Cara Membuat Tulisan yang Mudah Dipahami (Bag. 3)

8 Dec

Special Mention

Penulisan karya ilmiah, buku pelajaran, dan tulisan-tulisan semacamnya adalah sebuah tantangan tersendiri. Dalam tulisan-tulisan macam ini, khususnya karya ilmiah, terdapat aturan yang mengharuskan penggunaan gaya bahasa yang resmi. Selain itu, terdapat pula istilah-istilah khusus yang tak mungkin tergantikan. Dengan demikian, memahami tulisan semacam ini mau tidak mau sangat tergantung dari kemampuan si pembaca. Namun demikian, bukan berarti tulisan semacam ini tak bisa diakali.
Sistematika yang baik akan membuatnya lebih mudah dipahami, dan mungkin merupakan faktor terpenting untuk menentukan apakah tulisan ilmiah itu mudah dipahami atau tidak. Demikian pula dengan adanya tabel, diagram, gambar, dan media-media lainnya. Hal-hal itu sangat membantu pembaca untuk memahami isi bacaan tersebut dan tak kalah penting dengan sistematikanya.

Terkait penulisan karya ilmiah, setidaknya ada 1 hal yang kupelajari, terutama dari beberapa jurnal ilmiah yang pernah kubaca. Di setiap paragraf, kalimat utama hampir selalu berada di awal paragraf. Kalimat-kalimat yang mengikuti di belakangnya hanyalah menjelaskan kalimat utama tersebut. Misalnya adalah satu paragraf yang menyampaikan bahwa “kebiasaan merokok terkait dengan hipertensi”. Tentunya kalimat pertama hampir bisa dipastikan berbunyi, “kebiasaan merokok terkait dengan hipertensi”, atau kalimat sejenis. Dan kalimat-kalimat berikutnya adalah penjelasan, seperti “Sampel yang digunakan berjumlah…”, “metode yang digunakan adalah…”, dll. Paragraf apa ya istilahnya? Deduktif? Induktif? Aku lupa, haha.

Penulisan cerita dengan narasi mungkin bisa dibilang kebalikannya. Di sini penulisan bisa dilakukan sesuka hati, dan tak ada orang yang keberatan. Yah, mungkin beberapa orang akan keberatan bila penceritaannya njelimet dan mbulet, haha. Yang jelas, aturan di sini lebih longgar daripada di tulisan-tulisan ilmiah, dan penulis menjadi jauh lebih bebas menuliskan hal yang ingin ditulisnya. Selain itu, kalau penggunaan gaya bahasa dalam tulisan ilmiah adalah bahasa resmi, di tulisan narasi inilah penggunaan gaya bahasa menjadi salah satu faktor yang paling menentukan enak tidaknya sebuah bacaan untuk dibaca.

Bahasa Indonesia vs English?

Sebuah catatan kecil tentang bagaimana bahasa bisa mempengaruhi mutu tulisan, dan mungkin tidak terlalu berhubungan dengan judul. Pernah membandingkan Bahasa Indonesia dengan Bahasa Inggris? Secara pribadi, aku tak pernah membandingkannya secara detail. Tapi aku tetap bisa merasakan perbedaannya. Salah satu pembeda utama adalah penggunaan huruf dan suku kata. Yang paling aku soroti adalah Bahasa Inggris menggunakan jauh lebih sedikit huruf dan suku kata — dan kata hubung — daripada Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia juga menuntut banyak penggunaan kata hubung, kata-kata yang berfungsi untuk menghubungkan 2 kalimat, yang secara esensial tidak memiliki makna berarti selain itu. Silakan buktikan sendiri.

Dalam lebih dari satu kesempatan, aku lebih suka mencari sumber berbahasa Inggris daripada berbahasa Indonesia (bukan berarti di Indonesia tak ada penulis yang bagus!). Mungkin sebagian karena memang tulisan berbahasa Inggris tersebut ditulis dengan sistematika yang lebih baik (karena di luar sana ada lebih banyak penulis yang baik). Mungkin juga karena tulisan bahasa Indonesia terlalu panjang dan terlalu banyak menggunakan “kata-kata sampah” dan agak sulit dicerna. Atau bisa karena kebiasaan saja, entahlah, tak terlalu penting… Yang jelas, karena aku orang Indonesia yang agak malas membaca, kupikir memahami tulisan di kedua bahasa ini sama-sama sulit…

Penutup

Sebagai kisah latar belakang, aku membuat tulisan ini karena aku diberi amanah untuk mengajar di sebuah SMK, tentang anatomi-fisiologi dan farmakologi. Untuk keperluan ini aku perlu meminjam buku pegangan tentang pelajaran-pelajaran ini. Dan ketika aku membacanya, tak bisa kukatakan aku terlalu puas. Mungkin memang benar cara penulisannya yang sulit dipahami. Tapi mungkin juga karena sistematika yang ada berbeda dengan sistematika yang kupelajari dulu, atau mungkin juga karena aku sendiri yang memang sulit belajar. Entahlah, apapun alasannya, aku membuat tulisan ini supaya aku ingat, dan semoga juga supaya kita semua dapat mengambil pelajaran darinya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: