Catatan Dokter PTT Pekan #003

19 Oct

Banemo, 27 September 2015

Selamat pagi/siang/malam semua. Satu pekan lagi telah kulalui di sini. Pekan ke-3, berarti perjalannku di sini masih sekitar 3% dari kontrak selama 2 tahun. Dan para pembaca tahu? Entah kenapa aku mulai kehabisan ide untuk menulis -_- . Tapi tak usah risau, karena itu adalah masalahku, bukan masalah para pembaca. Abaikan saja tulisan ini bila tidak bermanfaat, haha.

By the way, aku tadi bilang kehabisan ide kan? Yah, mungkin aku tahu sebabnya. Hari Kamis yang lalu adalah tanggal merah karena bertepatan dengan Idul Adha, jadi praktis tak ada kegiatan pelayanan pada hari itu. Ditambah lagi ternyata libur di puskesmas berlanjut hingga 2 hari setelahnya. Jadi Kamis sampai Sabtu puskesmas tutup. Tapi tetap saja ada beberapa orang yang datang ke puskesmas untuk berobat, dan sebagai dokter yang baik aku tak bisa membiarkan mereka kecewa kan? Mungkin karena berkurangnya hari aktif dalam pekan inilah aku jadi kebanyakan berdiam di rumah saja, jadi tak banyak yang yang bisa kutulis.

Kalau mau memaksa untuk menulis, atau bila pembaca sangat ingin membaca tulisanku pekan ini, inilah dia, di paragraf ini. Tentang bulan purnama. Aaawww, so sweet… But seriously, terlepas dari sisi romantisme pada bulan purnama, aku benar-benar terkesan dengan perannya saat malam yang gelap gulita tanpa penerangan listrik. Jadi, sudah kukatakan di tulisan sebelumnya bahwa listrik di sini tidak tetap. Untuk lebih detailnya, listrik menyala bergantian, antara menyala jam 6 sore dan jam 12 malam. Jadi kalau malam ini listrik menyala jam 6 sore, besok malam listrik menyala jam 12 malam, lalu besoknya lagi jam 6 sore, begitu seterusnya. Kalau listrik menyala jam 6 sore, alhamdulillah. Kalau saatnya menyala jam 12 malam, itu yang agak repot. Malah pernah suatu malam saat listrik seharusnya menyala jam 12 (memang menyala), tapi tak lama kemudian mati lagi sampai besok sore jam 6. Walhasil, HP dan laptop (merk HP) jadi gagal di-charge.

Ah ya, kembali ke bulan purnama. Saat pertama tiba di sini, malam pertama adalah malam yang sangat gelap. Ditambah lagi posisi puskesmas dan rumah dinas yang harus mblusuk sekitar 100 meter menjauhi pemukiman warga, membuat suasana di rumdin menjadi… lebih… gelap. Yah, itu saat bulan baru. Tadi malam bisa dibilang bulan purnama. And you know? Kalau pada malam pertama di sini aku harus menggunakan senter untuk ke pemukiman atau masjid, pada bulan purnama aku tidak perlu. Seakan-akan bulan purnama menjadi pelita di langit yang gelap. Kalau sudah begini, maka benarlah bahwa bulan purnama itu indah. Aku jadi terpikir, ketika aku memandang bulan purnama, apakah kita sedang memandang bulan yang sama?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: