Catatan Dokter PTT Pekan #004

25 Oct

Banemo, 4 Oktober 2015, 10:39.

Hmm, apa yang akan aku tulis kali ini? Perjalananku pekan ini terasa seperti biasa dengan jadwal yang sedang aku usahakan untuk rutin: Bangun jam 5 untuk shalat subuh (subuh di sini memang sekitar jam 5). Dilanjutkan untuk berjalan-jalan sebentar untuk menghirup udara segar, kalau sempat dengan sedikit olahraga. Sarapan, kalau tak ada ya sudah. Mengisi air di bak dari sumur untuk mandi, lalu mandi. Berangkat ke puskesmas di sebelah rumah jam 8:15. Selesai pelayanan jam 12, lalu pulang. Memasak makan siang, lalu makan. Shalat dhuhur. Mencuci pakaian kalau tidak malas, kalau sedang malas ya cuma baca-baca buku saja, kalau itu juga malas akhirnya tidur siang. Jam 3 berusaha untuk mengaji sambil menunggu shalat asar sekitar jam 4. Lalu mengisi air lagi. Kemudian jalan-jalan di kampung, atau olahraga, sampai menjelang magrib. Setelah shalat magrib sekitar jam 7, makan malam. Shalat isya jam 8. Tidur. Ulangi dari awal untuk hari berikutnya. Tidak sepenuhnya akurat sesuai kenyataan sih, tapi mendekatilah, haha.

Aku mendengar cerita-cerita yang beredar di puskesmas ini, tapi sebelumnya biar kujelaskan sedikit tentang daerah puskesmasku ini. Jadi begini, posisi puskesmas berada sekitar 100 meter dari pemukiman, melewati jalan kecil yang hanya cukup untuk dilewati 1 ambulans. Lapangan kosong di sebelah kiri jalan dan kebun serta pepohonan di sebelah kanan jalan, dekat kuburan. Puskesmas itu sendiri terletak di dekat kaki bukit. Jadi di belakang puskesmas hanya terdapat bukit dan pepohonan saja, serta sebuah madrasah kecil. Di sebelah puskesmas, terdapat gedung baru yang belum dipakai, katanya untuk kantornya. Jalan bercabang di depannya, salah satu menuju ke perkampungan melewati kebun, salah satu menuju perumahan dinas. Terdapat 3 rumah dinas, salah satunya kutempati bersama seorang staf puskesmas, Bang Ical. Kedua rumah dinas yang lain kosong saat kutulis tulisan ini. Tak ada bangunan lain selain semua yang sudah kusebutkan di atas. Listrik hanya ada pada jam tertentu, jadi bayangkan betapa gelapnya saat malam.

Oke, kembali ke cerita. Jadi, saat pertama puskesmas berdiri beberapa tahun lalu, kondisinya bahkan lebih sepi daripada saat ini. Dikisahkan, suatu ketika, seorang cleaning service datang ke puskesmas pagi-pagi sekali untuk bekerja. Dia mendapati, di salah satu ruangan puskesmas, sesosok berbaju putih dengan rambut panjang menutupi wajah (yah, tipikal karakter horor di film-film itu). Dia langsung mengundurkan diri. Tapi itu sudah beberapa tahun yang lalu. Kemudian, kejadian berikut terjadi baru saja beberapa pekan yang lalu. Sekitar jam 4 pagi, seorang perawat yang sedang jaga malam, Pak Masri, sedang keluar untuk mencari angin. Saat berjalan, dilihatnya sosok yang tadi kusebutkan sedang berdiri di depan gedung baru. “Siapa itu!?”. Yang ditanya tidak menjawab, hanya berjalan menjauh menuju kegelapan.

Beberapa malam yang lalu, salah satu tenaga honorer puskesmas, Roma, datang berkunjung, bersama temannya. Rupanya mereka sehabis bertanding voli dengan tim dari kecamatan sebelah. Pas aku sendirian di rumah (Bang Ical sedang pergi) dan listrik sedang tidak menyala. Akhirnya ngobrol-ngobrol saja di ruang tamu dengan penerangan lampu yang kubawa dari Surabaya, lumayan teranglah. Aku duduk menghadap pintu depan yang memang dibiarkan setengah terbuka, sedangkan Roma dan lainnya tidak melihat pintu. Sekelabat sosok kecil warna putih melintas melewati depan pintu, sangat cepat sehingga tak bisa kulihat jelas apa itu. Yang langsung terpikir di benakku adalah kucing putih. Detik berikutnya, jendela kaca di sebelah pintu itu mengeluarkan suara seperti dipukul dari luar. Sontak Roma dan temannya terlonjak kaget. “Suara apa itu, dok?”, tanyanya dengan ketakutan. “Kucing, mau loncat masuk, tapi nabrak kaca,” jawabku dengan enteng mencoba meyakinkannya, sekaligus diriku sendiri. Roma tampak tak yakin, tapi akhirnya tampak menerima jawabanku.

Sejauh ini aku mempercayai jawabanku itu. Hanya tinggal 1 masalah kecil: Selama di sini, tak 1 kali pun aku menjumpai kucing berwarna putih polos.

Advertisements

2 Responses to “Catatan Dokter PTT Pekan #004”

  1. enasrullah October 25, 2015 at 2:03 pm #

    Hahai. Kocak din. Horor komedi. Banyak2 ngaji ya di sana.

  2. errikha October 26, 2015 at 12:12 pm #

    xixixiiiiii…..
    wes,ojok mikir seng aneh2..akeh2 sholat+ngaji,beroooo..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: