Catatan Dokter PTT Pekan #013.1

31 Dec

Banemo, 8 Desember 2015

Hari Selasa siang yang cerah dengan sedikit awan putih yang menggantung di langit, begitulah aku menggambarkan waktu menulisku hari ini. Seharusnya aku menulis kemarin lusa, tapi malas. Isu yang biasa, tapi tetap lebih baik daripada baru menulis besok atau lusa atau setelah-setelahnya. Apa yang sebaiknya kutulis sekarang?

Sebenarnya tak ada kejadian berarti yang kuingat di pekan ke-13 ini (kecuali pertama kalinya aku berenang di perairan Banemo di akhir pekan, yay!), jadi biar kutulis kejadian yang kualami di awal pekan ke-14. Kejadiannya baru kemarin, hari Senin. Eh, by the way, kalau sudah melewati pekan ke-13, berarti sudah melewati seperempat tahun kan? *gakpenting*

Sekitar jam setengah 3 siang, tiba-tiba perawat yang menjadi tetangga rumah dinas memanggil-manggil. Ternyata ada pasien. Pasien sdri. F, 14 tahun (aku selalu bingung menulis status untuk pasien berusia 13-17 tahun. Apa kutulis anak? Atau tuan/nona? Kuputuskan untuk menulis saudara/i, tapi aku juga kurang yakin), jatuh dari pohon jambu sekitar 5 menit yang lalu. Diperkirakan ketinggian jatuh sekitar 3-4 meter. Pasien tidak mengingat kejadiannya, tapi dapat membuka mata bila diminta, dapat diajak bicara, dan dapat menjalankan instruksi sederhana seperti mengangkat tangan. EVM 3-5-6. Keluar darah dari hidung, tapi tak ada yang dari kedua telinga. Terdapat bengkak di mata kiri, tapi tak ada warna kebiruan. Tak ditemukan luka terbuka.

Apa yang bisa kusimpulkan dari temuan di atas? Ada 2 kemungkinan: baik atau buruk. Kemungkinan baik adalah pasien tidak mengalami cedera serius. Darah yang keluar dari hidung bisa saja karena benturan biasa, bengkak di mata bisa saja bukan apa-apa. Kemungkinan buruk adalah bila ternyata pasien mengalami gegar otak dan fraktur basis cranii, yang kusingkat FBC — patah pada dasar tengkorak — yang mungkin juga disertai dengan cedera tulang belakang dan leher. Bisa saja saat ini pasien mengalami lucid interval, masa-masa di mana saat ini pasien sadar baik, kemudian semakin lama kesadaran semakin turun. Bisa saja darah yang keluar dari hidung adalah darah dari tengkorak. Bisa saja bengkak di mata kirinya ternyata brill hematom, salah satu tanda FBC lainnya.

Tapi sekali lagi, semua yang kusebut di atas adalah kemungkinan, hanya kemungkinan. Aku tak bisa membuat kepastian karena memang tak kutemukan tanda yang “pasti”. FBC? Keluar darah dari hidung, tapi tak ada dari telinga. Brill hematom? Bengkak di mata kiri, tapi tidak berwarna kebiruan/kehitaman seperti mata rakun. Vital sign dalam batas normal. Lalu langkah apa yang selanjutnya kulakukan?

Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: