Archive | April, 2017

(Susahnya) Jadi Pengusaha Sukses

21 Apr

Aku membayangkan diriku sebagai pengusaha sukses… Pergi pulang ke kantor bisa semaunya tak ada yang mengatur, mungkin kalau bolos pun tidak apa-apa, meeting tiap bulan ke luar kota, malah sering ke luar negeri, kalau perlu apa-apa tinggal suruh bawahan, kerja barangkali cuma duduk-duduk dan tanda tangan… dan uang terus mengalir!

Hal-hal itulah yang kubayangkan ketika menjadi pengusaha sukses, dan mungkin itu pula yang dibayangkan kebanyakan orang-orang. Karena bayangan inilah aku bercita-cita untuk menjadi pengusaha, atau entrepreneur dalam bahasa kerennya. Dan jadi entrepreneur ini sudah kucita-citakan sejak zaman dahulu kala, tidak banyak berubah bahkan setelah menjalani tahun-tahun sebagai profesional bidang kesehatan. Mulai dari kuliah, lulus, dokter muda, internship, sampai sekarang saat PTT. Ide untuk jadi pengusaha tampaknya sudah tertanam begitu kuat dalam benak bagaikan terjangkit parasit yang tak bisa disembuhkan atau tumor ganas yang menggerogoti jiwa, raga, dan pikiran.

Aku sampai pada titik di mana aku memutuskan bahwa aku butuh penyeimbang.

Aku sudah membaca sejumlah literatur tentang entrepreneurship. Tidak bisa dikatakan terlalu banyak, namun setidaknya aku sudah membaca beberapa. Ada yang berisi tentang kisah-kisah orang sukses. Ada yang berisi tentang langkah-langkah memulai dan mengelola bisnis. Ada yang berisi tentang ilmu manajemen, mulai dari manajemen diri, manajemen sumber daya, hingga manajemen tim. Ada yang berisi tentang motivasi dan dorongan positif untuk memulai bisnis. Banyak hal positif yang bisa dipelajari dari tulisan-tulisan seperti di atas. Akan tetapi, hanya sedikit yang bisa kupelajari, bahkan lebih sedikit lagi yang bisa kupahami (bila memang ada), tentang sisi gelap entrepreneur. Sisi gelap itu adalah kesengsaraan dan kegagalan yang mengintai para entrepreneur.

Saya kira sisi gelap ini jarang naik ke permukaan karena pada akhirnya sering ditutupi oleh akhir kisah yang bahagia (happy ending) atau kata-kata dan motivasi positif. Dan orang-orang sukses pun biasanya enggan untuk bersikap transparan tentang segala hal sulit yang dilaluinya. Misalnya saja, ketika seorang teman menjadi juara kelas dan kita mengucapkan selamat padanya seraya memujinya, kemungkinan besar dia akan merendah dan membalas dengan, “Ah, biasa saja”, atau “Itu cuma keberuntungan”, atau kalimat-kalimat semacamnya. Kecil kemungkinannya dia akan bercerita tentang perjuangannya sejak jauh-jauh hari sebelum ujian dalam belajar, dari pulang kuliah hingga larut malam, tanpa sempat makan siang dan malam, sakit perut karena stress dan kebanyakan minum kopi saat begadang, frustrasi karena tak kunjung menguasai bab tertentu, dan sebagainya.

Menurut saya, ketidaktahuan akan sisi gelap ini berbahaya dan dapat menyesatkan para pelaku usaha yang sedang mulai merintis. Saya tidak mau hal ini terjadi pada saya. Oleh karena itu, di tulisan ini saya berusaha fokus untuk mengangkat sisi gelap itu. Sisi gelap itulah yang kumaksud sebagai “penyeimbang”.

Untuk para calon entrepreneur sukses masa depan, tulisan ini tidak dimaksudkan untuk membuat anda sekalian gentar dan balik kanan. Aku membuat tulisan ini untuk mengingatkan diri sendiri bahwa dunia pengusaha dan entrepreneurship tidak seperti yang kebanyakan dilihat dan dibayangkan. Aku membuat tulisan ini juga agar aku dapat melihat dari sisi yang berbeda dengan pandangan yang jernih.

JADI PENGUSAHA (SUKSES*) ITU SUSAH

(* Definisi sukses selalu menjadi topik yang menarik untuk dibicarakan dan layak untuk menjadi sebuah tulisan tersendiri. Bila aku dapat meluangkan waktu, Insya Allah aku akan membuat tulisan tentang definisi sukses)

Kalimat yang di-bold dan berhuruf kapital di atas tampaknya adalah permulaan yang bagus untuk memulai topik ini. Tapi serius, walaupun kita semua tahu apa itu kata “susah”, sebenarnya jadi pengusaha sukses itu sesusah apa sih?

Sekarang, aku memiliki sebuah hipotesis. Hipotesis itu berbunyi, “Pendapatan berbanding lurus dengan usaha”. Jadi, kalau ada seorang direktur memiliki pendapatan sebesar 100 juta perbulan dan seorang pedagang keliling dengan pendapatan 1 juta perbulan, bisa ditarik kesimpulan bahwa sang direktur telah bekerja 100x lebih keras daripada si pedagang keliling.**

(** Hipotesis ini berlaku jika si direktur dan si pedagang keliling sama-sama memulai dari titik nol yang sama. Hipotesis ini tidak sepenuhnya berlaku jika si direktur mendapatkan perusahaannya dari warisan)

Lalu bagaimana persisnya berusaha 100x lebih keras itu?

Tinggal dilihat saja bagaimana kegiatan keseharian si pedagang keliling itu. Bangun pagi-pagi, menyiapkan dagangannya, sarapan sedikit, mungkin malah sering tidak sarapan, berjalan keliling, di bawah terik matahari, menembus hujan deras, baru kembali ke rumah menjelang malah, bahkan sering baru pulang larut malam. Besok bangun pagi lagi, dan seterusnya. Sekarang bayangkan saja berusaha 100x lebih keras daripada itu. Berjalan keliling 100x lebih jauh setiap hari, membawa dagangan 100x lebih berat, menembus cuaca panas yang 100x lebih terik, menembus hujan yang 100x lebih deras… Itu adalah contoh-contoh yang paling ekstrem, namun intinya tetap sama. Anda tahu maksudnya.

Terlihat berat? Memang berat. Dan perlu diingat bahwa ini baru permulaan saja. Perjuangan jadi entrepreneur sukses masih belum berhenti sampai di sini. Karena selain perlu kerja keras, jadi pengusaha sukses itu…

PERLU WAKTU LAMA

Setelah segala kesulitan dan kerja keras yang harus dilalui di atas, datanglah ujian kedua. Ujian waktu. Seseorang tidak bisa dengan gampang mengucapkan mantra ajaib “sim salabim” dan tiba-tiba saja sebuah kerajaan bisnis terhampar di depan matanya. Bukan begitu cara kerjanya. Dia harus melakukan segalanya dari awal. Membuat rencana, mencari medan yang sesuai dan strategis, membuat rancangan kastil, menghitung, panjang, lebar, tinggi, dan sebagainya. Setelah semuanya siap, barulah proyek dimulai. Menggali tanah, membangun pondasi yang kokoh, menyusun bata satu per satu, dengan teliti, dengan telaten… Ada tahapan-tahapan yang harus dilakukan, selangkah demi selangkah. Tak ada jalan pintas, tak ada jalan singkat.

Saya ingin memberikan sedikit ilustrasi tentang waktu yang lama ini. Pada tahun 1955, ketika Jepang masih terpuruk akibat kekalahan di Perang Dunia II, perjalanan kereta api dari Osaka ke Tokyo bisa memakan waktu hingga 20 jam. Maka, kepala dinas perkeretaapian saat itu menginginkan kereta api yang cepat. Ketika para insinyur mengajukan sebuah purwarupa kereta api berkecepatan 100 km per jam, salah satu yang tercepat di zamannya, dia belum puas. Beberapa bulan kemudian, ketika para insinyur untuk kedua kalinya mengajukan prototype kereta dengan kecepatan 120 km per jam, sang kepala dinas mencelanya. Peningkatan sedikit-sedikit hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi sedikit-sedikit. Dia menginginkan kereta dengan kecepatan 190 km per jam. Para insinyur pun bekerja keras. Terowongan-terowongan menembus gunung dibangun agar kereta dapat melaju lurus tanpa perlu berbelok atau memutar, yang biayanya mungkin menyamai bahkan melebihi biaya membangun ulang Hiroshima dan Nagasaki pascaserangan nuklir. Gerbong-gerbong dirancang agar memiliki motor penggerak masing-masing. Roda gerigi dirancang agar bergerak dengan lebih sedikit gesekan. Rel-rel kereta ditempa dan diperkuat untuk meningkatkan stabilitas, sehingga dapat mendukung laju yang lebih cepat. Ratusan inovasi besar dan kecil diciptakan. Dan akhirnya, tahun 1964, hampir 10 tahun setelah kepala dinas mengeluarkan tantangan kereta cepat pada insinyurnya, Shinkansen Youkaidou menyelesaikan perjalanan perdana dari Tokyo ke Osaka dengan kecepatan rata-rata 190 km per jam. Setelah itu, dengan segera kereta-kereta peluru melesat di seluruh penjuru Jepang. Menurut penelitian tahun 2014, faktor kereta api ini berkontribusi terhadap pesatnya pertumbuhan ekonomi Jepang hingga era 1980.

Sebuah aturan yang bisa diterima secara luas adalah “aturan 10.000 jam”, atau “10.000 hours rule”. Ada juga yang menyebutnya “aturan 10 tahun”, karena 10.000 jam bisa dihitung secara kasar menjadi 10 tahun. Namun konsepnya sama saja. Dibutuhkan waktu yang lama untuk menjadi ahli di suatu bidang. Dan itupun baru permulaan saja, karena sekadar menjadi ahli saja tidak menjamin kesuksesan.

Sumber bacaan saya yang berbeda mengatakan bahwa dalam memulai bisnis (start-up), 5 tahun pertama adalah penentuan. Apabila sebuah start-up sukses melewati 5 tahun pertamanya, kemungkinan untuk meraih sukses di tahun-tahun mendatang cukup besar. Sebaliknya, adalah wajar jika lebih dari 50% start-up jatuh di 5 tahun pertamanya. Kegagalan di 5 tahun pertama ini mungkin karena mereka tidak tahan dengan sulitnya beban memulai usaha.

Sekarang, bahkan walaupun sama-sama telah menghabiskan waktu yang sama lamanya, hanya sebagian kecil pengusaha yang bisa dikatakan sukses, sementara sebagian besar lainnya tidak. 

Mengapa? Karena selain butuh waktu lama, pengusaha sukses dituntut untuk…

SELALU BELAJAR

Ini adalah kualitas lain yang membedakan antara seorang rakyat jelata dengan sebagian kecil populasi elit yang disebut entrepreneur sukses. Inilah faktor yang menentukan apakah seseorang akan sukses atau tidak, bila memiliki waktu yang sama. Karena akuilah: soal waktu, yang menentukan bukan hanya soal BERAPA LAMA waktu yang dihabiskan, tapi juga BAGAIMANA waktu itu dihabiskan. Ketika orang-orang biasa hanya menjalankan rutinitas tanpa memaknai maknanya, para calon entrepreneur sukses terus belajar dan menekuni bidangnya untuk menjadi lebih baik. Mereka melakukan hal yang tidak dilakukan kebanyakan orang. Seperti kalimat mutiara, “Hari ini aku akan melakukan hal yang tidak dilakukan orang lain, sehingga besok aku akan meraih hal yang tidak diraih orang lain”.

Hal yang mereka pelajari pun tidak terbatas. Mereka mempejalari bidang masing-masing, itu sudah pasti, tapi mereka juga mempelajari hal yang lain. Ambil saja beberapa contoh. Di fase-fase awal, mungkin mereka baru mulai belajar tentang cara membangun usaha itu sendiri. Lalu sebagai awalan, mereka mungkin juga mulai belajar untuk mendapatkan suplai barang. Setelah usaha mulai berjalan, mereka belajar tentang mengatur cash flow. Mereka belajar tentang bersosialisasi dengan pelanggan. Dari situ, mereka belajar tentang membangun relasi dan kepercayaan. Lalu mereka mempejajari tentang marketing. Kemudian, mereka belajar tentang manajemen sumber daya. Ketika bisnis mulai tumbuh, mereka mulai belajar tentang organisasi tim. Ketika jaringan usaha makin luas, mungkin mereka belajar tentang distribusi barang. Seakan tidak ada habisnya. Dan mereka belajar sambil melakukan bisnisnya.

Andaikan seorang entrepreneur dianalogikan sebagai seorang prajurit, maka bisnis yang mereka lakukan adalah medan perangnya. Sekarang bayangkan, di tengah sengitnya medan tempur dalam peperangan yang tidak berkesudahan, dalam kondisi yang serba sulit dan tidak menentu, seorang entrepreneur dituntut untuk tetap mempertahankan kesadarannya untuk terus memperhatikan keadaan sekitar dan mempelajarinya. Hal ini dilakukannya untuk mendapatkan pemahaman tentang jalannya pertempuran. Dari pemahamannya itu, dia bisa mengetahui kekuatan dan kelemahan pihaknya dan pihak lawan, lalu menutupi kelemahannya sendiri, dan memanfaatkan cela dari strategi lawan untuk merebut kemenangan. Andaikan dia tidak memahami kondisi pertempuran di sekitarnya, dia hanya akan terombang-ambing tidak jelas di tengah ganasnya pertempuran. Atau tewas.

SELALU BERADA DI LUAR ZONA NYAMAN

Kalau mau diringkas, ketiga poin yang disinggung sebelum ini (kerja keras, waktu lama, selalu belajar) dapat dirangkum menjadi kalimat di atas. Selalu berada di luar zona nyaman. Bekerja keras berada di luar zona nyaman. Bersabar dalam mencapai tujuan berada di luar zona nyaman. Belajar pun berada di luar zona nyaman.
Alangkah sulitnya keluar dari zona nyaman! Ketika seseorang sudah semakin lama berada di dalam zona nyaman, mungkin akan semakin sulit baginya untuk keluar dan mencari tantangan. Dia sudah lama terbius dalam zona nyaman, sehingga terlalu takut untuk meninggalkannya. Padahal mungkin saja dia memiliki ambisi besar untuk masa depannya. Namun pada akhirnya, dia memutuskan untuk menetap di zona nyaman. Dan dia harus membayarnya dengan harga yang mahal, yaitu cita-citanya.
Wahai para calon entrepreneur sukses, sudah siapkah kalian meninggalkan zona nyaman yang kalian tinggali saat ini? Pikirkanlah baik-baik. Ingatlah bahwa hanya lautan yang penuh badailah yang bisa menghasilkan pelaut ulung, sebagaimana masa-masa krisis suatu negeri akan memunculkan pemimpin hebat. Dan pada akhirnya, untuk meraih segalanya, seseorang harus siap kehilangan segalanya.