Catatan Dokter PTT Pekan #005

14 Nov

Banemo, 12 Oktober 2015

Melaporkan dari lokasi pengabdian, kemarau telah terjadi selama beberapa bulan terakhir di daerah Banemo dan sekitarnya. Sumber-sumber air yang ada diketahui telah mengalami penurunan. Sumber air dari mata air perbukitan dipantau telah mengalami penurunan, demikian pula dengan air dari sumur yang mengalami penurunan level permukaan air. Salah satu warga, Udin, yang berprofesi sebagai dokter PTT, mengeluhkan sulitnya mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari, terutama untuk mandi dan mencuci. “Waktu awal-awal bulan saya PTT di sini memang air dari mata air mengalir lancar, sekarang sudah mampet. Air di sumur juga makin surut,” tuturnya. Warga lain yang enggan disebut namanya juga mengeluhkan bahwa saat ini juga terjadi kesulitan untuk mengairi kebun. Beberapa warga sudah berinisiatif untuk memperbaiki pipa untuk mengalirkan air ke rumah masing-masing. Namun demikian, hingga saat ini belum ada langkah dan/atau komentar dari pemerintah setempat untuk mengatasi permasalahan ini.


Halo pembaca, apa kabar semua? Semoga semua baik-baik saja, aamiin. Atau sedikitnya lebih baik daripada kabarku. Paragraf di atas berisi tentang kondisi akhir-akhir ini di tempat pengabdianku, ditulis dengan gaya penulisan kolom berita. Haha, cuma ingin menulis sedikit dengan aliran yang berbeda. Jelas masih jauh dari tulisan para profesional. Tapi tak apalah, toh namanya juga belajar, hehe.

Aku mulai menulis tulisan tentang pekan ke-5 di tengah-tengah pekan ke-6, maaf karena agak terlambat. Selama pekan ke-5 aku izin selama beberapa hari untuk mengurus akun bank dan surat izin praktek. Untuk mengurus akun bank sih mudah saja, tinggal pergi ke Weda, ke BRI, serahkan berkas-berkas yang diperlukan, hari itu juga sudah jadi, tinggal menunggu gaji masuk. Mengurus SIP ini yang agak sulit…

Biar kuceritakan sedikit tentang caraku mengurus SIP di sini. Sebelum aku berangkat aku sudah mengantongi para CP yang harus aku hubungi. Dan aku sudah menghubungi CP-CP tersebut sebelum melangkah.

Hal #1 yang penting adalah meminta surat rekomendasi penerbitan SIP di IDI provinsi. Konon kalau di tingkat kabupaten sudah ada sebenarnya bisa ke IDI kabupaten saja, tapi di Kabupaten Halmahera Tengah masih belum ada IDI, jadi terpaksa meminta ke IDI provinsi, yaitu di Ternate. Berkas yang diserahkan antara lain fotokopi STR, foto berwarna 4×6, fotokopi ijazah, dan fotokopi KTP. Kalau ada, fotokopi KTA IDI dan surat mutasi dari IDI sebelumnya bila sudah pernah bertugas di wilayah lain (yang dua-duanya aku tidak punya). Singkat cerita, setelah kuserahkan berkas-berkas yang kusebutkan di atas (dan membayar biaya administrasi dan iuran bulanan untuk 12 bulan), aku berhasil mendapatkan 2 lembar rekomendasi SIP: 1 lembar untuk kusimpan dan 1 lembar untuk diserahkan ke dinkes kabupaten untuk penerbitan SIP. Ah ya, sebagai catatan tambahan, sebenarnya pengurusan rekomendasi ini normalnya bisa memakan waktu 3-5 hari. Tapi atas kebaikan hati si CP, akhirnya aku bisa mendapatkan rekomendasi dalam waktu 2 hari. Terima kasih banyak, CP…

Hal #2 yaitu mengurus SIP di dinkes kabupaten. Yang sudah aku lakukan adalah menyerahkan surat rekomendasi di atas dan surat permohonan penerbitan SIP yang aku ketik sendiri. Sebenarnya sangat ingin aku segera menuntaskan hal ini. Tapi aku sudah menghabiskan waktu cukup lama di Ternate, dan aku baru tiba di Weda lagi untuk mengurus SIP di dinkes kabupaten hari Jumat sore, ketika kantor sudah tutup dan baru buka lagi hari Senin. Akhirnya aku hanya menitipkan berkas-berkas yang kusebut di atas ke rumah salah satu staf dinkes, lalu aku pulang. Aku tak tahu apakah masih ada berkas yang kurang atau dana yang harus keluar. Tapi bila aku harus menunggu sampai hari Senin, artinya itu menghabiskan lebih banyak uang dan waktu. Dan dari sudut pandangku, itu adalah pemborosan (ini adalah topik yang ingin saya bahas lebih lanjut, nantikan tulisan berikutnya tentang pemborosan. Stay tune). Akhirnya kuputuskan untuk melanjutkan pengurusan SIP ini paling cepat bulan depan, mungkin sekalian mengambil gaji (dengan asumsi gaji memang keluar bulan depan, hiks hiks).

Demikianlah perjalanan yang kulakukan untuk mengurus SIP. Off the record, sebenarnya aku bersyukur juga karena bisa keluar sejenak dari tempat pengabdian di pelosok untuk kembali melihat peradaban, hehe. Tapi kalau terlalu lama juga nantinya berat di kantong kan? Dan sekali lagi, itu adalah “pemborosan”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: