Catatan Dokter PTT Pekan #013.2

18 Feb

Lanjutan dari #013.1

Akhirnya kuputuskan untuk menginapkannya dulu untuk semalam, dengan edukasi pada keluarga agar siap dirujuk setiap saat, bahkan sekarang kalau memang perlu sekarang. Keluarga tampak menerima, dan pasien pun direncanakan menjalani observasi di puskesmas dengan persiapan untuk berangkat sewaktu-waktu. Waktu berlalu, 10 menit, 20 menit, 30 menit, 1 jam, kondisi masih stabil, kesadaran tidak berubah, vital sign tidak berubah…

Lalu pasien muntah. Aku jadi waswas. Sekali lagi, ada 2 kemungkinan: baik atau buruk. Bisa saja muntahnya hanya muntah biasa karena cemas atau sebab lain yang tidak berbahaya. Tapi bisa saja muntahnya karena peningkatan tekanan intrakranial (TIK). Ini adalah kondisi yang tak bisa dibuat main-main. Bila dibiarkan, peningkatan TIK akan menyebabkan herniasi otak, lalu menekan pusat napas di batang otak. Kalau sudah demikian, penderita tak bisa bernapas dan berakhir pada kematian.

Walaupun vital sign masih dalam batas normal dan kesadaran tak ada penurunan, aku memutuskan untuk merujuknya saat itu juga. Pertimbanganku adalah karena aku lebih suka bermain aman. Andaikan memang ada apa-apa, si pasien sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Dan andaikan tidak ada apa-apa… Yah, si pasien juga sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Tapi di sini terdapat sebuah dilema…

Aku sedang menghadapi pasien dengan kondisi yang… kurang bisa dipastikan kondisinya. Antara terdapat bahaya dan tidak. Dan pasien antara harus dirujuk dan tidak. Kalau tak ada masalah dalam hal transportasi dan infrastruktur sebenarnya tidak masalah kalau mau merujuk. Sayangnya di sini terdapat masalah di kedua bidang itu, menyebabkan sekali rujuk membutuhkan biaya tak kurang dari 5.000.000 rupiah. Dan untuk ukuran orang-orang di sini, uang sejumlah itu sama sekali tidak sedikit.

Di sinilah letak dilema yang kuhadapi. Bila aku rujuk tapi ternyata tak ada kegawatan, berarti aku memaksa keluarga pasien mengeluarkan banyak uang secara “sia-sia”. Sebaliknya, bila aku memutuskan untuk tidak merujuk tetapi ternyata memang terjadi peningkatan TIK, berarti itu adalah pelanggaran juga. Akhirnya kuputuskan untuk menyampaikannya pada keluarga. Kusampaikan apa yang terjadi, semua kemungkinan yang mungkin terjadi, dan langkah apa yang bisa diambil — kusarankan untuk dirujuk. Setelah berembuk sejenak, keluarga setuju untuk pergi ke rumah sakit.

Belakangan, kuketahui bahwa pasien tiba dengan selamat. Pasien menjalani perawatan di rumah sakit di Weda dan alhamdulillah tidak kekurangan apa-apa.

Alhamdulillah…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: