Case #003 : “Sedia Payung Sebelum Hujan”

16 Dec

Rabu, 4 Desember 2014, Kec. Ngrambe, Ngawi. Jam 2 kurang seperempat dan jaga UGD puskesmas jam 2. Tas siap, jas siap, stetoskop siap, pulpen siap, badan siap (sudah tidur, mandi, dan makan), tinggal berangkat saja. Tapi langit yang sejak tadi mendung ternyata menumpahkan isinya sekarang, dan perjalanan ke UGD pun harus menembus guyuran air. Sebenarnya kalau cuma gerimis, terabas dengan motor sih tidak masalah. Lha ini deras. Seandainya ada payung… “Udah, pake payungnya Maya aja”, kata Ferdi. Oke bro. “May, pinjem payung ya”. Dan aku berjalan menembus hujan dengan payung. Untuk jaga-jaga, aku pakai dresscode kaos putih berbalut jaket hitam dengan celana selutut, disertai topi putih dan payung coklat. Baju kerja berupa kemeja batik, celana panjang, dan jas putih lengan pendek tersimpan dengan aman di tas yang juga diisi dompet, HP, arloji, dan laptop beserta charger-nya, dan (ehem) joystick. PILIHAN TEPAT! karena walaupun sudah pakai payung, celana tetap basah.
Beberapa pekan terakhir ini mendung kelabu memang sering bernaung di langit Ngrambe. Kadang hujan, kadang tidak. Aku sudah berencana membeli payung atau jas hujan, tapi masih menunda terus. Pada saat yang dibutuhkan (sekarang), akhirnya terpaksa pinjam teman. Beruntung ada teman yang punya payung. Bagaimana kalau tidak? Bagaimana kalau pas kehujanan di tengah jalan, sedangkan saat itu tak ada tempat berteduh dan tujuan masih jauh?
Hujan dan Kartu
Pas sedang asyik-masyuk mencet-mencet tombol stik, perawat di lantai bawah memanggil, “Doook, pasieeen”. Okedeh, waktunya bertugas. Alt-F4, tutup laptop. Kuambil stetoskopku dan jas putihku, lalu kudatangi pasienku. Tn. B, 50 tahun, terbaring di bed paling utara di UGD puskesmas (ada 5 bed, lumayan banyak bukan sih, untuk level puskesmas?). “Kejang dok”, mbak perawat memberi tahu keluhan utama pasien. Aku jadi skeptis, apakah benar-benar kejang? Pasien terbaring lemah di bed. Memang bila ada keluhan utama kejang, langkah pertama adalah memastikan apakah pasien memang benar kejang. Terutama orang tua yang membawa anak bayinya ke UGD dengan keluhan utama kejang, kadang-kadang yang dimaksudnya “kejang” sebenarnya adalah “menggigil”. Ciri-ciri kejang adalah gerakannya yang ritmik, bisa di salah satu anggota badan atau seluruh badan. Saat kejang, penderita tidak sadar, sehingga bisa didapatkan mata melirik ke satu sisi, mulut berbusa, lidah tergigit, atau ngompol. Saat kutanya keluarga pasien “Kejangnya bagaimana?”, salah satu anggota keluarga menjawab, “Seperti…. itu dok”, sambil menunjuk tangan kanan pasien. Tangan kanannya terangkat. “Kalau seperti itu bukan k…”, sebelum kata itu selesai, pasien kejang betulan. DIAZEPAM! Itu pikiran pertama. Tapi sebelum sempat dipasangi infus dan dimasukkan diazepam, kejang berhenti. Aku anamnesis dan periksa lebih jauh, curiga stroke perdarahan.
Pasien dengan kondisi yang sulit (baca: jelek). Kusampaikan pada keluarga tentang penyakit blablabla, kondisi saat ini blablabla, harus ke spesialis blablabla, harus cepat blablabla. “Sebentar, dok”, keluarga mau berembug dulu. Baik, ayo kita tunggu. Memang sering keluarga pasien berembug dulu kalau mau dirujuk ke RS. Keluarga menolak dirujuk. Bukan karena apa-apa, sebenarnya. Si bapak, Tn. B, masih belum memiliki asuransi kesehatan, sama sekali. Dan untuk mengurusnya perlu waktu minimal seminggu. Keluarga pasien khawatir tidak sanggup membayar biaya di rumah sakit. Baik, sekali lagi kusampaikan pada keluarga bahwa sebaiknya dirujuk. Bila saya tidak merujuk, bisa dibilang saya (sebagai dokter) melakukan pelanggaran. Keluarga pasien tetap meminta untuk dirawat di puskesmas dulu, paling tidak saat ini sampai siap dirujuk. Oke, tanda tangan menolak tindakan (menolak dirujuk ke RS).
Yah, itulah ruwetnya jadi dokter di perifer. Pasien yang seharusnya mendapatkan penanganan segera menjadi tertunda karena masalah sistem. Salah satu teman saya berpendapat bahwa mungkin pihak penyelenggara jaminan kesehatan enggan kecolongan dari pasien yang baru membuat jaminan pada saat masuk rumah sakit. Di sisi lain, mungkin juga karena kebetulan sebelum sempat mengurus jaminan keburu sakit dulu. Entahlah, banyak pihak yang terlibat dalam hal ini, dan dokter juga termasuk di dalamnya. Yang jelas, pelajaran yang bisa aku ambil dari sini adalah…
“Sedia Kartu Sebelum Hujan”
*eh

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: