Catatan Dokter PTT Pekan #008.1

29 Nov

Banemo, 1 November 2015

Pekan ke-8 telah terlewati, alhamdulillah. Ternyata sudah hampir 2 bulan aku meninggalkan Surabaya dan merantau di pelosok. Terasa cepat atau lama? Jawaban klasik adalah tergantung. Kalau dinikmati, 2 bulan akan terasa cepat. Kalau tidak dinikmati, terasa lama. Dan buatku, 2 bulan pertama di sini terasa agak lama. Gaji belum turun pula, menambah derita yang ada, haha. Yah sudahlah, semoga aku bisa segera beradaptasi dan menikmati tempat pengabdian apa adanya dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Sabtu siang menjelang sore, sekitar jam 2. Saat itu sedang asyik membuka laptop di rumah dinas. Di luar terdengar suara deru mesin motor, makin lama makin dekat. Sebenarnya setiap hari memang ada beberapa motor yang agak sering berlalu lalang di jalan puskesmas ini sih, dan setiap kali ada suara motor aku sering berdoa semoga bukan pasien, semoga bukan pasien… Kali ini pun bukan pengecualian. Dan kali ini yang datang — mau tidak mau harus mau — adalah (keluarga) pasien. Pasiennya sendiri ada di rumah. Yang datang ini — bapak-bapak berusia sekitar 40 tahun — menuturkan bahwa keluarganya yang terbaring di rumah baru mengalami kecelakaan motor. Saat ini paha kanannya sakit dan tak bisa digerakkan dan berdarah.

Singkat cerita, setelah kunjungan dan pemeriksaan singkat (look: terdapat angulasi, terdapat luka kecil berdarah; feel: tak ada krepitasi; move: terdapat gerak abnormal, terdapat nyeri gerak), dibawalah pasien ke puskesmas. Keluarlah ilmu ATLS (Abal-abal Trauma Life Support) yang rasanya kupelajari pada zaman dahulu kala di alam mimpi. Kesadaran baik, airway dan breathing tak ada gangguan. Circulation? Ada resiko trauma vaskuler dan perdarahan yang keluar dari luka. Maka sebelum difiksasi, luka harus ditutup dulu. Langkah pertama adalah jahit luka… Done. Tapi aku berdoa semoga itu cukup karena aku mengkhawatirkan resiko shock karena perdarahan dan compartment syndrome.

Langkah selanjutnya adalah fiksasi dengan bidai. Tapi tunggu dulu, salah satu pengantarnya ingin berbicara. Tn. G, pasien yang sedang kurawat sekarang, adalah anggota militer, dan komandannya yang sedang berada di luar desa ingin berbicara denganku tentang kondisinya sekarang. Diantarkan orang tadi — yang juga tentara — ke tempat yang ada sinyalnya, aku dihubungkan dengan komandannya lewat telepon.

“Assalamualaykum,” sapaku lewat ponsel
“Waalaykumussalam. Selamat sore, Pak Dokter. Bagaimana kabar anggotaku di sana?” tanya suara yang kudengar dari seberang sana. Kata dan nada suaranya tegas dan lugas tanpa tedeng aling-aling.

Kumulai dari mana ya?

Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: