Cara Membuat Tulisan yang Mudah Dipahami (Bag. 2)

4 Dec

Aturan Yang Berlaku

Kali ini aku akan membahas aturan #2, yaitu tentang kata. Hal ini sederhana saja, sebenarnya. Kalau mau tulisan menjadi lebih mudah dimengerti, gunakanlah kata-kata yang umum dan hindari kata-kata yang tidak umum. Itu saja. Namun hal ini dapat disesuaikan dengan pembaca yang ingin menjadi sasaran. Gunakan kata dan istilah umum bila ingin membidik pembaca dari kalangan awam. Kebalikannya, bila ingin bacaan dibaca oleh — katakanlah — kalangan medis, tak perlu takut untuk menggunakan istilah-istilah medis. Jangan sampai menggunakan istilah medis dan berharap dipahami orang awam. Hal itu bagaikan menanam emas dan berharap tumbuh pohon uang.

Sekarang kita beranjak ke aturan #3, kalimat. Singkatnya, di sinilah pentingnya aturan tata bahasa yang baik dan benar. Kalimat dengan tata bahasa yang baik dan benar akan enak dibaca dan mudah dipahami. Kalimat aktif atau pasif, tunggal atau majemuk, haruslah jelas. Kalau mau gampangannya, tentu aku akan bilang kalimat tunggal akan lebih mudah dipahami. Namun, tantangannya di sini adalah penggunaan kalimat majemuk yang seakan-akan tak bisa dihilangkan (dan tampaknya memang tak bisa). Jadi, untuk aturan #3 ini, kusarankan untuk terus mempelajari tata bahasa yang baik dan benar, dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Selanjutnya adalah aturan #4, tentang alinea. Sudah kusebutkan sebelumnya bahwa alinea adalah kumpulan beberapa kalimat. Pada kalimat, penggunaan tata bahasa yang baik dan benar mutlak diperlukan agar kalimat mudah dipahami. Pada alinea, kasusnya berbeda (dengan asumsi penggunaan tata bahasa dan tanda baca sudah benar). Karena alinea adalah kumpulan kalimat, maka supaya alinea mudah dipahami, harus ada hubungan yang jelas antara 1 kalimat dengan kalimat lain. Misal dalam 1 alinea yang membahas tentang A, maka seluruh kalimat dalam alinea itu sudah seharusnya membahas A. Jangan sampai kalimat 1 membahas A, kalimat 2 membahas X, kalimat 3 membahas Q, dll.

Selain itu, sebuah alinea harus memiliki inti alinea dan juga harus bisa disimpulkan. Apa itu inti alinea, apa itu kesimpulan? Dari yang aku ingat tentang hal ini ketika belajar bahasa Indonesia untuk persiapan SNMPTN tahun 2008, inti alinea (atau inti paragraf, atau kalimat utama) adalah 1 kalimat yang mewakili seluruh isi alinea, dan kalimat lainnya adalah penjelas dari kalimat tersebut. Sedangkan kesimpulan adalah… hal yang lebih sulit dijelaskan. Ambil esensi dari seluruh kalimat dalam 1 alinea, jadikan 1 kalimat, dan 1 kalimat itu adalah kesimpulan. Kalau sebuah alinea sampai tak bisa ditentukan inti dan/atau kesimpulannya, alinea itu bukan alinea yang baik.

Berlanjut ke aturan #5, hubungan antar aspek dalam bacaan. Sudah disinggung sedikit di atas. Kata-kata yang dihubungkan dengan baik akan menjadi kalimat yang baik. Dan kalimat-kalimat yang dihubungkan dengan baik akan menjadi alinea yang baik. Tapi bukan hanya itu saja! Dalam lingkup bacaan yang lebih luas, terdapat istilah sistematika. Definisi aslinya kuserahkan pada ahli bahasa Indonesia. Yang jelas, sistematika terkait erat dengan hubungan-hubungan yang jelas dan bisa dijelaskan, keteraturan, urutan-urutan, dan hal-hal semacamnya. Bacaan yang baik harus memiliki sistematika, dan dengan demikan, bersifat sistematis.

Sistematika tulisan tak serta-merta didapatkan begitu saja. Sistematika terkait erat dengan cara berpikir dan pemahaman. Untuk membuat bacaan yang sistematis, penulis harus terlebih dahulu memahami dan menjelaskan apa yang hendak dia tulis. Bagaimana mungkin penulis dapat menulis hal yang tidak dia pahami? Salah satu cara yang mudah — dan sulit — untuk bisa memahami sesuatu adalah… dengan menjelaskannya dan mengajarkannya pada orang lain. In learning you will teach, and in teaching you will learn. Itu adalah sepenggal lirik lagu Son of Man yang dibawakan oleh Phil Collins.

Mari kita lanjutkan ke aturan #6 terkait gaya penulisan. Tolong jangan salah paham di sini. Gaya penulisan di sini bukan berarti menggunakan kata-kata atau kalimat-kalimat yang semau gue. Bolehlah menggunakan bahasa gaul sekali-sekali, tapi harus tetap dalam koridor bahasa Indonesia yang baik dan benar, dan ini bukan hal utama yang kumaksud dalam gaya penulisan.

Gaya penulisan memang terkait — salah satunya — dengan penggunaan kata-kata. Dalam hal ini, penting untuk menguasai perbendaharaan kata (vocabulary) yang luas, dan satu-satunya cara adalah dengan banyak membaca dan mendengar(kan). Tapi bukan hanya itu saja. Agak sulit menjelaskan tentang gaya penulisan. Intinya adalah, “Bagaimana cara penulis membawa pembacanya menjelajahi tulisannya?”. Apakah mau dengan gaya yang emosional dan berapi-api? Apakah mau dibawa lewat tulisan yang penuh humor? Atau mau dibawa melewati penjelasan-penjelasan yang detail dan sistematis? Atau melalui contoh-contoh nyata yang bisa langsung dilakukan? Tak terhitung contoh gaya penulisan yang ada di jagat penulisan ini, silakan cari gaya yang paling sesuai.

Setelah 6 aturan di atas, inilah aturan #7. Apakah itu? Berlatih! Mengetahui teori saja tidak cukup. Harus ada aplikasi yang nyata dari teori-teori yang sudah dipahami. Menulis dan membuat tulisan adalah skill. Dan sama seperti semua skill, skill harus diasah terus-menerus. Tak perlu langsung menulis sebuah masterpiece yang langsung menjadi best-seller. Mulailah dari kebiasaan, dan jadikan menulis bagian dari gaya hidup.

Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: