Case #006 : Kecelakaan

17 Feb

Huff, akhirnya selesai juga bersih-bersih kontrakan. Pulang habis jaga, cari sarapan, lanjut bersih-bersih. Ini kontrakan atau apa sih, kok rasanya kotor banget. Akhirnya batal deh rencana tidur setelah jaga gara-gara kontrakan kotor. Entah tadi malam ada berapa panggilan, mungkin 10 (ada teman yang bilang ini rekor baru!). Mulai dari keluhan gusi bengkak, panas, sampai curiga shock sepsis. Makanya rasanya seneng banget pas waktunya pulang.

Dokter spesialis penyakit dalam datang ke ICU (tempat stand by dokter internship yang jaga ruangan) sekitar jam 6 kurang 10. Kedatangan beliau menandakan berakhirnya jaga malam (alhamdulillah). Tapi sebagai bentuk sopan-santun, aku tetap stay di ICU sampai beliau selesai. Jam setengah 7 saya izin ke perawat untuk keluar, dan meminta untuk menghubungi TS UGD saja bila ada sesuatu. Yah, sebenarnya secara resmi jaga malam itu selesai jam 7 pagi. Tapi tak apalah. Toh saya juga berniat stay di UGD dulu sampai jam 7. Bukan karena apa-apa sebenarnya, karena jalan ke parkiran motor juga lewat UGD.

Pasien Baru

Jam 7 kurang 10. Pas lagi asyik duduk-duduk sambil makan potongan brownies ketiga (jajan di meja UGD sudah disepakati sebagai milik bersama), pengendara motor berhenti di depan gerbang UGD, membonceng seorang bocah laki-laki SD dengan seragam pramuka. Kebiasaan lama saat masih jaga UGD terulang. Biasanya bila ada pasien baru, saya memperhatikan baik-baik pasien itu sebelum saya periksa. Kira-kira apa problemnya?

Bocah itu digendong oleh si bapak pengendara motor dan dipersilakan masuk oleh resepsionis. Kuperhatikan. Anak laki-laki, usia sekitar 10-12 tahun, menangis kesakitan, baju berdarah-darah. Kemungkinan besar kecelakaan, atau bisa jadi mimisan. Barusan terpikir begitu, si bapak berkata keras-keras, “Habis kecelakaan, kakinya patah”. Yap, dugaan tepat.

Aku menghampiri si bocah yang sudah terbaring di bed UGD. “Yang patah yang mana, pak?”, tanyaku. Si bapak menunjuk kaki kanan si bocah, regio cruris. Look? Terdapat oedem dan angulasi, tak ada luka terbuka/perdarahan. Yaudah, kemungkinan 99% memang patah kalau sudah begini. Feel? Terdapat nyeri tekan, oedem. Move? Nyeri gerak dan gerak terbatas pada engkel. Diagnosis? Close fracture regio cruris dextra. Ada 2 tulang: fibula dan tibia. Yang patah bisa salah satunya, bisa dua-duanya. Saya lihat kepalanya, ada darah dari hidung dan telinga kirinya. Hahh, kemungkinan fraktur basis cranii tak bisa disingkirkan.

Baik, tata laksana dasar dilakukan dulu. Amankan airway (sudah aman), breathing (sudah aman juga. Si bocah tidak mau dipasangi oksigen nasal), circulation (hemodinamik baik, jadi hanya dipasang infus dan injeksi analgesik). Setelah itu dilakukan bebat-bidai pada kakinya sebagai immobilization. Bebat-bidai saat itu menggunakan 2 bidai/papan penyangga (minimal 1, lebih baik 3), dan harus bisa menyangga sendi di atas dan di bawah tulang yang patah. Kemudian dibebat secukupnya agar tidak banyak bergerak. Tidak terlalu longgar (jadi terlalu banyak gerak) ataupun terlalu kencang (resiko compartment syndrome). Sebaiknya raba nadi di distal dari tulang yang patah untuk mengetahui perfusinya.

Pada prinsipnya, manajemen patah tulang meliputi 3 hal: Reduction, Immobilization, dan Rehabilitation. Reduction dan Immobilization dilakukan hanya jika diperlukan, tetapi Rehabilitaion mutlak dibutuhkan.

Reduction adalah upaya untuk menempatkan patahan tulang pada posisi yang baik supaya nantinya bisa tersambung dengan baik. Pada kasus-kasus yang baik, biasanya walaupun tulang patah, posisi patahan tulang masih memungkinkan untuk bisa menyatu dengan baik. Tapi pada kasus yang jelek, reduction perlu dilakukan. Immobilization adalah usaha untuk mengurangi gerak, intinya untuk mencegah perubahan posisi tulang, mencegah gerakan yang mengganggu penyatuan, dan mencegah nyeri. Rehabilitation, mungkin salah satu manajemen terpenting, adalah upaya untuk mengembalikan fungsi. Rehabilitation harus dimulai sesegera mungkin. Pada saat tangan/kaki mulai dibebat, usaha ini bisa dimulai dengan mengkontraksikan otot-otot yang bersangkutan tanpa menggerakkan sendi. Bila sudah tak dibebat, bisa dilanjutkan dengan latihan-latihan ringan. Saat tulang sudah tersambung dengan cukup kuat, latihan dilanjutkan secara bertahap hingga kekuatan otot kembali seperti semula. Pengawasan dokter dan fisioterapi memang penting, tapi yang terpenting adalah motivasi dari dalam diri pasien.

Hal Lain yang Ingin Aku Sorot

Saat dilakukan tindakan, TS yang jaga UGD datang. Maka dia pun melakukan anamnesis. Mode of injury adalah: si bocah naik sepeda pancal ke sekolah, kemudian ditabrak dari belakang oleh pengendara motor (yang tampaknya juga masih usia sekolah), lalu si pengendara motor kabur.

Yang ingin aku sorot dari kasus ini adalah bagaimana anak sekolah di bawah umur bisa membawa motor, lalu menyakiti pengguna jalan lain, lalu kabur. Yang aku perhatikan, memang motor adalah moda transportasi yang paling banyak di Indonesia. Relatif murah meriah bila dibandingkan dengan mobil. Sangat berguna di kota-kota besar yang sering macet, dan juga di kota-kota kecil dan pelosok-pelosok karena kurangnya fasilitas angkutan umum dan sulitnya medan.

Sebenarnya motornya sendiri tidak menjadi masalah. Yang menjadi masalah adalah pengendaranya. Aku jadi teringat quote di Ninja Assassin, kalau tidak salah, “Fear not the weapon, but fear the hand”. Hmm, memang tidak sepenuhnya akurat sih, tapi cukup mirip.

Ada 2 atribut dalam melakukan sesuatu, termasuk mengemudikan motor: cara dan tujuan. Dalam melakukan apapun, keduanya harus dilakukan dengan benar: caranya benar dan tujuannya benar. Misalnya tadi, menggunakan motor harus dengan cara dan tujuan yang benar. Baiklah, si anak sekolah ini ingin pergi ke sekolah untuk menuntut ilmu, maka bisa dikatakan tujuannya benar. Tapi dalam menggunakan motor dia tidak waspada dan sampai menabrak orang, bahkan sampai patah tulang, ditambah lagi dia kabur, maka bisa dikatakan bahwa caranya salah. Jadi bisa disimpulkan tindakannya salah, karena walaupun tujuannya benar, caranya masih salah.

Contoh tentang cara benar dan tujuan salah? Seorang pembalap motor melakukan penjambretan. Dari cara, jelas caranya benar karena dia pembalap. Dari tujuan, jelas salah karena merugikan orang lain.

Contoh lain? Saya serahkan pada pembaca sekalian, karena tak terhitung jumlahnya tindakan yang benar dan salah. Besar kemungkinan kita pernah melakukan hal yang salah, baik disengaja maupun tidak. Mari kita melakukan introspeksi terhadap diri kita sendiri apakah semua yang kita lakukan sudah benar, baik caranya maupun tujuannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: