Catatan Dokter PTT Pekan #010

22 Dec

Banemo, 16 November 2015. Loading PTT… 10%

Ternyata progress-ku selama menjalani PTT di sini sudah 10% ya. Masih ada 90% yang membentang di depan. Masih 90% jalan yang penuh misteri dan teka-teki hidup, penuh suka dan duka, perjalanan yang penuh pelajaran.

Hmm, sebenarnya hari ini aku tidak dalam mood yang terlalu bagus untuk menulis, jujur saja. Tapi aku sudah berkomitmen untuk membuat tulisan tentang PTT setiap pekan sedikitnya 1 tulisan. Dan apapun kondisinya, aku ingin menunaikan komitmen itu. Disamping itu, sebenarnya aku sudah tahu apa yang ingin kutulis. Tinggal mau kumulai dari mana…

Pengabdian di daerah sangat terpencil mungkin tidak akan pernah terasa mudah, terutama bagi orang kota yang lahir dan besar di kota, seperti saya. Banyak hal yang biasanya mudah kujumpai di kota sulit kujumpai di sini. Salah satu hal paling utama, paling fundamental, dan precursor dari segala hal lain yang ada di kota, adalah ketersediaan listrik 24 jam. Setelah itu adalah sarana komunikasi (seperti sinyal telepon dan internet) dan transportasi (seperti jalan beraspal).

Namun demikian, meskipun keadaan awal tampaknya sulit, tampaknya saya sudah mulai terbiasa. Seperti bayi yang baru lahir ke kehidupannya yang baru. Pada mulanya dia tidak punya pengetahuan apa-apa tentang dunianya yang baru. Semakin lama, dia semakin tumbuh dan berkembang. Dia belajar mengenali lingkungannya, menjelajahi lingkungannya. Mulai dari hanya berbaring, dia mulai belajar tengkurap, merayap, merangkak, duduk, berdiri, berjalan, dan berlari. Proses tumbuh dan berkembang terus berlanjut hingga dewasa. Hingga ketika dia sudah dewasa dan matang, dia menaklukkan dunia itu…

Maaf saya melantur, bukan itu hal yang ingin kubicarakan sekarang, walaupun tampaknya cukup menarik untuk diteruskan. Mungkin lain waktu? Sekarang mari kita kembali ke paragraf sebelum itu. Banyak hal dari kota yang tak mudah ditemukan di sini, dan contoh yang kusebut hanya contoh kecil saja. Tapi perlu diingat bahwa bukan berarti hal yang sebaliknya tidak berlaku. Hutan dan pepohonan hijau, salah satu barang langka di kota yang kujumpai banyak di sini. Sangat banyak, mungkin malah terlalu banyak. Kelapa muda juga. Di sini minum kelapa muda sangat mudah didapat, masalahnya tinggal panjat saja setelah minta izin ke yang punya kebun kelapa. Padahal kalau di kota, es degan harganya bisa sekitar 10.000 per gelas. Suasana kekeluargaan cukup kental kurasakan di sini. Sangat lumrah ditemukan si A berkerabat dengan si B, C, D, E, F, dll. Orang di sini bisa mengenal setiap orang yang tinggal di ujung timur hingga ujung barat desa.

Burung elang, itulah yang ingin kubicarakan sekarang, hal yang bisa kutemukan di sini dengan lebih mudah. Selama 25 tahun menginjak pulau Jawa, saya baru melihat burung elang yang terbang di alam bebas sebanyak 1x. Sedangkan selama sekitar 3 bulan di sini, sedikitnya sudah 2x saya sudah melihat burung elang yang terbang bebas di sini. Terakhir yang kulihat, si elang itu sedang terbang rendah di atas laut, menangkap ikan. Pemandangan yang tak mungkin dilihat setiap hari. Di lain waktu, kulihat dia memebentangkan sayapnya yang lebar, melayang-layang seakan tak ada yang menahannya selain kuasa Allah. Begitu indah, begitu anggun.

Maha Suci Allah Sang Maha Mencipta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: