Catatan Dokter PTT Pekan #021

25 Feb

Di pekan akhir pekan ke-21 ini saya tidak memiliki rencana apa-apa selain berada di rumah saja. Yah, mungkin bersih-bersih halaman belakang rumah saja sih. Ternyata setelah ditinggal selama beberapa pekan ke Surabaya beberapa waktu lalu, halaman belakang rumah dinas sukses menumbuhkan berbagai macam jenis dan spesies rumput liar -_- . Kalau sudah begini, mungkin pribahasa “rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau” menjadi invalid.

Tetangga di rumah dinas sebelah mengajakku untuk memetik mangga di kebun mangga di bukit. Wah, memang tetanggaku yang satu ini baik hati dan suka menolong ya, haha. Kebetulan memang musim mangga di sini, dan sudah beberapa kali mendapat hadiah mangga dari teman-teman di sini. Kali ini mendapat kesempatan naik bukit ke kebun mangga untuk melihat sendiri kebunnya, mungkin kesempatan ini tak boleh disia-siakan. Batal deh misi “Operation Babat Alas” yang kurencanakan kemarin, hehe.

Selama musim mangga di sini, ada 2 spesies mangga yang sudah kucicipi. Orang sini menyebut mangga-mangga itu dengan mangga kuini dan mangga cakalang. Mangga kuini mungkin berukuran sekitar sekepalan tangan orang dewasa, atau lebih besar sedikit. Mengeluarkan bau khas yang tak pernah kuendus selama di Jawa, ada kesan seperti bahan kimianya, haha. Mengeluarkan sedikit buih ketika sudah masak, dan semakin banyak bila semakin masak sampai terlalu masak. Dan juga sangat amat bergetah. Rasanya… tak ada masam-masamnya sih, tapi rasanya juga terasa asing di lidahku juga. Ini adalah mangga favorit orang sini. Sedangkan mangga cakalang, ukurannya sedikit lebih besar daripada kuini dengan bentuk yang lebih memanjang. Bau dan rasanya jauh lebih mirip dengan mangga-mangga yang sering kumakan di Jawa dengan sedikit-sedikit rasa asam. Ini mangga kesukaanku di sini, walaupun orang sini tidak terlalu suka karena ada asamnya…

Perjalanan ke kaki bukit naik motor sekitar 10 menit lewat jalan tak beraspal tapi berkerikil-kerikil. Yang berangkat 4 orang: tetangga saya beserta istrinya, saya, dan teman serumah. Motor diparkir di pinggir kebun orang. Dan setelah itu dilanjutkan dengan berjalan kaki.

Perjalanan dengan jalan kaki ditempuh dengan medan yang menanjak, melalui jalan setapak. Semak belukar dan rumput liar berada di sepanjang kiri dan kanan jalan, dinaungi pepohonan yang tinggi menjulang. Pohon kelapa, pohon mangga, pokoknya warna hijau daun ke manapun mata memandang. Ini pertama kalinya “hiking” naik bukit setelah… kapan ya? Kok kayak saya pernah saja sih -_- . Sebentar naik saja napas sudah ngos-ngosan. Tapi aku tetap mengingat nasihat teman saya saat internship dulu: Semua itu tergantung cara kita bernapas. Haha. Aku tak mau bertekuk lutut di hadapan tanjakan ini. Dengan semangat, sedikit demi sedikit, selangkah demi selangkah, setapak demi setapak, rombongan pun bergerak maju. Sepatu yang kubeli di Surabaya dan kupakai di sini terbukti sangat berguna untuk mencegah terpeleset dan tergelincir, daripada kalau cuma pakai sandal jepit saja, yang mungkin sudah slip belasan kali atau malah putus.

Mungkin itu sekitar 40 menit berjalan sebelum akhirnya sampai di lokasi tujuan. Mangga-mangga berserakan di tanah. Entah itu utuh dan mulus, atau lebam karena karena benturan dengan tanah. Sebagian besar sudah busuk, atau termakan sebagian entah itu oleh kelelawar buah atau hewan liar lainnya. Banyak juga yang tinggal bijinya, berserakan di tanah menunggu untuk tumbuh.

Ternyata yang dimaksud “memetik mangga” oleh tetanggaku ini adalah mengambil mangga yang berserakan di tanah, haha. Ya tidak masalah sih, secara yang penampakannya masih agak bagus juga lumayan banyak. Padahal kalau menurut teori managemen yang pernah kubaca, buah yang paling enak dan paling manis dan berkualitas paling baik terletak di sekitar puncak pohonnya, yang memang butuh usaha-usaha ekstra keras untuk meraihnya. Sedangkan buah-buahan yang ada di tanah adalah buah-buahan yang kualitasnya bisa dikatakan paling rendah. Ah, tapi masa bodoh dengan teori, toh ini buat dimakan sendiri, bukan buat dijual, haha. Lain halnya kalau aku jadi manager bagian produksi, tentu kuperhatikan baik-baik teori ini. Kalau tidak salah, teori ini namanya “Lean Six Sigma”.

PS: Teman serumah sempat merekan sepotong kecil dari perjalanan ini, tapi saat aku menulis tulisan ini, rekamannya belum ada di hardisk/flashdisk. Bila sempat, insya Allah video perjalanan akan dilampirkan di masa yang akan datang. Stay tune ๐Ÿ™‚

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: