Catatan Dokter PTT Pekan #014

3 Jan

Kutulis tulisan pekan ke-14 di akhir pekan ke-15. Kemalasanku sepertinya semakin menancapkan dominasinya atas diriku… -___- Aku sampai lupa apa yang bisa kutulis untuk pekan ke-14 ini… Ohya, tentang itu saja. Walaupun tidak banyak dan/atau penting, pokoknya ada tulisan…

Sudah 4 bulan sejak aku terakhir melakukan hobiku yang paling kusuka. Apa itu? Tenis meja. Ya, sudah hampir 4 bulan sejak terakhir kali aku mengayun-ayunkan bat-ku untuk memukul bola di atas meja. Dan harus kuakui aku agak merasa kehilangan. Dan aku yakin saat ini aku sudah kehilangan sebagian (besar) skill-ku dalam hal ini. Aku sudah pernah absen berlatih selama beberapa bulan sebelum ini, dan saat aku bermain lagi, mainku jelek sekali. Yah, memang terbukti bahwa benarlah kalimat “use it or lose it”.

Mungkin fisikku boleh tidak bermain agak lama, tapi jangan sampai pikiranku juga. Jadi kali ini aku akan menggunakan pikiranku untuk mendalami hobi ini. Buat para pembaca yang bukan penggemar tenis meja, ketahuilah hal ini: Begitu banyak aspek yang bisa digali dari olah raga ini, mulai dari segi fisik, teknik, taktik, hingga mental. Tenis meja bukan hanya sekadar permainan memukul-mukul bola, melainkan jauh lebih daripada itu.

Salah satu hal baik aku kuliah di fakultas kedokteran (dan mungkin juga semua kuliah S1 lainnya) adalah aku belajar untuk berpikir secara ilmiah, dan juga dilatih untuk membaca/menulis secara ilmiah. Dengan demikian, berarti aku bisa membuat bahasan tentang tenis meja secara ilmiah juga. Maka aku mencari jurnal-jurnal ilmiah tentang tenis meja dari ITTF (FIFA-nya tenis meja) dan aku download ketika punya kesempatan. Dan beruntung sepertinya aku berhasil mendapatkan 1-2 jurnal yang sangat menarik untuk dibahas.

Jadi, tentunya ada yang berpikir bahwa mempelajari jurnal ilmiah tentang tenis meja seharusnya lebih mudah daripada tentang kedokteran? Awalnya aku juga berpikir demikian, namun ternyata aku tidak sepenuhnya benar. Memang lebih mudah (karena jauh lebih sedikit melibatkan istilah-istilah aneh), tapi tetap lebih sulit daripada yang kuperkirakan. Aku tetap harus benar-benar memeras otak untuk bisa memahami apa yang kubaca itu, terutama untuk hal-hal yang baru pertama kali kukenal. Tapi tetap itulah yang membedakan ilmuwan dengan orang biasa. Seorang ilmuwan bisa menyederhanakan hal yang rumit dan (sayangnya) memperumit hal yang sederhana.

Jadi saat ini aku tengah dalam proyek untuk salah satu review jurnal tentang tenis meja. Sebelum ini, aku juga sudah membuat tulisan sendiri khusus tentang tenis meja. Kalau tertarik untuk melihat dan membaca, silakan kunjungi:

http://www.90pong.wordpress.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: