Catatan Dokter PTT Pekan #009

15 Dec

Banemo, mendekati akhir pekan ke-9

Memiliki banyak waktu kosong membuatku memiliki banyak waktu untuk berpikir. Berpikir tentang apa? Banyak hal. Berpikir tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan, bila terkait dengan waktu. Atau berpikir tentang kejadian-kejadian di sekitarku yang menarik perhatian, lalu kuhubung-hubungkan dengan hal-hal yang kudapat selama hidupku.

Seperti hal yang kualami beberapa hari terakhir ini. Saat aku baru saja kembali dari jalan-jalan sore, aku dipanggil untuk memeriksa seorang pasien di rumahnya. Kecelakaan kerja, katanya. Maka aku berkunjung ke rumahnya. Mode of injury adalah bahu kiri tertimpa pohon kelapa sekitar beberapa jam sebelumnya. Saat ini terasa sakit di bahu, pinggang, dan perut. Kuperiksa di bagian bahu dulu. Look, feel, move, didapatkan edema, ekskoriasi, gerak sendi terbatas, dan nyeri gerak. Tak ada deformitas, krepitasi, atau gerakan abnormal. Pemeriksaan pinggul dan perut tak kutemukan kelainan. Luka dibersihkan dan kuberikan arm sling. Kujelaskan sebaik yang aku bisa bahwa dari pemeriksaan fisik tidak ditemukan tanda-tanda patah tulang atau kegawatan yang mengancam jiwa. Tapi tetap ada kemungkinan patah tulang yang tak bisa dideteksi dari pemeriksaan saja dan tetap sangat kuanjurkan untuk ke rumah sakit, minimal untuk rontgen. Berangkat masih bisa menunggu besok pagi dengan speedboat biasa atau kapal feri. Sambil menunggu sampai besok, kuberi obat penghilang sakit juga. Pasien dan keluarga tampak mengerti, dan akupun pamit untuk pulang.

Esok paginya saat di puskesmas, aku mendapat kabar bahwa si pasien ini ternyata tidak ke rumah sakit. Kabar ini disampaikan oleh salah satu tenaga honorer puskesmas yang juga kerabat dari pasien ini.

“Kenapa tidak berangkat?”, tanyaku.
“Katanya mau menunggu perkembangan dulu, mungkin mau pijat dulu atau diapakan begitu…,” begitu jawaban yang kuterima.

Sebenarnya aku juga sudah menyampaikan agar hindari mengotak-atik bagian tubuh yang sakit, terutama memijat-mijat bagian tubuh yang ada kecurigaan patah tulang. Kalau sudah tentang pengobatan alternatif seperti itu, sebagai dokter aku hampir selalu menjawab “No comment”. Yang jelas aku sudah menyampaikan hal yang harus kusampaikan, selebihnya adalah pilihan pasien. Dan kalau pasien memutuskan untuk menunda keberangkatannya ke rumah sakit… hmm, silakan baca kalimat sebelumnya.

Masih di hari yang sama, siangnya saat aku sedang istirahat di rumah, salah satu perawat datang ke rumah sambil membawa surat rujukan kosong.

“Dok, pasien yang kemarin akhirnya mau dirujuk. Katanya bahunya tambah sakit,” tutur Bu Rustia, perawat yang berkunjung ke rumahku.

Tanggapan pertama yang keluar dariku adalah tawa pahit nan getir. Perasaanku lega bercampur kesal. Lega, karena akhirnya pasien bersedia ke rumah sakit. Kesal, karena kenapa baru mau berangkat setelah sakitnya bertambah parah. Ditambah lagi, sebenarnya kalau mau naik speedboat tadi pagi, biaya perjalanannya “hanya” sekitar 200 ribu. Kalau naik feri yang kebetulan berangkat hari ini bisa lebih murah. Kalau sudah siang, speedboat dan feri tidak ada. Speedboat hanya ada sekali dalam sehari dan feri hanya sekali dalam seminggu. Harus charter speedboat, dan biayanya adalah kisaran juta. Atau menggunakan mobil melewati jalan tanah menembus hutan, yang lebih memakan waktu. Jalan darat biasanya bolong-bolong dan becek kalau musim hujan, serta panas dan berdebu kalau musim kemarau. Belum lagi kalau ada apa-apa di jalan.

Aku membandingkan jadi dokter di daerah pelosok dengan menjadi seorang juru dakwah. Ada kesamaan yang kulihat di antara kedua profesi ini. Kedua-duanya adalah profesi yang mulia karena sama-sama menghendaki kebaikan bagi orang lain. Kedua-duanya, agar tujuannya tercapai, sama-sama harus menyeru pada kebaikan. Namun demikian, pada sebagian besar kasus, hanya itulah yang bisa dilakukan: menyeru. Sedangkan entah orang yang diseru mau menerima atau tidak, itu diluar kemampuan si penyeru. Si penyeru hanya bisa berusaha dan berdoa, sedangkan hasil akhir ditentukan oleh Yang Maha Membolak-balikkan Hati.

Dan aku juga berpikir… bahwa aku adalah si pasien dan Rasulullah adalah Sang Penyeru. Apakah aku akan segera memenuhi seruannya dan selamat? Ataukah aku akan mengabaikannya dan kelak membayar dengan harga yang mahal?

Advertisements

4 Responses to “Catatan Dokter PTT Pekan #009”

  1. ijustwannatellit December 18, 2015 at 4:13 am #

    udiiin…tambah sip ae

    • sangarudin December 18, 2015 at 4:24 am #

      Makasih 🙂 ini siapa ya?

  2. ijustwannatellit December 18, 2015 at 6:23 am #

    kita perlu belajar lagi tentang transferen dan counter transferen din

    • sangarudin December 18, 2015 at 10:43 am #

      Iya wes, sembarang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: