Belajar Jurus Baru? Siapa Takut?

1 Apr

Pernahkah para pembaca merasa heran, bagaimana seorang jago silat bisa mengelak dan menangkis semua serangan lawan-lawannya, dan kemudian langsung melayangkan serangan balasan yang telak secepat kilat? Bila jawabannya adalah “ya”, berarti para pembaca juga mengalami rasa penasaran yang sama dengan saya. Mari kita ambil salah satu contoh. Dalam film berjudul “Ip Man”, terdapat sebuah adegan di mana Ip Man sang guru seni bela diri Wing Chun berhasil mengalahkan 10 karateka dari Jepang seorang diri. Dia mengelak, menghindar, dan menangkis semua serangan lawan-lawannya, dan akhirnya berhasil merobohkan lawan-lawannya. Tentu kita berpikir bahwa keberhasilannya menghindari serangan lawan adalah berkat dari refleks dan kecepatannya yang di luar kemampuan manusia biasa. Awalnya, saya berpikir bahwa dalam bela diri, kecepatan adalah segalanya, sedangkan teknik adalah urusan nomor dua. Belakangan, saya sadari bahwa kecepatan berawal dari teknik.

Adalah istilah “muscle memory” yang dipercaya dapat memberikan penjelasan tentang hal ini. Mengutip kata-kata C. Subah Packer, Ph.D., “Muscle memory” is the terminology used by muscle physiologists to describe the phenomenon of skeletal muscle activity that is learned and becomes essentially automatic with practice. Terjemahan bebasnya kira-kira “istilah yang digunakan untuk menjelaskan fenomena di mana otot-otot rangka pada tubuh mempelajari aktivitas tertentu dan pada akhirnya dapat melakukan aktivitas tersebut secara otomatis”. Lalu bagaimana sel-sel otot dapat “mempelajari” aktivitas tertentu? Saya belum menemukan penjelasan yang memuaskan tentang hal ini, dan sepertinya hal ini juga masih dalam perdebatan.

Meskipun demikian, ada teori yang mungkin mendekati kebenaran (jika memang teori ini tidak benar). Fungsi pembelajaran dimiliki –dan hanya dimiliki– oleh otak. Ketika mempelajari sesuatu, otak akan membentuk sinaps-sinaps (hubungan antarsel saraf) yang memungkinkan informasi yang diterima disimpan dalam otak, dan dapat diingat lagi sewaktu-waktu. Semakin banyak sinaps yang terbentuk, informasi yang disimpan bisa bertahan semakin lama dan bisa diingat lagi dengan lebih mudah. Hal yang sama juga terjadi pada aspek pembelajaran motorik yang melibatkan gerakan otot. Jika mengacu pada teori ini, mungkin istilah “muscle memory” adalah istilah yang kurang tepat, dan lebih tepat bila disebut sebagai “motoric memory”.

Muscle memory tidak hanya milik para atlet dan profesional belaka. Mari kita ambil contoh di kehidupan sehari-hari. Apakah kita harus berkonsentrasi penuh bila ingin berjalan kaki? Tidak perlu bagi orang dewasa normal, tapi perlu bagi bayi yang baru belajar berjalan. Perlukah kita harus berkonsentrasi saat bersepeda? Tidak perlu bagi yang sudah bisa, tapi sangat perlu bagi yang baru belajar bersepeda. Perlukah kita bekonsentrasi saat memasukkan makanan ke dalam mulut? Perlukah kita fokus untuk mandi? Itu semua adalah kebiasaan sehari-hari dan itu semua menggunakan muscle memory.

Kesimpulannya, muscle memory didapat karena biasa dilakukan.

The Power of Shadow

Kembali ke topik semula. Bagaimana seorang jago silat bisa mengelak dan menangkis semua serangan lawan-lawannya? Jawabannya adalah karena para jago silat memiliki muscle memory untuk mengelak dan menangkis semua serangan lawan-lawannya. Dan para jago silat ini berhasil mendapatkan muscle memory-nya karena terbiasa melakukannya.

Jadi, jika kita ingin jadi jago silat, kita harus dipukuli, begitu? Hmm, mungkin, mungkin tidak. Dipukul dan belajar menangkis pukulan jelas sangat membantu. Tapi untuk selalu HARUS dipukuli, tidak selalu. Bagaimana? Dalam hal ini ada istilah “shadow practice”, latihan bayangan. “Shadow practice” yaitu melakukan suatu teknik tertentu secara berulang-ulang untuk menguasai teknik tersebut. Efektif? Mark Andrew Flores et al dalam penelitiannya yang berjudul “Effectiveness of Shadow Practice in Learning the Standard Table Tennis Backhand Drive” (diterbitkan oleh ITTF) menyimpulkan bahwa shadow practice bisa seefektif latihan rutin untuk menguasai teknik tertentu. Hal ini berlaku juga untuk semua hal. Ayo ambil contoh lagi. Pernah menonton “Team Medical Dragon”? Di film ini ditayangkan bahwa sang ahli bedah jantung tingkat dewa, Asada Ryutaro, sering melatih teknik bedahnya dengan melakukan latihan imajiner. Walaupun film itu sendiri adalah fiksi, tentunya hal ini bisa dijadikan pertimbangan bahwa shadow practice adalah metode latihan yang dapat digunakan untuk mendapatkan skill tertentu.

Meskipun demikian, shadow practice ternyata bagaikan pedang bermata dua. Shadow practice akan sangat bermanfaat bila yang dilakukan dan diulang-ulang adalah teknik yang benar. Sebaliknya, shadow practice akan menjadi tidak bermanfaat bila yang dilakukan adalah hal yang salah. Bukan hanya akan menghambat kemajuan, melainkan juga karena hal ini akan sulit sekali diubah. Untuk mengubahnya, dibutuhkan tahap untuk “melupakan” (to unlearn) apa yang sudah dipelajari dan baru kemudian memulai lagi dari awal. Mengingat hal ini, mungkin sebaiknya latihan “shadow practice” tetap harus dikombinasikan dengan latihan sungguhan, supaya bisa mengetahui output dari teknik yang dilatih.

Jadi, siap mempelajari jurus baru? Let’s do the right things right!

Advertisements

2 Responses to “Belajar Jurus Baru? Siapa Takut?”

  1. enasrullah January 8, 2015 at 12:15 pm #

    weh menarik. nice post

    • sangarudin January 8, 2015 at 8:21 pm #

      haha, soewoen yo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: