Case #004.1

7 Jan

Aku paham mengapa penyakit dalam adalah penyakit yang paling banyak. Paling tidak, itu yang aku temukan saat ini. Entah di UGD ataupun di poliklinik. Kencing manis (diabetes mellitus/DM), darah tinggi (hipertensi/HT), maag, demam berdarah (dengue fever/DF, dengue haemorrhagic fever/DHF), dan lain-lain. Penyakit-penyakit dari bagian lain seperti neuro (sakit kepala, vertigo, dll), THT (serumen, otitis, faringitis, dll), mata (konjungtivitis, miopia, hordeolum, dll), dll tidak sebanyak penyakit dalam.

Terkait dengan hal ini, salah satu hal yang paling mengganggu adalah ketika pasien tidak minum obat secara rutin. Sering saya menerima pasien di UGD dengan edema paru karena sakit jantung. Setelah ditelusuri, ternyata pasien memiliki riwayat darah tinggi yang tidak terkontrol karena tidak rutin minum obat. Entahlah, aku tidak tahu apakah hal ini terjadi di Indonesia saja atau juga terjadi di negara-negara lain yang lebih maju. Yang jelas, peningkatan sistol sebesar 20 mmHg dan/atau diastol sebesar 10 mmHg meningkatkan resiko penyakit jantung dua kali lipat. Dan penggunaan obat antihipertensi yang adekuat bisa menurunkan resiko penyakit jantung secara efektif.

Tentunya pencegahan lebih baik daripada mengobati, bukan? Salah satu kisah yang saya ingat saat kuliah tentang Ilmu Kesehatan Masyarakat, yaitu awal berdirinya community medicine. Saat itu di Inggris (kalau tidak salah). Suatu ketika, sebuah kotanya mengalami wabah diare yang luar biasa. Banyak orang yang sakit dan harus rawat inap. Stok obat-obatan tidak cukup. Rumah-rumah sakit penuh. Biaya pengobatan membengkak. Kemudian salah satu dokter mencoba memikirkan penyebabnya. Akhirnya dia berhipotesis mungkin hal ini disebabkan oleh sumber air yang tercemar. Ketika itu persediaan air kota disediakan oleh 2 perusahaan air. Setelah diteliti, ternyata sebagian besar penderita mendapatkan persediaan air dari salah satu perusahaan. Diselidiki lebih lanjut, ternyata perusahaan tersebut mengalami kebocoran pipa, sehingga airnya tercemar. Begitu semua diselesaikan, wabah pun berhenti. Kunjungan ke rumah sakit jauh berkurang. Biaya pengobatan pun turun.

Sekali lagi saya tekankan bahwa pencegahan lebih baik daripada mengobati. Dari kisah di atas, kita lihat bahwa ketika akar masalah tidak ditangani, biaya pengobatan pun bertambah. Belum lagi kerugian akibat waktu dan produktivitas, serta penurunan kualitas hidup. Ditambah lagi bila ternyata penyakit menjadi lebih buruk dan akhirnya menyebabkan kecacatan atau kematian.

Kembali ke hipertensi dan penyakit jantung. Penyakit hipertensi memang jarang sekali menyebabkan keluhan. Saya dapatkan bahwa kebanyakan pasien yang tidak rutin minum berobat hanya meminum obatnya bila ada keluhan. Setelah keluhan hilang, obatnya berhenti diminum. Saya selalu merasa gemas mendengarnya. Mungkin mereka belum paham bagaimana parahnya kondisi penyakit jantung. Mungkin mereka belum paham bagaimana sulitnya menangani penyakit jantung. Dan yang lebih membuat gemas, sebenarnya mereka tidak perlu mengalaminya bila mau berobat teratur dan mencegah penyakitnya menjadi lebih buruk.

Terus terang, saya tidak tahu apa yang menyebabkan kesadaran masyarakat tentang kesehatan agak kurang. Saya hanya punya perkiraan. Sekali lagi, hanya perkiraan, bukan hasil penelitian yang valid dan bisa dipertanggungjawabkan. Kesadaran berawal dari pengetahuan. Pengetahuan dipengaruhi oleh pendidikan. Jadi secara tidak langsung pendidikan berpengaruh terhadap kesadaran masyarakat. Dan tidak hanya tentang kesehatan, tetapi juga tentang kebiasaan dan berperilaku secara umum.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: