Komitmen

10 Apr

Entah sudah berapa hari, minggu, atau bulan sejak terakhir kali menulis di blog. Haha, memang komitmen itu sulit. Ada yang bilang bahwa mengawali itu sulit, kalau sudah dimulai selanjutnya akan lebih mudah. Sepertinya aku telah membuktikan bahwa hal itu tidak sepenuhnya benar. Aku sudah memulai mencoba rutin menulis sejak berbulan-bulan lalu, dan masih saja sering malas menulis. Contoh lain, aku sudah berkomitmen untuk berolahraga di fitness center seminggu 2x (obsesi perut six-pack), tapi akhirnya malas juga, haha. Rutinitas lari tiap pagi juga mulai berkurang (alasan: sepatu jebol).

Meskipun demikian, kadang-kadang ada juga saat-saat di mana melakukan rutinitas menjadi menyenangkan. Terutama bila memang senang. Aku sendiri pernah merasakan senangnya bisa membuat tulisan setiap hari. Aku pernah merasakan senangnya bisa berolah raga setiap hari. Ada kepuasan tersendiri ketika sudah berkomitmen untuk sesuatu, kemudian berhasil menunaikannya.

Membuat komitmen itu mudah, menunaikannyalah yang sulit. Tapi aku yakin ada beberapa hal yang bisa membuat menunaikan komitmen menjadi agak lebih mudah. Paling tidak ada 2 hal.

Pertama, sadarilah bahwa komitmen yang kita lakukan akan memberikan manfaat. Contohnya adalah seperti cerita di atas, rutin olahraga. Jujur, waktu pertama kali mencoba lari pagi, bangun pagi saja sudah terasa berat. Ketika sudah mencoba lari, jarak terjauh cuma 100 langkah! Habis itu sudah menggas-menggos dan harus jalan dulu. Setelah itu baru lari 100 langkah lagi, terus menggas-menggos lagi. Setelah berbulan-bulan rutin lari pagi, sekarang rekor terjauhku adalah 5 km. Aku berusaha rutin berolahraga karena kesehatan adalah salah satu nikmat yang paling sering dilupakan. Kesehatan adalah investasi jangka panjang, dan harus dilatih terus sejak muda. Banyak contoh yang lain selain olahraga: menulis, membaca, shalat di masjid, mengaji tiap hari, belajar, berhenti merokok, dll.

Kedua, carilah kesenangan di dalam komitmen. Komitmen yang dilakukan dengan senang hati adalah komitmen yang paling mudah dilakukan. Ayo kita ambil contoh: hobi. Bila sudah punya hobi, apapun akan dilakukan untuk memuaskan hasratnya. Hobi memancing? Hujan badai akan diterjang untuk memancing. Hobi main game? Waktu seakan tak bermakna untuk main game. Hobi mengoleksi –katakanlah– batu akik? Gunung akan didaki dan lembah akan dilewati untuk batu akik. Semua itu akan dilakukan karena memang senang. Rasa senang memang sangat penting untuk menjaga komitmen.

Berkomitmen adalah hal yang sulit, dan dari sini aku berharap kita bisa menjalani komitmen dengan lebih mudah. Akan tetapi, hal yang lebih penting adalah untuk apa kita berkomitmen. Jangan sampai berkomitmen untuk hal yang salah. Jangan sampai berkomitmen untuk orang yang salah. Bukankah begitu?

Advertisements

One Response to “Komitmen”

  1. Ami April 10, 2015 at 11:07 am #

    Setuju, menunaikan komitmen itu terkadang sulit. Tapi bisa disiasati asal ada kemauan ๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: