Pemburu Elang

7 Apr

Elang itu terbang di atasnya, melayang-layang tinggi di langit. Sayapnya membentang lebar seakan-akan hendak memeluk bumi yang ada di bawahnya. Mungkin rentangan kedua sayapnya tak kurang dari 2 meter dari ujung ke ujung, tertutup bulu berwarna cokelat gelap. Sangat berbeda dengan bulu yang menutupi kepala, leher, dan kedua kakinya yang berwarna putih bersih. Elang itu terus saja terbang melayang di angkasa, mengawasi daratan yang ada di bawahnya dengan kedua matanya yang tajam.

Si Pemburu sudah mengawasi elang itu 1 menit lamanya, mengagumi bagaimana elang itu bisa terbang di angkasa tanpa ada sesuatu pun yang menahannya kecuali kuasa Tuhan. Namun ada tugas yang harus dilaksanakan, suka atau tidak suka. Permintaan pasar untuk binatang yang diawetkan belakangan ini melonjak tinggi dan menjanjikan uang yang banyak untuk siapapun yang bisa memenuhinya. Para pemburu, tergiur dan dibutakan oleh ketamakan, berlomba-lomba untuk memburu sebanyak mungkin satwa-satwa bernilai tinggi untuk sekadar dijadikan pajangan dan hiasan di rumah. Elang, beruang, harimau, dan tak terhitung banyak jenis hewan langka lainnya, semakin langka semakin tinggi nilainya.

Aku harus menafkahi keluargaku dan membayar pengobatan ayahku, itulah yang dikatakan Si Pemburu pada dirinya sendiri sebelum memutuskan untuk berangkat.

Dengan perlahan-lahan, tanpa suara, Si Pemburu menyiapkan busurnya. Menarik anah panah dari sarung panah di punggungnya, dengan hati-hati memasang di busurnya. Dia baru setengah menarik busurnya ketika itu terjadi…

Mendadak, ada sesuatu yang menarik perhatian elang. Elang itu tiba-tiba menukik ke darat, sangat cepat. Matanya yang tajam terpusat pada satu titik di tanah. Ketika sudah dekat dengan tanah, elang itu membuka sayapnya, terbang rendah dan dan bahkan lebih cepat mendekati mangsanya. Kedua cakarnya yang setajam ujung pisau terbuka lebar, bersiap menangkap sasarannya. Lalu, dengan sebuah cengkeraman yang perkasa, elang itu menangkap mangsanya. Dengan kepak kedua sayapnya, elang itu terbang, makin tinggi, makin jauh. Di cakarnya, tercengkeram seekor kelinci kecil yang lunglai tidak berdaya.

Si Pemburu di darat mengawasi si pemburu di langit yang terbang menjauh dari kejauhan. Si Pemburu menyadari bahwa elang itu juga pemburu, sama halnya seperti dirinya sendiri. Dan, mungkin juga elang itu berburu untuk mencarikan makanan bagi pasangan dan anak-anaknya yang mungil di sarangnya, sama halnya seperti diriku, pikir Si Pemburu. Si Pemburu mendadak membayangkan sosok istrinya yang menunggunya di rumah beserta ketiga anaknya yang masih kecil-kecil dan lucu. Juga sosok ayahnya, yang sudah tua dan sangat kurus, hanya bisa berbaring di ranjang karena penyakit yang menggerogotinya.

Si Pemburu terpaku, sibuk dengan pikirannya. Di kedua tangannya masih tergenggam anak panah dan busur yang setengah tertarik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: