Catatan Dokter PTT Pekan #001

13 Oct

Banemo, 13 September 2015

“Nasinya hangus!”. Bang Irham yang kebetulan sedang mampir ke rumah dinas segera bergegas ke dapur untuk memeriksa periuk, diikuti olehku dengan polos dan tak tahu apa-apa. Begitu tutup periuk dibuka, tampaklah… nasi… yang agak hangus di sana-sini. Sebagian masih berwarna putih dan tampak masih bisa dimakan, sementara sebagian lainnya hangus berwarna kecoklatan dan hitam. “Itu tadi bau hangus kenapa tidak dilihat?”, tanyanya padaku, dan hanya bisa kujawab dengan cengiran saja.

Yah, begitulah kehebohan di Ahad pertama di perantauanku ini. Saat itu pagi hari sekitar jam 7. Listrik baru menyala tengah malam tadi dan mati sekitar jam 6 pagi. Listrik memang tersedia malam hari saja. Kadang jam 6 sore sudah menyala sampai pagi (kadang hanya sampai tengah malam saja), kadang baru tengah malam baru menyala sampai jam 6 pagi. Di luar jam-jam itu, praktis tak ada listrik, dan hampir sepenuhnya mengandalkan teknologi manual. Misalnya memasak nasi tadi dengan kompor minyak dan periuk.

Ini adalah pekan pertamaku di tempat pengabdian di luar Pulau Jawa. Tepatnya di Provinsi Maluku Utara, Kabupaten Halmahera Tengah, Kecamatan Patani Barat, Desa Banemo. Aku baru tiba di sini hari Selasa siang, dan mungkin masih beradaptasi dengan lingkungan setempat. Aku ingin menulis setiap pekan tentang bagaimana aku melalui hari-hari di sini. Dan karena aku berencana akan berada di sini selama 2 tahun, berarti aku akan menjalani sedikitnya 100 pekan. Jadi, mari kumulai tulisan pekan #001 ini dengan… apa ya? Perjalanan ke sini? Kondisi geografis di sini? Suasana dan orang-orang di sini? Kasus-kasus di sini? Hmm, sepertinya akan kutulis sedikit tentang semua hal di atas. It’s decided.

Untuk perjalanan ke sini, aku menggunakan penerbangan oleh Garuda Indonesia yang disediakan oleh pusat. Penerbangan selama sekitar 1 jam dari Terminal 2 Juanda (Terminal 2 adalah bandara Juanda yang lama, tahu maksudku?) lalu transit di Makassar, kemudian penerbangan sekitar 2 jam sampai di Ternate. Berdasar informasi yang aku tahu, Ternate adalah ibukota lama dari Provinsi Maluku Utara, dan saat ini pusat pemerintahan berada di Sofifi. Ternate adalah sebuah pulau kecil, terpisah dari pulau Halmahera yang lebih besar, tempat Sofifi berada. Dari Ternate menyeberang selat ke Sofifi menggunakan speedboat sekitar 1 jam. Dari Sofifi ke Weda (ibukota kabupaten Halmahera Tengah) menggunakan mobil selama sekitar 3 jam. Dari Weda ke ke Banemo menggunakan speedboat lagi selama sekitar 3 jam. Itu saja yang saya tulis saat ini tentang perjalanan ke Banemo. Mungkin tersedia rute lain, tapi tak bisa kubahas di sini sekarang.

Kondisi geografis di sini? Hmm, kecamatan Banemo bisa dibilang berada di antara bukit dan pesisir (aku yakin sebagian besar wilayah pulau Halmahera ini memiliki kondisi geografis yang sama), membentang dari timur ke barat. Terdiri dari 5 desa: Banemo sebagai desa utama, Bobane Indah di timurnya, Bobane Jaya di baratnya (Bobane Indah dan Jaya adalah pemekaran dari Banemo), Moreala (apakah ejaannya benar? :p) yang lebih jauh ke barat, dan Sibenpopo yang lebih jauh lagi ke barat. Akses jalan darat sulit, karena jalan hanya terbuat dari tanah dan batu kerikil, bukan aspal. Konon sedang dibangun jalan aspal dari Weda sampai sini, tapi entah kapan bisa terealisasikan. Akses biasanya menggunakan jalur laut, tapi juga bisa terkendala masalah cuaca.

Bagaimana dengan kondisi dan masyarakat di sini? Dibandingkan dengan masyarakat kota-kota besar seperti Surabaya, desa Banemo jauh dari hiruk-pikuk keramaian (kalau tak mau dibilang sepi :D). Masyarakat di sini sebagian besar adalah nelayan dan membuka kebun, biasanya kelapa dan pala. Masyarakatnya baik dan suka menolong sesamanya. Sangat lumrah ditemukan antara seorang dan orang lain masih terikat hubungan keluarga, entah jauh atau dekat.

Kasus yang kutemukan di sini? Aku baru beberapa hari di sini, jadi tak banyak yang kutemukan. Daerah ini adalah daerah endemis malaria, tapi aku belum menemukan kasus malaria di sini. Terbanyak adalah sakit panas-batuk-pilek yang biasa. Pegal-pegal dan nyeri sendi serta otot juga cukup banyak, di samping sakit kepala juga. Baru saja tadi pagi merujuk pasien dengan diagnosis ileus ke Weda, tapi semoga tak banyak pasien ileus atau semacamnya di sini.

Yap, sepertinya itulah tulisan tentang pekan pertamaku di tanah pengabdian. Cukup panjang? Mungkin karena ada 4 hal yang dibahas ya, haha. Mungkin yang berikutnya tak akan sepanjang ini. Jam di laptop menunjukkan pukul 15:10 ketika aku menulis bagian ini. Bagaimana aku merencanakan sisa hari Ahad ini? Entahlah, bermain dengan gadget seperti HP atau laptop tampaknya tidak menjadi prioritas karena masalah listrik. Beruntung aku membawa beberapa buku bacaan, mungkin kumulai dari itu saja. Bagaimana denganmu?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: