Case #002

15 Jul

Aku teringat pesan kakakku yang angkatan 2005, kemungkinan saat internship ini ada cukup banyak waktu luang. Akhirnya disarankan untuk mulai mengurus blog. Batinku, mengapa tidak? Tapi tentang apa ya? Tak usah jauh-jauh, pikirku. Buat saja tulisan tentang kasus-kasus menarik yang ditemui. Lumayan, bisa untuk belajar, dan mudah-mudahan bisa berguna untuk pembaca.

Tulisan ini mulai kubuat tanggal 8 Juli 2014, pukul 9 pagi. Aku baru saja menyelesaikan tugas jaga malam yang selesai jam 7 pagi ini. Ada 15 pasien yang datang, menurut buku laporan perawat UGD. Kabar baiknya, sebagian besar kasusnya menarik. Kabar buruknya, sebagian besar datang tengah malam. Jadilah aku dokter jaga yang kekurangan tidur. Tapi tidak apa-apa, karena masih bisa tidur setelah sahur jam 2. Lalu datang 1 pasien lagi jam 3, selesai jam 4, lalu tidur lagi setelah shalat subuh sampai jam setengah 7.

Tn. S, pasien laki-laki usia 93 tahun datang diantar keluarganya jam 11 malam dengan keluhan kelemahan anggota badan kiri. Keluhan dirasakan mendadak sekitar 3 jam sebelum datang ketika pasien sedang istirahat. Pasien sadar baik dan bisa diajak bicara. Wajah merot, bicara pelo. Ada sakit kepala? Tidak. Muntah? Tidak. Riwayat darah tinggi? Tidak (TD: 110/70). Pemeriksaan refleks patologis, ada babinski? Positif di kaki kiri. Di Soetomo, biasanya untuk menentukan ini stroke infark atau haemorrhagic, digunakan Siriraj score yang agak rumit. Di sini menggunakan Algoritma Stroke Gajah Mada yang cukup menggunakan 3 variabel sederhana: sakit kepala, kesadaran, dan refleks babinski. Berdasarkan ASGM, diagnosisnya adalah stroke iskemi (seharusnya ada diagnosis klinis untuk menentukan keluhan, diagnosis topis untuk menentukan letak kelainan, dan diagnosis etiologis untuk menentukan penyebab kelainannya, tapi di tulisan ini cukup menggunakan diagnosis etiologis saja).

Ada keluhan lain? Batuk sejak beberapa hari lalu. Batuk berdahak. Sesak sejak beberapa jam sebelum datang, terasa makin lama makin berat. Nyeri dada? Tak ada. Pemeriksaan fisik, bagaimana auskultasi dadanya? Ada rhonki di seluruh lapang paru. Curiga gagal jantung? Itu yang kupikirkan saat itu. Aku minta tolong teman untuk EKG, hasilnya? Hmm, yang jelas ada kelainan (belum bisa baca EKG, itu hasil konsultasi dengan dokter PNS yang jaga malam juga, sebut saja dr.X. Aku lupa apa kelainannya).

“Masukkan furosemide, dok? Ada rhonkinya,” tanyaku pada dr. X.

dr. X memeriksa pasien itu sebentar, auskultasi dadanya. Lalu dijawab, “Nggak usah dulu”.

Aku perhatikan si pasien yang agak sesak itu, lalu dr. X melanjutkan, “Nanti kalau dimasukkan, takutnya tensinya drop”. Baru saja pasien di sebelahnya ada edema paru dimasukkan furosemid 1 ampul saja, tensi yang awalnya 110/70 jadi 90/70. Akhirnya diberi dopamin drip.

Memang sebaiknya tensi pada pasien stroke ischemi tidak diturunkan secara agresif. Hal ini berguna untuk membantu perfusi pada jaringan otak yang mengalami ischemi agar tidak terjadi kerusakan yang lebih parah. Berbeda dengan stroke haemorrhagic/perdarahan.

Tapi aku tidak bisa sepenuhnya setuju. B1-B6, Breath menempati peringkat pertama, sedangkan Brain menempati peringkat ketiga setelah Breath dan Blood. Aku jadi ragu. Akhirnya Tn. S masuk ruangan tanpa diberi furosemide. Aku berdoa semoga ini yang terbaik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: