Catatan Dokter PTT Pekan #036

16 May

Banemo, 15 Mei 2016

Alhamdulillah, sudah kembali lagi ke pelosok setelah menghabiskan waktu selama beberapa hari di tanah kelahiran. Perjalanan dari pulau Jawa ke sini bisa dibilang lancar, namun ada satu kejadian yang menarik perhatianku…

Saat itu aku sedang di Sofifi, menunggu mobil yang akan mengangkutku lewat jalan darat ke Weda. Mobil yang digunakan bisa dibilang semuanya bertipe MPV yang berfungsi ganda: membawa banyak penumpang dan banyak barang. Sekaligus. Trayeknya bukan hanya ke Weda saja, hanya saja yang kuingat cuma jurusan Weda karena saya belum pernah mencoba jurusan selain Weda. Mobil-mobil ini biasanya baru berangkat bila penumpangnya sudah cukup, 5-6. Kalau belum cukup, ditunggu sampai jumlah penumpang cukup, yang entah ditunggu sampai kapan. Hitungan menit hingga jam.

Kembali lagi, saya sedang menunggu. Kurang 3 penumpang lagi sebelum berangkat. Saat sedang tidur-tidur ayam di pos tunggu gegara semalam susah tidur, datanglah seorang tak dikenal menghampiri.

“Mau pergi ke mana?”, tanyanya. Nada suaranya rendah setengah berbisik dan cara bicaranya penuh rahasia seakan-akan sedang merencanakan kudeta terhadap sebuah negara. Kujawab singkat dengan kata “Weda”.

“Ayo ikut saya, langsung berangkat sekarang gak usah nunggu lagi”, ajaknya dengan nada yang sama. Sebuah ajakan yang menggoda, daripada menunggu tidak jelas? Otakku sudah memerintahkan otot-otot tubuhku untuk segera bangkit dan mengikutinya, namun hati nuraniku mencegahnya. Di satu sisi, sebagai penumpang tentu aku ingin segera berangkat, dengan sedikit biaya ekstra kalau perlu. Tapi di sisi lain, aku merasa sudah “terikat” dengan driver yang sekarang bahwa aku akan menggunakan jasanya. Silakan panggil aku lebay, tapi menurutku, adalah sebuah pengkhianatan bila aku berpaling ke driver yang baru ini. Lebih jauh lagi, aku juga kurang yakin bahwa ajakan si driver kedua ini (merebut penumpang driver lain) “etis” di kalangan para driver.

Butuh waktu setidaknya semenit penuh untuk mencerna ajakannya ini. Akhirnya, kuputuskan untuk menjawab tidak, dan kupersilakan untuk mencoba mengajak penumpang lain. Yang langsung setuju dan segera berangkat saat itu juga.

Aku memang memutuskan untuk menjawab tidak dengan alasan etik, secara aku berprofesi di bidang medis yang tak pernah lepas dari etik. Tapi aku masih belum yakin apakah keputusanku ini tepat. Apakah keputusanku sudah tepat?

Saya ingin mengetahui pendapat para pembaca, silakan tulis di kolom komentar. Masukan apapun insya Allah akan diterima dengan terbuka πŸ™‚

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: