Case #001

24 Jun

Saat itu sudah mendekati akhir shift pagiku, sekitar jam setengah 2. Awal-awal shift jagaku hari ini aman, hanya ada beberapa pasien dengan keluhan sakit perut. Tak ada yang berbahaya, hanya maag saja dan setelah diperiksa dan diberi resep bisa pulang. Setelah jam 11 tadi baru jaga UGD yang sesungguhnya dimulai, ketika berturut-turut datang 2, 3, dan 4 pasien sekaligus. Hingga sekarang, 4 dari 8 bed masih ditempati pasien.

Datang 1 orang pasien wanita usia paruh baya, sekitar 50 tahun. Pasien datang dengan berjalan kaki ditemani seorang wanita usia usia sekitar pertengahan 30 tahun. Mungkin anaknya? Dalam hati aku bertanya-tanya kegawatan apa yang menyebabkan wanita tua ini datang ke UGD? Sekilas kuamati tak ada sesak, tak ada raut wajah penuh rasa sakit, tak ada luka, tak ada…. kegawatan. Airway, breathing, circulation tampak aman-aman saja. Akhirnya kudatangi untuk kulayani.

“Selamat siang, bu. Ada keluhan apa?”, sapaku dengan sopan.

“Gigi saya sakit, dok”, jawabnya.

Mendengar keluhan utama sakit gigi, mau tak mau saya merasa dongkol juga, ini kenapa sakit gigi masuk ke UGD rumah sakit? Bukannya harusnya ke dokter gigi ya? Tapi pasien sudah terlanjur di UGD, maka amatlah bodoh bila tak dilayani dengan sebaik mungkin. Karena tidak terlalu mendalami masalah gigi, saya hanya bisa mendapatkan bahwa sakit gigi berlangsung sejak beberapa hari lalu, terasa makin lama makin sakit. Terdapat bengkak, demam sumer-sumer.

Aku teringat bahwa sakit gigi mungkin bisa berasal dari tempat lain. Seperti angina pectoris bisa menyebabkan nyeri yang menjalar ke perut, hingga ke ujung jari, punggung, bahkan ke leher dan gigi. Saat kuliah juga pernah dosen saya menceritakan pengalamannya bahwa ada pasien dengan keluhan sakit gigi, kemudian ke dokter gigi dan giginya dicabut. Tapi sakitnya terasa terus walaupun giginya sudah banyak dicabut. Akhirnya ketahuan juga bahwa asalnya dari jantung. Maka akupun ingat pemicu angina pectoris adalah 4E: eat, exercise, emotion, exposure to cold (makan, aktivitas fisik, emosi, kedinginan). Lalu saya tanyakan: memberat saat makan? Tidak. Memberat saat naik tangga? Tidak. Memberat saat emosi? Tidak. Memberat saat badan kedinginan? Tidak. Jadi kusimpulkan bukan dari jantung. Lantas dari mana?

Mungkin jantung terlalu jauh ya. Jadi coba yang dari dekat-dekat saja. Kalau tak ada, mungkin memang murni sakit gigi. Yang dekat apa ya? Telinga dan sinus, itu yang terpikir saat itu. Sinusitis, apakah ada nyeri di dahi? Nyeri di pipi? Tidak. Jadi insya Allah sinusnya baik-baik saja, tak perlu foto waters. Terakhir, telinga. Apakah ada gangguan pendengaran? Ya. Nah, ini dia. Nyeri? Ya. Sejak kapan? Bersama dengan sakit giginya. Saya periksa telinga kiri, membran timpani terlihat, normal. Saya periksa telinga kanan, membran timpani warna kemerahan. Akhirnya keluarlah diagnosisku: otitis media akut dekstra. Kuberi analgesik dan antibiotik, serta dekongestan untuk mengurangi tekanan di dalam telinganya. Lanjut edukasi untuk ke dokter gigi untuk memeriksakan giginya dan juga kontrol di poli THT.

Hari ini, aku memetik pelajaran berharga bahwa dokter harus bisa mendengarkan keluhan pasien, dan mungkin saja penyebab utamanya berasal dari tempat lain. Aku harus belajar lebih banyak lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: