Catatan Dokter PTT Pekan #008.2

7 Dec

Sambungan dari pekan #008.1

Kumulai dari mana ya?

“Ya, jadi sekitar beberapa jam yang lalu, Tn. G mengalami…,” aku berniat menceritakan kronologis kejadian kecelakaannya, karena mode of injury adalah hal yang penting bagi tenaga medis. Aku baru berhasil menyelesaikan 2 kalimat sebelum akhirnya dipotong.
“Iya pak dokter, langsung saja bagaimana kondisinya saat ini? Bagaimana kesadarannya?” dengan nada agak kurang sabar. Yah, mungkin sebelumnya Pak Komandan sudah mendapatkan laporan lengkap tentang kronologis kejadiannya dari anggota lain, dan ingin langsung ke pokok masalah. Oh, well…
“Kondisinya saat ini sadar baik, pak. Dari pemeriksaan saya temukan kemungkinan besar ada patah tulang paha kanan. Dan saya juga curiga adanya perdarahan dalam, karena di pahanya ada luka kecil yang terus mengeluarkan darah. Saat ini lukanya sudah dijahit.”.
“Lalu langkah selanjutnya apa?”
“Langkah selanjutnya adalah harus dilakukan rujukan ke rumah sakit untuk dilakukan pemeriksaan dan pengobatan lebih lanjut. Saat ini tinggal dilakukan pemasangan bidai, dan setelah itu Insya Allah siap dirujuk.”.
“Cara merujuknya dengan apa, Pak Dok?”.
“Kalau di sini, speedboat yang biasa biasanya ada jam 9 pagi. Tapi untuk kepentingan darurat seperti ini, biasanya keluarga mencari speedboat yang siap berangkat kapan saja. Tarifnya agak mahal, sekitar 5 juta,” jawabku sesuai dengan kondisi lapangan yang ada di sini.
“Baik, terima kasih Pak Dokter. Tolong kembalikan teleponnya pada anggota saya.”. Kuberikanlah teleponnya pada yang punya telepon. Si Komandan tampaknya memberikan sejumlah perintah padanya, karena beberapa kali si anak buah menjawab, “Siap, pak. Siap, pak”. Ketika telepon ditutup, dia berkata pada rekannya, “Perintah Pak Komandan adalah merujuk ke Rumah Sakit Weda sekarang juga”. So be it.

Ah ya, kembali ke Tn. G. Sebelum aku menelepon Pak Komandan aku sudah meminta untuk dicarikan papan panjang untuk bidai. Tak lama setelah kembali, papan yang kuminta pun diantarkan keluarga, bonus gergaji. Setelah kuukur, kuminta papannya untuk dipotong menjadi 2. Bidai bisa menggunakan 1, 2, atau 3 buah papan bidai. Yang terbaik tentu saja dengan 3 bidai: 1 bidai di medial, 1 bidai di lateral, dan 1 bidai di posterior. Kalau darurat bisa dengan 1 bidai saja di posterior. Papan yang ada kali ini cukup untuk 2 bidai, maka dipasang masing-masing di medial dan lateral.

Bidai sudah selesai, tinggal menunggu kapal dan keluarga untuk merujuk. Sembari menunggu, kuminta perawat untuk mengukur tensi pasien…
“Dok, tensinya 80/60”, laporan yang kuterima. Tensi yang kuterima sebelumnya 120/80. Terjadi penurunan tensi, apakah karena trauma vaskuler?
“Infusnya tolong diguyur saja ya”, instruksiku. Sambil berdoa dalam hati semoga bukan trauma vaskuler dan tidak jadi shock. Infus masuk 3 botol sebelum aku bisa bernapas lega (“Tensinya sekarang 120/80, dok. Kondisi pasien baik”), tapi sebelumnya aku harus merasakan debar jantung dan keringat dingin selama sekitar 1 jam.

Dan berangkatlah Tn. G, prajurit yang mengalami luka-luka kecelakaan, menembus gelap malam dan angin dingin serta debur ombak, menuju rumah sakit rujukan bertaruh nyawa. Doa dan harapanku terus bersamamu semoga kau bisa kembali dengan selamat.

Belakangan, aku mendengar kabar Tn. G telah tiba dengan selamat di RS Weda. Setelah dilakukan foto rontgen, memang terdapat patah tulang di pahanya. Pak Komandan memerintahkan untuk merujuk ke Ternate. Namun Tn. G menolak, dan memutuskan untuk kembali ke desanya, dan mencoba pengobatan alternatif.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: