Catatan Dokter PTT Pekan #011

24 Dec

Banemo, 21 November 2015

Dan gelap malam pun turun, menyelubungi bumi dengan jubah hitamnya yang berhiaskan bintang yang temaram dan bulan separuh yang cemerlang. Awan mendung turut hadir mengisi langit yang gelap setelah sebelumnya tak nampak saat disinari matahari siang.

Hmph, aku jarang memiliki kesempatan dan/atau mencari kesempatan untuk membuat tulisan blog di malam hari. Sebagian besar alasannya adalah karena biasanya baterai laptop sudah dihabiskan untuk “urusan lain” saat siang. Alasan lain karena aku lebih suka menulis di hari Ahad pagi/siang/sore, bukan Sabtu malam seperti yang kulakukan sekarang. Ini adalah kejadian luar biasa, karena kebetulan baterai laptop masih tersisa 75% (cukup untuk sekitar 4 jam bila digunakan untuk mengetik dalam mode “energy saver” dan brightness 25%) dan juga karena aku ingin segera menulis apa yang ingin kutulis.

Pagi ini adalah pertama kalinya aku memberikan ulangan pada murid-muridku di SMK (setelah sekian lama aku harus menjadi murid dan menjalani ulangan :p). Saat membuat soal untuk ulangan beberapa hari yang lalu, sempat bimbang juga soal apa yang akan kukeluarkan. Akhirnya kuputuskan untuk mengeluarkan soal yang (mudah-mudahan) mudah-mudah saja. Soal apa yang mudah? Hmm, kalau tak salah, salah satu dosen pernah mengatakan bahwa sebenarnya menghafal adalah hal yang paling mudah. Kalau sudah hafal, baru bisa memahami. Kalau tak hafal, jangan harap bisa memahami. Baik, berpijak dari perkataan beliau, maka kukeluarkan soal-soal “hafalan”. Definisi dari ini-itu, pembagian dari ini-itu, dll, dsb, dst.

Sebelum ulangan sudah kuingatkan agar jangan bicara-bicara dan fokus pada kertas masing-masing. But oh well… Yah, anggap saja hari ini aku sengaja bersikap agak longgar. Singkat cerita, ulangan berlangsung dan kertas-kertas jawaban pun dikumpulkan. Dan 1-2 kali aku mengintip lembar jawaban mereka… kusimpulkan sepertinya aku bukan pengajar yang terlalu baik karena tampaknya transfer ilmu tak berjalan sesuai harapan.

Pak kepala sekolah mendatangiku di kelas setelah kertas ulangan dikumpulkan dan mengajakku berbincang di kantornya. Jam 8:15, masih ada waktu 15 menit sebelum harus kembali ke puskesmas. Tak banyak yang dibicarakan, tapi tetap ada hal yang kucatat dalam benakku. Pak kepsek bertutur bahwa para pelajar di sini berbeda dengan pelajar di kota-kota besar. Para pelajar di kota merasakan iklim kompetisi yang lebih keras. Bila bekerja keras akan sukses, bila bermalas-malasan akan gagal. Hal yang sebaliknya terjadi di sini. Mau belajar atau tidak belajar akan sama saja, demikian mind set yang ada pada pelajar-pelajar di sini menurut pak kepsek. Belajar atau tidak belajar, toh sama-sama masih bisa makan.

Aku menanggapi pendapat pak kepsek bahwa pembangunan juga harus meliputi manusia, bukan hanya pembangunan fisik saja (kebetulan pak kepsek sedang merenovasi bangunan sekolah). Kalau mau pelajar menjadi pandai, datangkan tenaga pengajar yang kompeten (bukan pekerjaan gampang!). Selain itu, menurutku karakter para pelajar juga sedikit-banyak ditentukan oleh karakter masyarakatnya. Dengan demikian, semakin jelas bahwa membangun karakter pelajar adalah perkara yang tidak mudah.

Pagi itu hanya itu saja diskusi kecil yang kulakukan bersama pak kepala sekolah. Waktu memberi batasan dan aku harus menunaikan hak para pasien untuk dilayani. Tapi diskusi ini memberikan masukan yang berharga bagiku terkait dengan pendidikan. Aku ingin melanjutkan tulisan tentang pendidikan ini di lain kesempatan, bila ada kesempatan…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: