Seni Menunggu

27 Mar

“Tunggu dulu bolanya, baru dipukul!”

Mungkin itu adalah kata-kata yang paling sering aku dengar ketika aku berlatih tenis meja bersama para karyawan rumah sakit di GDC. Memang level permainanku dengan mereka berbeda sangat jauh. Aku baru bermain selama 3 tahun tanpa pelatih, sedangkan mereka sudah bermain selama belasan, bahkan puluhan, tahun. Aku belum pernah meraih prestasi apapun di bidang olah raga ini, mereka sudah memiliki banyak piala dan trofi. Jadi wajar saja bila aku yang “diajar” dan “dihajar” di sana.

Memang harus menunggu. Bila hendak memukul bola, bola harus berada dalam “hitting zone”, zona serangan. Untuk pukulan forehand, hitting zone berada di sekitar samping badan, sekitar di atas dan sedikit-di-depan lutut bila posisi kaki cukup lebar. Untuk backhand, zona serangan kira-kira berada 1 kaki di depan tubuh. Para pemain pemula (termasuk saya) biasanya kurang bisa menunggu dan sering sekali memukul terlalu awal, sebelum bola memasuki zona serangan. Selain itu, ada 3 waktu di mana pemain memukul bola: saat bola naik sesaat setelah bola memantul di meja, saat bola mencapai puncak pantulan, dan saat bola turun setelah dari puncak pantulan. Setiap waktu memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, tapi paling mudah untuk menyerang bola bila bola berada di titik tertinggi. Dan sekali lagi, hal ini harus “menunggu”.

Tapi mengapa harus menunggu? Waktu adalah segalanya di zaman modern saat ini. Segalanya harus dilakukan dengan cepat. Menunggu berarti kehilangan waktu. Menunggu berarti menunda-nunda. Menunggu berarti mati.
Di sinilah seninya. Daniel Coyle dalam artikelnya menulis bahwa kecepatan bertindak tidak murni benar-benar berasal dari kecepatan. Contohnya, bagaimana seorang pemain sepak bola bisa mengirim umpan terobosan mematikan yang berhasil menembus pertahanan lawan? Atau bagaimana pemain tenis mengembalikan servis lawannya yang sangat kencang? Atau bagaimana seorang pemukul baseball dapat memukul bola yang sulit? Penelitian menunjukkan bahwa para pemain yang baik selalu menunggu lebih lama sebelum melakukan pukulannya. Dan mereka tidak hanya menunggu: mereka mengumpulkan informasi-informasi penting selama menunggu, seperti spin pada bola, kecepatan, arah, lawan, segalanya (di tenis meja, mengumpulkan informasi ini sudah dimulai bahkan sebelum lawan memukul bola). Tentu saja, semakin banyak informasi yang didapatkan, semakin baik hasil yang bisa didapatkan.

Dia juga menulis bahwa keberhasilan di bidang-bidang lain juga tergantung tentang bagaimana seseorang menggunakan waktunya. Secara umum, ada 3 poin penting yang harus dilakukan untuk bisa berhasil:

  1. Observe: amati segala hal di sekitar dan raih informasi sebanyak mungkin
  2. Process: analisis segala informasi yang didapat, dan segera buat keputusan terbaik
  3. Act: setelah keputusan dibuat, lakukan dengan sepenuh hati dengan komitmen penuh

Di antara ketiga hal tersebut, mungkin hal yang harus paling cepat dilakukan adalah #3, di mana di sini memang dibutuhkan skill yang matang dan mumpuni. Dalam olahraga, hal inilah yang mungkin paling mudah dilatih dengan latihan fisik dan teknik. Teknik yang matang berarti teknik yang sudah benar-benar meresap dalam diri si pemain, sehingga ketika si pemain ingin melakukan pukulan, dia dapat melakukannya tanpa perlu berpikir lagi. Hal ini memungkinkannya untuk memfokuskan pikiran dan kekuatan mentalnya pada hal lain.

Hal yang berbeda terjadi pada #1 dan #2. Kedua hal ini terjadi dalam pikiran, dan baru dapat berjalan dengan baik bila pikiran dapat difokuskan khusus pada kedua hal ini. Dan semakin banyak waktu dan fokus yang dikerahkan untuk kedua hal ini, semakin banyak informasi yang bisa didapat, semakin baik keputusan yang bisa dibuat, dan pada akhirnya semakin baik output yang didapat. Hal #1 dan #2 ini yang akan saya sebut sebagai “visi bermain”. Visi bermain bukanlah sesuatu yang bisa dilatih hanya dengan latihan teknik saja. Visi bermain adalah aktivitas mental, sesuatu yang terjadi di dalam pikiran. Oleh karena itu, melatih visi bermain berarti melatih mental dan pikiran supaya bisa mendapat informasi dan mengambil keputusan yang tepat di bawah tekanan apapun. Untuk meningkatkannya, dibutuhkan ketenangan, kesabaran, pengalaman, dan kemampuan analisis yang baik. Dan hal ini baru akan berjalan baik bila seseorang tidak terburu-buru dan panik, atau bila tak perlu repot-repot menguras energi mental hanya untuk melakukan teknik yang sulit.

Dengan kata lain, #3 adalah hal yang sudah harus bisa dilakukan secara otomatis tanpa berpikir lagi, supaya tersedia lebih banyak waktu dan fokus untuk #1 dan #2. Pada akhirnya, akan muncul antisipasi yang akhirnya akan berujung pada “kecepatan bertindak”.

Be quick, but never hurry (John Wooden).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: