Case #010 : Malaria Pada Anak

25 Dec

Banemo, 26 November 2015

Sebenarnya kejadiannya adalah kemarin, tapi aku baru mendapatkan “ilham” untuk menulis hari ini. Mengapa? Karena baru hari ini aku menyempatkan diri untuk membaca-baca tentang topik ini, dan kebetulan juga aku mendapatkan beberapa pelajaran baru. Dan karena kejadiannya adalah kemarin, cerita yang kusampaikan bersifat minimalis saja.

Singkat cerita, aku menghadapi seorang pasien, anak laki-laki berusia 1 tahun dengan keluhan panas. Keluhan dirasakan sejak sekitar 2 hari yang lalu, tak ada batuk, tak ada pilek, tak ada keluhan buang air kecil atau buang air besar. Hasil pemeriksaan lab menunjukkan positif malaria falciparum.

Baik, pengobatan malaria falciparum lini pertama adalah dihidroartemisin-piperakuin (DHP) plus primakuin, atau artesunat-amodiakuin plus primakuin. Obat yang tersedia di puskesmas tempatku bekerja adalah DHP, maka kugunakan itu (obat nasional: OBAT ANTIMALARIA / OAM). DHP yang ada tersedia sudah dalam bentuk fixed-dose combination (FDC), jadi dalam 1 tablet sudah tersedia DHP dalam dosis yang sesuai: tiap tablet mengandung 40 mg dihirdoartemisin dan 320 mg piperakuin. Dosis berdasarkan umur adalah: 1/4 tablet untuk usia 0-1 bulan, 1/2 tablet untuk usia 2-11 bulan, 1 tablet untuk usia 1-4 tahun, 1 1/2 tablet untuk usia 5-9 tahun, 2 tablet untuk usia 10-14 tahun, 3-4 tablet untuk usia di atas 15 tahun (tergantung berat badan). Dosis tersebut diberikan sekali sehari, selama 3 hari. (1)

Sayangnya, obat-obatan tersebut sudah habis sejak beberapa pekan yang lalu. Beruntung aku memiliki beberapa catatan. Dan menurut catatan yang kubuat, ada pengobatan malaria lini kedua. Yaitu dengan kina-tetrasiklin/doksisiklin-primakuin. Dosis kina adalah 10 mg/kgBB/x, diberikan 3x sehari selama 7 hari. Dosis doksisiklin untuk dewasa adalah 4 mg/kgBB/hari, terbagi dalam 2 dosis perhari, selama 7 hari. Sedangkan dosis anak usia 8-14 tahun adalah 2 mg/kgBB/hari, juga terbagi dalam 2 dosis perhari dan diberikan selama 7 hari. Dosis tetrasiklin adalah 4-5 mg/kgBB, diberikan 4x sehari selama 7 hari. (2)

Sayangnya lagi, obat tetrasiklin dan doksisiklin tak bisa diberikan pada anak usia di bawah 8 tahun dan ibu hamil. Maka hari itu aku hanya memberikan kina saja untuk seminggu, dengan edukasi bahwa obat yang seharusnya diberikan sudah habis dan sebaiknya ke rumah sakit bila tidak sembuh, bonus rasa bersalah dalam hati karena memberikan pelayanan yang substandar.

Besoknya (hari ini), aku menyempatkan diri untuk membaca e-book farmakologi yang ada di HP. Akupun membuka bagian obat-obatan antimalaria. Selain semua hal yang sudah kubaca tentang obat-obatan lini pertama, di situ juga tercantum antibiotik antiprotozoa yang juga bisa diberikan sebagai antimalaria. Tetrasiklin dan doksisiklin tercantum di situ, seperti yang sudah kubaca di referensi-referensi lain. Tapi masih ada lanjutannya…

Klindamisin, itulah jawabannya bila tetrasiklin dan doksisiklin tak bisa diberikan. Menurut referensi yang kubaca, “Clindamycin is slowly active against erythrocytic schizonts and can be used after treatment courses of quinine, quinidine, or artesunate in those for whom doxycycline is not recommended, such as children and pregnant women” (3). “Oral dosages of clindamycin, 0.15–0.3 g every 8 hours (10–20 mg/ kg/d for children), yield serum levels of 2–3 mcg/mL. When administered intravenously, 600 mg of clindamycin every 8 hours gives levels of 5–15 mcg/mL” (4).

Omong-omong, aku belum menulis tentang primakuin? Bagaimana dengan penggunaan klinisnya? Primakuin sebagai obat antimalaria memiliki beberapa penggunaan. Primakuin dapat digunakan sebagai terapi radikal malaria vivax dan ovale akut. Primakuin juga digunakan sebagai profilaksis, baik saat berada di daerah endemis maupun sesudahnya. Primakuin dosis tunggal dapat mencegah penularan gametosit Plasmodium falciparum ke tubuh nyamuk. Terapi dosis tunggal ini tidak banyak berperan dalam kesembuhan pasien, namun dapat mencegah penyebaran penyakit. (3)

Andaikan aku mengetahui ini kemarin…

Referensi medis:

1. Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan RI. Buku Saku Penatalaksanaan Kasus Malaria. 2012.

2. Wibisono, E., Susilo, A., Nainggolan, E. Malaria. In: Tanto, C., Limang, F., Hanifati, S., Pradipta, E. A., eds. Kapita Selekta Kedokteran Edisi ke-4. Media Aesculapius, 2014.

3. Rosenthal, PJ. Antiprotozoal Drugs. In: Katzung B. G., Masters, S. B., Trevor, A. J., eds. Basic and Clinical Pharmacology, 12th ed. New York: McGraw-Hill, 2012

4. Deck, D. H., Winston, L. G. Tetracyclines, Macrolides, Clindamycin, Chloramphenicol, Streptogramins, & Oxazolidinones. In: Katzung B. G., Masters, S. B., Trevor, A. J., eds. Basic and Clinical Pharmacology, 12th ed. New York: McGraw-Hill, 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: