My Road to UKDI

15 Oct

Alhamdulillah! Mungkin itu adalah kalimat pertama yang aku ucapkan pertama kali begitu namaku dipanggil ke dalam aula sebagai peserta yudisium yang diluluskan. Saat itu hari Jumat, tanggal 4 Oktober 2013, mendekati waktu shalat Jumat, di FK Unair. Di dalam sana, rupanya kami-kami yang sudah lulus sudah dipanggil sebagai “teman sejawat” oleh Dekan. Sebelumnya beliau memanggil “adik-adik”, tapi segera dikoreksi.
Pertama mendengar mungkin terdengar biasa saja, tapi setelah dipikir-pikir lagi, hal ini sebenarnya berisi suatu hal yang istimewa. Hal ini menandakan bahwa kami — para DM yang diluluskan — sudah tidak lagi dianggap sebagai DM. Sudah tidak selayaknya kami menganggap diri kami sebagai mahasiswa. Kami sudah harus siap untuk terjun langsung dan mengambil peran dalam pelayanan kepada masyarakat. Masa-masa untuk belajar di Fakultas Kedokteran sudah berakhir, dan selangkah lagi, kami harus belajar di FK yang lain: Fakultas Kehidupan.
Selangkah yang harus dilalui itu adalah UKDI, semacam Unas bagi para calon dokter. UKDI adalah ujian untuk menentukan apakah lulusan fakultas-fakultas kedokteran yang ada di Indonesia memiliki kompetensi yang diharapkan untuk mengabdi pada masyarakat di bidang pelayanan kesehatan. Selain itu, UKDI juga menjadi tolok ukur untuk menentukan kualitas fakultas kedokteran di Indonesia. Hal ini bisa dilihat dari persentase kelulusan atau juga dari peraih nilai tertinggi.
Hal ini mengingatkanku tentang SNMPTN yang aku jalani tahun 2008. Orang tuaku — yang memahami potensi akademikku yang pas-pasan — memutuskan untuk memasukkan aku ke dalam salah satu LBB di Surabaya sejak awal kelas 3 SMA, dengan harapan hal itu dapat membantuku masuk ke dalam PTN yang diharapkan (baca: FK Unair). Selama aku menjalani bimbingan belajar di sana, aku mendapatkan pengajaran privat di kelas kecil berisi 4-6 pelajar dan melakukan latihan-latihan dari waktu ke waktu. Hal ini semakin intensif menjelang Unas dan SNMPTN. Khusus menjelang SNMPTN, setiap mahasiswa diberi buku berisi soal-soal yang bobotnya sesuai dengan soal-soal SNMPTN. Bila ada 1 hal yang menyenangkan saat itu, itu adalah berusaha semaksimal mungkin untuk mengkhatamkan buku soal tersebut.
Hal itulah yang membuatku merasa kembali ke masa lalu. Aku baru saja menyelesaikan pendidikanku sebagai dokter muda. Untuk maju ke fase selanjutnya, aku harus menghadapi “Unas” sekali lagi. Banyak yang harus diurus untuk mendaftarkan diri sebagai peserta UKDI, mengingatkanku pada berkas-berkas yang harus aku persiapkan untuk SNMPTN. Ada jeda selama sekitar 1 bulan untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian ini, 1 bulan untuk belajar intensif, 1 bulan untuk “mengkhatamkan buku soal”. Bila lulus, aku akan maju ke babak baru. Bila tidak, tunggu periode selanjutnya.
Bila aku menengok ke belakang, bagaimana aku bisa lulus SNMPTN, sepertinya aku akan menjawab bahwa aku lulus karena sering latihan dan karena Allah menghendaki aku lulus. Untuk menghadapi UKDI ini, tampaknya tak akan ada perubahan strategi yang signifikan. Latihan, berdoa, latihan, berdoa, latihan, berdoa, latihan, berdoa….
Akan tetapi, tetap saja ada perbedaan. Saat aku menghadapi SNMPTN, yang aku hadapi adalah kemampuan dasar dan kemampuan IPA, yang terdiri dari matematika dasar, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, matematika IPA, fisika, kimia, biologi, dan IPA terpadu. Strategiku saat itu adalah mengejar yang aku suka dan meninggalkan yang sulit. Yang aku suka adalah matematika dasar, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, matematika IPA, dan fisika. Yang lainnya bisa dibilang “dikerjakan sebisanya”. Aku menyukai hal-hal tersebut karena tak banyak yang harus dihafalkan. Sekarang aku menghadapi UKDI, dan yang aku hadapi adalah Interna, Pediatri, Bedah, Obsgyn, dan lain-lain, yang semuanya menuntut hafalan. Awalnya aku berpikir bahwa bila sering membaca, lama-lama akan ingat. Akan tetapi, salah satu artikel yang aku baca mengatakan bahwa hal itu tidak efektif. Yang efektif adalah dengan membaca, lalu menguji diri sendiri dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan.
Artikel itu ditulis oleh Daniel Coyle dalam web-nya, http://thetalentcode.com/2013/09/05/the-three-word-study-tip . Dia mengatakan bahwa ada 3 kata yang harus diingat untuk belajar menjadi lebih baik:
1. Reach
Proses belajar baru bisa menjadi efektif bila pelajar berada di luar zona amannya, ketika mempelajari sesuatu yang berada sedikit di luar batas kemammpuannya, bukannya hanya duduk dan mendengarkan saja. Make a habit of testing yourself. Biasakan untuk terus menciptakan tantangan bagi diri sendiri. Bila ingin mempelajari textbook, hal yang benar bukan membacanya berulang-ulang. Baca sekali, tutup buku, ambil secarik kertas, dan tuliskan isinya. Belajar dari kesalahan.
2. Loop
Coyle menyebutkan sebuah teknik belajar bernama spaced repetition. Cara belajar menurut teknik ini adalah terus mengulang apa yang sudah dipelajari. Donโ€™t study in a straight line, but in a series of short loops, returning to the material over and over, begitulah bagaimana Coyle menjabarkan teknik ini. Menurutnya, teknik ini akan memperkuat informasi yang sudah didapatkan.
3. Mix
Kecenderungan cara belajar yang umum adalah dengan fokus pada 1 area khusus setiap kali belajar. Menurutu Coyle, hal ini akan menjadi efektif bila mencampur dengan mempelajari hal lain yang terkait, sehingga dapat membuat konsep dan hubungan-hubungan baru yang mungkin terlewatkan.
Cara belajar yang menarik, mungkin setelah ini aku mau membeli buku soal UKDI baru….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: