Perlukah Full Day School di Indonesia?

10 Aug

Akhir-akhir ini mau tidak mau saya memperhatikan bahwa dunia maya diramaikan dengan isu full day school (FDS). Sebenarnya saya agak enggan ambil pusing dengan pemerintah yang memang doyan gonta-ganti kebijakan sih, tapi lama-lama tangan ini gatal juga ingin buat tulisan. Apalagi sudah lama blog ini tidak di-update.

Sebelumnya, perlu dicatat bahwa saya bukan pakar pendidikan. Saya hanya warga negara Indonesia biasa yang mencintai negeri ini. Dan saya sadar bahwa pendidikan adalah salah satu komponen yang amat vital untuk memajukan sebuah bangsa. Sebuah pepatah Cina yang pernah kubaca mengatakan bahwa “Bila ingin kemakmuran selama 1000 tahun, kembangkanlah orang”.

Apa sih pendidikan itu? Untuk definisi yang sesungguhnya, saya persilakan para pembaca yang budiman untuk membuka kamus bahasa Indonesia. Tapi untuk praktisnya dan sederhananya, mari kita sederhanakan bahwa pendidikan adalah mengembangkan manusia.

Apa tepatnya yang dapat dikembangkan dari dalam diri manusia? Bila pertanyaan ini diajukan pada saya, saya langsung teringat pada nasihat yang diberikan pada saya saat masih kecil. Ayah saya mengajarkan bahwa pada dasarnya, manusia itu terdiri dari 3 komponen. Untuk memudahkannya, konsep ini disederhanakan dengan singkatan HOO: Hati, Otak, dan Otot. Dan kalau dikembalikan ke pertanyaan semula, maka inilah jawabannya: mengembangkan hati, otak, dan otot.

Hati, yang dimaksud di sini adalah potensi iman spiritual manusia, juga akhlak dan karakter. Otak, yang dimaksud adalah segala potensi intelektual manusia, ilmu pengetahuan, dan cara berpikir. Otot meliputi potensi fisik manusia, kekuatan, dan kesehatan. Untuk menjadi manusia yang utuh, ketiga komponen ini harus dikembangkan secara seimbang, tidak bisa tidak. Mengorbankan salah satu saja di antara ketiga aspek ini (apalagi lebih!) berarti manusia itu gagal mencapai potensi maksimalnya.

Sekali lagi, ketiga hal itulah yang seharusnya menjadi fokus pendidikan, dan ketiganya harus dikembangkan secara seimbang dan berkesinambungan.

Sekarang, kita beralih pada akar masalah pendidikan di Indonesia: sudahkah ketiga aspek ini dikembangkan secara seimbang dalam sistem pendidikan di negara kita?

Dari pengamatan saya, paradigma pendidikan di Indonesia jauh menitikberatkan fokus pada pengembangan potensi intelektual. Bila berkaca pada hal ini saja, bisa dibilang bahwa pengembangan potensi intelektual di Indonesia cukup berhasil, dibuktikan dengan banyaknya para pelajar Indonesia yang menjadi juara olimpiade sains di tingkat internasional, juga para ilmuwan yang berprestasi di luar negeri. Sayangnya, hal ini tidak dibarengi dengan pengembangan potensi karakter dan fisik. Bisa kita lihat bagaimana kita sangat merindukan timnas sepak bola Indonesia berjaya di kancah internasional, yang hingga saat ini masih belum terwujud. Dan bisa kita lihat juga bagaimana degradasi moral generasi muda saat ini (yang tak sanggup kutulis contohnya di sini karena membuat hati terasa pedih).

Sepertinya saya bisa memahami mengapa ide full day school ini bisa muncul di permukaan. Proses pendidikan adalah proses pengkondisian. Maka keberhasilannya pun sangat tergantung pada kondisi yang kita paparkan pada para peserta didik. Bila para peserta didik terus-menerus dipaparkan dengan kondisi yang kondusif, insya Allah proses pendidikan akan berjalan dengan baik.

Namun mari kita lihat fakta di lapangan dalam 24 jam sehari. Anak-anak tidur selama 8 jam. Lalu sekolah, mari kita katakan sekitar 6-7 jam. Sisanya masih sekitar 9-10 jam di rumah. Selama 9-10 jam sisa itu, kondisi apa yang kita paparkan pada mereka? Apa yang mereka lakukan? Nonton TV? Internet? Bermain-main dengan teman? Apakah kondisi itu ideal untuk perkembangan anak? Sementara kita tahu bagaimana kualitas tontonan TV yang sebagian besar tidak mendidik. Kita juga tahu bagaimana internet bisa memuat konten-konten yang kurang layak. Kita juga tahu bagaimana pergaulan anak-anak bila dibiarkan terlalu bebas.

Di satu sisi, full day school menawarkan sebuah konsep yang tampak menjanjikan agar para peserta didik sebanyak mungkin terpapar dengan kondisi yang optimal. Tidak perlu full materi pelajaran. Yang justru harus ditekankan adalah pendidikan karakter dan tata krama. Dalam bidang ini, saya percaya Jepang adalah salah satu negara yang paling sukses melakukan pendidikan karakter pada anak-anak.

Namun di sisi lain, kita juga harus memperhatikan kenyataan yang ada. Tentang bagaimana kesejahteraan para guru atas tambahan jam kerja di sekolah, tentang bagaimana menyediakan makanan di sekolah. Juga bagaimana tentang budaya masyarakat setempat, misalnya suatu komunitas yang menganggap sore hari adalah waktunya untuk belajar mengaji, sehingga mereka keberatan dengan konsep full day school. Masih banyak pula faktor yang harus dipertimbangkan.

Sepertinya perdebatan tentang full day school ini tidak akan berakhir dalam waktu yang cukup singkat, dan sebenarnya saya juga percaya perdebatan yang berkepanjangan itu tidak berfaedah. Mari kita serahkan pada orang-orang terbaik di kalangan pembuat kebijakan untuk menentukan bagaimana baiknya ke depan. Sambil kita iringi dengan doa, mari kita juga fokus pada diri kita sendiri untuk mulai mendidik anak-anak kita. Karena sebenarnya anak-anak kita menghabiskan waktu di luar sekolah lebih lama daripada di sekolah. Sudah merupakan kewajiban kita pula untuk memberikan mereka lingkungan di mana mereka dapat berkembang dengan baik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: