Catatan Dokter PTT Pekan #019

20 Feb

Sekali lagi, 1 pekan telah terlampaui di Banemo, tempat pengabdian dengan beribu rasa. Sebuah permainan kata. Kata “beribu” di kalimat sebelumnya memiliki arti apa? “Memiliki ibu” atau “ribuan”? Hayooo… By the way, kalimat-kalimat barusan kutulis spontan saja ketika aku sedang duduk dan mencoba menulis paragraf pembuka untuk tulisan kali ini. Dalam sebagian besar kasus, aku selalu berprinsip untuk “Lakukan persiapan sebaik mungkin”, tapi tampaknya cukup mengejutkan juga apa yang bisa dilakukan oleh sebuah spontanitas.

Tak pernah ada alasan untuk tidak bersyukur. Baru beberapa hari yang lalu saya menulis di “Catatan” saya bahwa kemungkinan listrik tidak akan available untuk beberapa pekan ke depan. Dan saya harus bersyukur bahwa ternyata hal tersebut tidak terbukti — setidaknya sejauh ini. Terdengar kabar bahwa pasokan bahan bakar untuk pembangkit listrik di kecamatan sebelah — yang juga mensuplai listrik untuk kecamatan saya — sudah tiba beberapa hari yang lalu. Artinya seharusnya listrik sudah bisa menjalani “pemadaman bergilir” seperti sediakala. Namun tampaknya tak semudah itu. Malam tiba, dan listrik masih belum menyala.

Maka para pemuda desa berkumpul, tergerak oleh situasi yang dialami saat itu. Mereka pun sepakat untuk pergi ke PLN di kecamatan sebelah, malam itu juga. Menempuh perjalan darat dengan kondisi jalan tanah kasar yang gelap gulita menembus hutan belantara menelusuri tebing pinggir pantai, mereka mengendarai motor untuk menemui pihak yang bertanggung jawab. Melalui mediasi yang mereka lakukan, akhirnya malam itu juga listrik mengalir ke kecamatan Patani Barat, menerangi rumah-rumah warga dengan sinarnya yang seakan-akan memberikan napas kehidupan baru, setelah beberapa hari sebelumnya warga terpaksa menjalani setiap malam dengan penerangan api dari lilin dan pelita. Semua hal itu terjadi atas dasar reaksi para pemuda desa yang spontan.

Sebenarnya sangat ingin saya mengaitkan spontanitas yang ditunjukkan para pemuda desa kali ini dengan spontanitas yang seharusnya dimiliki oleh pemuda. Spontanitas yang ditunjukkan dalam kasus di atas adalah sebuah contoh spontanitas yang seharusnya dimiliki para pemuda Indonesia dan Muslim, di mana ketika dia melihat kemunkaran dia langsung bergerak untuk meluruskannya. Secara spontan. Ah, tapi siapalah diriku ini berani berbicara tentang Nahi Munkar, karena aku sendiri juga belum bisa menjadi orang yang seperti itu…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: