitas hasil akhirnya. Andaikan kualitas pikiran tidak bagus (silakan baca Cara Membuat Tulisan yang Mudah Dipahami Bag. 1, 2, dan 3), hasil yang diharapkan juga tidak akan maksimal walaupun penguasaan medianya baik. Sama juga halnya bila penguasaan media kurang baik, tentu hasilnya juga kurang baik walaupun ada gagasan yang bagus.

Saya yakin pembaca sudah tahu apa yang dimaksud dengan pikiran dan gagasan dalam tulisan ini, tapi bagaimana dengan media dan hasil? Media adalah segala sesuatu yang dibutuhkan agar gagasan abstrak dapat tertuang secara konkrit — entah itu karya tulis, gambar, poster, atau apapun itu — yang disebut sebagai hasil. Kalau begitu, media bisa berupa apapun: pensil, pulpen, kertas, keyboard, mouse, CPU, dan hal-hal semacamnya. Tapi jangan lupa, yang tak kalah penting adalah skill untuk menggunakan semua itu. Oh ya, 1 hal lagi. Semakin banyak hal yang dibutuhkan dalam suatu media, semakin sulit gagasan dapat tertuang.

Sekarang kita ambil contoh menulis di atas kertas. Media apa saja yang dibutuhkan? Alat tulis dan kertas. Soal kemampuan menulis, saya percaya para pembaca sudah bisa baca tulis semua dengan lancar.

Sekarang kita bandingkan dengan mengetik di komputer, apa saja yang diperlukan? Sambungan listrik, CPU, keyboard, mouse, dan software tertentu yang dibutuhkan. Atau mungkin 1 unit laptop. Tambahkan pula skill yang dibutuhkan untuk menguasai semua aspek hardware dan software yang diperlukan. Special mention pada kemampuan untuk mengetik dengan keyboard secara lancar (silakan baca Skill yang Mutlak Dibutuhkan Setiap Blogger).

Sekarang kita lihat keduanya. Untuk menulis di kertas, praktis cuma perlu pulpen dan kertas, yang notabene dapat ditemukan dengan mudah di sekitar kita. Dengan hanya membutuhkan sedikit benda yang mudah didapat dan tanpa memerlukan skill khusus, menulis di kertas bisa menjadi metode yang sangat mudah digunakan dan sederhana untuk menuang gagasan. Sebagai tambahan, menguraikan ide untuk disusun secara cermat juga lebih mudah. Hal yang bisa menjadi kekurangan adalah mungkin tulisan tangan yang begitu buruk sehingga si penulis jadi malas sendiri untuk melihatnya, dan juga hasil tulisan tangan biasanya tidak langsung siap dipublikasikan karena tetap harus diketik dulu.

Lalu bagaimana dengan mengetik langsung? Mengetik langsung membutuhkan persiapan yang lebih ribet dan skill khusus untuk mengoperasikan segala gadget yang dibutuhkan. Tidak semua orang memiliki akses mudah untuk memakainya setiap saat. Dan bila ada 1 saja komponen yang hilang, situasinya bisa jadi susah (terutama bila hasil yang diharapkan berupa gambar, film, atau hal-hal lain yang lebih rumit). Tapi tidak semuanya buruk juga. Bila anda memiliki tulisan tangan yang jelek, anda tak perlu melihat tulisan tangan anda yang menyedihkan itu. Mengetik langsung juga memudahkan dalam hal melakukan editing, dan pada umumnya siap dipublikasikan begitu selesai.Soal skill, memang dibutuhkan kemampuan khusus untuk mengetik secara cepat dan lancar. Tapi begitu skill itu dkuasai, segala proses mengetik yang lamban itu akan menjadi jauh lebih cepat, mudah, dan menyenangkan.

Lalu mana yang lebih baik? Semuanya tergantung si penulis sendiri. Bila ingin dan harus segera menulis, segera ambil pulpen dan kertas dan mulailah menulis apa saja yang terlintas dalam pikiran. Mungkin bahkan lebih baik bila selalu membawa pulpen dan buku setiap saat untuk segera menuang segala gagasan yang hinggap ke atas kertas. Bila memiliki akses yang relatif mudah terhadap teknologi dan sudah biasa mengoperasikannya, tak perlu merasa repot untuk membuka laptop dan mulai mengetik. Atau tulis draft awal di smartphone sebelum dikembangkan belakangan bila ada waktu luang. 

Saya sendiri menggunakan kedua metode itu. Bila tiba-tiba muncul gagasan, tapi masih belum bisa dipublikasikan dalam waktu dekat, biasanya saya tulis dulu di buku catatan. Namun bila ternyata saya memiliki ide dan ternyata ide itu cukup jelas, saya biasanya segera membuka laptop dan mulai mengetik.

Catatan Dokter PTT Pekan #057

7 Oct

Saya mendengar bahwa kasus kriminal di kecamatanku mengalami peningkatan. Beberapa pekan yang lalu, pemilik  warung langgananku bertutur bahwa kaos dagangannya dicuri. Dalam jangka waktu yang tidak begitu jauh, rumah dinasku menunjukkan tanda-tanda dibobol orang, walaupun alhamdulillah tampaknya tak ada benda berharga yang hilang. Kemudian yang terbaru, polisi kenalan saya bercerita dia baru saja mengusut kasus upaya pencabulan. Ketika korban sedang tidur, pelaku menyelinap masuk dengan membawa gunting dengan niat melakukan Anda-Tahu-Apa. Pelaku sudah ditangkap dan masalah diselesaikan secara “kekeluargaan”.

Awalnya saya agak enggan percaya bahwa kasus kejahatan di sini meningkat. Sampai saya mendengar cerita terbaru di atas baru-baru ini. Kok bisa? Pikir saya.

Saya mengobrol singkat dengan pak polisi kenalan saya tentang perkembangan ini. Pak polisi ini mengaitkannya dengan pilkada yang akan diadakan beberapa bulan lagi. Hah, kok bisa? Pikir saya lagi. Lalu dia menjelaskan analisisnya. Kemungkinan ada beberapa oknum juru kampanye yang semacam membagi-bagi materi pada masyarakat setempat untuk memilih calon tertentu. Oleh si penerima, hadiah ini digunakan untuk berfoya-foya — terutama minum miras. Mungkin juga karena terlalu sering diberi hadiah, akhirnya penerima ini jadi sulit lepas dari foya-foya. Akhirnya dihalalkanlah segala cara untuk mendapatkan uang, termasuk melakukan tindak kejahatan.

Mungkin terdengar agak dibuat-buat, tapi tidak akan mengejutkan bila memang benar adanya. Isu yang saya dengar adalah wilayah ini termasuk wilayah yang “panas” setiap kali ada kegiatan politik semacam pilkada. Saya tidak bisa menemukan penjelasan lain. Dan melihat kultur masyarakat di sini, penjelasan di atas menjadi sangat masuk akal buat saya.

Sebenarnya, kalau keadaan jadi panas, yang paling enak adalah tiduran di rumah sambil kipas-kipas. Kan enak jadi tidak kepanasan. Tapi jadi tidak enak juga buat dokter kalau akhirnya harus ada pasien gawat darurat karena luka benda tajam atau kasus-kasus lain semacamnya…

Wahai Indonesia, inilah potret dirimu di sini.