Menulis Kisah Kehidupan

23 Apr

Merajut kisah… Penulis mana sih yang tidak ingin bisa merajut kisah yang menarik? Semuanya dong, kan kalau kisahnya semakin bagus bukunya bakal semakin laku, dan akhirnya pendapatan semakin besar, hehe. Tapi, baru-baru ini aku sadar sebenarnya ada lebih daripada sekedar cerita dalam kisah itu sendiri. Dan hal ini bukan hanya bermanfaat bagi penulis atau pembaca, melainkan juga semua orang yang ingin merajut kisahnya di kehidupan nyata.

Dalam penerbanganku dari Ternate ke Surabaya, ada sebuah buku yang menemaniku di pesawat mencegah rasa bosan hinggap. Yah, memang selama aku di desa, aku selalu berusaha menyempatkan diri untuk membeli buku untuk dibaca. Buku itu baru kubeli sehari sebelumnya bersama beberapa buku lain, karena kebetulan di salah satu mall-nya ada diskon buku. Yang namanya diskon buku, biasanya yang didiskon adalah buku-buku yang sudah ngendon lama di rak tanpa disentuh para pembeli ya, jadi aku juga tidak terlalu berharap buku-buku yang kubeli isinya menarik. Tapi aku tidak random saja memilih di antara buku-buku itu. Yang masuk kriteria pilihanku adalah buku yang menyandang “pujian” dari pihak yang kredibel di sampulnya (biasanya berupa tulisan kecil yang tertera di bagian paling atas sampul depan di atas judul, tapi bisa juga di bagian lain), atau yang mendapat cap “bestseller” atau semacamnya (yang tentu saja jarang sekali kutemukan di buku-buku diskonan), atau yang memiliki sinopsis yang menarik di bagian belakangnya. Dari kriteria itu, kupilih buku tersebut dalam belanjaanku, dan teryata standar yang kutetapkan tidak mengecewakanku.

Kumulai dengan cerita. Apa sih cerita itu? Apa yang membuat kisah itu menarik? Si penulis buku menyebutkan dia pernah mengikuti seminar 36 jam (3 x 12 jam) yang diadakan oleh seorang pakar cerita. Dan walaupun selama mengikuti seminar dia berhasil membuat banyak sekali catatan penting, dia tetap belum berhasil menangkap ide utama tentang kisah. Sepulangnya dari seminar, dia bertanya pada salah satu kawannya, dan jawaban apa yang dia dapat? Kira-kira begini: Si tokoh utama menginginkan sesuatu, dia berjuang keras mendapatkannya, dan akhirnya dia mendapatkannya.

Itu dia! Sangat ringkas! Sederhana! Mudah diingat! Coba kita perhatikan kisah-kisah bagus yang sudah kita baca, bukankah semuanya mengikuti definisi itu? Dan yang lebih penting lagi, kita bisa praktekkan di dunia nyata. Apakah kita sudah merajut kisah untuk kita sendiri? Kisah yang berarti dan bermakna?

Selanjutnya, bagaimana seharusnya sebuah kisah berjalan? Si penulis menyebutkan bahwa dia pernah memiliki seorang teman yang menulis hampir semua kejadian yang dialaminya, hampir semasa hidupnya. Dan apa yang didapat? Dia berkesimpulan bahwa kejadian-kejadian dalam kehidupan terdiri dari rangkaian kebetulan… Setidaknya kira-kira begitulah dia menulis di bagian -bagian awal bukunya.

Kalau begitu, cerita kehidupan hanyalah serangkaian kebetulan? Bagi sebagian (besar) orang yang tidak memahami arti kehidupan dan tidak memiliki tujuan, jawabannya adalah ya. Sedangkan bagi sebagian lainnya, kehidupan menyimpan banyak cerita yang menarik. Di bukunya, si penulis menyebutkan bahwa cerita yang menarik adalah cerita yang berkisah tentang perubahan tokoh utamanya menjadi lebih baik. Penakut jadi pemberani. Jahat jadi baik. Malas jadi rajin. Sebutkanlah semuanya satu per satu, itu semua bisa menjadi kisah yang menarik.

Semua cerita dan kisah yang menarik itu tidak mungkin terjadi begitu saja. Harus ada sebuah kejadian yang memulai. Dalam bukunya, kisah dan cerita tersebut dimulai oleh sesuatu yang penulis sebut sebagai “kejadian pemicu”, yang aku percaya istilah kerennya adalah “trigger event”. Trigger event adalah kejadian awal dari segala cerita yang ada, di mana si tokoh utama memulai petualangannya. Pada cerita-cerita yang dramatis, trigger event bisa saja berupa ledakan, tapi dalam kehidupan sehari-hari trigger event bisa berupa hal-hal lain yang lebih sederhana. Salah satu contoh dari pengalaman pribadi penulis adalah bagaimana “tour de france” yang ditontonnya di televisi membuatnya menjadi ingin bersepeda, hingga akhirnya penulis ikut berpartisipasi dalam tur berkeliling negeri dalam rangka menggalang dana untukย korban kelaparan di belahan dunia lain.

Tulisan atas adalah semua yang bisa kuingat dari sekitar setengah dari buku yang kusebutkan tadi. Buku yang sangat bagus, menurutku. Sayangnya, buku itu ketinggalan di pesawat saat aku turun dan baru kusadari ketika sudah dalam perjalanan ke rumah. Aku berencana untuk membelinya lagi untuk kutamatkan dan kujadikan koleksi, tapi mengingat aku membelinya dengan harga diskon di pulau yang berbeda, aku tidak yakin bisa menemukannya lagi di Surabaya, dan akan menjadi sebuah kehilangan besar bila aku terpaksa membelinya lagi dengan harga aslinya. Berdasarkan ingatanku, judul buku yang kumaksud adalah dan ditulis oleh:

A Million Miles in a Thousand Years, Donald Miller

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: